VI: Walking Nightmare

Chapter VI
*
Zhalamen sibuk mencari air di sebuah sumur tua didekat ladang. Sudah lima kali balikan ia mengambil air dari sumur itu. Keringatnya mengucur melalu dahi dan pelipisnya. Bibirnya yang pucat dipenuhi dengan tetesan darah, menganga, dan mengeluarkan nafas tersengal-sengal. Saat satu ember terakhir, ia menumpahkannya ke dalam bak di kamar mandi hingga airnya penuh meluap. Kemudian ia membuka pakaiannya dan membanjurkan satu gayung air ke atas rambutnya. Rasa dingin air itu begitu dingin hingga tulang Zhalamen terasa menggigil. Namun ia menutup matanya dan merasakan tiap tetesan air itu mengaliri seluruh tubuhnya. Lantai kamar mandi yang putih dan kering kini basah dengan air yang tercampur oleh noda darah yang mengotori seluruh tubuh Zhalamen.
“Tidak pernah aku makan sampai meninggalkan banyak kotoran di pakaianku. Satu-satunya noda yang kutinggalkan di pakaian hanyalah mustard atau mayonnaise hamburger saja.” Gumam Zhalamen.
Setelah dua puluh menit ia mandi, Zhalamen keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Badannya yang putih pucat, tegap, dan gagah kini mulai terdapat tattoo lebih banyak lagi. Sementara itu ia membuka lemari di dapur dan mengambil sebungkus daging mentah lagi dan memakannya. Ia memakannya sambil melamun ke arah potret tua keluarga De Luca. Mungkin mengingatkan juga dirinya bahwa ia juga pernah punya keluarga. Pandangannya melemah tiap kali ia melihat potret itu. Selera makannya menjadi hilang seketika. Ingatan-ingatan dahulu sudah membuatnya cukup kenyang untuk makan lagi. Namun tak lama setelah ia teringat akan keluarganya, ia sudah teringat lagi bagaimana caranya ia keluar dari kota ini dengan uang dan tanpa dicurigai sebagai psikopat yang bangkit kembali. Dan bagaimana caranya menemukan Nail? Setiap kali ia meminum darah ia dapat melihat Nail di pikirannya sedang melakukan sesuatu. Terakhir kali ia melihat adalah Nail yang sedang berdiam diri di sebuah bangku sekolah. Wajahnya sangat tidak bersemangat. Tetapi setiap saat Zhalamen coba memanggil namanya, Nail hanya membelalakkan matanya saja. Mungkin ini hanya bayangan Zhalamen saja tentang Nail. Sejauh ini hanya Nail yang dapat ia bayangkan, ia tidak dapat membayangkan anggota keluarganya yang lain. Mungkin ia sangat rindu dengan Nail. Entahlah tidak tahu apa yang ia pikirkan. Zhalamen pergi dan duduk di teras rumah, melamun melihat semua rerumputan kuning yang bergoyang tertiup angin. Kepalanya terasa berat. Semua pikirannya tidak dapat ia jawab satu persatu. Nail. Keluarganya. Uang. Menghilangkan reputasi menyeramkan yang ditinggalkan Giovanni De Luca kepadanya. Belum lagi rasa laparnya yang terus datang setiap saat. Zhalamen memang merasa ia hanyalah zombie dengan sedikit pikiran dan perasaan. Tetapi jika berarti zombie hanya melakukan hal-hal seperti ini lama kelamaan ini akan membunuhnya dengan rasa bosan yang amat sangat. Zhalamen menggelengkan kepalanya dan masuk kembali ke rumah untuk mengambil jubah hitamnya yang ia gunakan untuk pergi menyelinap ke kota.
Ia memakai jubah hitam itu dan siap untuk pergi ke kota. Entah untuk apa kali ini. Ia langsung masuk ke gang-gang yang kumuh dan kotor. Tetapi tidak seperti biasanya, ia mencoba melewati gang-gang dibelakang rumah yang berpenghuni. Gang-gang itu dipenuhi dengan jemuran pakaian yang digantung dengan menggunakan tali. Zhalamen menarik nafas panjang dan mulai berjalan cepat sambil menarik beberapa pakaian dari jemuran itu. Sebuah jaket, kaos, celana pendek, celana panjang, hoodie ia ambil semuanya setelah melewati sepuluh jemuran sekaligus. Dan secepat kilat ia kabur ke tempat lain. Sambil kabur, Zhalamen mencoba mencari sesuatu di pinggir jalan. Ia mencari sebuah kantong plastik untuk membungkus hasil pakaian curiannya. Setelah kabur cukup jauh, ia beristirahat dan mengambil sesuatu di saku jubah hitamnya. Ia mengeluarkan sebuah daging yang sudah dipotong kecil-kecil untuk mengganjal perutnya saat ia lapar seperti saat ini. Zhalamen membuka kantong plastiknya dan memeriksa hasil curiannya satu persatu-satu lalu mencocokkannya ke tubuhnya memastikan pakaian itu pas di tubuhnya atau tidak. Syukurlah dari sekian banyak curiannya, hanya ada 3 pakaian yang kekecilan. Kini saatnya ia pulang, fajar sudah mulai muncul di arah timur. Zhalamen mulai melangkahkan kakinya untuk pulang, tapi sekali lagi ia mencoba untuk mencuri beberapa pakaian dalam di tempat lain dan akhirnya pulang. Matahari mulai menampakkan sinarnya, untung Zhalamen sudah sampai di rumahnya, karena ketika sinarnya mengenainya, kulitnya terasa terbakar dan rasanya sakit sekali. Zhalamen bernafas lega. Ia merebahkan dirinya di atas sofa yang sudah sedikit rusak dengan perasaan lelah yang amat sangat. Berlari sekitar setengah jam hanya untuk mencuri pakaian memang mungkin rasanya tidak akan secapai itu, tetapi perasaan takut ketahuan dan tidak keburu waktu lah yang membuat jantung berdebar lebih cepat dari keadaan normal. Zhalamen melihat ke arah jendela, kembali melamun lagi. Ia melihat langit yang cerah. Namun apa itu? Ia melihat setitik benda hitam diatas langit. Benda itu melayang tidak karuan, dan akhirnnya jatuh dengan cepat. Zhalamen memakai jubah hitamnya dengan cepat dan langsung berlari keluar ke tempat benda itu jatuh. Ia berlari dengan hati-hati, takut menginjak benda yang jatuh itu. Sekitar 300 meter, akhirnya Zhalamen menemukannya. Rupanya seekor burung. Burung gagak hitam. Zhalamen melihat keadaan burung itu. Sayapnya nampak terluka seperti terserempet sebuah peluru, mungkin ada orang yang menembaknya dan bahkan ada beberapa bulunya juga yang hilang seperti dicabuti oleh seseorang. Zhalamen cepat-cepat membawa burung itu ke rumah. Ia menggeletakkannya dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Apa yang harus kulakukan? Mengobati lukanya dulu? Atau memberinya makan? Atau, aaaagh, aku tidak pernah memelihara seekor burung! Aku tidak tahu harus apa!” ucap Zhalamen bingung.
Tetapi kemudian akhirnya ia memutuskan untuk mengobati burung itu terlebih dahulu. Zhalamen merobek sedikit kain jubah hitamnya dan membalutkannya dengan hati-hati sampai kencang. Kemudian ia menyayat sedikit lengannya dan meneteskan darahnya ke kain tadi, membiarkannya meresap hingga ke dalam luka burung tersebut. Tepat 10 detik setelah Zhalamen memberikan “pengobatannya”, burung itu akhirnya sadar. Zhalamen mengambilkan sebuah mangkuk kecil dengan air bersih didalamnya. Burung tersebut memperhatikan wajah Zhalamen, mangkuk penuh air minum, dan kain yang dibalutkan di sayapnya dengan bingung.
“Ya, kau terjatuh. Aku mengobatimu, dan kini kau sadar. Sekarang minumlah!” ujar Zhalamen pada burung itu.
Mata kuning burung gagak itu semakin membesar, dan ia berjalan mendekati Zhalamen tanpa memalingkan pandangannya sedikit pun. Zhalamen mencoba membuang wajahnya, mungkin burung itu akan berhenti menatapnya jika ia tidak memperhatikannya, namun tetap saja burung itu memperhatikannya.
“Ugh, ya, ya, ya. Sama-sama. Aku tahu kau berterima kasih padaku. Sekarang kau harus cepat sembuh, aku yakin kau pasti memiliki tujuan untuk pergi kesini kan? Ayo cepat.” Kata Zhalamen lagi.
Tetapi burung gagak itu tidak berkutik sama sekali. Ia malah semakin mendekati Zhalamen dan bertengger di lengannya. Semakin lama ia bertengger hingga ke pundaknya. Terus memperhatikan Zhalamen dengan aneh. Sampai akhirnya… Tuk! Burung gagak itu mematuk telinga Zhalamen. Sedikit rasa nyeri yang membuatnya kaget, Zhalamen menatap kesal pada burung itu. Ia menggeram, dan meletakkan burung itu diatas meja lagi. Namun burung itu kembali mematuki tangannya dengan keras.
“Auw! Baiklah, burung, baiklah! Aku tahu kau lapar! Ugh, aku tidak percaya aku akan membagi makananku dengan seekor burung gagak yang tak tahu terima kasih!” gerutu Zhalamen sambil mengambil daging di saku jubahnya dan memberikannya pada burung itu.
Zhalamen memandang burung itu dengan jengkel. Tangannya dikepalkan, ingin sekali rasanya mencekik burung itu dan memakannya sebagai sarapan pagi. Tetapi Zhalamen tidak berselera, seketika rasa laparnya menghilang melihat burung gagak itu makan dengan lahap. Ya, dia tahu setiap makhluk memiliki hak untuk hidup. Termasuk juga burung ini. Zhalamen mengambil nafas panjang, dan menarik kursi di dekatnya untuk ia duduk dan terus memperhatikan burung itu. Pandangan matanya sangat lelah, lesu, tanpa gairah. Terkadang kakinya menghentak-hentak membuat suatu irama yang beraturan. Setelah burung itu memakan habis makanannya, Zhalamen mulai mengamati burung tersebut. Ia mengelus sayapnya yang baru saja ia obati.
“Hey, burung. aku tidak tahu harus bagaimana lagi, tapi sungguh. Aku butuh bercerita, bagaimanapun juga aku tidak punya orang untuk bercerita mengenai perasaan dan kekhawatiranku saat ini. Jadi, mungkin kau akan ada disini beberapa saat untuk mendengarkan ceritaku, kuharap kau tidak keberatan. Kau tahu, aku… Sangat merindukan keluargaku. Tidak ada satu pun informasi yang menjelaskan tentang keadaan ku sekarang ini. yang kulihat hanyalah kilasan-kilasan bayangan adik perempuanku, ketika aku menyeruput darah segar. Entah apa itu maksudnya. Mungkinkah itu pecahan kenangan, atau… Aku tak tahu… Aku bertanya-tanya apakah hanya aku yang tinggal di dunia ini? Sendirian? Sungguh, aku.. Sangat sedih. Jika aku tidak menemukan keluargaku sama sekali, mungkin lebih baik aku mati saja mulai dari sekarang. Berat rasanya pikiran dan hati ini menanggung hidup yang “tak wajar” seperti ini. tetapi, jika aku menyia-nyiakan hidup ini, aku merasa tidak menghargai atas hidup yang sudah diberikan kepadaku ini. Aku jadi… Serba salah. Aku tidak tahu harus bagaimana…” ucap Zhalamen.
KRRRRRUUUUK, perut Zhalamen berbunyi kembali.
“Ya, dan bahkan rasa lapar tiada akhir ini pun terus menyerang kapanpun, dan dimanapun.” Lanjutnya dengan nada sedih sambil memegangi perutnya.
Burung gagak itu memang mendengarkan dengan baik, sepasang mata kuningnya mengamati Zhalamen dengan tatapan tajamnya. Namun, ia hanyalah seekor burung gagak. Setelah Zhalamen bercerita, burung gagak itu hanya membuang muka dan mulai mematuki barang-barang lain. Zhalamen menyatukan alisnya, giginya bergemeletuk. Ia mengayunkan tangannya dan hendak memukul burung itu. Namun, burung gagak itu lincah, ia sempat berlari ke balik meja dengan cepat dan menghindari pukulan Zhalamen dengan tepat. Zhalamen bangkit ia menarik meja itu, dan hendak menangkap bruurng itu. Burung gagak itu terlalu lincah dan cepat, ia terus menghindar dan bersembunyi ke tempat yang lebih sempit sehingga Zhalamen harus menyingkirkan benda-benda itu dan baru bisa menangkapnya. Setelah kejar-kejaran konyol berlangsung selama sepuluh menit, dan keadaan rumah sudah sangat berantakan, akhirnya Zhalamen pergi ke dapur dan dapat menangkap burung gagak itu.
“Aha!!! Sudah kuduga! Kau pasti ada disini! Kau mau mencuri makanan!” teriak Zhalamen sambil menyeringai lebar memperlihatkan gigi taringnya yang menyeramkan.
Burung gagak itu terus berkoak ketakutan, cengkraman milik Zhalamen terlalu kuat untuk dapat dikalahkan. Lagipula ia hanya seekor burung kecil yang baru saja terluka. Semakin tajam tatapan Zhalamen koakannya semakin keras dan penuh dengan ketakutan. Sementara itu Zhalamen terus mendekatkan burung itu ke wajahnya.
“Kau…. Kau jenius!” teriak Zhalamen, mulutnya yang semula cemberut kini mengembang lebar (sangat lebar, disertai luka yang Giovanni torehkan sebelumnya). Zhalamen mengulurkan lengannya yang mencengkeram burung itu ke ruangan yang sudah berantakan.
“Kau lihat?! Setelah kita main kejar-kejaran seperti ini, aku jadi mendapatkan suatu gagasan hebat. Gagasan yang kau ciptakan. Saat aku mencarimu, aku melihat keadaan rumah ini yang sangat berantakan. Bahkan aku tidak dapat menemukan daging sisa yang kumakan di tengah kekacauan ini, padahal daging itu sangat segar, warnanya benar-benar merah dan mencolok. Kau tahu apa artinya?! Kau jenius, gagak! Kau jenius! Ahahahahahaha!!!” ucap Zhalamen dengan keras sambil tertawa layaknya seorang maniak.
“Baiklah, akan kulepaskan kau kali ini, burung. Dan jangan kembali! Ingatlah, jangan pernah kembali, atau kau akan kumakan! Aku melepaskan mu karena kau sudah memberikan gagasan yang bagus, maka dari itu, cepat pergi!”
Zhalamen keluar rumah dan melempar burung gagak itu ke angkasa. Burung itu langsung mengepakkan sayapnya meski sedikit tertatih-tatih dan langsung terbang menjauh. Sementara itu Zhalamen hanya terkekeh-kekeh dan kembali masuk ke dalam rumah. Ia langsung membuka pakaian lusuhnya yang sudah busuk itu dengan pakaian hasil curiannya. Ia mengenakan celana panjang, kaos, dan hoodie hitam. Satu-satunya yang terang dari dirinya hanyalah kulit putih pucatnya dan mata merahnya yang cerah. Kemudian Zhalamen kembali ke dapur dan memilih satu dari sekian banyak pisau dapur, dan pilihannya jatuh pada pisau biasa. Ia mencoba ketajaman pisau tersebut dengan menyayatkan bilahan baja dingin nan tajam itu ke pelipisnya hingga turun ke pipinya. Darah mengalir, dari luka tersebut, dan Zhalamen sedikit meringis kesakitan. Namun ia tertawa lepas dan menyembunyikan pisau itu di saku hoodienya. Kemudian ia kembali mengobrak-abrik pakaian curiannya dan ia menemukan sebuah sapu tangan hitam bermotif tribal berwarna merah. Zhalamen mengambilnya dan mengenakannya untuk menutupi “senyumannya” yang menyeramkan itu.
“Hehehehehehe, aku tahu penampilan ini benar-benar tipikal penampilan pembunuh zaman sekarang. Orang gila, pisau, dan hoodie, terlalu umum. Saking umumnya orang akan mulai terbiasa dengan hal ini. Bahkan para gelandangan juga berpenampilan seperti ini. Dan… Gagak itu, memang hebat. Gagasan yang cukup mengagumkan. Bagaimana kalau aku juga mengaplik… Aplak.. Aplika… Ah, sial! Sudahlah, yang penting aku harus mencobanya dalam kenyataan. Jika benar kejar-kejaran seperti tadi dengan meninggalkan banyak kekacauan di belakangku, memang cepat atau lambat aku akan tertangkap. Tetapi, dengan begitu aku juga akan mudah bersembunyi seperti daging sisa itu di balik kekacauan yang sudah kubuat. Akan kubuat orang-orang mengikuti jejak dan permainanku. Hahahahahaha.” Zhalamen berbicara sendiri sambil melihat ke arah yang tak menentu.
Zhalamen pergi ke arah pintu. Ia membuka kenop pintu perlahan. Sinar matahari yang begitu cerah mengenai wajahnya yang tertutup dengan segala atribut berwarna hitam. Memang panas rasanya, tetapi tidak akan sepanas ketika kulit Zhalamen langsung terkena sinar matahari itu. Zhalamen menutup pintu. Dan ia berjalan layaknya orang normal di tengah ladang tak terurus menuju kota. Tempat keramaian berada.
*
Dibalik tembok-tembok gang kecil, jika kau teliti kau dapat melihat sosok hitam bermata merah sedang mengamati semua kegiatan warga kota. Yang menjajakan koran, mempromosikan dagangannya, membeli barang, berbincang-bincang, semua orang, hampir tidak ada yang menajamkan mata mereka pada sosok tersebut. Sementara itu sosok tersebut melemahkan pandangannya dan turun terduduk di atas permukaan tanah.
“Aku tahu ini benar-benar hal bodoh yang kulakukan. Hanya karena aku tidak lagi memiliki keluarga, dan aku juga tidak dapat bunuh diri untuk menghargai hidup yang kedua kali ini, kini aku hanya menjadi orang gila yang depresi dan berambisi untuk membunuh orang hanya untuk kesenangan. Benar-benar konyol. Bodoh. Tolol. Hanya karena hal seperti itu saja, aku seperti ini. tapi, kalaupun aku hidup, aku tidak tahu harus melakukan apa. Ugh, bodohnya!” keluh Zhalamen sambil menarik hoodienya lebih kedepan dengan kesal.
“Kak? Kakak, kau baik-baik saja?”
Zhalamen terbelalak. Ia mendengar suara yang mungkin ditujukan kepadanya. Suara itu sangatlah dekat. Zhalamen mendongakkan kepalanya, dan ia melihat seorang anak laki-laki kecil dengan penampilan yang sangat menggemaskan berdiri di hadapannya. Rambutnya pirang, matanya biru dan bulat, benar-benar gambaran seorang malaikat kecil. Anak kecil itu memandang Zhalamen dengan bingung dan iba. Pandangannya merendah, dan ia pun menunduk mencoba untuk melihat wajah Zhalamen. Zhalamen hanya mengerutkan dahinya dan terus menutupi wajahnya dengan hoodie.
“Ada apa Kak? Kakak tidak usah takut, aku tidak akan menyakiti Kakak.” Ucap anak kecil itu dengan polos sambil terus menunduk melihat wajah Zhalamen.
“Men.. Menyakiti? Haha, menyakiti?! Ahahahaha tentu saja, bocah kecil! Kau tidak akan bisa menyakiti aku! Lihatlah, betapa kecilnya dan lemahnya dirimu ini?! Ahahahahaha!!!” jawab Zhalamen sambil tertawa gila.
Anak kecil itu cemberut, dengan cepat bocah itu memegang lengan Zhalamen dan menggigitnya dengan keras.
“Auw!!! Apa yang kau lakukan?! Sakit!!!” teriak Zhalamen kesal sambil berdiri dan melepaskan gigitan anak itu.
“Lihat, aku dapat menyakitimu, Kak. Kau tidak boleh sombong seperti itu. Sombong itu tidak baik.” Jawab bocah itu sambil menyilangkan lengannya di depan dadanya.
“Ap… Apa?! Apa yang kau bicarakan?! Persetan dengan itu!”
“Dan juga Kakak tidak boleh berbicara kasar seperti itu!”
Zhalamen tercengang. Tatapan matanya menajam seiring bocah itu dengan berani menatapnya kembali dengan galak. Tetapi tak lama kemudian Zhalamen tertawa kecil. Matanya berubah menjadi pandangan yang begitu ramah dan sangat hangat.
“Baiklah, baiklah, adik kecil. Maafkan aku. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan sendirian seperti ini, hah? Dimana Ibumu? Kau tersesat?” tanya Zhalamen dengan baik.
“Hmm, ya, aku tadi bermain-main sendirian disini. Tidak, aku tidak tersesat. Ibuku ada di rumah, aku hanya bermain saja disini sendirian. Setiap hari aku memang selalu main sendirian kok, Kak.”
“Hmm, sendirian ya? Kalau begitu bagaimana kalau aku menemanimu bermain? Boleh? Aku juga tidak memiliki teman untuk bermain. Bagaimana?”
Bocah kecil itu langsung menyeruakkan senyumannya yang paling besar. Wajahnya bersemu merah akibat rasa senang yang meluap-luap. Loncatan kaki dan teriakan kebahagiaan tidak dapat ia tahan lagi. Kemudian bocah kecil itu langsung menarik lengan Zhalamen dan berlari, tetapi Zhalamen menahannya. Matanya terpejam akibat senyum yang ia uraikan.
“Aku akan bermain, jika kau dapat menjadi anak baik.” Ucap Zhalamen.
“Ya, aku akan menjadi anak baik!”
“Baiklah, kalau begitu, aku akan memintamu untuk berjanji. Dan kau tidak boleh melanggar janji itu. Ini janjinya, berjanjilah kau tidak akan mengatakan kepada siapapun kalau kau melihat sesuatu yang mengejutkan saat sedang bersamaku. Kau berjanji?”
Bocah kecil itu terdiam sementara, ia berfikir. Hal mengejutkan macam apa yang sebenarnya diucapkan oleh Zhalamen. Apakah yang ia maksud adalah sebuah kejutan yang menyenangkan atau apa? Tetapi karena terburu-buru oleh rasa girangnya, bocah kecil itu mengangguk dengan mantap dan mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking Zhalamen. Kemudian mereka pergi ke tempat sepi. Tempat berupa lapangan yang sepi, kumuh, dan tidak terawat. Namun dengan begitu bocah itu bermain dengan sangat riang bersama Zhalamen. Mereka mengambil ranting-ranting pohon kecil dan menggunakannya sebagai pistol-pistolan untuk bermain. Setelah mereka jenuh dengan permainan itu, mereka mulai bermain petak umpet, kejar-kejaran dan permainan menyenangkan lainnya. Sampai akhirnya datang tiga orang anak dengan umur yang lebih tua dari si bocah kecil. Mereka berjalan dengan pongah. Mendekati bocah yang sedang bermain dengan Zhalamen. Suasana menjadi hening. Bocah kecil itu nampak ketakutan, ia langsung berlari dan bersembunyi dibalik punggung Zhalamen. Zhalamen terdiam, memperhatikan mereka satu per satu. Ketiga anak itu terus mengincar bocah lelaki di belakang Zhalamen.
“Kau, sudah kami bilang. Kau dilarang bermain disini. Ini daerah bermain kami.” Kata salah satu dari tiga anak itu.
“Tapi.. Kalian tidak memakai tempat ini untuk bermain. Tidak sama sekali. Kalian hanya melarangku bermain saja. Kalian jahat!” jawab bocah lelaki itu dengan keras.
Ketiga anak itu mulai menghampirinya, namun Zhalamen merentangkan tangannya. Ia jongkok.
“Siapa kau? Dan apa hubungannya dirimu dengan anak itu?” tanya anak yang lainnya.
“Bukan siapa-siapa. Dan bukan siapa-siapa dari anak itu pula. Tapi berhenti mengganggu anak ini, itu benar. Untuk apa kalian mengusirnya kalau kalian tidak memakai tempat ini untuk bermain. Itu tidak baik.” Jawab Zhalamen sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.
Ketiga anak itu saling memandang satu sama lain, dan mereka berani melewati Zhalamen. Mereka mulai menarik lengan bocah lelaki malang itu dengan melayangkan beberapa pukulan ke wajahnya. Kemudian bocah itu di baringkan di tanah, dan salah satu anak menginjak perutnya dengan keras, berkali-kali. Zhalamen hanya terdiam, dia mengamati dari pinggir. Setelah bocah itu nampak tak berdaya dan hanya berguling-guling di tanah penuh kesakitan, ketiga anak yang lainnya mulai membuka celana dan mengencinginya.
“Baiklah, itu sudah cukup menyenangkan.” Kata Zhalamen sambil berdiri setelah ia lama mengamati perkelahian itu sambil duduk.
Ketiga anak itu melihatnya dengan heran. Mereka tak menyangka Zhalamen tidak membela bocah kecil itu sama sekali. Ia malah duduk santai dan mengamati nya seakan sedang menonton film yang seru. Dan ia mengatakan kata “menyenangkan”. Ketiga anak itu menutup celana mereka dan berbalik melihat Zhalamen dengan tatapan bingung yang amat sangat. Sementara itu Zhalamen menghampiri mereka sambil bertepuk tangan riang.
“Sungguh, permainan yang menyenangkan. Kalau begitu, kini, bolehkah aku juga ikut bermain?” tanya Zhalamen lagi.
Sekali lagi ketiga anak itu saling memandang satu sama lain. Dan mereka kembali memandang Zhalamen. Zhalamen hanya tertawa kecil sambil mengusap-usap telapak tangannya.
“Kuanggap itu jawaban ‘ya’.” Ujar Zhalamen.
Tanpa basa-basi lagi Zhalamen langsung memukul kepala ketiga anak itu dengan keras. Hingga hidung mereka mengeluarkan darah. Ketiga anak itu mulai menangis dan berlarian kesana kemari, kabur mencari jalan untuk melarikan diri. Tetapi Zhalamen dengan mudah kembali menarik lengan mereka satu per satu dengan cekatan. Zhalamen menarik lengan mereka dan menyudutkan mereka di pojok lapangan itu, lalu Zhalamen mengikat lengan baju mereka satu sama lain ke batang pohon agar mereka tidak dapat terlepas darinya. Saat mereka menangis, meminta mohon dan ampunan kepada Zhalamen, Zhalamen justru tidak berhenti. Zhalamen mulai melayangkan kakinya yang panjang dan kuat ke arah perut ketiga anak itu dengan sekuat tenaga. Darah menyembur langsung dari mulut anak-anak itu. Suara terbatuk-batuk pun keluar dari tenggorokan mereka. Mereka terus berteriak dengan parau untuk meminta Zhalamen agar mengampuni mereka.
“Kami mohon.. Uhuk… Uhuk… Kami mohon, hentikanlah ini! Kami kesakitan…” teriak satu anak dengan suara yang sangat lantang sambil menatap Zhalamen dengan lemah.
Zhalamen menghentikan tendangannya. Ia berdiri diam menatap ketiga anak-anak itu. Tidak ada satu pun kata-kata keluar dari mulut Zhalamen, hanya bola mata merahnya menatap tajam terus menerus. Ketiga anak itu menatap Zhalamen dengan penuh kengerian, jantung mereka berdebar dengan sangat cepat menunggu Zhalamen melakukan sesuatu. Tepatnya menunggu Zhalamen mengampuni dan melepaskan mereka. Kemudian Zhalamen bergerak, ia merapatkan kakinya dan memasukkan tangannya kedalam saku hoodienya. Kemudian tangan kanannya mulai keluar dari saku dan menggenggam sesuatu. Ya, pisau. Ketiga anak itu mulai berteriak lebih keras lagi, mereka semakin memberontak. Sementara itu Zhalamen tertawa keras-keras sambil menghampiri mereka dengan sempoyongan.
“Oh hahahahha ayolah! Permainan ini belum selesai, anak-anak! Jangan meronta seperti itu! Tidak baik meninggalkan sirkus di acara puncaknya!” teriak Zhalamen dengan nada yang mengerikan.
Tanpa basa basi lagi Zhalamen mulai menusukkan pisaunya ke mata anak-anak itu dengan dalam. Membuat sebuah air mancur merah terang menyembur di lubang mata mereka yang bolong. Ketiga anak itu menangis darah, teriakan mereka semakin parau dengan darah membasahi sekujur wajah mereka. Kemudian Zhalamen mengganti sasarannya dan menyayat urat nadi leher ketiga anak itu tanpa belas kasih sama sekali. Ia melakukannya sama persis seperti memotong leher seekor ayam sambil tertawa-tawa dengan riang. Hanya dalam hitungan satu menit, ketiga anak itu sudah tidak bernyawa. Teriakan parau mereka menghilang berangsur-angsur setelah bunyi desisan tenggorokan yang digorok. Mereka mati. Zhalamen melepaskan ikat lengan baju mereka dan melemparkan mayat mereka keatas kubangan air satu persatu dalam kondisi mengenaskan seperti itu.
“Aku tidak terbiasa mengencingi orang, tetapi mungkin ini akan menjadi pengganti yang bagus. Bagaimana menurutmu, nak? Apakah permainan yang kulakukan ini sama dengan apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Zhalamen sambil berbalik ke belakang kepada bocah kecil yang menatapnya penuh dengan rasa takut dan terkejut.
Bocah kecil itu hanya berdiri disana sambil menteskan air mata dan tubuhnya bergetar hebat. Tentu saja. Siapa yang tidak takut saat dihadapannya berdiri seorang pembunuh gila berdarah dingin seperti Zhalamen. Tanpa berkata sepatah kata apapun, bocah itu berlari dengan kencang, entah kemana, meninggalkan Zhalamen sendirian.
Bocah kecil itu lari terbirit-birit dan beberapa kali terjatuh akibat rasa takut dan gelisah yang terus menyelimuti dadanya. Semua apa yang ia lihat barusan masih melekat di bola matanya. Darah merah menyala itu terus terbayang-bayang di benaknya. Bocah kecil itu akhirnya sampai dan memeluk ke seorang wanita paruh baya yang sedang berbincang-bincang dengan banyak orang di sekitarnya. Wanita paruh baya itu nampak terkejut dan langsung memeluk bocah itu dan bertanya apa yang terjadi dengannya. Bocah kecil itu nampak tergagap-gagap dan sangat sulit sekali untuk berbicara. Pada akhirnya bocah itu menarik ibunya dan mengajak beberapa orang untuk mengikutinya untuk kembali ke lapangan tempatnya melihat “kejutan” tadi. Semua orang nampak terkejut melihat mayat ketiga anak itu mati dengan mengenaskan. Bocah kecil itu pun menceritakan semuanya dengan baik, hingga detail-detail berdarah yang sangat spesifik dapat ia katakan dengan baik. Namun ketika orang-orang menanyakan keberadaan si pelaku, ia sudah menghilang dari tempat. Tidak ada satu pun jejak darinya, meskipun tadi ia menginjak perut ketiga anak itu yang berdarah. Namun tidak ada jejak sama sekali dari dirinya.
Sekitar dua jam kemudian, polisi mulai berdatangan dan menutup tempat itu untuk memeriksa kasus ini. semua orang di sekitar daerah itu tidak ada yang berani keluar dari rumahnya meskipun matahari masih bersinar, dan ini adalah tengah hari dimana cahaya benar-benar terik, menyilaukan, dan memungkinkan semua orang untuk melihat setiap sudut kota dengan jelas. Para detektif dan polisi mulai berpatroli dalam keadaan siaga penuh untuk mencari keberadaan pembunuh sadis ini. namun sudah 7 jam pencarian, polisi masih tidak mendapatkan hasil atau bahkan sedikit tanda dari dirinya. Keadaan malam menjadi semakin menakutkan dengan keberadaan orang gila yang berkeliaran di sekitar daerah ini. Keadaan sangat mencekam dan dingin. Meskipun ini bukan waktunya untuk tidur namun semua anak sudah mulai memasuki kamar tidur mereka dan bersembunyi dibalik selimut mereka, begitu juga dengan si anak lelaki kecil yang tadi. Ia terus menangis, masih terbayang kejadian tadi siang di benaknya. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah seseorang di dalam kamarnya. Dengan cepat anak itu langsung bangun dan melihat ke arah gelap kamarnya, memang benar seseorang ada disana. Semuanya hitam, hanya mata merah yang dapat ia lihat di balik kegelapan itu. Bocah lelaki itu sudah mulai berteriak namun sebuah tangan yang dingin dan kasar menutup bibir kecilnya.
“Ckckckckck, kau tidak boleh berteriak disaat orang-orang tenang, nak. Itu mengganggu kedamaian mereka. Lagipula aku kesini hanya dalam waktu yang sangat sebentar kok.” Ucpa Zhalamen sambil mengedipkan satu matanya dengan ramah.
Melihat gelagat Zhalamen yang memang ramah, akhirnya ia menutup mulutnya dan mengurungkan niatnya untuk berteriak, sehingga Zhalamen dapat membuka kembali tangannya yang sedang membekam anak tersebut.
“K.. Kau… Kau tidak akan menyakitiku kan? Kau telah membunuh anak-anak itu.. Tapi kau tidak akan menyakitiku kan, Kak?” tanya anak kecil itu dengan sangat polos.
“Hahahaha, tentu saja tidak, nak. Aku tidak akan membunuhmu.” Jawab Zhalamen sambil bergetar-getar dengan aneh.
“Sungguh? Aku tidak yakin. Aku masih berpikir, mungkin dibalik tawamu itu kau marah padaku. Aku tidak yakin kau tersenyum saat ini.”
“Oh, kau tidak percaya. Baiklah, aku akan membuka maskerku, akan kuperlihatkan bahwa aku TIDAK BERBOHONG SAMA SEKALI kepadamu, nak.”
Zhalamen membuka ikatan simpul kain maskernya yang menutupi mulutnya dengan perlahan-lahan. Anak kecil polos itu terus melihat wajah Zhalamen dengan penasaran dan gelisah. Terbukalah masker Zhalamen. Terlihat sebuah “seringai” panjang menghiasi wajah Zhalamen. Tetapi Zhalamen memang tidak berbohong, “seringai” buatan itu bertambah lebar dengan senyuman gila yang Zhalamen benar-benar pasang di wajahnya. Melihat kengerian dan “kejutan” lainnya anak itu mulai memberontak dan hendak berteriak lagi, tetapi Zhalamen dengan cepat membekamnya kembali.
“Dengar nak. Aku memang tidak berbohong kalau aku ini tersenyum padamu. Aku hanya, kecewa padamu. Kau ingat apa yang kau katakan padaku tentang janjimu yang kau ucapkan tadi siang jika kau melihat sesuatu yang mengejutkan saat sedang bersamaku? Apakah kau menjaga janji itu dengan baik, nak? Rasanya sangat tidak adil jika akau jujur sementara kau? Kau melanggar janji.. Itu tidak baik.” Oceh Zhalamen panjang lebar sambil menatap keadaan sekitar.
Salah satu tangan Zhalamen kembali masuk kedalam saku hoodienya dan mengambil pisaunya lagi. Tenaganya mulai ia keluarkan kembali. Bocah kecil itu dengan mudahnya ia dorong hingga terbaring diatas kasurnya hanya dengan satu tangannya.
“Dan ini lah bayarannya agar kau tidak melanggar janjimu lagi, nak. Sesungguhnya kau tidak akan bisa lagi berjanji malahan, tetapi ini jauh lebih baik daripada melanggar janji.” Lanjut Zhalamen.
Zhalamen mulai mengayunkan pisaunya untuk beberapa kali ke udara. Dan dengan cepat membuka bekamannya lalu menarik lidah bocah kecil malang itu keluar dengan paksa. Teriakan bocah kecil itu yang melengking itu mulai terdengar keseluruh penjuru rumah. Dan ibunya mulai berteriak tentang keadaan anaknya sambil bergegas menghampirinya. Mendengar derap langkah cepat itu Zhalamen langsung menebas lidah kecil anak itu dengan cepat menggunakan pisau. Darah menyembur keluar dari mulut anak kecil itu yang kini hanya bisa mengerang-erang kesakitan. Zhalamen mulai tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, ia menggenggam lidah kecil itu sambil tertawa-tawa keras seperti seorang maniak. Sementara itu bocah kecil itu hanya dapat memegangi mulutnya yang berdarah dan menatap Zhalamen dengan ngeri sambil menjauh perlahan-lahan agar tidak menarik perhatiannya.
“Baiklah, nak, lihat! Akan kutelan seluruh kebohonganmu ini! Kutelan ia bulat-bulat!!!” teriak Zhalamen sambil memakan bulat-bulat lidah mentah yang masih segar dengan tangannya.
Tepat disaat itu ibu dari bocah itu masuk dan mendapati darah berceceran di lantai dan mulut anaknya, dan ia juga mendapat sosok hitam yang tersenyum sangat “lebar” sedang menjilati jari jemarinya yang penuh darah kemudian tertawa terbahak-bahak sambil pergi melalui jendela kamar anaknya dengan cepat. Namun sang Ibu tentu saja lebih mementingkan keadaan anaknya yang menangis dengan erangan aneh akibat lidahnya yang terpotong. Tangisannya sangat keras dan penuh rasa sakit. Bocah lelaki itu kini tahu bagaimana tajamnya dan sakitnya dari kejujuran.
*
Sudah 1 hari setelah Zhalamen berbuat onar, kota kecil ini menjadi semakin gencar memeriksa setiap penjuru kota. Bahkan hingga gorong-gorong kota pun mereka periksa dengan baik. Namun tetap saja, hasilnya nihil. Dan para warga pun semakin khawatir karena diberitakan Zhalamen mulai bergerak ke kota yang lebih besar lagi. Baik warga kota kecil maupun besar merasa terancam dengan keberadaan dirinya. Terlebih media mulai kembali berkoar dengan memberi tema yang sangat menarik. Sesuai dengan tuturan saksi mata.
“GIOVANNI DE LUCA, PSIKOPAT GILA YANG MATI TELAH BANGKIT DAN MENGHANTUI KOTA!!!”
Yap, Zhalamen sudah memamerkan “senyuman lebarnya” kepada beberapa orang korbannya. Dan kini hobi barunya adalah membaca koran yang dibuang orang-orang dan mendengarkan betapa panasnya kabar mengenai dirinya dari tempat persembunyiannya. Mendengar semakin banyak orang takut kepadanya, membuatnya semakin tergelitik untuk melakukan lebih banyak “permainan” menyenangkannya. Dan tangannya pun terasa gatal untuk terus mengayunkan pisaunya ke arah seseorang. Mungkin Zhalamen merasakan perasaan gila yang adiktif ini sebagai sesuatu yang menyenangkan, ia berharap perasaan ini dapat tumbuh menjadi lebih besar hingga menjadi panutan dan gairah hidupnya.
Kini setiap malam, Zhalamen dengan tenang berjalan-jalan dengan biasa, sehingga tidak ada satupun orang yang curiga dengannya. Lagipula maskernya yang selalu ia pakai benar-benar berguna untuk menutupi wajah aslinya, ciri khasnya. Dan disaat malam juga ia selalu berburu setiap orang yang ia kira cocok untuk dibunuh. Pilihan Zhalamen jatuh untuk membunuh anak-anak kecil di sekitar. Ia membunuh anak kecil dengan alasan daging mereka lebih segar dan enak untuk dimakan, juga organ tubuh mereka masih lunak jadi mudah untuk dipotong dan digerogoti. Dan Zhalamen juga lebih senang untuk bermain-main dahulu dengan mereka sebelum benar-benar membunuhnya. Ia juga lebih senang untuk menyakiti mereka hidup-hidup sebelum melayangkan jiwa mereka. Seperti menguliti mereka hidup-hidup, memotong anggota tubuh mereka selagi mereka hidup, dan yah penganiayaan lainnya yang menyeramkan. Namun setiap kali dirinya membunuh dan memakan korbannya, khususnya saat meminum darah mereka, kilasan bayangan itu selalu muncul di benaknya dan membuatnya mengamuk sambil memegangi kepalanya. Kilasan bayangan itu membuatnya kembali teringat pada keluarganya, menghilangkan seluruh kesenangannya, dan ia kembali terpuruk kedalam kesedihannya. Zhalamen menjadi sangat labil. Setelah ia membunuh dan memakan manusia, mendapati kilasan bayangan adik perempuannya, ia langsung tak berselera makan, ia mengamuk dan bersumpah serapah tidak akan memakan manusia lagi. Namun kemudian tak lama lagi, hasrat membunuhnya yang semakin tumbuh besar memaksanya kembali untuk membunuh, dan nafsu makannya yang terus muncul juga mewajibkan dirinya memakan hasil “buruannya”. Jadi terkadang setelah makan Zhalamen hanya berdiam diri dan menatap langit dengan tatapan kosong. Otaknya semakin kacau untuk berfikir. Di sisi lain ia adalah pribadi yang sama dengan Zhalamen yang dulu, di sisi lainnya juga ia seorang psikopat gila berdarah dingin. Tetapi tanpa Zhalamen sadari sama sekali, aksi permainannya menunjukkan pola yang terstruktur. Ia membunuh dari satu tempat ke tempat yang lainnya.Tempat yang semakin lama semakin ramai dihuni orang-orang dan lebih banyak korban untuk diburu. Begitu juga dengan media yang semakin gencar membahas mengenai dirinya. Kian lama berita tentang dirinya masuk menjadi berita nasional, hingga internasional. Ia menjadi buronan utama.
Semua orang membicarakannya. Semua orang takut padanya. Semua orang seperti menggantungkan nyawa mereka pada tangannya. Zhalamen menjadi terror utama. Dan kini pilihan buruannya pun mulai beragam, tidak hanya anak kecil, remaja, dewasa, lansia, laki-laki, perempuan, semuanya ia bunuh habis tanpa belas kasih. Hari demi hari Zhalamen nampak menjadi lebih gila secara terus menerus. Kini ia menganggap kilasan bayangan itu hanya sebuah memori belaka. Dan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat tattoonya yang terukir kembali pun tidak ia rasakan sama sekali. Satu-satunya hal yang ia rasakan hanyalah kesenangan dan gairah hidup saat melihat korbannya yang berceceran darah. tetapi tetap saja, namanya masih tertutup dengan nama pemilik “senyuman” yang terdahulu, Giovanni De Luca. Entah apa yang ada dalam pikiran Zhalamen. Seharusnya Giovanni menjadi kedok yang baik untuk menyembunyikan identitas dirinya, tetapi Zhalamen tidak ingin berita ini terus diketik dengan nama Giovanni. Maka, suatu malam, Zhalamen tak tanggung-tanggung langsung memburu tiga buruan sekaligus. Sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak laki-lakinya yang masih balita. Ia membunuh ketiganya dengan sadis. Tetapi kini ia hanya mengambil beberapa bagian tubuh dari mereka untuk dimakan, dan ia menyisakan tubuh mereka untuk digantung di ruang keluarga dengan dada yang sudah disayat menggunakan pisaunya dan membentuk sebuah huruf. Zhalamen melakukannya dengan sangat percaya diri dan dengan sangat serius. Ia mengukir huruf itu dengan sangat jelas di dada korban-korbannya, memastikan orang-orang dapat melihatnya dengan baik. Setelah pekerjaannya beres, Zhalamen mulai kembali memakai hoodienya dan berlari ke tempat yang bagus untuknya bersembunyi, meninggalkan ketiga mayat itu menggantung secara berurutan dengan inisial namanya di dada mereka. namun tepat di belakang mayat itu, di tembok putih, tetulis dengan jelas menggunakan darah…
“Giovanni De Luca sudah mati, bukan dia pembunuh dari semua ini, tapi aku, aku yang jauh lebih hebat dan mengerikan daripada dirinya..!”
Setelah itu barulah kau dapat melihat inisial namanya yang terukir di tubuh korban-korbannya. Di dada sang ayah terukir huruf Z. Di dada sang Ibu yang sudah sedikit hancur, tertulis huruf N. Dan di dada anak balita lelaki itu terukir huruf T.
Z.N.T…
*

V: Back To The Life

Chapter V
*
“Haaaaah?! Hah…. Hah… Hah…”
Nafasku tersengal-sengal. Padahal baru saja aku tertidur dua jam yang lalu. Sungguh, entah apa yang terjadi. Aku tidak bermimpi, tetapi aku tiba-tiba terhenyak begitu saja. Telingaku… Telingaku mendengar seseorang memanggil namaku. Ya, seseorang telah memanggilku. Aku turun dari ranjang dan langsung menuruni tangga. Kulihat Carter tidak ada di sofa tidurnya seperti biasa. Aku pun mengintip kamarnya. Ya, Carter ada disana tergeletak tak karuan diatas ranjangnya. Kalau begitu siapa yang barusan memanggilku? Aku mengerutkan dahiku.
“Baiklah, mungkin tadi hanya permulaan mimpi saja. Hanya sebuah prolog. Ya, itu hanya mimpi saja.” Ucapku setengah berbisik, menyadarkan diri sendiri.
Aku kembali menaiki tangga menuju tempat tidurku. Namun, kini aku malah tidak bisa tidur. Rasa dahaga terus menyerang tenggorokanku. Ini bukan dahaga biasa. Ini dahaga yang wajib dipenuhi apapun “mangsanya”. Aku kembali turun dari ranjang dan pergi ke balkon yang cukup kotor. Kebetulan sekali, seekor burung dara memiliki sarang di pojok pagar balkon. Ia sedang tertidur lelap. Dengan hati-hati dan pelan-pelan aku mendekatinya, yap, dan menggenggamnya.
“Maafkan aku, tapi aku harus melakukannya.” Sahutku pada burung yang terhenyak itu.
Ya, mau bagaimana lagi. Aku. Haus. Aku harus melakukannya. Ku gigit leher burung dara itu dan menenggak darahnya dengan lahap. Jujur saja, memang tidak enak rasanya membunuh seekor hewan yang tidak berdaya seperti itu, tetapi darah ini benar-benar membuatku lebih segar kembali. Rasanya tiga kali lebih hebat dibanding memakan habis seekor tikus.
“Hai, Nail. Apa kabarmu? Kupikir kau sudah memiliki tempat tinggal rupanya.” Sapa seekor kelelawar yang terbang dan langsung bergelantungan di pagar balkon.
“Umh, hai juga. Ya, tetapi kupikir ini hanya untuk sementara saja. Tentu saja tidak akan enak rasanya jika aku terus menumpang di rumah ini kan? Lagipula pemiliknya seorang laki-laki.”
“Hahaha, memang, seorang laki-laki yang jorok, tidak pernah membersihkan rumah, dan menjadikan tempat ini sarang yang terbaik untuk semua hewan. Termasuk aku. Dulu aku seringkali tinggal di ujung plafon langit-langit itu, tetapi kini kutemukan tempat yang lebih baik diujung blok sana.”
“Hahaha, begitu ya. Oh ya, bagaimana? Apakah kau… Memiliki kabar lain? Mengenai keluargaku yang lain? Apakah mereka sudah ada yang bangkit lagi?”
Kelelawar itu menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih. Aku menarik nafas panjang dan ikut bermuram durja juga di pagar balkon.
“Maaf tidak membawakanmu kabar gembira, Nail. Aku sangat menyesal.”
“Oh, tidak. Tidak apa-apa. Tidak selalu kabar itu harus menggembirakan kok. Tak apa-apa. Tapi, apakah kau tahu tentang mayat yang menghilang di daerah pelosok Italia? Mungkinkah itu…?”
“Entahlah Nail, aku tidak pernah terbang sejauh itu. Kecuali pada saat migrasi besar-besaran. Lagipula aku lebih senang menyendiri dibanding bersama kelompokku. Jadi aku belum mendengar kabar dari belahan dunia yang lain. Tetapi menurut kabar hewan lain yang baru saja migrasi hal itu hanyalah sebuah pencurian mayat biasa. Lagipula katanya pun ada hewan buas yang menyerang kota itu dan memakan habis seorang manusia. Jadi ya sudah pasti, itu mungkin perlakuan hewan buas.”
“Oh begitu ya… Ah ternyata memang sia-sia saja aku menganggapnya sebagi kebangkitan yang lainnya. Tentu saja, mereka akan bangit di tempat yang berdekatan denganku kan?”
“Ya, Tuan Ercasanth berkata seperti itu sebelumnya padaku. Tetapi aku tidak tahu skala yang ia maksud dengan arti kata berdekatan itu. Seberapa besar skala yang ia maksud, aku tidak tahu, Nail.”
“Hah, baikah… Mungkin yang lain akan bangkit lebih lama lagi sepertinya ya. Mungkin bulan depan, tahun, dekade depan, atau mungkin tidak pernah…”
“Oh Nail, jangan ber….”
Ucapan kelelawar tersela oleh suara gaduh di tangga. Aku langsung masuk ke dalam ruangan. Dan kulihat suara apa yang ada di tangga. Rupanya itu hanya Carter yang terpeleset saat hendak menaiki tangga.
“Kudengar kau berbicara dengan seseorang. Siapa yang ada diatas sana?” tanyanya sambil memegang sebuah bat baseball untuk berjaga-jaga.
“Tidak, Carter. Aku hanya berbicara sendiri saja.”
“Jangan bohong. Aku tidak ingin ada orang asing yang masuk ke dalam rumah ini.”
“Akulah orang asing itu.”
“Kini kau sudah menjadi bagian dari rumah ini, kau sudah bukanlah orang asing lagi, Nail.”
Carter berjalan melewatiku sambil terus menyiapkan bat baseballnya untuk memukul. Setiap sekat ruangan ia periksa dengan baik-baik. Dan tentu saja tidak ada seorang pun disana. Carter mengangkat sebelah alisnya dan menatapku dengan penuh kecurigaan.
“Jangan-jangan ada seorang lelaki yang kau sembunyikan disini. Baiklah, Nail. Katakan dimana dia. Kau tahu, kau baru saja hidup dan kau tidak perlu melakukan ‘itu’ sekarang juga. Siapa lelaki itu, siapa yang berani menyentuhmu?! Tidak ada yang dapat melakukan adegan mesum seperti di film biru dalam rumahku!”
“Apaaaa?! Carter, jangan langsung berpikiran kotor seperti itu! Pertama, aku tidak mungkin menyembunyikan orang lain, kau lah tuan rumahnya. Kedua, aku bukan gadis murahan yang seperti itu. Ketiga, ini benar-benar bukan seperti adegan film biru kau tahu itu. Ini normal. Aku hanya berbicara sendiri.”
Carter mengerutkan dahinya. Ia meragukan kata-kataku. Namun kemudian akhirnya ia menurunkan ekspresinya menjadi ekspresinya yang biasa.
“Baiklah, namun jika kudengar ada suara lagi. Akan ku bongkar seluruh ruangan ini, tak terkecuali lemari mu. Aku tidak peduli isinya banyak barang-barang kewanitaan yang dilarang untuk dilihat. Selamat malam, Nail.” Ucap Carter menuruni tangga sambil terus menatap sekitarnya.
Fuuh, tak bisa kukatakan padanya bahwa aku berbicara dengan kelelawar. Karena aku tahu Carter merupakan wujud seseorang yang nampaknya hobi mengeksploitasi seseorang, dilihat dari tingkah lakunya yang sangat.. Kupikir dia begitu abstrak. Aku menggelengkan kepala, dan kemudian kembali pergi ke balkon. Kelelawar ada disana, wajahnya pun sama paniknya dengan diriku.
“Siapa itu, Nail?” bisik si kelelawar.
“Nah, itulah Tuan Rumahnya. Baiklah, lanjut ke topik yang tadi. Kelelawar, bagaimana caranya aku mengetahui keberadaan yang lainnya? Dan jujur saja, sebenarnya aku merasa keberatan mengenai pendapat tentang kasus di Italia itu. Mungkin masalah manusia yang mati dimakan, itu memang hanya hewan buas. Tetapi, aku masih sangat berharap mayat yang menghilang itu adalah salah satu dari kami. Bisakah kau memeriksanya, kelelawar?” jawabku dengan suara yang pelan.
Kelelawar nampak bingung. Aku tahu ia tidak ingin membuatku sedih, tetapi sepertinya ia pun tidak bisa membantuku. Aku tahu jarak dari Scotlandia ke Italia memanglah jauh, apalagi ia hanyalah seekor makhluk kecil bersayap yang tidak mungkin mencapai Italia hanya dengan sekejap. Dan ia pun akan bermigrasi hanya dengan kelompoknya pada musim tertentu.
“Mungkin aku tidak bisa membantumu, Nail. Tetapi mengapa tidak kau suruh saja hewan lainnya yang dapat terbang bebas, tidak sesuai jadwal sepertiku. Ini saranku, karena aku tidak bisa membantumu.” Jelas kelelawar. “Seperti, yah, beberapa spesies bangsa burung dapat terbang bebas tak terjadwal. Ya, benar, bangsa burung dapat menolongmu!”
Namun tanpa diduga-duga, seseorang membuka pintu balkon dengan keras. Membuatku jantungan setengah mati. Lagi-lagi itu Carter sambil membawa bat baseball. Ia menatapku, dan melihat ke seluruh tempat hingga ke bawah balkon.
“Tidak ada siapa-siapa.” Sahutnya kebingungan.
“Memang tidak ada siapa-siapa, Carter. Kubilang aku hanya berbicara sendiri, disini, sambil melamun, itu saja.”
Carter duduk di sofa yang ada disana. Menghela nafas panjang. Aku duduk di sampingnya.
“Sudahlah, Carter. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja.” Ucapku menenangkannya.
“Ya, Nail tidak apa-apa. Aku memang sedikit paranoid saja. Aku tidak ingin ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, itu saja. Ngomong-ngomong apa sih yang sedang kau lamunkan di dini hari seperti ini?”
“Baiklah, aku melamunkan sesuatu. Aku terbangun tadi akibat sesuatu. Aku merasa ada yang memanggilku, jadi aku terbangun dan langsung melamun disini. Oya, Carter. Kau tahu tempat dimana aku bisa mendapatkan seekor burung?”
“Burung? Burung, hewan, maksudmu? Untuk apa?”
“Untuk.. Kupelihara. Ya, untuk teman saja selagi kau tidak ada dirumah. Kau kan harus bersekolah. Sementara itu aku sendirian selama 8 jam penuh di rumah.”
“Baiklah, besok akan kubawakan satu untukmu. Aku akan mendapatkannya dengan sangat mudah.”
Aku tersenyum kepadanya, dan dia pun tersenyum kepadaku.
“Uh, Carter… Kira-kira berapa lama lagi jangka waktu yang tersisa untukku tinggal disini?”
“Apa?! Kau akan pergi?! Tidak! Kau boleh tinggal disini selama yang kau inginkan, Nail! Kenapa kau tiba-tiba berpikiran untuk pergi dari sini?!”
“Tentu saja, aku hanya menumpang. Tempatku bukan disini, Carter. Dan aku juga tidak enak terus menumpang disini. Aku hanya merepotkanmu saja.”
“Tidak! Anggap saja ini rumahmu sendiri! Kau tidak perlu merasa tidak enak disini! Aku menerima kehadiranmu disini dengan sangat senang hati, Nail. Kau tidak harus pergi, malah.. Aku, ingin…. Aku ingin… Kau tinggal disini. Aku ingin kau menemaniku disini. Kumohon, jangan pergi, Nail. Baru sekali ini aku memiliki teman dalam rumah ini. Kumohon, Nail.”
“Hmm, baiklah Carter, aku paham maksudmu, tetapi rasanya tetap saja tidak enak seakan-akan aku hidup bergantung darimu.”
Carter mengusap dagu-dagunya. Ia berpikir. Bola matanya melihat ke arah kangit-langit, dan sesekali menuju ke arahku.
“Baiklah, begini. Bagaimana jika kau membersihkan rumahku setiap hari. Memasak, mencuci, menyetrika, dan pekerjaan rumah tangga lainnya harus kau lakukan. Anggap saja kau bekerja sebagai asisten rumah tangga yang menginap, dan jika kau ingin membeli sesuatu, aku akan memberimu uang sebagai gajinya. Setuju?”
“Baiklah, itu ide yang menurutku tidak buruk. Ya, dengan begitu aku dapat membalas budimu, baiklah, aku setuju.”
*
Kuakui, pekerjaan rumah tangga tidak pernah seberat ini. Maksudku dulu aku memang sering melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga ini, tetapi rumah Carter besar, besar, dan sangatlah besar. Dan semuanya harus kukerjakan sendirian. Untunglah beberapa bagian tubuh yang lumpuh, patah, dan membusuk sudah semakin baikan seiring dengan waktu. Dari pukul 6 pagi aku membereskannya, kini jam sudah menunjukkan angka 1 siang. Yap, dan aku masih belum selesai mengepel rumah. Memang hanya tinggal bagian teras rumah saja yang belum aku pel tetapi aku tadi sudah melihat betapa menggunungnya pakaian Carter yang kotor dan yang harus ku setrika. Tingginya mencapai 1 meter. Ya, dan kebanyakannya berbahan jeans. Oh ya ampun.
Kulihat jam menunjukkan angka 4, sementara aku masih memiliki sekitar 20 baju yang belum kusetrika. Rasanya aku akan pingsan dan mati setelah semuanya selesai. Ya, tinggal 20 pakaian ini saja, sisanya aku sudah melakukannya.
“Aku pulang, Nail! Nail! Nail!” teriak Carter dari pintu depan.
Suara langkah kaki terdengar, Carter masuk kedalam ruangan. Dan ia pun masuk ke ruangan menjemur ini dimana aku sedang menyetrika.
“Wah, kau melakukannya dengan baik, Nail. Kau baru menyetrika saja ya?” tanya Carter.
“Tidak, aku sudah.. Hah.. Menyapu, mengepel, mencuci.. Dan ini terakhir, menyetrika.”
“Oh wow, semuanya sudah kau lakukan, tetapi, apakah kau sudah memasak?”
“OH YA?! ADUH, AKU LUPA! MAAF, CARTER, AKU AKAN MEASAK SEKARANG! Tapi… Tapi baju-baju ini…!”
“Sssh, tenanglah, Nail. Tenang! Tidak apa-apa. Ini sudah luar biasa, kukira kau akan melakukan satu kegiatan tiap satu harinya, rupanya kau melakukan semuanya sekaligus. Sudahlah, tak apa-apa. Aku masih menyimpan beberapa makanan di kulkas. Aku tinggal memasukkannya ke microwave. Dan kau, kau beristirahat sajalah.”
“Tidak, Carter. Pekerjaan ini sedikit lagi selesai. Tanggung.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan makanannya.”
“Maaf, Carter.”
Carter hanya tertawa lebar dan berlalu ke arah dapur. Sungguh, dia terlalu baik untuk ukuran seorang laki-laki abstrak. Padahal pada mulanya aku berpikir dia akan baik kepadaku hanya untuk beberapa hari saja dan akhirnya malah melakukan hal yang tidak-tidak kepadaku. Seperti yah kalian mungkin tahu apa yang akan dilakukan seorang lelaki dengan membawa perempuan yang masih tidak sadarkan diri sepenuhnya? Ya, tentu saja tindakan yang, begitulah. Rupanya Carter, tidak. Tetapi aku juga sedikit terganggu dengan dirinya yang paranoid. Lagipula aku merasa aneh dengannya, sudah sekitar seminggu aku tinggal disini ia tidak pernah bertanya-tanya tentang masa laluku. Mungkin ia peka, ia takut aku tidak akan suka jika aku harus membongkar masa laluku, yah memang aku tidak suka jika dia bertanya seperti itu, tetapi ya bagi manusia normal tentu saja wajar bertanya-tanya tentang masalah itu.
Setelah semuanya beres, Carter mengajakku makan dahulu, ia menyiapkan semuanya dengan sangat alakadar. Sepiring makaroni panggang dengan keju mozarella yang dilelehkan diatasnya. Ya, aku paham kenapa badannya bisa seperti itu. Dan pantas saja pakaiannya memang kotor, kotor disini, entahlah, aku seperti mencuci celana seorang anak kecil berumur 6 tahun yang sering bermain lumpur. Tapi tak apa, meskipun begitu, Carter sudah sangat baik kepadaku.
“Oya, Nail. Besok, ikut aku pergi ke sekolah.”
“Tetapi, besok kan hari Sabtu.”
“Pokoknya ikut saja, jangan banyak bertanya, berisik.”
Oh, baiklah. Aku akan diam dan mematuhi segala perintahmu tanpa bertanya lagi. Selagi aku dan Carter makan, sesuatu berbunyi di ruang tamu. Suara gaduh bunyi besi yang ditabrak-tabrakkan.
“Apa itu?” tanyaku seraya berdiri untuk memeriksanya.
“Oya, aku lupa mengenai hal itu, Nail. Tunggu sebentar. Tidak usah berdiri, duduk saja.” Jawab Carter.
Ia pun pergi ke ruang tamu di depan, dan kemudian kembali dengan sesuatu berwarna hitam bertengger di bahunya. Carter mengedik-ngedikkan bahunya dan kemudian berbaliklah sesuatu tersebut. Seekor burung. Burung gagak yang hitam mengkilap, paruhnya pun tajam, matanya yang bulat sangat menakjubkan. Aku berdiri kagum. Carter pun tersenyum lebar.
“Ini burung pesananmu kemarin, Nail. Sebenarnya Victor yang memberikannya. Gagak ini peliharaan Victor, dan maaf sebelumnya, ada beberapa bulu dari gagak ini yang dicabut. Victor biasa menggunakan bulunya untuk ritual-ritual tertentu. Tetapi, tak apa, ia sudah jinak kok.” Jelas Carter sambil memindahkan gagak itu ke lengannya dan menyodorkannya padaku.
“Baiklah, terima kasih banyak Carter. Salamkan juga pada Victor ya. Aku.. Aku senang mendapatkannya.”
“Hahaha, ya sama-sama Nail. Ah tidak usah berterima kasih pada Victor, gagak itu tidak terlalu berarti baginya.”
Carter membawakan kandangnya dan kembali memasukkannya kedalam kandangnya itu. Kemudian ia menyimpannya di samping televisi. Dan kami melanjutkan makan siang kami yang tertunda. Disaat kami makan, Carter selalu memelototiku dengan pandangan yang tidak wajar, ia terus memperhatikanku. Semuanya, diperhatikan. Mataku yang juga sesekali meliriknya, hidungku yang kembang kempis, mulutku yang mengunyah, semuanya ia perhatikan.
“Ada yang salah?” tanyaku.
“Tidak. Hanya saja, ya, aku baru tahu kalau Zombie itu benar-benar mirip manusia. Meskipun sebelumnya mereka memang manusia tetapi pasti ada metamorfosa tertentu yang mereka alami, sementara kau. Sepertinya kau berubah menjadi manusia kembali, Nail. Tetapi aku tidak melihat kemajuan pada warna kulitmu yang sangat pucat itu. Dan juga… Ya, sudah lama sekali aku memendam ini. Aku ingin tahu lebih banyak mengenai dirimu, Nail. Darimana kau berasal, bagaimana kehidupanmu sebelumnya, apakah kau memiliki keluarga, yah semacam itu. Bisakah kau menceritakannya padaku. Ini waktu yang tepat, dan sepertinya aku tidak salah meminta hal itu kepadamu, ini permintaan yang wajar kan?”
Baru saja aku memikirkan tentang hal itu. Betapa dia cuek dan tidak perhatian terhadap informasi orang asing di rumahnya ini. Ternyata perkiraanku salah besar. Tentu saja, semua manusia normal pasti seperti itu. Tetapi, ya… Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku memang tidak suka untuk mengulik masa laluku yang pahit, yah masa saat aku belum mati. Namun aku juga akan merasa tidak enak jika aku tidak menceritakannya pada Carter, karena bagaimanapun juga yah seperti yang ia katakan ini adalah permintaan yang wajar. Apalagi ia sebagai tuan rumah, sudah sepantasnya ia mendapatkan latar belakang seseorang yang hendak tinggal berlama-lama di kediamannya.
“Ya Carter. Kau bisa mendapatkannya, ini memang wajar. Baiklah, kalau begitu seharusnya aku melakukan hal ini dari awal. Namaku, Nail. Nail Zjork Tsamaelth. Dulu sebelum aku mati, aku memang tinggal di Norwegia. Aku tinggal di sebuah kota kecil yang tidak terlalu padat penduduk. Dan aku, aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Aku memiliki… Kakak laki-laki. Satu kakak laki-laki menyebalkan yang berbeda 3 tahun lebih tua dariku. Keluargaku hanyalah keluarga yang luar biasa kecil, kami keluarga Tsamaelth memang hanya terdiri dari orang tuaku, kakakku, dan aku saja. Tetapi beruntung setelah berbelas-belas tahun kemudian, kami menemukan sisa keluarga kami yang lain, jadi aku memiliki 2 kakak sepupu laki-laki yang sebaya dengan kakakku sendiri. Mereka juga sangat menyebalkan, namun ya mereka menyenangkan.”
“Tunggu dulu, Nail. Aku mau bertanya, mengapa keluargamu hanya… 4… Umh, 6 orang saja? Dimana nenek, kakek, paman, bibi, atau keponakanmu?”
“Hmh, ya hal ini juga yang terjadi pada kematianku. Keluargaku… Cukup dibenci oleh salah satu keluarga yang lain. Berbagai macam hujatan, hinaan, dan cemoohan didapatkan keluargaku dari keluarga yang membenci kami itu. Saking bencinya, keluargaku habis dibantai oleh mereka, hingga 13 bulan yang lalu. Tepat saat kematianku dan keluargaku. Kami juga dibunuh, dihabisi oleh keluarga itu. Dan ya, aku bangkit dari kubur, entah dimana, kelaparan, bertemu denganmu, kau bawa aku pulang ke rumahmu, dan seperti ini. Itu saja.”
Carter membelalakkan matanya. Pandangan matanya terkejut. Nafasnya menjadi semakin lamban. Ia memperhatikanku dengan pandangan penuh empati.
“Aku turut berduka cita, Nail. Maaf telah membuatmu harus bercerita tentang cerita seperti itu.” Ujar Carter sambil membuang muka dari wajahku.
“Tidak apa-apa Carter. Ya, ini lah masa laluku. Lagipula tidak ada salahnya bercerita denganmu, karena aku memang butuh seseorang untuk bersosialisasi lebih dari sekedar menyapa saja. Aku juga butuh bercerita. Dan aku pun merindukan kehadiran seorang teman, sahabat. Sahabatku dulu. Ya, aku merindukan sosoknya. Tetapi sekarang sepertinya sudah tidak mungkin bertemu dengannya. Mungkin ia sudah berada entah dimana, atau ya entahlah…”
Aku meletakkan sendok diatas piring. Selera makanku hilang dalam sekejap. Aku mendorong piring ke tengah meja, dan menunduk. Tentu saja, sudah pasti aku sedang sedih. Carter mendekatiku, ia memelukku. Memelukku dengan erat. Kemudian ia menengadahkan kepalaku dan menghapus air mataku. Ia tersenyum kecil. Entah mengapa senyumnya sangat mempesona. Dan senyumnya nampak tidak asing bagiku, justru sebaliknya, senyumnya sangat familiar. Padahal setelah seminggu ini bersama dengannya, aku dapat menghitung dengan jari berapa banyak ia tersenyum. Ia memang pemurung, tetapi, aku senang sekali melihat senyumannya. Aku balas senyum Carter dengan senyum terbaik yang kumiliki. Kemudian Carter berlutut sambil memegangi bahuku.
“Nail, aku berjanji. Entahlah apa yang kuucapkan, tetapi sungguh, aku tidak suka melihatmu sedih seperti ini. Rasanya sakit. Sakitnya ada di dalam dada ini. Padahal aku… Aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Jadi, aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Sebisa mungkin aku akan menjauhkanmu dari segala hal yang dapat membuatmu sedih, dan aku akan terus membuatmu bahagia sekuat dan semampuku. Ya?” ucapnya sambil terus tersenyum lebar.
Aku mengangguk dan menghapus air mataku. Lalu Carter kembali memelukku dengan erat.
“Oh ya ampun, Carter! Tidak, tidak, tidak! Kau tahu, Nail baru sebentar mengalami proses hidup kembalinya!” teriak seseorang di balik sekat dinding penghubung antara ruang makan dan ruang tamu.
Aku dan Carter spontan melepas pelukan kami. Kami sama-sama terkejut. Sementara itu Carter langsung memeriksa ruang tamu, tempat suara itu berasal. Setelah berjalan, wajah Carter nampak kesal sekali. Ia berjalan ke balik sekat sambil meneriakkan umpatan-umpatan. Dan ada seseorang disana yang tertawa sambil merintih kesakitan. Kemudian Carter terlihat kembali sambil menjambak sedikit rambut gimbal seseorang yang di cat highlight berwarna merah. Setelah bersusah payah menarik orang itu. Terlihat lah. Itu hanya Victor yang tertawa puas.
“Oh Carter, kau tertangkap basah hendak memperkosa seorang gadis! Mengapa kau tidak mengajakku juga?!” tanya Victor sambil terus berusaha melepaskan rambutnya dari jambakan Carter.
“Diam! Diam! Diam! Kau… Ukh, pengacau! Lagipula jangan sembarangan bicara, Victor. Aku, tidak pernah berpikiran kotor terhadap perempuan!”
“Oya? Lalu bagaimana dengan film-film dewasa yang ada di handphone dan laptop mu itu. Hebatnya lagi kau menghabiskan seluruh memori dengan video-video kotor tersebut.”
Carter terperanjat. Ia membalikkan badannya menghadap Victor. Kemudian tangannya bergerak-gerak. Victor tertawa makin keras.
“Lihat, Nail! Kau tahu apa yang Carter katakan, katanya “Sssssh! Dia bisa membunuhku!” begitu. Ahahahahaha oh rupanya kau belum tahu ya hobi uniknya?” teriak Victor girang.
Aku hanya tertawa kecil. Kemudian menyuruh Carter melepaskan Victor dan kembali duduk di meja makan bersama sahabatnya itu. Carter terlihat sangat jengkel namun ya tidak baik sepertinya menunjukkan sebuah perkelahian di hadapan seorang gadis. Ah, sebenarnya sih aku sudah sangat terbiasa. Tetapi seorang gentleman memang seharusnya seperti itu kan? Kemudian mereka berdua duduk di meja makan.
“Ada apa kau mau kemari, Victor?” tanya Carter.
“Yah, untuk mengucapkan salam kepda Nail yang manis ini dan menyapa sahabatku, kau tentu saja. Aku bosan. Justin pergi untuk latihan sepak bola dengan timnya. Bibiku ada dirumah sedang menguasai televisi dengan telenovelanya. Lalu aku? Hampir sekarat karena kebosanan. Dan.. Oh ya, Carter! Bulan depan akan ada pentas pertunjukkan musik di sekolah! Kita harus latihan!” jawab Victor.
“Hmm? Di sekolah? Omong kosong, untuk apa kita mengikuti pentas itu jika pihak sekolah yang mengadakannya. Tidak akan ada yang sudi menonton penampilan kita. Pertama, semua orang di sekolah membenciku. Kedua, semua orang di sekolah menganggap aku, kau, dan Jutin adalah kumpulan orang aneh, dan ketiga, tidak ada yang akan mengapresiasi genre musik yang akan kita mainkan. Titik. Aku tidak mau.”
“Oh ayolah, Carter. Ini kesempatan kita untuk menjadi lebih terkenal, lebih banyak fans, dan lebih banyak uang. Kau tahu hadiah utamanya? Uang, Carter! Uang! Dengan uang itu kita dapat membeli berbagai alat musik baru, bass baru untukku, dan gitar baru untukmu, juga cat pelumas baru untuk drum Justin! Ayo Carter!”
“Tidak, kita tidak perlu membeli peralatan yang baru. Yang lama juga masih bagus, Victor.”
“Tapi, Carter. Oh, Nail, bantulah aku melunakkan hati si kepala batu ini! Ini sangat berarti bagi band kami. Ayolah, bantu aku, Nail. Kau sahabat Carter, dan kini kau juga akan menjadi sahabatku. Ayolah, bantu aku. Bassku senarnya sudah putus semua. Drum Justin mulai mengeluarkan nada yang tidak seharusnya, bahkan gitar Carter pun butuh perbaikan besar-besaran.”
Victor tiba-tiba berlutut dan memegangi pergelangan kakiku sambil menciuminya. Aku merasa jijik, tetapi jika ini adalah cara memohon Victor, aku merasa sangat kasihan. Sebegitu besarnya keinginannya untuk membesarkan bandnya? Atau mungkin mendapatkan uang dimana ia sangat membutuhkannya? Sementara itu Carter terus menggeram kesal sambil memutar-mutar bola matanya. Mungkin ia sedang memikirkan trauma besar saat ia tampil di sekolahnya. Aku melihat keduanya dengan saksama. Sampai akhirnya aku memutuskan.
“Victor… Ya, kurasa.. Kau seharusnya mengikuti pentas pertunjukkan itu bersama Carter dan Justin. Ini sebuah kesempatan yang bagus untuk memperbesar nama bandmu kan? Lagipula band ini kalian buat bertiga secara bersama-sama, tidak baik menelantarkannya.” Ujarku dengan lembut.
“APA?!” teriak Carter sambil menggebrak meja.
“Ya, aku tahu Nail adalah Malaikat Penyelamat! Kau dengar, Carter?! Kita harus melakukannya! Terima kasih, Nail. Terima kasih banyak! Banyak sekali!” seru Victor dengan riang.
Carter berdiri dan menarik lenganku ke dapur. Ia melakukan pembicaraan empat mata denganku. Tatapannya sangat tajam.
“Uhm Nail, dengar. Kau tidak tahu mengenai apa-apa masalah tampil didepan sekolah. Kau tidak tahu tragedi memalukan macam apa yang terakhir kami dapatkan saat tampil didepan sekolah. Dan peralatan band kami pun masih baik-baik saja, Nail. Kami tidak harus bersusah payah untuk melakukan hal itu. Aku lebih baik tampil di sebuah gorong-gorong beserta anak-anak pemberontak yang lebih menghormati band-band biasa seperti band kami!” oceh Carter.
“Tapi, Carter. Mungkin hal ini akan berbeda dari yang dulu-dulu. Aku yakin. Mungkin aku bisa membantumu. Kebetulan dulu kakak-kakakku juga bermain dalam sebuah band. Dan, ya, aku dapat membantumu.”
“Yaaaaay! Anggota tambahan! Woohoo!” teriak Victor.
“Diam Victor! Baiklah, baiklah, baiklah, Nail. Tapi jika ini menjadi hal yang sama seperti yang sudah kulakukan dulu, aku tidak akan memaafkanmu. Mengerti?”
Aku mengangguk sambil menelan ludah. Lalu Carter berbalik badan kembali menuju ruang makan dengan langkah yang menghentak. Aku tahu ia sangat marah. Tetapi, aku juga tidak bisa menolak keinginan Victor, dan jujur aku juga ingin melihat bagaimana band mereka berjalan. Namun janji adalah janji, aku tidak akan membuat hal ini menjadi hal yang sama yang membuat Carter trauma. Namun Carter menghentikan langkahnya sebelum duduk ke meja makan.
“Sudah berbicaranya? Bagus, kalau begitu kita akan mulai latihan lusa.” Ujar Victor sambil melahap habis makan siangku dan Carter.
Ya, ini akan menjadi janji yang sangat susah untuk dilakukan. Aku tidak bisa menjaminnya untuk berhasil tetapi aku harus…
*
Pagi ini Carter membangunkanku pagi-pagi sekali. Ia menyuruhku untuk mandi dan sarapan serta berpakaian yang bagus. Entahlah apa yang ia akan lakukan. Kulihat dirinya pun melakukan hal yang sama. Biasanya ia tidak pernah menyisir, dan hanya mengenakan kaos dan celana panjang distressed denim nya saja tetapi kali ini.. Ia menyisir rambutnya dengan rapi. Poninya ia biarkan terurai dengan alami menutupi mata kirinya. Dan kini ia memakai celana panjang denim yang normal dengan atasan kemeja ditutupi lagi dengan sebuah jas. Sangat rapih, meskipun kemejanya tidak ia masukkan ke dalam celana. Aku membuatkan kami sarapan, dan setelah itu kami pergi.
Carter mengajakku pergi entah kemana, ia tidak mengatakannya sama sekali. Ia hanya mempersilakanku masuk ke dalam mobil dan langsung mengendarainya. Aku pun tidak berani berbicara dengannya, kemarin aku mungkin sudah membuatnya sangat marah saat kedatangan Victor ke rumah. Ya, jadi aku hanya berdiam diri dan melihat ke luar jendela. Melihat pemandangan-pemandangan yang dipenuhi dengan rumah-rumah mewah sangat berbeda ketika aku hidup dulu. Dulu juga ada banyak rumah yang jadi pemandangan, namun hanya rumah biasa saja yang dipenuhi dengan tanaman warna-warni di tiap rumahnya, kecuali rumahku. Dan ditempat tinggalku dulu juga ada lebih banyak tanaman dan pemandangan alam yang dapat dinikmati. Sementara disini hanya komplek perumahan, taman kecil untuk anak-anak bermain, dan beberapa supermarket. Tidak menyenangkan. Setengah jam kemudian, Carter berhenti di depan gerbang besar. Gerbang yang terbuat dari beton dan tembok batu bata yang di cat dengan sangat baik berwarna putih dan abu-abu. Aku melihat gedung besar nan luas yang ada di dalamnya. Ya, aku ingat, ini sekolah. Kemarin Carter bilang akan membawaku ke sekolah. Hanya saja untuk apa?
“Ayo Nail, ayo kita masuk. Ikuti aku.” Ujar Carter.
Aku mengikutinya dari belakang sambil memutar-mutar leherku melihat sekolah yang begitu besar ini. Mungkin hanya orang-orang kaya saja yang dapat bersekolah disini. Semuanya nampak begitu mewah. Mulai dari taman depan, bahkan hingga koridor dan kelas-kelas yang kami lewati. Sekolahku dulu memang bagus, tetapi kubilang ini lebih bagus. Jauh lebih bagus. Kemudian setelah sampai di ujung lorong, Carter masuk ke dalam ruang administrasi. Dia juga menyuruhku ikut masuk bersamanya. Disana duduk seorang pria. Seorang guru nampaknya. Tubuhnya ramping, dan ia memberikan senyum yang lebar kepada kami saat memasuki ruangan itu.
“Selamat pagi Carter. Pagi yang indah?” sapanya pada Carter.
“Selamat pagi juga Tuan Wilson. Ya, ini pagi yang indah. Maaf saya merepotkan Anda pada Sabtu ini, saya tahu seharusnya Anda ada dirumah, tetapi…”
“Sssh, ssh, tak apa-apa, Carter. Kau kan sudah meminta izin sebelumnya kepadaku. Yap, langsung saja, itukah dia?”
Carter tersenyum padaku. Ia menuntun tanganku ke hadapan pria itu. Aku tersenyum gugup kepada pria itu.
“Ah, nona muda yang cantik dan… Manis. Apakah kau sakit? Kau nampak pucat sekali. Oh Carter, seharusnya kau tidak memaksakannya untuk…”
“Tidak, tidak, Tuan. Aku tidak sakit. Aku memang memiliki kulit yang pucat seperti ini. Aku sehat-sehat saja kok.” Selaku.
“Oh syukurlah kalau begitu, baiklah, silahkan duduk, nona muda.”
Aku duduk di kursi didepan meja pria itu, sementara Carter berdiri di belakangku sambil menggelantungkan lengannya di bahuku.
“Baiklah, siapa namamu, nak?” tanya pria itu.
“Namaku. Uhm, Nail. Nail Zjork Tsamaelth.” Jawabku.
“Wow, nama yang hebat. Kau pasti berasal dari Norwegia ya?” ucap pria itu sambil menuliskan namaku di sebuah kertas.
“Uh iya, Tuan. Anda benar.”
“Hahaha jangan gugup seperti itu, Nona Nail. Tidak apa-apa, berkekspresi lah apa adanya, disini kau bebas ingin mengekspresikan perasaanmu sebebas mungkin. Carter juga lebih bebas disini dibanding di ruangan lainnya, bahkan di kelas yang lain sekalipun.”
Aku tersenyum kepada Pria itu sementara itu Carter dan pria itu tertawa keras. Setelah bertanya beberapa data pribadi, Carter menyurhku menunggu di luar. Aku menunggunya sekitar 20 menit dan akhirnya ia keluar. Kemudian ia mengajakku pulang. Aku masih tidak berani untuk berbicara dengannya. Jadi aku hanya diam dan mengikuti semua perintahnya saja. Masuk mobil, diam, dan sampai ke rumah. Aku masuk ke rumah dan pergi ke kebun belakang untuk mengeluarkan burung gagak dari sangkar yang diberikan Carter untuk memberinya makan. Sementara itu Carter hanya memiringkan kepalanya melihatku.
“Nail, ada apa denganmu? Kenapa kau tampak lebih… Diam kali ini? Ada sesuatu yang salah?” tanya Carter.
“Tidak. Tidak ada apa-apa Carter. Hanya saja takut.. Aku takut kau marah akibat ulah Victor kemarin, dan aku malah membelanya. Dan sepertinya jika aku membatalakan keputusanku, Victor anak yang cukup keras kepala, jadi sepertinya akan susah untuk membatalkannya. Maaf Carter.”
Carter hanya tertawa kecil, ia datang mendekatiku. Ia bilang tidak apa-apa sambil menepuk-nepuk pundakku. Sekali lagi senyumnya kulihat, itu merupakan senyum yang sangat tulus. Aku menjadi sedikit merasa lega. Sementara itu, gagak itu mulai berkoak-koak meminta makanannya lagi. Oh ya, aku jadi lupa misiku mengapa aku meminta gagak kepadanya. Tidak hanya sekedar hewan peliharaan, aku juga harus memanfaatkannya.
“Uhm, Carter, bisakah kau meninggalkan aku sendiri?” pintaku dengan sangat pelan.
“Hah? Ada apa? Kau tidak suka aku ada disini? Baiklah.”
“Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri saja. Maaf jika…”
“Hahaha tidak apa-apa, Nail. Aku bercanda saja. Mungkin kau memang butuh, semua orang memang butuh waktu sendiri. Tidak apa-apa. Tetapi apakah kau keberatan untuk menemaniku bermain game bersamaku setelah ini?”
“Baiklah, aku akan menyusul. Tunggu saja.”
Carter tersenyum lebar dan kemudian ia pergi ke dalam. Sementara itu aku coba mendekati burung gagak itu. Aku menatap matanya dan dia menatapku balik dengan tatapan tajamnya.
“Psst, bisakah kau mengerti bahasaku?” tanyaku sambil mengelus kepalanya.
Gagak itu nampak terbelalak, ia sedikit terkejut dan menjauhkan tubuhnya dariku. Paruhnya nampak tergagap-gagap melihatku. Sepertinya aku gagal untuk berbicara dengan bangsa unggas, mungkin hanya Groevanth saja yang bisa kuajak bicara. Aku bernafas lesu dan hendak meninggalkan gagak itu bertengger di dahan pohon .
“K… Kau… Kau… Seorang Ts… Tsa.. Tsama… Tsamaelth?!” ucap gagak itu berkoak sedikit tergagap-gagap.
“Oh ya ampun! Kau dapat mengerti bahasaku. Syukurlah! Ya, aku seorang Tsamaelth.” Jawabku dengan girang kembali menghampiri gagak itu.
Gagak itu ternganga. Matanya yang kuning dan bulat mengeluarkan setetes air bening. Apa ini? Dia.. Menangis? Kemudian ia mendekatkan tubuhnya dan mengeluskan-eluskan kepalanya ke tanganku.
“Syukurlah, kalian masih ada. A… Aku bersyukur kalian masih ada. Aku sangat sedih mendengar hal itu. Aku… Aku dengar Tsamaelth sudah dibantai habis setahun yang lalu. Aku.. Aku bahagia sekali…” ucap gagak itu dengan nada yang menyedihkan.
“Oh ya, memang. Kami memang dibantai habis-habisan tetapi…”
“Ya, bangsa kelelawar yang mendapatkan wasiat dari Tuan Ercasanth memberi tahu kami mengenai kebangkitan itu. Kukira itu hanya lah hiburan bagi kami yang merasa kehilangan. Ternyata benar, oh ya ampun betapa bahagianya hingga bulu-buluku seperti tumbuh kembali. Oh ya ampun.”
Aku juga tidak bisa menahan bendungan haru ini. Aku mendekap burung gagak itu dengan lembut. Ya, air mata haru pun tidak dapat tertahan lagi untuk mengalir. Syukurlah masih ada yang mengharapkan kehadiran Tsamaelth di dunia ini. Setelah peluk haru kami kembali berbicara.
“Jadi, siapa namamu, gadis manis Tsamaelth?” tanyanya.
“Nail, Nail Tsamaelth. Bagaimana denganmu?”
“Namaku Nevar. Panggil saja aku begitu. Jadi Nail, ada apa kau tiba-tiba meminta seekor gagak seperti aku? Dan jujur saja terima kasih telah menyelamatkanku dari pemilikku sebelumnya, dia gila.”
“Haha baiklah. Aku, aku ingin ada seseorang yang dapat membantuku. Dan kelelawar bilang, mungkin bangsa unggas bisa membantuku.”
“Bantuan macam apa yang kau butuhkan, Nail. Aku siap melayanimu, apapun untuk para Tsamaelth.”
“Umh, jadi begini… Ada sebuah perasaan tidak wajar dalam diriku mengenai kebangkitan anggota keluargaku yang lain. Tsamaelth yang lain. Namun belum ada kepastian mengenai kebangkitan itu. Jadi…”
“Kau ingin aku memeriksanya? Begitu kan?”
“Ya tepat, tetapi tidak harus sekarang juga mungkin kau butuh waktu dulu. Aku juga tidak akan memaksamu kalau kau tidak mau. Lagipula beberapa bulumu tidak ada.”
“Oh haha tidak apa-apa Nail aku siap melakukannya tapi ya memang benar aku butuh sedikit waktu dulu. Sudah lama sekali aku tidak meregangkan sayapku. Aku belum pernah terbang lagi semenjak dua bulan terakhir, jadi bisakah kau lebih bersabar?”
“Tak apa-apa, Nevar, tidak apa-apa. Santai saja.”
Nevar berterima kasih, begitu pun aku berterima kasih banyak kepadanya karena setidaknya dia sudah memiliki niat yang sangat besar untuk menolongku. Sementara itu aku masuk ke dalam dan Carter sedang asyik bermain video game diatas sofa.
“Duduk sini, Nail. Ada apa disana? Kau sedang melatih gagakmu melakukan sesuatu ya? Aku mendengar kau berbicara sendiri lagi.” Ujar Carter tanpa melepaskan pandangannya dari televisi.
“Ya, aku berusaha mengajarkannya sesuatu. Gagak adalah burung yang pandai. Jadi mungkin akan berguna jika aku memanfaatkannya untuk melakukan sesuatu.”
“Memang apa yang kau ingin manfaatkan dari seekor gagak?”
“Aku ingin dia dapat mencari dan menyatukan seutas tali panjang yang terputus-putus dan terpencar-pencar dimana saja…”
*
Baiklah, ini hari Minggu. Hari dimana kau dapat berleha-leha, bersantai-santai sepanjang hari semau dirimu tanpa ada yang mengganggu, tapi ini adalah hari bekerja untukku. Mengingat kini aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Carter. Dan ini adalah waktunya bekerja, pukul 7 pagi, mungkin semua anak remaja seusiaku masih merapatkan tubuhnya di ranjang. Dan aku, kini sedang mengobrak-abrik kamar Carter untuk mengambil pakaian kotornya yang ia simpan di seluruh lantai kamarnya. Carter sendiri masih sibuk mendengkur dibawah dekapan bantalnya. Kuambil satu-satu pakaiannya, mengumpulkan dan menaruhnya di keranjang pakaian kotor dengan pakaian kotor lainnya. Setelah itu aku mulai membersihkan seluruh rumah dengan vacuum cleaner yang berat di setiap sudut yang selalu berdebu. Kemudian memasak sedikit makanan untuk sarapan sang Tuan Rumah.
“Carter, sarapanmu sudah ada di meja! Bangunlah!” teriakku sambil menyiapkan makanan diatas meja.
Dari dalam kamar terdengar Carter tengah menggeliat dan menguap berkali-kali sambil menggumam. Lalu ia keluar dengan langkah goyah dan matanya yang memiliki lingkaran hitam dibawahnya. Aku pergi ke ruangan belakang untuk mencuci pakaian. Semua pakaian kulebarkan satu persatu agar semua noda terlihat dan lebih mudah dijangkau oleh deterjen. Baju-baju itu seperti biasa, memiliki noda yang begitu kotor. Noda lumpur, noda yang seperti terkena terjangan badai pasir, sirup cokelat, jus, susu, krim makanan, dan… Apa ini? Ini noda yang aneh. Aku membentangkannya lebar-lebar. Sebuah noda keputihan yang lengket. Sangat lengket. Apa ini? Ingus? Air liur? Tidak, ingus tidak berwarna seputih ini, begitu juga dengan air liur. Mereka sedikit bening, berbeda dengan noda yang satu ini. Lagipula, kalaupun ini ingus atau air liur seharusnya noda ini berada di kerah atau baju. Tetapi ini… Celana pendek? Tepat di bagian selangkangan?
“OH HEY HEY HEY WOW! TIDAK, NAIL!” teriak Carter tiba-tiba menyergap dan mengambil celana itu dari tanganku. “Ini, aku yang mencuci. Dan… Darimana kau dapatkan ini?!”
“Aku mengambilnya tadi pagi di kamarmu untuk mengumpulkan semua pakaian kotor.” Jawabku.
“Oh, oh, oh. Baiklah, aku melupakan beberapa tata tertib lagi, okay? Jangan pernah mengambil cucianku pada minggu pagi, okay?! Minggu pagi adalah… Hari untukku mencuci sendiri.”
Aku mengangkat sebelah alisku dan mengedikkan bahuku. Sementara itu Carter menggulung celana pendeknya menjadi gulungan yang kecil dan cepat-cepat membawanya entah kemana, mungkin ke kamarnya. Yah, sebenarnya setelah melihat gelagatnya, sepertinya aku tahu noda macam apa itu. Lengket dan putih… Celana pendek… Bagian selangkangan… Minggu pagi… Aku sudah cukup hafal dengan noda itu. Aku ingat aku juga pernah melihatnya di celana pendek Rafeld saat ia mengeluh kesepian pada malam hari. Laki-laki… Mengapa kalian begitu menjijikan.
Setelah bekerja dua jam penuh, aku berhenti dan beristirahat. Membuat secangkir susu cokelat hangat. Dan menyalakan televisi untuk teman menonton. Diluar sana matahari bersinar cerah, awan pun tidak ada di langit untuk merusak langit biru seindah itu. Dan itu berarti pertanda bahwa ini hari yang buruk untuk pergi ke luar atau mengurusi halaman rumah. Akan ada banyak orang, akan terkena banyak sinar matahari, dan akan panas. Aku tidak mau. Sementara itu suara Carter terdengar di halaman belakang sedang mencoba berkomunikasi dengan Naver si burung gagak. Entahlah apa yang ia pikirkan, mungkin ia mengajaknya berkomunikasi seperti pelatih burung nuri professional karena aku juga mendengar jarinya yang dijentikkan beberapa kali. Tak lama kemudian ia masuk dan duduk di sampingku.
“Hey, Nail. Uhm pagi yang indah ya? Maukah kau keluar untuk berjalan-jalan?” tawarnya sambil meregangkan lengannya.
“Tidak, Carter. Terima kasih. Diluar sana panas, dan ramai, dan…”
“Tidak apa, diluar sana hangat, udaranya segar, dan ayolah, anggap saja orang-orang itu tidak ada. Ayo!”
Carter menarik lenganku untuk bangkit dan ia berlari masuk ke kamarnya sambil melemparkan salah satu hoodie dan trainingnya kepadaku. Aku hanya dapat menghela nafas. Aku pakai keduanya dan memakai sepatu untuk mungkin ya, berolahraga. Carter sudah mendahuluiku, ia sudah membuka pintu gerbangnya. Setelah kami keluar dari pintu gerbang ia mulai mengajakku untuk jogging beberapa keliling blok ini. Sudah kuduga. Kami jogging bersama untuk beberapa keliling sambil melihat-lihat pemandangan sekitar. Beberapa orang memandang kami dengan aneh. Ya aku tahu, mungkin Carter juga jarang pergi keluar rumah, dan baru saja mereka melihatnya yang jarang sekali keluar sekaligus ditemani oleh seorang gadis aneh yang mengerikan. Semakin lama Carter berlari semakin kencang, ia mencocokkan telinganya dengan handsfree dan terdengar ia bernyanyi kecil menyanyikan lagu-lagu Rise Against. Aku juga menyesuaikan kecepatanku dengannya agar tidak tertinggal, dan setidaknya apabila aku bersamanya, aku tidak akan merasa sendirian ketika orang-orang menoleh aneh kepadaku. Sekitar 15 menit kemudian, Carter berhenti dan terduduk di tepi sebuah taman. Memang banyak sekali orang yang juga melakukan hal sama, setelah berolahraga mereka mencoba beristirahat dan meregangkan otot-ototnya dengan duduk di atas reruputan hijau yang lembut. Aku berdiri di samping Carter sambil memandangi pemandangan sekitar yang sangat indah. Belum pernah aku melakukan hal ini seumur hidupku. Aku hanya melihat pemandangan pagi hari hanya saat aku berangkat sekolah saja, sisanya, dirumah. Jadi ini rasanya berolahraga bersama? Sambil memandangi pemandangan indah seperti ini?
“Nail, ayo duduklah disini!” sahut Carter memberiku tempat di sampingnya.
Aku turun, dan duduk di sampingnya. Memanjangkan kakiku. Aku mengayunkan sepatuku ke arah kiri dan kanan. Memainkannya sambil bernyanyi kecil. Namun saat aku menoleh ke kaki Carter yah..
“Kau… Tidak memakai sepatu, Carter? Kau jogging tanpa sepatu?” tanyaku sambil memelototi kakinya yang putih bertelanjang ria sambil menekukkan jari-jari kakinya.
“Haha, aku memang selalu seperti ini. Kau tahu tanpa sepatu, kaki kita akan menjadi lebih sehat. Ketika kita menyentuh permukaan tanah yang kasar, tanpa disadari batu-batu kecil yang kita injak merupakan sebuah terapi akupunktur secara tidak langsung. Ini metode kesehatan yang murah meriah, dan… Aku juga dulu sering melakukannya bersama… Keluargaku.” Jelas Carter disertai senyuman yang semakin lama semakin memudar.
“Ya, kau benar. Dulu ayahku juga selalu berkata seperti itu, ia merupakan pria yang gila akupunktur. Dulunya Ibuku menyangka Ayahku menyukai akupunktur karena pekerja-pekerjanya yang terkenal seksi. Tetapi akhirnya Ibuku percaya ketika Ayah mengajaknya pergi ke akupunktur dimana Ayahku dilayani dengan nenek-nenek tua berkewarganegaraan Cina yang sudah sangat renta.”
“Hahaha, Ibumu sangat protektif ya? Untung saja Ayahmu tidak ia ikat didalam kamar agar tidak kabur kemana-mana.”
“Ya, itulah Ibuku. Mulanya, ia juga ingin melakukan itu. Tetapi kalau begitu, Ayahku tidak akan bisa bekerja, dan ia tidak akan mendapatkan uang belanja bulanannya.”
Carter dan aku tertawa. Yah setidaknya cerita ini dapat membuatnya tidak sedih lagi. Aku tidak suka melihat wajah sedihnya itu. Entah mengapa, baru kali ini aku peduli terhadap kesedihan seseorang. Kemudian kami kembali melontarkan beberapa cerita jenaka dan tertawa-tawa kembali, sampai akhirnya kami terdiam dan… Baiklah ini memalukan, sisi perempuanku muncul kembali. Jantungku berdebar-debar. Seketika itu aku tidak sanggup melirik ke arah Carter, tatapannya. Ugh, ya ampun ia membuatku mati rasa dan juga membakar pipiku hingga menjadi merah muda. Lalu, terasa kulit dingin tangannya menyentuh kulit dingin tanganku juga. Perlahan.. Dan sangat perlahan ia menyentuhnya dengan lembut.
“Maybe we’re just having too much FUUUUUUN! Maybe you can’t handle yourself, staring at me with your lips and TONGUEEE!” teriak seseorang bernyanyi dengan fals.
Suaranya benar-benar memekakkan telinga. Menyeramkan sekali. Sangat tidak enak didengar. Sentuhan tangan Carter pun langsung menghilang, ia menarik tangannya. Dan celingukan mencari sumber suara itu. Carter berdiri sedikit dan menyipitkan matanya.
“Oh, sial. Nail. Ayo, cepat pergi dari sini. Cepatlah, pagi ini tidak akan menjadi lebih buruk kalau mereka sudah muncul.” Ajak Carter sambil menarik lenganku untuk berdiri.
Carter menutupi kepalanya dengan hoodie biru tuanya. Aku berdiri dan melihat ke arah yang Carter lihat. Yap, disana terlihat Victor dan Justin sedang jogging bersama sambil terus menyanyikan lagu Bulls In The Bronx dengan nada yang sangat tidak karuan. Sudah pasti Carter tidak ingin diganggu untuk yang kesekian kalinya oleh pengacau itu. Jadi aku dan Carter kembali berjogging dengan tujuan utama, rumah. Kami tidak hanya jogging tetapi mengambil langkah seribu agar tidak ketahuan. Bahkan dalam waktu kurang dari lima menit kami sudah sampai di rumah. Buru-buru Carter mengunci pagar rumahnya dengan kunci gembok dan menarikku masuk kedalam rumah. Kami merebahkan diri di sofa. Mengatur nafas kami yang tersengal-sengal akibat lari secepat kilat tadi. Sementara kami beristirahat, terdengar suara koakan Nevar dari halaman belakang. Ia memanggilku. Aku bangkit dan mendekatinya sambil membawa makanan untuknya.
“Ya, Nevar? Ada apa? Maaf aku lupa memberimu sarapan tadi.” Ucapku sambil memberinya makanan.
“Ah tidak apa-apa, Nail. Aku dapat berburu sendiri kok. Hanya saja, begini. Semalam, beberapa temanku yang lain terbang kemari dan kami sempat berbagi cerita. Salah satu dari mereka baru saja pulang dari Italia, dan ya bilang bahwa di kota kecil di Italia ia menemukan banyak sekali tambang makanan (bangkai) di lorong-lorong kumuh kota. Sayang sekali itu bukan bangkai utuh. Melainkan entahlah apa yang membuat bangkai itu, tetapi, temanku merasa ada ikatan yang kuat antara si pemangsa bangkai itu dengannya. Temanku juga sudah dapat memastikan bahwa ini bukan tindakan seekor binatang. Jadi…”
“Mungkinkah itu…? Kebangkitan yang lainnya?”
“Ya, Nail. Bagaimana, kau ingin aku memeriksanya sekarang? Kalau kau mau aku akan terbang sekarang juga?”
“Tidak, Nevar. Kau dapat memulainya kapanpun kau mau. Aku tidak ingin memaksakannya.”
“Tidak apa-apa, Nail. Kukira dua hari dirawat dengan baik olehmu sudah mengumpulkan banyak kesiapan dari diriku kok. Aku siap. Banhkan jika harus detik ini juga. Lagipula ini kulakukan untuk kau. Orang yang istimewa. Keturunan dari Tuan Ercasanth. Aku siap melakukannya untukmu.”
Nevar melebarkan sayapnya dan mengepakkannya berkali-kali untuk meregangkan sayapnya yang sedikit kaku. Aku tersenyum kecil, mengelus kepalanya dengan lembut.
“Baiklah, Nevar. Hati-hati. Cepatlah kembali, aku akan sangat merindukanmu.”
“Baiklah, Nail. Tunggu saja aku, akan kuusahakan hanya dalam waktu kurang lebih sebulan, aku akan kembali. Tunggu saja, Nail.”
Aku memberikan jari telunjukku untuk tempat Nevar bertengger. Nevar melebarkan sayapnya. Dan dalam hitungan ketiga, aku melemparkan tanganku ke angkasa, dan Nevar lepas landas dari jari telunjukku dan terbang tinggi. Semakin lama, ia semakin jauh. Bulu hitam pekatnya semakin tidak terlihat ditelan oleh sinar matahri yang terik dan menyilaukan. Nevar, cepatlah kembali. Bawalah kabar gembira untukku.
*
Ini hari Senin. Carter bangun lebih dulu daripada aku. Ia menyiapkan segalanya sendirian. Mulai dari pakaian seragamnya yang ia setrika sendiri, ia lakukan tanpa membangunkanku. Namun yang membangunkanku bukan suara gaduh yang selalu ia buat, ia memainkan lagu My Curse dari amplifier nya yang keras. Entah unsur sengaja untuk membangunkanku atau mungkin itu memang hobinya untuk melakukan sesuatu sambil diiringi musik. Aku membuka mata dan buru-buru turun ke lantai bawah. Ya tentu saja aku merasa malu olehnya, ia tuan rumah. Sementara aku bangun terlambat. Namun ketika aku menemuinya di lantai bawah, ia malah membuatku menjadi hilang feeling untuk meminta maaf kepadanya. Baiklah, kini aku ada di belakangnya, melihatnya masih dekil dalam balutan celana pendek dan kaos tidurnya dengan handuk untuk mandi yang melilit lehernya seperti sebuah syal. Rambutnya yang hitam dan berantakan berdiri tegak seperti sudah diberi wax. Dan ia menari-nari tidak jelas sambil bernyanyi keras-keras dengan memegang sendok sebagai microphonenya untuk bernyanyi. Ya. Ia mau mandi, sekaligus sambil sarapan, lalu terlelap kedalam musik begitu dalam sehingga ia bertingkah laku seperti itu. Aku terdiam dan memandanginya dengan mulut menganga. Ketika ia sedang sibuk menyanyi, lagu pun merubah nadanya menjadi lebih bersemangat. Gerakannya Carter pun menjadi sangat bersemangat, ia headbanging sambil mengayunkan tangan kanannya selayaknya orang bermain gitar. Kakinya diangkat sebelah sambil melompat. Ia berputar dan mendongak. Semula wajahnya yang ceria dan bersemangat berubah menjadi seperti adonan tepung terigu putih yang diberi pewarna makanan berwarna merah.
“Oh, ah, uhm. Nail, kau sudah bangun ya. Baiklah, kau duduk saja. Aku, aku… Aku ambil sarapannya.” Ujar Carter sambil lari terbirit-birit menuju dapur.
Ya, aku tinggal dengan seorang anak lelaki yang sangat aktif dan ekspresif, tetapi juga sangat pemalu, emosional, dan.. Romantis. Baru kali ini aku melihat lelaki yang berdandan gelap sepertinya rupanya memiliki emosi yang sangat energik didalamnya. Seperti oranye didalam warna hitam. Warna yang indah. Tak lama kemudian Carter keluar dari dapur sambil membawa dua piring pancake sambil gemetaran. Ia meletakannya diatas meja makan. Wajahnya benar-benar merah tersipu malu saat menatapku. Sangat menggelikan. Ingin sekali tertawa dan mencubit pipinya. Apa? Aku hanya gemas saja, okay? Hey, ini wajar. Aku dan dia.. Oh sudahlah lupakan! Jangan bicara apapun, aku benci kalian yang menuduh tidak-tidak kepadaku. Kenapa anak muda zaman sekarang selalu dengan mudah menuduh perasaan seseorang?!
Carter kemudian duduk di hadapanku dan makan dengan gugup. Wajahnya masih tersipu. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tertawa dengan lepas.
“Ya, Nail. Aku memalukan. Aku tahu itu. Kalau kau sampai membocorkan hal ini kepada siapapun. Awas kau!” ujar Carter sambil cemberut dan menodongkan garpunya kepadaku.
“Membocorkan? Kepada siapa, Carter? Aku tidak punya teman lagi selain kau saja kan? Hanya kau temanku saat ini, Carter.” Jawabku sambil tersenyum lebar.
“Uhm ya, tapi nanti kau juga akan berteman akrab dengan orang lain. Dan jangan bocorkan ini kepada siapapun, mengerti?!”
“Tentu saja, Carter. Aku tidak akan. Aku berjanji.”
“Hmm, bagaimana aku mempercayai janjimu, Nail? Bagaimana?”
“Tentu saja kau bisa mempercayainya. Karena entahlah, aku juga tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa nama baik dan reputasimu. Entah mengapa juga aku tidak mau. Dan… Jika aku melanggar janjiku, sudah pasti kau akan kecewa. Dan aku tidak mau kau kecewa padaku…”
“Uhm tapi mengapa? Kita kan baru mengenal seminggu lebih, Nail. Tetapi… Yah, ini tidak biasa, sepertinya aku juga merasakannya. Aku juga tidak mau kehilanganmu tapi entahlah, ini disebabkan oleh apa?”
Suasana menjadi hening. Aku dan Carter berdiam diri satu sama lain sambil menundukkan pandangan kami dan melirik satu sama dengan malu-malu. Hanya lagu saja yang dapat terdengar dari amplifier Carter yang terus mengalun.
“So tell me now. If this ain’t love then how do we get out? Because I don’t know.” Lirik lagu Savior pun terdengar dari amplifier.
Lirik itu, lagu itu membuat kami semakin canggung satu sama lain. Wajah kami berdua pun ya, menjadi berubah warna. Semakin lama liriknya menjadi semakin membuatku.. Ugh tidak tahan. Dan nampaknya Carter pun merasakan hal yang sama, ia kemudian bangkit sambil berkata “Terkutuklah lagu ini!” dan mematikan ampilifiernya. Kami pun menggelengkan kepala bersama-sama dan berusaha kembali bertindak normal. Akhirnya kami sarapan, dan lalu mandi kemudian berpakaian (jangan berpikir yang aneh-aneh, tentu saja kami melakukannya secara terpisah). Saat jam menunjukkan pukul setengah 8 pagi, aku mengantar Carter keluar gerbang. Tetapi Carter malah mengangkat kedua alisnya.
“Ayo pakai sepatu, Nail. Bawalah tas dan buku kosong juga tempat pensil. Ayo!”
“Hah? Apa maksudmu Carter? Ayo kemana?”
“Tentu saja, sekolah! Aku kan sudah mendaftarkanmu pada Tuan Wilson hari Sabtu kemarin.”
Ooh! Jadi waktu itu dia mendaftarkanku sekolah. Di sekolah yang sama dengannya?! Ukh, bukannya aku menolak. Hanya saja ini menjadi aneh, canggung, dan entahlah. Namun aku tidak mau membuat usaha Carter sia-sia jadi aku kembali masuk dan berpakaian yang lebih baik sambil membawa apa yang Carter perintahkan tadi kepadaku. Kemudian kami keluar, dan menaiki bis umum untuk pergi ke sekolah. Kami memasuki bis, dan bisnya penuh. Kami terpaksa harus berdiri dan tidak mendapat tempat duduk.
“Hey, Nail. Kau tahu, kalau aku terlambat sekolah. Aku akan berdiri disini sambil mengigit selembar roti dan membaca buku catatanku karena hari itu akan ada ujian. Benar-benar berantakan!” cerita Carter.
“Hey, aku juga selalu seperti itu! Ya! Aku juga! Kejadiannya sama persis seperti milikku!” jawabku.
Uh ya! Memang sama. Sangat sama. Entah mengapa tiba-tiba aku menjadi teringat di hari pertama “hidupku” dimulai. Ya, dengan cerita yang sama ini juga hidup pertamaku dimulai. Aku yang terburu-buru, lalu Rafeld mengirimiku pesan tentang pasta gigi, aku berteriak, turun dari bis, memutuskan untuk bolos, dan… Ditusuk oleh seorang perampok. Ya… Hari itu. Dan, dan aku ingat! Ketika beberapa hari selanjutnya lama setelah itu, Ed menceritakan padaku bahwa dia juga membolos dan melihatku pada hari itu. Kalau begitu, Ed juga melakukan hal yang sama denganku. Sama seperti… Carter. Ini mulai menyedihkan…
“Nail, ada apa? Mengapa kau tiba-tiba murung seperti itu?” tanya Carter menyadarkan lamunanku.
“Ah tidak apa-apa, Carter. Hanya teringat sesuatu yang kurang menyenangkan saja. Tidak apa-apa, tak usah hiraukan aku, Carter.” Jawabku.
Tak lama kami sampai di sekolah. Aku memasuki gerbang sekolah itu untuk yang kedua kalinya. Bukannya apa-apa, alasan aku menghitung berapa banyak aku memasuki gerbang ini bukan karena aku senang untuk memasuki sekolah ini, melainkan menghitung berapa lama aku akan bertahan lagi di tempat dimana sosialita menguasai kehidupanku lagi. Namun kini saat memasuki gerbang sekolah, raut Carter yang biasa pun berubah drastis menjadi lebih tajam dan garang. Tatapan biasanya yang menyenangkan, kini berubah menjadi tatapan galak bagai seekor elang. Garis bibirnya yang menguraikan senyum indah menjadi mengkerut hingga terbentuk sebuah garis tajam yang sangat tidak ramah. Ia membisikiku untuk tetap berada di dekatnya, di belakangnya. Orang-orang mulai memperhatikan Carter. Mereka memandang Carter dengan tatapan yang tidak kalah dari raut wajah galak Carter. Anak-anak lelaki hanya dapat meliriknya dengan tajam dan ganas, namun mereka tidak berani mengatakan apapun atau melakukan apapun kepada Carter. Sementara anak-anak perempuan langsung mengatakan hal-hal macam gossip sambil melirik kepada Carter. Baiklah ini menyeramkan. Setidaknya ketika aku dulu bersekolah aku tidak sampai merasakan tekanan dari seluruh sekolah. Dan nampaknya nyali ku menjadi lebih ciut lagi, melihat mereka yang ada disini sepertinya orang-orang kaya dan lebih populer dibanding sekolahku dulu. Jelas aku tidak akan menang jika suatu saat aku terlibat masalah disini. Namun aku pura-pura tidak tahu, dan terus berjalan lurus seakan tidak tahu apa-apa. Untung tidak ada satu pun yang memperhatikan aku. Setelah Carter masuk ke dalam lorong keadaan mulai menjadi normal kembali, para murid mulai berbicara lagi satu sama lain dan tentu saja dengan topik utamanya adalah Carter. Di dalam lorong, di koridor tengah tempat loker-loker, terdapat dua orang yang familiar. Dua orang sudah kukenal sebelumnya.
“Oh, halo Carter! Dan heey, Nail, kau akhirnya bersekolah disini juga!” sapa Justin dari jauh kepadaku dan Carter.
“Hai kawan-kawan. Ya, Justin. Nail mulai bersekolah disini sekarang, sama seperti kita. Aku kasihan melihatnya sendirian di rumah. Lagipula, hey Victor, burung gagakmu sudah kabur lagi saat kulihat kemarin malam. Baru saja dua hari Nail merawatnya.” Jawab Carter.
“Oh hahaha, sudah kubilang kan bahwa burung itu keras kepala. Ya sudahlah tak apa, setidaknya kau merawatnya dengan baik kan, Nail? Kalau kau merawatnya dengan baik, ia pasti akan kembali lagi. Tenang saja.” Sahut Victor.
Aku hanya tersenyum kepada mereka berdua. Entahlah, aku tidak ingin banyak bercakap-cakap, sepertinya di tempat ini, satu kata saja kau salah mengucapkannya maka dunia sosialita disini akan menyayatiku hidup-hidup dan nampaknya aku akan menjadi lebih aman jika aku menjadi Nail si Pendiam di tempat ini. Ya itu lebih baik. Kemudian bel sekolah pun berbunyi, anak-anak mulai masuk. Carter memberitahuku bahwa lokerku ada di sebelah loker Justin. Aku mengangguk dan mulai membuka kunci kombinasinya sesuai dengan apa yang Carter tulis di kertas selembar. Sementara itu masuklah riuh ribut anak-anak lelaki yang bergerombol mendekati Carter, Victor, dan Justin. Sepertinya anak lelaki yang bertubuh berisi dan tinggi di depannya itu adalah ketuanya. Ia datang dan menepuk pundak Carter.
“Hai Carter, kemana liburan ini kau pergi? Menangis di kuburan Clara dan mneyesal telah meninggalkannya saat di hari kematiannya?” sahut lelaki itu dengan nada mencemooh.
Carter mengambil lengan lelaki itu dan membanting tubuhnya menghadap ke loker. Tatapan matanya menjadi lebih tajam.
“Dengar, Jason! Aku tidak suka jika kau menyebutkan nama perempuan itu dihadapanku lagi! Dan bahkan, kalau kau mau tahu, aku tidak menyesal sama sekali. Malah aku ingin sekali membunuhnya dengan tanganku sendiri dari awal aku bertemu dengannya!!! Dengar itu?!”
Kemudian lelaki bernama Jason ini membalik tubuhnya dan melepaskan pegang Carter kepadanya dengan kasar. Ia berjalan dengan congkak sambil mendelik pada Carter dengan sinis.
“Terserah apa katamu! Mengakulah, Carter, suatu hari semua rahasiamu akan terbongkar, kau tahu?! Dan teruslah bergabung dengan dua orang anehmu itu!” teriak Jason sambil mendelik kepada Victor dan Justin.
Namun dengan cepat Justin kembali menggencet tubuh Jason itu ke loker, sementara Victor mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya dan meletakkan mata pisaunya di leher Jason.
“Ehm.. Sssshht, Jason! Jangan banyak biacara lagi mengenai kami, sebelum aku merobek urat nadi di lehermu itu, dan memberikan tiap tetes darahmu pada para Iblis! Kau mengerti?!” bisik Victor dengan menyeramkan sambil menatap Jason sama galaknya dengan tatapan Carter dan Justin.
Sekuat tenaga Jason melepaskan tubuhnya dari genggaman Justin. Kemudian ia pergi bersama gengnya dan terus mengutuk Carter, Victor, dan Justin. Sementara anak-anak lainnya menatap mereka dengan kengerian dan rasa jijik. Yap, ini sudah jelas. Carter tidak perlu menjelaskannya padaku, aku sudah cukup banyak melihatnya. Aku jadi ingat seseorang. Apakah kau juga mengingatnya? Ketua geng? Mencemooh? Kuhajar juga dia sama seperti Carter menghajar orang itu? Dan ia kemudian pergi sambil terus mengutukku? Bagaimana.. Kau ingat?
Lalu saatnya memasuki kelas. Aku masuk di kelas yang sama dengan kelas Carter. Namun ia juga nampaknya tidak ingin aku berada dalam masalah yang menyangkut dirinya, jadi Carter bertindak seperti tidak mengenalku sama sekali. Sampai akhirnya seorang guru datang, dan itu Tuan Wilson. Pria yang waktu itu aku temui di hari Sabtu bersama Carter. Tuan Wilson merupakan wali kelasku. Kelas ini. Ia duduk dan kemudian ia mulai mengatakan kata-kata pengantar dan…
“Ya, nona disana, dibelakang sana, silahkan perkenalkan namamu.” Sahut Tuan Wilson mempersilakanku untuk ke depan.
Ugh baiklah. Sekali seumur hidup, aku tidak mau melakukan hal ini lagi lebih dari ini, terlebih dengan tatapan macam itu dari anak-anak di kelas ini. Dan juga, oh lihat, rupanya ada Jason, lelaki yang tadi berkelahi dengan Carter. Aku bangkit dan berdiri ke depan, membuka hoodieku dan mulai menarik nafas panjang.
“Namaku, Nail. Nail Zjork Tsamaelth. Aku berasal dari Norwegia.” Ucapku singkat.
“Apa, hanya itu saja? Oh ayolah anak goth, lanjutkanlah lebih banyak.” Sahut Jason.
“Tidak, Jason. Tentu saja hanya itu yang ingin disampaikannya. Tidakkah kau lihat, dia anak goth. Dan dia berasal dari Norwegia. Dia tidak akan dapat menceritakan apapun karena Norwegia itu gelap, dan goth itu gelap. Sudahlah, hidupnya sudah pasti sangat suram. Tidak perlu penjelasan apa-apa lagi, iya kan, anak baru?” omel seorang anak perempuan dengan rambut yang dicat cokelat dan terurai panjang.
Ini, terulang lagi. Suram. Gelap. Aku mengepalkan kepalan tanganku dan menahannya agar tidak terangkat. Namun tepat disaat itu, BUG! Bunyi buku membentur sesuatu terdengar sangat jelas. Kulihat si gadis berambut cokelat itu mengerang kesakitan sambil mengambil buku dibawahnya. Ia menatap ke belakang, ke arah buku berasal.
“Siapa yang melempar buku ini padaku?!” teriak si gadis.
“Diamlah, perempuan menjijikan. Kau membuat perkenalan ini menjadi lebih lama. Tak usah banyak komentar.” Jawab Carter sambil memandang jendela.
Tuan Wilson mulai berdiri dari kursinya dan menenangkan keadaan kelasnya, lalu mempersilaknku duduk. Ya, sekolah ini akan terasa sangaaat lama untukku. Tak lama lagi aku akan mati sekarat disini, entah itu dimasuki roh jahat atau dibunuh oleh seorang psikopat. Kuyakin hanya kedua hal ini lah yang akan membuatku dapat terbebas dari penjara ini.
*
Bel istirahat berbunyi. Aku tidak yakin harus bagaimana. Aku memang lapar, tetapi oh ayolah, anak baru di kafeteria? Rasanya tidak mungkin. Semua anak mulai berhamburan keluar, Carter pun beranjak bangun dan memberikanku robekan kertas kecil.
“Jika kau lapar, ada tempat duduk di sisi gelap pojok kafeteria, tepat berada di samping bangkuku. Pergi saja kesana, disana tidak akan ada yang melihatmu.”
Carter pun pergi duluan tanpa menoleh kepadaku sama sekali. Hmh ya, rasanya memang tidak enak seperti ini. Aku mengerti kalau Carter tidak ingin melibatkan aku kedalam masalah sekolahnya, tetapi rasanya juga sangat tidak enak ketika ia berpura-pura untuk tidak mengenaliku sama sekali. Lagipula, sebenarnya siapa juga yang minta disekolahkan? Yang jelas, ini bukan salahku. Aku menghela nafas panjang dan berjalan ke arah kafeteria, mengikuti anak-anak yang lain. Aku mengambil nampan dan menaruh makanan diatasnya. Aku berdiri sejenak dan mencoba mencari sebuah sisi gelap di tiap pojok kafeteria, dan aku menemukannya di sebelah utara. Aku berjalan ke arah sana, dan memang tidak akan ada satu orang pun yang melihat, bagian pojok dan gelap ini memang sangatlah gelap. Hanya diterangi satu lilin di tengah bangkunya. Dan hanya terdapat dua bangku saja. Aku disini, dan di sebelahnya terdapat Carter, Victor, dan Justin yang sedang bercakap-cakap. Yah, aku mengerti. Aku duduk di bangku yang lainnya dan makan sendiri. Hingga tiba-tiba tiga orang dengan pakaian yang sedikit aneh datang ke bangkuku. Mereka menatapku dengan tatapan yang sedikit terkejut. Aku mengerti. Aku menatap mereka sebentar dan kemudian bangkit untuk pindah tempat.
“Hey, hey, hey! Kau kira kau mau kemana… Uhm… Siapa kau? Anak baru?” tanya seorang lelaki dengan rambut keriting berwarna merah yang panjang lebat seperti Merida dalam film Brave.
Aku hanya diam dan langsung mengambil langkah untuk pergi dari tempat itu. Tetapi tiba-tiba anak yang lain menarik lenganku, menahanku untuk pergi.
“Hey, bukan seperti itu caranya. Ayo duduklah disini, cepat!” ucap salah satu perempuan dengan rambut bob lurus berwarna hitam.
Aku hanya menarik nafas dan duduk di tempat dimana ia mendudukanku. Sementara itu Carter mendelik ke arahku. Tatapan matanya menatap tajam kepada ketiga orang yang ada bersamaku. Kepalan tangannya mengeras. Oh tidak, aku memang si pembawa sial. Ketiga orang itu mulai duduk dan mendekatkan wajahnya kepadaku. Tatapan mereka sangatlah tidak menyenangkan. Lalu…
“Hey, kau anak baru kan? Selamat datang di sisi gelap kafeteria, kawan! Hebat sekali kau dapat menemukan tempat ini. Kau tahu disinilah anak-anak keren sebenarnya berkumpul. Yah setidaknya, kami berusaha untuk keren. Karena…. Kami pun baru menemukannya kemarin.” Sahut perempuan lainnya yang memiliki rambut pirang.
Aku menaikkan sebelah alisku. Uhm, apa yang mereka maksud? Tempat anak-anak keren? Menemukan tempat ini? Lalu apa hubungannya jeda waktu kau menemukan tempat ini dengan anak-anak keren? Dan sebenarnya, siapa mereka ini? Orang-orang aneh ini?
“Ah, maaf. Aku tahu kau bingung setengah mati. Biarkan aku memperkenalkan diri kami. Panggil saja kami DEF. Haha itu inisial masing-masing nama kami. D untuk Donny, itu lelaki berambut merah itu. Dan E untuk Eleanor, yaitu gadis berambut pirang itu, dan aku Feranny. Tapi kau bisa memanggilku Fera saja.” Jelas gadis berambut hitam dan berwajah asia itu.
Aku menganggukkan kepalaku, sedikit mengerti dengan semuanya. Aku melempar senyum kecil kepada mereka dan mereka pun membalas senyumku. Kemudian Eleanor berganti posisi dengan Fera dan mulai berbicara padaku.
“Ya! Dan kini biarkan aku jelaskan satu hal, anak baru. Kau tahu mengapa kami bilang pojok ini hanya ditujukan untuk anak keren. Karena.. Kau lihat, tiga lelaki disana? Nah tidakkah kau melihat betapa kerennya mereka?! Oh ya ampun, melihatnya saja sudah membuatku mati rasa! Ya kan, Fera?” ucap Eleanor sedikit berbisik.
Fera menganggukkan kepalanya dengan semangat. Mereka langsung memandang ke bangku sebelah sambil mengeluarkan nafas panjang ala perempuan yang jatuh cinta. Sementara itu Donny menjulurkan lidahnya dengan jijik dan ia menggeser Eleanor dan duduk di sampingku.
“Tidak, bukan itu alasan sebenarnya mengapa kami menganggap keren mereka, melainkan selera dandanan mereka, musik yang mereka sukai memang sangat diluar batas umum yang anak-anak sukai di sekolah ini. Itu lah yang membuat mereka mengagumkan di mata kami. Mungkin Eleanor dan Fera juga tersita dengan perasaan suka menyukai mereka kepada mereka. Tapi percayalah, anak baru, aku mengagumi mereka karena mereka benar-benar berani melawan arus yang lebih deras di sekolah ini. Hanya mereka lah yang berani mengekspresikan driri mereka sendiri, tidak seperti kami yang… Yah kami berpura-pura menjadi pengikut anak-anak yang lebih berpengaruh diluar sana, tetapi kami hanya menyembunyikan hobi kami yang sebenarnya. Jadi dengan kata lain, kami hanyalah sebatas kamuflase yang sangat mengagumi mereka yang berani menampilkan perbedaan mereka. Yah seperti itu lah.” Jelas Donny panjang lebar.
Hmm, ya kini aku mengerti sepenuhnya. DEF adalah kumpulan orang yang berusaha menghindar dari tindakan bully anak-anak di sekitarnya. Dan mereka mungkin terpaksa melakukan apa yang mereka tidak suka hanya untuk bertahan agar mereka selamat dari cemoohan mereka yang sombong dan memiliki pengaruh di sekolah ini. Ah sekolah, dunia sosialita paling kejam dibandingkan pesta arisan ibu-ibu pejabat. Disini tidak hanya pejabat saja yang ikut terlibat, bahkan rakyat jelata yang sudah menderita sekalipun dapat ditindas lebih banyak lagi. Aku mengangguk-angguk. Donny tersenyum kepadaku.
“Jadi, namamu siapa? Dan bagaimana kau menemukan tempat ini, bahkan di hari pertamamu. Bisakah kau mengenalkan dirimu pada kami?” tanya Fera.
“Namaku Nail. Dan.. Aku tidak sengaja menemukan tempat ini. Itu saja.” Jawabku.
“Oh, wow, kau.. Tidak suka banyak bicara ya, uh siapa tadi namamu, Nail? Oh, haha, itu bagus.” Sahut Elelanor.
“Tentu saja, karena itu skill terbaik untuk menjauhi orang-orang idiot diluar sana. Semakin banyak kau diam semakin banyak kau selamat dari cengkeraman neraka ini.” Kata Victor dengan tiba-tiba tanpa menoleh kepada kami sedikitpun.
Donny, Fera, dan Eleanor menatap Victor dengan terbelalak. Mungkin mereka tak menyangka, bahwa Victor akan mendengar pembicaraan mereka dan malah menanggapinya. Seperti baru saja disapa oleh seorang mega superstar, mereka terbelalak, kehabisan kata-kata dan bahkan Eleanor seperti hendak pingsan. Mereka tidak menjawab apa-apa hanya menatap satu sama lain diantaranya. Aku tahu mereka ingin sekali berteriak keras-keras sambil menari dan melompat-lompat, lalu mereka akan bilang, “OH YA AMPUN VICTOR BARU SAJA BICARA PADA KITA!”. Yah, sudah pasti. Karena aku juga pernah merasakan perasaan yang seperti itu. Karena tidak ada lagi yang dapat diajak berbicara, aku mulai memakan makananku dengan tenang dan seperti biasa. DEF mengikutiku dengan perasaan yang canggung. Setelah bel masuk kelas berbunyi lagi, Carter, Victor, dan Justin pergi terlebih dahulu. Sementara itu aku, dan DEF menyusul. Tetapi sebelum kami pergi bersama-sama Eleanor menahan kami dan mengambil sebuah sedotan bekas minum milik Victor.
“Euw, Elenaor, untuk apa kau mengambil itu?” tanya Donny.
“Hihi, mungkin saja nanti malam aku dapat mengemutnya dan “memasukannya kedalam”, Donny. Lagipula ini bekas Victor.” Jawab Eleanor.
Ukh. Keadaan akan menjadi lebih buruk lagi aku yakin itu. Kini aku terjebak dengan fanatik yang sedikit menyeramkan. Yah setidaknya aku pun tidak akan melakukan hal yang sama seperti Eleanor meskipun Matt Tuck memberikanku gitar yang sudah di tandatangani nya. Aku mungkin hanya akan memeluknya dan membawanya tidur di sampingku layaknya pengganti guling. Tetapi tidak seperti apa yang dilakukan Eleanor tadi. Seseorang, tolong cepat keluarkan aku dari sini.
*
Kehidupan sekolah berakhir. Dengan cepat aku menyimpan semua barang-barangku ke dalam loker, dan pergi ke rumah. Ukh, keadaan disana terlalu horror untuk dialami setiap 5 harinya dalam seminggu. Aku mungkin tidak akan tahan lebih dari 3 bulan. Sudah pasti. Dan akan aku yakinkan hal itu. Sungguh sangat menyeramkan. Ini lebih buruk daripada sekolah yang dulu. Aku berlari masuk ke dalam bis, beruntung sekali bis hanya menampung satu penumpang lagi karena sudah penuh. Tetapi kemudian sebelum pintu bis menutup, seseorang menahannya dengan tangannya. Itu Carter dengan wajah panik ia menyusulku. Aku melihatnya dan cepat-cepat mencari tempat yang banyak dikerumuni orang dan membaur disitu supaya tidak terlihat olehnya. Dan akhirnya aku menemukan tempat terbaik untuk bersembunyi di pojok bis yang dipenuhi ibu-ibu yang membawa banyak barang belanjaan. Ya, aku tidak akan terlihat disini. Sementara itu dari sini kulihat Carter pun masih mencoba mencari aku dari bagian depan bis. Sepertinya ia tidak akan berani masuk ke dalam kerumunan ini. Syukurlah. Kini hanya satu hal, bagaimana aku pulang ke rumah tanpa harus bertemu dengannya. Bagaimana pun juga kami akan turun secara bersamaan dan pastinya ya bertemu. Mungkin aku akan pasrah disitu, tetapi setidaknya kali ini aku dapat menghindar dari Carter.
Akhirnya sampai. Carter mulai turun begitu juga dengan aku melewati pintu belakang. Carter sedikit terhambat dengan banyaknya orang keluar melalui pintu depan. Ini kesempatanku, aku berlari langsung ke arah gerbang rumah dan membuka kuncinya. Carter sudah keluar dari bis. Aku harus lebih cepat lagi. Setelah gerbang rumah terbuka kini giliran pintu rumah yang harus kubuka juga, dan Carter berlari ke arah sini makin kencang. Aku bisa melakukannya. Sedikit cepat. Ya, lebih cepat. Ah, pintu rumah terbuka, tapi… Carter menarik lenganku. Yak, aku tertangkap. Aku hanya terdiam dan menunduk. Carter mengatur nafasnya yang tak beraturan sambil menggiringku masuk kedalam rumah. Kemudian ia menyuruhku duduk, ia merangkulku erat.
“Baiklah, Nail. Aku tahu ini adalah hal yang sangat tidak bisa diterima. Tetapi ada apa? Tidakkah kau ingin membaginya denganku?” tanya Carter.
Aku hanya terdiam, menatap kosong ke langit-langit. Carter menggoyangkan sedikit tubuhku. Meneteslah cairan yang kutampung daritadi. Dengan deras. Hidungku pun mulai memerah. Dan mulutku mulai sesenggukan. Aku menutup wajahku dengan erat. Dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Oh ayolah, Nail. Ada apa? Pasti ada alasan dibalik semua ini. Ayolah, kau bilang hanya aku satu-satunya yang kau miliki untuk saat ini. Ayolah, ceritakanlah padaku. Mungkin aku bisa membantu.”
“Tidak, Carter. Hal ini akan malah menambah buruk reputasimu di sekolah. Dan aku juga tidak dapat menceritakannya padamu. Ini sudah diluar batas. Mungkin dulu mentalku tidak selemah ini, tetapi kali ini serasa…. Sudahlah, lupakan saja.”
“Ayolah, Nail. Tentu saja aku bisa. Paling tidak jika kau memberi tahukan hal ini, kau akan menjadi sedikit lega. Daripada kau pendam sendiri, mungkin lebih baik aku juga merasakannya. Aku tak peduli dengan reputasiku di sekolah. Itu bukan tempat kehidupan sebenarnya berada, persetan dengan reputasi. Aku disana hanya untuk menuntut ilmu karena terpaksa, Nail. Ayo, ceritakanlah.”
“Baiklah, Carter. Tapi… Kumohon. Jangan lakukan apapun setelah aku menceritakan hal ini. Kau janji?”
“Ya, Nail. Aku janji.”
Jadi, begini. Setelah bel masuk berbunyi setelah istirahat, di saat dua jam pelajaran yang terakhir. Perempuan berambut cokelat panjang yang mengomentari perkenalanku, ia berpindah tempat duduk menjadi di bangku yang ada di depanku. Carter tidak tahu itu, ia tertidur di kelas. Aku tidak terlalu menghiraukannya. Ia mulai mengajak berbicara dan berkomentar ini itu mengenai penampilanku, logatku berbicara, cara menulisku, semuanya ia komentari. Tetapi aku tidak begitu merisaukannya. Hingga… Akhirnya aku mendengar sayup-sayup suara yang lain. Sebuah suara yang sangat kukenal. Suara yang sangat kurindukan. Ia terus memanggilku, memanggilku dari kejauhan. Ia terus berkata, “Na… Nail… Bisakah kau mendengarku…? Jawablah, Nail”. Aku menjadi semakin fokus. Aku menunduk dan mendengarkan suara itu semakin jelas dan jelas. Tetapi kemudian perempuan itu menarik rambutku dengan jambakan yang kuat. Ia berbisik kesal ke arahku karena aku tidak mendengarkannya berbicara. Aku juga tidak merisaukan hal itu, aku hanya melepaskan rambutku dari tangannya. Tetapi kemudian ia menjambak lebih banyak rambutku dengan lebih keras dan menyakitkan. Ia berteriak, apa yang aku lakukan sampai tidak mendengarkannya berbicara. Untunglah disaat itu seorang guru masuk. Ia melerai kami berdua. Dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Perempuan itu menjelaskannya. Dan aku pun menjawab, kalau aku sedang tidak ingin berbicara. Itu saja. Aku tidak mau memberitahukan hal gila yang sebenarnya. Tetapi kemudian perempuan itu tertawa dengan nada yang melecehkan. Ia bilang, tidak mungkin. Ia melihat ekspresiku ketika aku sedang terdiam, ia yakin aku lebih tertarik pada suatu hal yang tidak diketahuinya tentunya dengan cara bicara seolah-olah ia yang benar. Namun bukan itu yang membuatku jengkel, pada akhirnya perempuan itu berkata, “Kau pasti dapat melihat atau mendengar sesuatu yang tidak dapat dilihat atau didengar orang lain ya? Seperti paranormal? Memangnya siapa itu?”. Aku hanya terdiam dan sedikit menahan ekspresi terkejutku darinya, karena bagaimana ia menebak hal acak seperti itu dengan tepat. Dan kemudian, Jason ikut menimpali sambil tertawa, “Mungkin ia meminta bantuan ke orang tuanya lewat telepati untuk cepat-cepat pulang dari sekolah karena ia ingin kembali ke taman kanak-kanak agar tidak dipaksa berbicara pada orang lain. Dengar, anak baru. Jika kau meminta hal seperti itu, kuyakin orang tuamu akan cepat mati konyol hanya karena masalah yang disebabkan olehmu.”.
“Baiklah, wajar kau menonjok wajah Jason hingga hidungnya berdarah seperti itu, dan sangat wajar juga saat kau hendak menusukkan gunting ke matanya. Baiklah, Nail. Tunggu sebentar saja, aku mau keluar.” Jawab Carter dengan tatapan tajamnya yang dingin dan beranjak berdiri.
“Tidak, tidak, Carter! Tidak! Tidak usah membelaku! Jika kau mau menolongku, aku hanya minta jangan pernah biarkan aku masuk ke tempat itu lagi! Kumohon, Carter. Kumohon!” pintaku sambil menahan lengannya.
Carter menghela nafas panjang. Ia kembali duduk dengan terpaksa. Menghapus air mata yang terus membasahi pipiku. Mengingat hal itu aku menjadi semakin sedih. Tentu saja! Apa yang makhluk itu ketahui mengenai orang tuaku? Pikiranku? Apa yang kulihat dan kudengar? Terlebih apa yang ia ketahui mengenai hal yang menyebabkan kematian orang tuaku?! Jujur saja itu hal terkejam yang pernah manusia lontarkan kepadaku. Hati ini pun semakin bergetar tiap aku mengingat kata yang dilontarkan mulut manusia itu. Tiap katanya yang merobek jantungku dalam-dalam. Jantungku semakin berdebar-debar, ingin sekali aku menangis, berteriak dengan kencang, tanpa kendali. Dan aku pun tidak tahan untuk melakukan itu. Aku berteriak dan berlari masuk ke dalam kamar. Menutup pintunya, dan menguncinya. Aku berteriak dan mengadukan kepalaku ke tembok hingga berdarah. Rasa sakitnya tidak sebanding dengan ingatan ketika aku melihat seluruh keluargaku tergeletak mati terbunuh! Aku seperti melihat mereka semua disini, dengan darah berhamburan, leher mereka semua robek, bahkan terpenggal. Tatapan kosong mereka. Ukh…
“Nail, sudahlah! Jangan menyakiti dirimu sendiri, Nail! Kumohon, berhentilah! Dan biarkan aku masuk, Nail! Kumohon!” teriak Carter dari luar sambil menggedor-gedor pintu dengan keras.
Aku hanya dapat berjalan terhuyung-huyung. Dan akhirnya duduk di pojok kamar sambil terdiam dan terus mengalirkan air mataku. Maaf Carter, bukannya aku tidak menerima keberadaanmu, perhatianmu, kasih sayangmu padaku, tetapi… Hanya tinggalkan lah aku sendiri disini. Semuanya akan menjadi lebih baik jika kau meninggalkanku sendiri untuk sementara. Aku hanya butuh waktu sendiriku untuk melampiaskan semuanya, dan mencoba untuk bertindak seperti tidak ada yang terjadi sama sekali. Aku mengerti. Perbuatanku ini sangatlah tidak terpuji. Diluar sana pasti ada orang yang lebih menderita daripada aku. Hanya saja, memang… Aku memang bukan sepenuhnya manusia, tetapi aku juga seperti mereka. Jadi, tidak salah kan jika aku masih memiliki sifat egois didalam tubuh ini. Tetap saja aku merasakan kesedihan yang mendalam. Tiba-tiba kunci rumah terjatuh, Carter pun membukanya setelah mencungkilnya dengan sebuah kawat. Ia masuk dan duduk didekat pintu menatapku.
“Aku mengerti, Nail. Kau butuh waktu untuk sendiri. Tapi, aku tidak bisa menahannya. Aku tetap ingin melihatmu, dan aku tidak mau kau terluka, bahkan jika luka itu pun kau buat oleh tangan dan tindakanmu sendiri. Dan aku pun tidak akan marah atau menjaga perilakumu jika kau ingin bertindak sesuai keinginanmu sendiri. Bahkan ketika godaan-godaan seperti itu tetap menyerangmu, aku malah suka saat kau membantainya habis-habisan hingga ke sumbernya, seperti tadi yang kau lakukan pada Jason. Tapi aku tidak mau, kau menyembunyikan perasaanmu seperti menangis di dalam air agar aku tidak bisa mendengar suara tangisanmu. Jujur saja, aku hanya ingin kau terbuka padaku. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada disana untukmu, Nail.” Ujar Carter.
Aku memandangnya. Aku mengerti maksudnya. Aku mengerti betapa besar hargaku untuknya. Aku kemudian kembali tertunduk dan mengangguk. Setelah melihatku mengangguk, Carter mendekatiku, ia menyisir poniku ke samping dan menyeka darah di kepalaku dengan tangannya. Ia juga menghapus lagi air mata di pipiku. Terdengar suara seseorang menaiki tangga dan berdiri di ambang pintu.
“Aku lewat, dan mengajak Victor kemari karena aku mendengar kegaduhan, apakah itu salah Carter?” tanya Justin saat Carter menatapnya dengan terkejut.
Carter kemudian melemahkan pandangannya dan tersenyum kecil pada mereka. Sementara itu Victor dan Justin juga ikut masuk kedalam dan menanyakan apa yang terjadi padaku. Carter menutup mulut mereka. Dan menawarkan diri biar dirinya yang bercerita kepada mereka. Mereka mengerti. Justin membawakanku tissue basah untuk mengelap noda darah yang masih tersisa. Setelah aku nampak sedikit lebih baik, Carter mengajak Victor dan Justin untuk menjauhiku sebentar mungkin untuk menceritakan masalah yang terjadi. Karena kulihat wajah mereka sangat serius dan tatapan galak mereka juga tersirat kembali.
“Baiklah, ini tidak sehat. Mungkin memang sebaiknya Nail tidak usah kembali lagi ke tempat terkutuk itu, Carter. Kau ingin aku yang memberitahukan hal ini pada Tuan Wilson?” ucap Victor.
“Tapi, Victor, Carter. Jika karena hal seperti ini, Nail langsung tidak muncul lagi di sekolah. Anak-anak mungkin akan membuat rreputasi yang buruk tentangnya. Dan kalian tahu kan bagaimana buruknya sekolah kita, hingga insiden berbulan-bulan lalu pun masih tetap menjadi topik hangat pembicaraan setiap harinya, dan kita pun pasti tidak akan nyaman apabila Nail dijadikan topik itu.” Sela Justin.
“Hmm, Justin benar juga. Tapi apa yang sebaiknya kita lakukan? Tapi jika kita terus ada bersama, Nail juga. Reputasi itu akan semakin buruk. Ugh, ini lah alasan mengapa aku benci sekolah! Benar-benar neraka sosialita!” geram Victor.
“Mungkin ya, hal itu tidak dapat kita lakukan. Tetapi mungkin tidak salah jika kita berpura-pura mengenal Nail sebagai anak baru dan memperlakukannya dengan baik. Ya, tidak akan ada yang salah dengan itu. Dan apabila para penjahat sosialita itu kembali mencemooh atau melakukan hal yang tidak-tidak pada Nail, kita siap membelanya. Tetapi ingat, hubungan kita di sekolah hanya pura-pura mengenalnya saja. Begitu?” usul Carter.
“Ah! Seperti film I Am Number Four! Benar kan, Carter?! Hubungan antara si alien, gadisnya, dan anak kutu buku itu kan?!” seru Justin.
Carter menepuk telapak tangannya dan menunjukkan jempol pada Justin. Sementara itu Victor hanya mengangkat sebelah alisnya, dan cemberut. Kemudian Victor mengeluh kalau ia tidak tahu sama sekali tentang film itu, jadi ia tidak mengerti. Justin dan Carter sedikit tertawa, aku juga sedikit tertawa melihat kelakuannya. Melihat aku sudah mulai sedikit tertawa, mereka bertiga tersenyum lebar.
“Ah sudahlah, Victor. Biar Justin yang menjelaskannya padamu nanti. Kau memang tidak akan pernah mengerti jika bukan Justin yang berbicara. Dasar gay.” Ujar Carter.
“Wow. Hey, hey, hey Carter! Jaga mulutmu itu. Pertama, aku mengerti jika saja seseorang berbicara tanpa mengikut sertakan film, komik, atau apapun itu yang tidak aku ketahui. Kedua, aku seorang necrophillia, dan tidak ada seorang gay yang mengidap necrophillia. Dan ketiga, meskipun aku necrophillia aku tidak akan menyetubuhi jasad seorang laki-laki karena aku bukan gay!” bantah Victor.
“Hey, Carter. Bisakah aku menitipkan wasiatku kepadamu sekarang? Jika aku sudah mati tolong buatkanlah aku peti mati besi ya? Aku ragu kalau Victor tidak akan menyetubuhi jasad lelaki. Aku sangat tidak yakin sama sekali.” Ucap Justin sambil tertawa.
Carter dan Justin tertawa keras. Sementara Victor menatap mereka dengan jengkel. Ya, kuakui itu lelucon yang lucu, jadi aku juga ikut tertawa dan mulai berdiri untuk menyiapkan beberapa kudapan dan minuman untuk mereka. Ya, aku merasa lebih baik sebelumnya. Melihat mereka aku pun jadi ikut senang. Mereka tahu caranya bergurau. Setelah semuanya sudah kusiapkan, kami pindah untuk berbincang di ruangan musik Carter. Setelah banyak lelucon yang dilontarkan untuk membuat keadaanku menjadi lebih baik, mereka mulai bercakap-cakap serius lagi. Salah satunya bercerita, dan yang lainnya mendengarkan dengan serius. Namun setelah itu, hening mulai melanda. Mereka kehabisan topik.
“Uhm mengenai band. Aku ingin tahu kemampuan kalian memainkan alat musik. Lagipula apa saja posisi kalian? Aku tidak mengetahuinya.” Kataku memancing topik pembicaraan baru.
Mereka bertiga menatapku serius. Tatapan mereka berbinar. Dan mereka langsung berebutan untuk berbicara menjawab pertanyaanku. Namun semuanya kalah oleh dorongan Justin. Jadi, Justin lah yang menjawab.
“Ehem.. Ya, Nail. Seperti yang kau lihat. Dari postur tubuh mungkin kau sudah dapat menebak. Carter, yah tubuh yang standar dan steady itu sudah pasti menjadi seorang gitaris, tetapi Carter juga adalah lead vocalnya. Dan Victor, karena ia tidak menarik, jadi kami simpan ia di posisi bassis, dan backing vocal. Dan aku, tentu saja drummer. Karena ya drummer memang membutuhkan banyak energi kan? Makanya aku lah yang dipilih karena aku memang lebih kekar dari mereka dan paling banyak memiliki energi. Tidakkah kau lihat garis hitam-hitam di bawah mata Carter dan Victor, sungguh tidak mencerminkan ketidak sehatan mereka. Sebenarnya mereka lebih cocok menjadi pengedar obat-obatan terlarang dibanding pemain band.” Oceh Justin dengan panjang lebar.
Carter dan Victor membuat suara-suara gaduh sambil menutup telinga mereka, tidak terima dengan ocehan Justin. Tentu saja. Aku hanya tertawa lepas.
“Tetapi, bisakah aku bertanya lagi. Dan meminta jawaban yang sangat jujur. Mengapa kalian mengambil posisi itu? Apakah kalian sendiri yang berebutan untuk mengambilnya?” tanyaku.
“Jujur, Nail. Baiklah, sebenarnya urusan manajemen band ini diserahkan padaku. Aku jujur ya, silahkan saja tanya yang lain, benar kan kawan-kawan?” tanya Victor. Carter dan Justin pun mengangguk. “Nah, lihat. Aku juga yang memilihkan posisi untuk mereka masing-masing. Untuk Justin, sudah pasti tubuhnya lah yang kulihat makanya ia kusimpan di posisi drummer. Tetapi terkadang Justin juga menjadi backing vocal bersamaku karena suara bass nya sangat jelas dan enak didengar. Carter, kupikir ialah pimpinan band ini. Kubilang Carter memiliki banyak bakat. Dibanding kami semua, yang paling ahli memainkan gitar adalah Carter. Suaranya pun benar-benar bagus. Kau belum pernah melihatnya bernyanyi sungguhan, Nail? Kau pasti akan langsung menyukainya. Suara serak-serak basahnya dapat ia atur dengan baik, ketika melakukan clear vocal, screaming, ataupun growl ia dapat mengaturnya dengan sangat baik. Nah karena semuanya sudah dapat apa yang mereka cocok untuk dapatkan, aku lah yang memegang sisanya. Oh ya, dan satu lagi, aku menciptakan Carter sebagai vocalis dan gitaris, image yang banyak dicintai fansnya, karena ia lah… Aku mengaku dan jujur. Carter lah yang paling atraktif, tampan, dan yah banyak penampilan fisik yang ia dapatkan. Bagaimana, aku dan Justin setuju Carter memang seperti itu, apakah kau juga berpendapat sama, Nail? Apakah menurutmu Carter memang seperti itu?”
Ugh, apa ini? Sebuah pertanyaan yang nampaknya seringkali digunakan saat bermain Truth Or Dare. Dan sepertinya secara tidak langsung aku sudah diajak untuk mengambil Truth. Aku hanya tertawa kecil dan coba mengalihkan pembicaraan. Tetapi Victor benar-benar ngotot dan terus menanyakan hal itu. Jadi…
“Ya, Victor. Carter memang seperti itu.” Jawabku sambil tersenyum kecil.
“Seperti itu apa, Nail? Ayo, ucapkan kalimatnya dengan lengkap!” ucap Victor sambil tertawa.
“Ya, ya, ya,. Carter memang… Tampan, atraktif, dan yaaah dan lain-lain…” ucapku sambil membuang muka yang tersipu merah.
Victor dan Justin mulai tertawa dan menyanyikan lagu-lagu cinta dengan suara mereka yang nyaring. Sementara itu Carter hanya menahan senyum gelinya dengan wajah yang juga bersemu merah. Baiklah. Aku benci perjodohan-perjodohan ini. Sebenarnya tidak benci, aku menyukainya tapi.. Ugh sudahlah lupakan. Apa? Mengapa aku menjawab seperti itu? Kau ingin tahu gambaran Carter? Baiklah akan kujelaskan. Carter memang.. Benar-benar tampan untukku. .. Terutama yang membuatnya begitu hebat adalah rambutnya dan wajahnya, dan tubuhnya. Ah ya sebenarnya semuanya. Wajahnya itu bagaimana ya. Ia memiliki tatapan tajam, hidungnya begitu mancung, dan bibirnya pun ah baiklah biar kugambarkan secara keseluruhan. Jika ia membiarkan rambutnya berantakan ia lebih mirip Jinxx, gitaris dari Black Veil Brides hanya saja rambutnya sedikit lebih pendek dari Jinxx yang asli. Ya, dan apabila ia menyisir rambutnya dengan sangat rapih hingga terlihat potongan rambut yang pendek (tidak seperti yang sebenarnya; gondrong) ia lebih seperti Jack Frost. Apalagi dengan kulitnya yang putih, dan bola mata birunya itu. Ooh ya ampun kau benar-benar tidak akan dapat membayangkan betapa tampannya manusia yang satu ini. Dan baiklah ini rahasia kecilku, kau tidak boleh memberitahukannya pada siapapun. Kadang aku ingin tahu sekali apa rupa Carter jika ia hanya bertelanjang dada. Apakah dadanya bidang, apakah perutnya six pack, apakah lengannya jika ia keraskan akan memperlihatkan otot-otot, ah sudahlah. Sudah, lupakan. Jangan pikirkan lagi. Itu hanya pikiran kotor saja. Sudah lah jangan membujukku untuk membicarakannya lagi. Setelah Victor dan Justin puas menggodaku dan Carter akhirnya mereka kembali ke topik yang sedang dibicarakan. Dan Victor menawarkan sebuah demo untukku yang akan dimainkan oleh mereka dengan sebaik mungkin.
“Tapi, bagaimana dengan bass, dan drumnya?” tanyaku.
Carter tertawa, ia berjalan ke sudut ruangan dimana ada benda besar yang ditutupi oleh kain hitam. Ia membukanya. Oh disana terdapat sebuah drum dan bass. Kemudian ketiga lelaki itu bangun dari duduknya dan mulai mencolokkan beberapa kabel ke sound sistemnya. Melakukan pengecekan suara. Dan setelah semuanya siap, Carter menggunakan micnya seperti seorang professional sambil menatapku.
“Baiklah, Nail, lagu apa yang kau inginkan?” tanya Carter.
“Rise Against – Savior.” Jawab Victor dengan tiba-tiba sambil menggoyangkan alisnya keatas dan kebawah pada Carter.
“Ukh, sudah cukup godaannya Victor. Dan aku meminta Nail untuk memilih lagunya, bukan kau. Ayo Nail, apa yang kau inginkan?”
“Hmm, bagaimana kalau The All American Reject – Dirty Little Secret? Kau bisa?”
Carter mengusap dagunya, dan kemudian ia mengangguk mantap sambil tersenyum. Untuk beberapa lama ia berdehem dan mencoba mengecek suaranya. Membuat suaranya lebih pas untuk bernyanyi. Setelah semuanya siap, suara gitar mulai terdengar. Dan, yah aku menikmatinya dengan sangat baik
*

Chapter IV: A Monster In A Small Town

Chapter IV

*

Seorang pria menyeret kakinya dengan tergesa-gesa. Sepertinya tulang kakinya patah, namun ia tetap dengan gigih menyeretnya entah kemana. Nafasnya tersengal-sengal. Pandangannya kabur. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya. Pakaiannya compang-camping seperti gelandangan. Ia terus berjalan pincang menuju gang-gang kecil kota yang kumuh dan jorok. Sesekali ia menengok kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Ia berhenti sejenak, memegangi perutnya yang terus berbunyi meminta sesuatu untuk dimakan. Sekarang juga! Orang itu meringis kesakitan. Lalu ia kembali memasuki lorong tergelap dari gang gelap yang kumuh dan sepi itu. Ia mencari tempat paling gelap dan sempit disana, kemudian menggeletakkan tubuhnya diatas tanah yang becek oleh genangan air disana. Suara nafasnya benar-benar mengerikan. Terdengar seperti bunyi orang yang sedang sekarat. Beberapa kali ia mengerang, nampak memohon akan sesuatu. Gerakan tangannya kaku, terkadang tangannya meraih-raih ke samping, meraba-raba sesuatu. Tak lama kemudian, sistem pencernaannya kembali berbunyi. Ia kembali mengerang kesakitan. Kepalanya menengok ke segala arah. Bola matanya bergerak-gerak ke segala arah dengan penuh terror. Sekitar lima menit ia meremas perutnya. Menahan rasa laparnya. Sayang, ia tak kuasa untuk menahan rasa sakit didalam perutnya. Kemudian orang itu mencari-cari sebuah benda yang bisa ia pakai. Ia menemukan serpihan kaca pecah di dekat kakinya, ia mengambilnya, lalu ia menyayat kulit tangannya sedikit demi sedikit dan memakannya. Entah erangan macam apa yang ia keluarkan dari mulutnya. Mungkinkah kesakitan, rasa lapar yang akhirnya tertangani, atau apa? Yang pasti orang itu memakan sebagian tubuhnya untuk ia makan sendiri. Darah segar mengucur deras dari luka sayatannya. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah, bagaimana caranya bertahan hidup tanpa harus mati. Beberapa kali ia menyayat kulit lengannya untuk dimakan, sampai akhirnya berhenti di suapan ke lima. Rasanya itu cukup untuk menjanggal perutnya. Sementara ini.

Kini orang itu bersandar pada lempengan seng tua di belakangnya. Ia menengadah. Mengangkat kedua tangannya. Ia mengamati tangannya yang sudah hancur. Bekas luka tergores, lecet, dan bahkan sayatan yang ia makan, ditambah luka-luka memar membiru yang membuat kulit putih pucatnya semakin mengerikan. Kemudian pandangannya berpaling ke arah kakinya. Kaki kirinya sudah tidak memiliki kekuatan untuk bergerak lagi. Lumpuh total. Namun dari kedua kakinya pun keadaannya tidak ada yang bagus sama sekali. Bekas beberapa tembakan menghiasi kakinya. Sebuah goresan juga ada disana. Orang itu menghela nafas panjang dengan berat. Ia menutupi wajahnya dengan tangannya. Menjambak rambut hitamnya yang gondrong dan berantakan dengan keras. Lalu jari jemarinya mengelus-ngelus pipinya. Ia sedikit tertegun. Ia merasakan sesuatu yang ganjal pada wajahnya. Sesuatu yang kasar dan aneh, sepertinya tidak lazim ada di wajah manusia. Seperti sebuah luka. Luka cakaran. Orang itu langsung mencari serpihan kaca yang ia gunakan tadi. Saat ia menemukan kaca kecil itu, ia mencoba bercermin melihat wajahnya sedikit demi sedikit. Ia memulainya dari bola matanya yang berwarna aneh. Bola mata hitam yang memiliki sedikit warna merah pada bagian tengahnya. Seakan warna hitam itu akan segera luntur dan tergantikan oleh warna merah. Kemudian ia memindahkan kaca itu ke arah hidungnya, ia melihat sebuah hidung yang mancung dan memiliki tulang hidung yang tegas. Ia berlanjut lagi melihat ke arah pipinya. Terlihat sebuah luka yang ia rasakan tadi saat mengelus pipinya, sebuah luka goresan yang panjang namun begitu rapih. Tetapi ada beberapa sesuatu yang terpotong dan tersangkut di luka itu. Seperti sebuah benang hitam. Ia mencabutnya sedikit dan memang, benda itu adalah benang. Sepertinya ia baru saja menjalani operasi penjahitan, tetapi operasi penjahitan tidak akan seceroboh itu dengan menggunakan sebuah benang biasa yang digunkaan untuk menjahit baju. Orang itu semakin mengerutkan dahinya, ia melanjutkan menggerakkan kaca itu untuk mengamati luka itu lebih banyak. Dari pipi, luka itu terus tergores, tergores, dan tergores sampai ke sumbernya, yakni di bagian ujung bibirnya.
Orang itu terkejut, ia langsung melemparkan kaca itu saking terkejutnya. Kemudian ia bergerak sedikit, mendekati sebuah genangan air. Ia merangkak di atas genangan air itu dan mulai melihat refleksi dirinya diatas genangan air itu dibantu oleh cahaya bulan purnama diatas langit. Ia membelalakkan mata, ia mendapati dirinya sangat menyeramkan. Sebuah goresan panjang dari kdua tepi ujung bibirnya menghiasi wajahnya. Terlihat seperti sebuah senyuman besar yang sangat mengerikan. Terlebih ia telah membuka beberapa jahitannya. Dengan mata yang aneh dan rambutnya yang tak terurus ia lebih terlihat seperti seorang psikopat kelas kakap. Kemudian ia melihat ke arah badannya. Ia memakai baju konyol khas rumah sakit. Kemudian ia melihat ke dalam bajunya, melihat badannya. Dadanya sedikit membusuk. Kemudian ada sebuah luka besar terbuka di bagian tulang iganya, memperlihatkan sebuah daging yang masih merah terlihat dengan jelas. Pria itu sangat shock. Keadannya sangat mengerikan. Mungkin dibanding tinggal di lorong seperti ini, ia lebih cocok untuk tinggal di ruang autopsi bedah mayat sebuah rumah sakit. Atau mungkin… Di sebuah kuburan. Ya disitulah seharusnya keadaan orang-orang yang sepertinya berada. Lalu, apa yang ia lakukan disini?

“PERHATIAN, PERHATIAN PARA WARGA SETEMPAT! BERHATI-HATILAH DAN TETAPLAH PERHATIKAN KEADAAN SEKITAR! TETAPLAH WASPADA!” teriak seseorang melalui pengeras suara.

“Memangnya apa yang harus kita khawatirkan?” tanya seseorang dibalik lorong tempat pria aneh bersembunyi.

“Entahlah. Kau tidak tahu? Kabarnya seseorang telah mencuri mayat dari pemakaman rumah sakit. Sepertinya seorang kanibal telah muncul di daerah ini. Ya siapa tahu juga kita akan diincar untuk dimakannya kan?” jawab yang lainnya.

“Oh ya, aku dengar berita itu, tapi bukankah kuburan yang dibongkar itu bekas kuburan pasien paling berbahaya ya? Siapa namanya? Um, Giovanni De Luca, bukan? Kudengar ia orang gila yang membunuh kedua orang tuanya dengan sadis. Kalau tidak salah ia dibunuh oleh pihak rumah sakit karena sulit sekali untuk menenangkannya dengan obat. Maka dari itu pihak rumah sakit terpaksa membunuhnya.”

“Ya, benar. Dan orang itu memiliki sebuah senyum lebar di wajahnya yang ia torehkan sendiri kan? Sayang sekali kita tidak memiliki rumah sakit jiwa setempat untuk menempati orang-orang seperti itu. Padahal Italia terkenal dengan penerimaan para penderita rumah sakit jiwa dari negara lain. Jadi ya kupikir wajar saja pihak rumah sakit bisa membunuh orang gila berbahaya seperti itu.”

“Dan akan lebih menyeramkan lagi apabila ternyata pelaku pembongkaran makam itu bukanlah seorang kanibal. Mungkin saja itu mayat Giovanni De Luca yang bangkit kembali dari kubur untuk membalaskan dendamnya. Huuuu!!!”

“Hahahahaha, kau ini ada-ada saja. Tidak ada cerita takhayul bodoh seperti itu. Hahahahahaha!”

Kedua orang itu tertawa keras dan menghilang. Entah pergi kemana. Nampaknya apa yang dikatakan orang pertama memang benar. Giovanni De Luca, psikopat gila itu sepertinya memang bangkit kembali dari kubur. Apa buktinya? Kalian tidak percaya? Kalau begitu siapa yang ada di lorong gelap, menggunakan pakaian rumah sakit, bertubuh penuh luka dan sedikit membusuk, juga memakan dagingnya sendiri tadi? Dan juga bukankah orang itu memiliki sebuah senyum lebar dari goresan yang ditorehkan dari ujung kedua bibirnya? Hmm…. Siapa ya?

*

Baru saja sehari setelah berita kehilangan mayat mantan pasien rumah sakit. Kini beredar lagi sebuah kabar di koran lokal.

“DITEMUKAN SEORANG PRIA PARUH BAYA TEWAS SEPERTI DITERKAM OLEH HEWAN BUAS.”

Betapa kacaunya kota kecil ini, waktu belum berlalu selama 24 jam, sudah ada 2 kasus mengerikan yang sama sekali tidak menemukan pencerahan. Diceritakan kejadian terjadi pada saat dini hari. Seorang saksi mengatakan ia melihat korban diterkam dan ditarik ke sebuah gang gelap. Ia diterkam seperti oleh seekor hewan buas, nampaknya beruang. Karena ia dapat berdiri sempurna seperti seorang manusia dan menerkam korban dengan cara mendekapnya. Karena terkejut, saksi pun akhirnya melarikan diri.

Hmm, seekor beruang? Di sebuah kota kecil? Sementara kota ini tidak terletak di dekat sebuah hutan. Kota ini malah dikelilingi oleh ladang, sawah, dan peternakan. Kemungkinannya sangat kecil bahwa ada seekor beruang yang masuk ke pemukiman warga seperti apa yang dituturkan saksi tadi. Baiklah, jika memang pelakunya bukan beruang, maka hewan macam apa lagi yang dapat berdiri seperti manusia dan menerkam mangsanya dengan cara mendekapnya? Rasanya tidak ada lagi hewan yang dapat melakukan hal seperti itu. Tetapi, apakah saksi itu yakin bahwa terror yang menyerang itu adalah seekor beruang?

Berbondong-bondong orang memenuhi tempat kejadian peristiwa yang sudah diberi garis polisi. Bau busuk menyengat di sekitar sana akibat jasad korban yang sudah mulai membusuk. Beberapa polisi sibuk menjaga tempat dari kerumunan orang-orang yang ingin melihat kejadian itu, beberapa lagi sibuk memeriksa jenazah korban yang sudah tidak karuan lagi. Tubuh korban pria itu terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Tangannya terlepas dari tubuhnya, kakinya pun begitu. Dan disekujur tubuh korban terdapat banyak sekali luka sayatan dan bekas gigitan. Semua tubuh korban habis digerogoti hingga tulang belulangnya. Ahli forensik terus memegangi tangan korban yang dipenuhi bekas gigitan. Keningnya berkerut, dan air keringat terus mengucur membasahi pelipisnya.

“Hewan macam apa yang dapat menghabiskan satu manusia utuh seperti ini. Kalaupun ini seekor hewan, maka hewan macam apa yang memiliki bekas gigitan seperti ini? Jika saksi mengatakan hewan ini seperti sosok seorang beruang, maka sudah pasti terdapat banyak sekali gigi-gigi taring nan tajam yang ada di tubuh korban. Tetapi, hanya terdapat empat gigi taring dari bekas gigitan ini, sisanya adalah gigi seri, geraham… Ini tidak seperti gigitan seekor beruang, melainkan mirip sekali dengan struktur gigi manusia. Mungkinkah korban ini seringkali menggigiti tangannya sendiri akibat stress atau depresi? Tapi tunggu dulu, di kakinya juga terdapat bekas gigitan yang sama tetapi gigitan itu justru merobek kulit tubuhnya hingga terkelupas dan membuka dagingnya sendiri. Ini jelas bukan ulahnya.” Pikir ahli forensik tersebut.

Ya benar, apa yang ahli forensik itu pikirkan sangat benar. Lebih janggalnya lagi, darah korban pun sangat sedikit ditemukan, seakan darah seluruh pria ini disedot habis-habisan oleh pelakunya. Namun apa? Apa yang menyebabkan kematian pria malang ini? Hewan atau mungkin……….. Manusia kah?

Sementara itu di lorong gelap yang lainnya terdengar sebuah lidah yang mengecap berkali-kali. Lalu sebuah sendawa kecil yang ditahan pun ikut menyusul. Seseorang sedang duduk selonjoran bersandar ke tembok bangunan tua. Mulutnya mengembang lebar, memperlihatkan senyum yang menyeramkan. Berkali-kali ia mengemut jari jemarinya. Sepertinya ada yang baru saja memakan santapan besar yang lezat dan mewah. Setelah mengemut jarinya ia berkali-kali tertawa terkekeh-kekeh dengan aneh.

“Aaaaah, inilah hidup. Rasanya enak sekali, sangat mengenyangkan. Aku tidak pernah memakan makanan selezat itu.” Pikirnya di dalam benaknya.

Matanya ia pejamkan, senyum tetap mengembang di wajahnya. Hembusan nafasnya sangat rileks. Bahagia sekali rasanya orang itu. Meskipun ia tinggal di lorong kumuh dengan baju yang kumal dan lebih banyak noda darah kali ini. Tetapi seluruh tubuhnya nampak lebih baik daripada semalam. Beberapa dagingnya yang memiliki luka membusuk kini seperti mengalami kejadian regenerasi, kulit itu terbentuk kembali, beberapa jaringan yang membusuk kembali menjadi normal, namun tetap pucat sepucat mayat. Tulang-tulang yang patah pun seperti tersambung kembali dengan sendirinya. Luka-luka busuk yang ada di sekujur tubuhnya kini kembali menjadi luka segar dengan darah yang masih mengucur sedikit demi sedikit. Namun hanya kenikmatan sementara yang ia rasakan, tiba-tiba saja ia membelalakkan matanya. Ia merasakan rasa sakit yang amat sangat di bagian tangannya. Pria itu memegangi tangannya dengan erat, ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara erangan kesakitannya.

“Apa yang terjadi pada tanganku? Apa yang terjadi?!” seru pikirannya.

Ia melihat ke punggung telapak tangannya yang kurus dan pucat. Kulitnya yang putih pucat sedikit demi sedikit mulai memunculkan sebuah bercak hitam. Bercak hitam itu semakin lama semakin membesar dan membentuk sesuatu. Bercak hitam itu terlukiskan dengan sendirinya di tangan pria itu, semakin lama semakin terbentuk sebuah motif abstrak di telapak tangan pria itu. Lalu rasa sakit dan bercak hitam itu hilang dengan tiba-tiba sesuai dengan kedatangannya. Kemudian pria itu kembali membuka matanya setelah memejamkan matanya menahan rasa sakit. Ia melihat kembali tangannya yang kini memiliki sebuah… Motif? Ya, terbentuk sebuah bentuk motif tribal di telapak tangannya. Ia mendekatkan tangannya ke wajahnya, memutar-mutarnya sambil terus mengangkat sebelah alis matanya. Setelah puas mengamati motif aneh di telapak tangannya, ia melihat ke atas langit sambil memejamkan matanya. Nampaknya ia mencoba mengingat sesuatu. Tak lama, ia menjetikkan jarinya.

“Tentu saja! Ini tattoo pertamaku! Aku ingat sekali bagaimana rasa sakitnya yang persis seperti kali ini. Oh aku mengerti…” gumam pikirannya.

Pria itu kemudian berdiri dengan hati-hati sambil berpegangan pada tembok. Ia memperhatikan tubuhnya dari ujung kaki hingga melihat rambutnya dengan baik-baik. Kemudian ia memegangi kembali hidungnya dan mencari-cari sebuah kaca untuknya bercermin. Ia bercermin didepan jendela rumah yang tidak berpenghuni. Ia mengamati wajahnya baik-baik.

“Ya! Aku sangat mengerti sekarang. Aku, bangkit. Aku kembali hidup. Tapi, aku bangkit dari tubuh orang lain. Ini bukan tubuhku. Karena ini bukan tubuhku, maka aku pun mendapat sebuah perubahan yang berlanjut seiring waktu, sepertinya…? Hidung ini, nampak lebih mancung dari sebelumnya, dan mataku kini sudah memiliki warna aslinya, merah sempurna. Lalu, tinggi badan. Aku yakin kemarin malam tinggiku tidak setinggi sekarang ini. Rambut nya pun, teksturnya berubah. Kemarin malam rambut ini tampak lebih lembut dibanding sekarang. Dan terakhir, tattoo. Ini tattoo ku yang kumiliki sewaktu aku masih hidup. Semua ini terwujud. Terwujud saat aku memakan “mangsaku” semalam tadi. Perubahan demi perubahan terjadi apabila aku memenuhi rasa laparku dan mengalami… Regenerasi. Ya, aku mengerti, aku ber-reinkarnasi..” pikirnya dengan sangat jelas.

Kemudian ia kembali duduk bersandar sambil terus melihat ke arah langit yang cerah yang menyakitkan matanya. Ia masih berfikir dengan serius. Beberapa kali ia memejamkan matanya dan berpindah tempat yang lebih gelap untuk melindungi kulitnya yang sakit akibat terkena sinar matahari sekaligus melindungi keberadaan dirinya dari orang lain. Sesekali ia menunduk. Menggelengkan kepalanya dengan keras. Ia menegakkan kembali kepalanya dan menocba untuk mengeluarkan sebuah suara.

“Aaaaakhhh… Mmmmmngggh…. Uuuuugghh…!!!” erangnya dengan tidak jelas.

Setelah berkali-kali mencoba untuk entahlah… Mengerang? Sepertinya ia frustasi, ia melempar sebuah kaleng yang berada di sisinya dengan penuh rasa kesal. Tak lama kemudian, perutnya kembali berbunyi. Ia memegangi perutnya dengan kencang. Lalu ia berdiri dan menengok ke dalam jendela rumah tempat ia bercermin tadi. Tidak ada sesiapapun didalamnya hanya beberapa benda kuno yang usang dan ditutupi debu beberapa centimeter. Ia mencoba membuka kenop pintunya, namun terkunci. Ia tahu kenop itu terkunci sudah cukup lama, maka ia mendobraknya hingga rusak dan masuk. Dia yakin rumah ini tidak akan dimasuki oleh seseorang sama sekali, dari cara ia mendobraknya dengan mudah dan lihatlah rumah ini sungguh kosong. Debu yang menutupi benda-bendanya sangat tebal. Mungkin sudah bertahun-tahun pemiliknya meninggalkannya tak terurus. Sayang sekali, rumah ini cukup nyaman untuk dijadikan tempat tinggal sementara. Tetapi keadaannya tampak mengerikan, banyak sekali lukisan menyeramkan yang sudah pudar dan luntur terkena air yang bocor dari atap dan rembesan yang masuk melalui tembok yang rapuh dan berkerak-kerak.

“Baiklah, tidak ada salahnya aku tinggal disini sementara ini. Lagipula interiornya cukup menyeramkan sama seperti dengan diriku.” Ucap pria itu didalam pikirannya.

Ia berkeliling rumah itu dengan penuh penasaran. Memutari seluruh ruangan, hingga naik ke lantai atas untuk melihat ada apa saja yang tersimpan disana. Meskipun tampang pria itu sudah sangat menyeramkan, namun ia terkejut dengan salah satu benda diatas sana. Ia mundur dengan langkah cepat hingga akhirnya terjatuh ke atas lantai, matanya terbelalak dengan lebar. Mulutnya menganga. Ia melihat sesuatu yang nampak mengerikan didepannya. Apa yang ia lihat? Pria itu mencoba untuk bangkit kembali dan mendekati benda itu sedikit demi sedikit. Ternyata apa itu? Itu hanya sebuah boneka anak kecil dengan mata yang dilubangi tembus ke bagian belakang kepalanya sehingga cahaya matahari masuk kedalamnya memberikan kesan mata yang menyala. Ia memutar matanya dan cemberut sambil melempar boneka itu penuh kejengkelan. Kemudian ia kembali turun ke lantai bawah. Ia memutarinya berkali-kali sambil melihat foto keluarga yang memang menyeramkan akibat berpudarnya gambar tersebut. Dan ada beberapa koran dan telegraf yang tergeletak diatas meja. Ia mengambilnya, meniupi debunya, dan membacanya.
Didalam koran tersebut terdapat sebuah wacana utama dengan tajuk bertema kan misteri. Terdapat berita bahwa sebuah keluarga kecil dinyatakan terbunuh semua. Sepasang suami istri dan anak perempuannya yang masih kecil. Mereka terbunuh secara misterius. Disana terdapat foto tempat kejadian peristiwanya. Pria itu menurunkan korannya dan mengamati ruangan dimana ia sedang berada. Rupanya.. Oh rupanya tempat kejadian itu adalah rumah ini. Tatanan ini mirip sekali dengan yang ada di koran. Berarti pembunuhan itu terjadi di rumah ini. Diceritakan sang suami mati ditikam. Istrinya ditembak di bagian kepalanya, sementara anak perempuannya dibakar hidup-hidup di toliet rumah. Pria itu penasaran, ia pergi ke arah toilet rumah itu. Ia membuka pintunya, dan memang benar saja terdapat bekas hangus kobaran api disekitar toilet itu. Lalu terdapat juga sebuah tali tambang yang digunakan untuk mengikat anak perempuan kecil malang itu… Mungkin?

“HEI SIAPA DIDALAM SANA?!” teriak seseorang di luar dibalik jendela.

Pria itu sontak kaget, ia langsung melihat ke arah jendela. Seseorang tengah melihatnya dan mendekati jendela tersebut. Ia panik, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia berusaha untuk lari ke pintu belakang tempat ia masuk tadi. Tetapi orang yang diluar tadi jalan menuju ke arah tempat ia akan keluar. Semakin panik, pria itu pergi ke lantai atas dan bersembunyi dibalik barang-barang menyeramkan yang ada disana. Sampai akhirnya terdengar suara kerit pintu yang dibuka. Suara derap langkah kaki terdengar memutari seluruh bagian rumah dan terdengar pula menaiki tangga. Kemudian orang itu sampai di lantai atas dan terus mengamati tiap sudut ruangan dengan hati-hati. Ia tidak memegang suatu senjata atau apapun, tetapi tetap saja menakutkan jika ketahuan di sebuah tempat kejadian peristiwa pembunuhan. Akhirnya orang itu masuk ke tempat dimana pria aneh itu bersembunyi. Orang itu mengamati satu persatu celah dengan sangat teliti. Dan akhirnya ia melihat dua pasang bola mata berwarna merah menyala.

“Siapa disana?! Keluarlah! Ayo, tidak apa-apa!” sahut orang itu sambil terus mendekati pria yang bersembunyi.

Diselimuti rasa takut dan panik, pria aneh yang bersembunyi segera keluar dari persembunyiannya sambil berlari tertatih-tatih akibat kakinya yang memang tidak sepenuhnya sudah pulih kembali. Melihat pria itu tiba-tiba keluar, orang yang mencarinya pun terkejut dengan sangat hingga terjatuh. Keduanya saling memandang satu sama lain, namun orang yang terjatuh , ia menganga lebar, matanya terbelalak dengan penuh terror.

“K…. Ka… Kau… Gi… Giovanni De Luca… Gio….?!” ucap orang itu tergagap-gagap.

Kemudian pria aneh itu melanjutkan larinya dengan tergesa-gesa tanpa memandang balik orang yang terjatuh. Setelah ia keluar, ia berusaha untuk berlari kemanapun yang ia bisa untuk bersembunyi. Ia menegok ke kiri dan kanan, mencari sesuatu yang bisa menyembunyikan dirinya. Kemudian ia menemukan sebuah kain hitam usang diatas tumpukan barang bekas. Dengan cekatan ia mengambilnya dan memakaikannya ke kepalanya sebagai tudung lalu kembali berlari menuju suatu daerah. Ia melewati kerumunan orang-orang dengan tudung hitam yang mencurigakan itu, beberapa orang memperhatikannya dengan perasaan aneh dan beberapa petugas keamanan yang berpatroli menaikkan sebelah alisnya kepadanya. Namun tidak ada yang menaruh perhatian lebih darinya. Akhirnya pria itu kembali berlari setelah keadaan disekitarnya sepi. Apa yang harus ia lakukan kini hanyalah lari. Lari ke tempat yang jauh. Yang sangat jauh dan terpencil. Tempat dimana tidak ada seorang pun yang emngira akan ada tempat untuk ditinggali. Karena cepat atau lambat orang yang menemukannya tadi pasti akan mengatakan kebenaran bahwa dirinya adalah sosok bernama Giovanni De Luca itu.

Setelah setengah jam berlari dari keramaian dan hiruk pikuk kota, pria itu berjalan dengan lemas di sebuah ladang yang tak terurus. Sejauh mata memandang tidak ada satu orang pun yang melewati daerah ini. Hatinya lega karena kini tidak ada lagi kekhawatiran yang berarti, namun seluruh bagian tubuhnya terasa sakit. Rasa haus dan lapar pun mulai kembali menagih sesuatu untuk dimasukkan ke dalam perutnya. Mulanya pria itu hanya memegangi perutnya dengan lemas, namun semakin lama semakin sakit perutnya. Ia mulai keroncongan lagi. Tidak ada lagi tenaga untuknya berdiri dan berjalan meneruskan perjalanan. Namun entah Tuhan menunjukkan jalan atau mungkin ini hanya sebuah kebetulan saja, matanya yang mulai berkunang-kunang melihat sebuah bayangan hitam yang besar tidak jauh di hadapannya. Sebuah rumah. Rumah yang cukup sederhana terletak disana. Dengan cepat pria itu merayap sekuat tenaga untuk dapat mendekati rumah itu. Perlahan-lahan ia menengok ke arah depan rumahnya, memastikan tidak ada yang tinggal disana. Ia bangkit sambil memegangi pagar rumah itu, berjalan perlahan-lahan ke depan beranda rumah tersebut. Ia menengok ke dalam rumah. Tidak ada sesiapa didalamnya, hanya sepi. Ia pun memegang kenop pintu, kenop pintu terbuka dengan mudah. Pria itu mengerutkan dahinya, memperhatikan kenop pintu yang sudah rusak. Bekas rusak ini seperti baru-baru saja dilakukan, tetapi entah dilakukan dengan cara sengaja atau tidak, karena tidak ada bekas congkelan sama sekali. Pria itu masuk ke dalam rumah. Ia mendapat sebuah rumah kecil yang sangat nyaman, tidak ada kesan menyeramkan sama sekali didalamnya. Ia berjalan dengan hati-hati. Sebuah foto dipajang manis diatas sebuah meja. Sepasang orang tua yang bahagia dan anak laki-laki kecil yang nampak begitu riang. Ia berjalan menelusuri seisi rumah yang ia yakini sangatlah kosong. Rumah ini terletak di tengah ladang tak terurus dan jauh dari keramaian kota, tidak ada orang yang akan masuk ke rumah ini selain pemiliknya dahulu. Kemudian ia menaiki tangga dan terkejut melihat banyak sekali noda darah mengotori seluruh keramik rumah di lantai atas ini. Darah yang sedikit kering ini tercecer dimana-mana, arahnya pun beragam, ada yang dari kamar mandi dan ada yang berasal dari lorong gelap yang ada tepat di hadapannya. Pria itu memeriksa kamar mandi, dan ia tidak menemukan sesuatu sama sekali. Hanya sebuah darah yang banyak berceceran diatas wastafel dengan sebuah pisau yang penuh dilumuri darah juga. Lalu ia berlalu ke arah lorong gelap, disana sebuah pemandangan lain kembali membuatnya terkejut. Ia menemukan bangkai seekor anjing terkapar dengan kepala yang hancur disana. Beberapa yang tersisa di kepalanya seperti telinganya pun bahkan memiliki luka robek yang begitu parah. Pria itu menggelng-gelengkan kepalanya. Lalu kemudian hidungnya bergerak-gerak, ia mencium sesuatu yang lebih busuk dibanding bangkai anjing malang ini, baunya dari lantai bawah. Maka ia turun ke bawah dan menelusuri bau ini dengan baik. Tidak hanya dari lantai bawah ini, bau ini tercium lebih menyengat di tempat yang lebih bawah lagi. Pria itu juga menemukan sebuah pintu menuju lantai bawah tanah dimana bau busuk itu tercium sangat menyengat. Ia membuka pintu itu dan terdengar dengung ribuan lalat berada disana. Baunya sangat menyengat. Disana pasti ada bangkai lainnya lagi. Ia menuruni tangga dan ternyata benar saja, sebuah tubuh tergeletak disana, digerogoti oleh belatung. Dan diujung ruangan pun ada tubuh yang tak berkepala. Ia mendekati kedua jasad itu sambil terus menghirup udara bau busuk disekitarnya. Ia menghirup udara itu dalam-dalam, ia menghirupnya seperti menghirup udara segar hingga matanya terpejam-pejam. Lidahnya yang panjang dan lancip menjilati seluruh permukaan bibirnya. Perutnya dielus-elus dengan lembut. Kemudian pria itu mulai mengguncang-guncangkan tubuh mayat tersebut untuk menghilangkan belatung-belatung yang menggerogotinya. Namun saat belatung-belatung itu mulai terjatuh, pria itu sedikit terkejut. Ia meletakkan mayat seorang pria yang hancur itu dan memperhatikan wajahnya dengan saksama. Ia terus memperhatikannya hingga akhirnya pandangannya berpindah ke mayat diujung ruangan, mayat yang tak memiliki kepala. Ia bangkit dan mencari kepalanya, ia menemukan sebuah kepala yang terletak di seberang ruangan. Pria itu mengangkat kepala tersebut dan memperhatikan wajahnya. Kemudian pandangannya kembali berbalik lagi ke arah mayat yang tak berbentuk. Kemudian ia menarik kedua mayat itu dengan susah payah ke lantai atas. Ia meletakkan mayat-mayat itu di sebuah ruang keluarga, menyandingkannya bersebelahan, kemudian ia mengambil foto keluarga yang tadi ia lihat diatas meja. Lalu ia melihat dan membandingkan antara foto itu dengan mayat itu berkali-kali secara bergantian. Setelah melakukan hal itu sekitar 5 kali, ia membelalakkan mata.

“Oh sial!” kutuk pria itu dalam pikirannya.

Ia kembali ke kamar mandi di lantai atas. Ia bercermin di cermin wastafel tempat dimana ia menemukan pisau berlumuran darah. Ia menatap dirinya sungguh-sungguh. Sampai akhirnya mata terpejam, dan sekelebat bayangan dan pikiran terlintas dengan cepat di benaknya. Terlintas sebuah gambaran dimana dirinya menggores wajahnya dengan pisau. Membanting seekor anjing hingga kepalanya hancur. Matanya semakin terpejam, kemudian ia terus memegangi kepalanya. Sebuah kilasan-kilasan memori kembali terlintas dan terbaca olehnya. Sebuah memori ketika ia menancapkan kapak ke kepala seorang pria dan memenggal kepala seorang wanita. Setelah beberapa menit kemudian ia tersadar dan mulai membuka kembali matanya.

“Ya, aku paham segalanya sekarang. Aku ini reinkarnasi dari Giovanni De Luca. Orang gila yang memiliki fantasi gila tentang rasa sakit dan kesadisan. Psikopat. Psikopat yang sudah melewati ambang batas. Rasa sakit adalah sebuah kesenangan terbesarnya. Mulut ini, goresan ini, adalah hasil karyanya yang ia anggap begitu indah. Anjingnya, ia bunuh. Orang tuanya, ia bunuh dengan tangannya sendiri dengan penuh rasa riang. Sungguh… Fantastis.” Pikirnya sambil tersenyum lebar. “Belum pernah aku melihat manusia macam seperti ini sepanjang hidupku. Psikopat yang ini benar-benar seorang bintang besar. Tidak main-main. Bahkan jika memang ada penghargaan nobel untuk para psikopat, orang ini, Giovanni De Luca ini mampu mendapatkannya lima kali berturut-turut.”

Tak lama, perutnya sudah mulai berbunyi kembali, menandakan dirinya lapar kembali. Akhirnya pria itu turun tangga menuju ruang keluarga dan menoleh ke arah bangkai orang tua Giovanni yang ia geletakkan disana. Melihatnya saja sudah membuat air liurnya menetes deras. Dan tanpa basa-basi lagi, ia menggerogoti mayat orang tua yang menyedihkan itu. Beberapa bagian dagingnya ia robek dengan tangannya sendiri dan melahapnya dengan semangat. Baiklah, dengan begini, sudah pasti… Kasus mayat Giovanni De Luca dengan hewan buas yang memakan korban itu ternyata hanyalah satu kasus yang sama, begitu juga dengan pelakunya.

*

Sudah hampir tiga hari ia bersembunyi di rumah keluarga De Luca yang usang dan tak terawat itu. Keadaan rumah itu semakin menyedihkan. Dari hari pertama sesekali beberapa menit waktu berlalu, sering terdengar suara erangan dan cara bicara yang kurang jelas. Sepertinya seseorang sedang belajar untuk berbicara. Semakin hari suara itu semakin jelas. Logatnya semakin terdengar. Tiap huruf dan kata menjadi lebih mudah dipahami.

“Ya, ya, ya. Aku bicara.. Aku… Bi… Bicara….Aku bicara… Aku, lapar. Aku ingin makan… Aku ingin sebuah pros… Por… Prostu.. Prostisu… Ah, Sial!!!” ucap seorang pria dari dalam sana. “Sudah, kupikir sudah cukup tiga hari untuk belajar berbicara seperti anak bayi! Tetapi, kenapa dalam tiga hari aku tidak bisa mengucapkan sesuatu yang… Sulit! Ugh!”

Pria itu menendang meja kayu didekatnya, meluapkan perasaan kesalnya. Dan terkadang ia meringis kesakitan tanpa suatu alasan yang berarti. Disusul dengan sebuah ukiran tinta hitam tattoo di kulit tangannya yang putih pucat. Ia berjalan mondar-mandir kesana kemari, layaknya memikirkan sesuatu yang sangat berat.

“Aku lapar… Tapi, bagaimana caranya keluar kesana untuk mencari makanan tanpa dikejar-kejar sebagai buronan, terlebih bukan lagi buronan. Tapi psikopat berupa mayat hidup. Haah, orang-orang pasti akan mengenaliku dengan mudah. Luka goresan di pipi ini sangat sulit untuk disembunyikan, malah ini lah yang menjadi ciri khas psikopat itu. Ukh, sial, sial, SIAL!!!” keluhnya lagi sambil melempar vas bunga yang sedang ia pegang.

Ia kembali mondar-mandir sambil berpikir. Namun, beberapa menit kemudian, matanya berbinar, senyum mengerikannya mengembang lebar. Ia mendapatkan gagasan. Pria itu berlari menuju sebuah kamar untuk merobek beberapa pakaian yang ada di dalam lemari. Ia merobek sebuah kaos hitam menjadi lembaran kain berbentuk segitiga seukuran sebuah sapu tangan. Ia mengikatkan sapu tangan itu di sekitar bagian wajahnya sebagai masker untuk menutupi “senyumannya”. Dan kemudian ia mengambil sebuah jubah panjang hitam untuk ia pakai. Pria itu melihat ke luar jendela. Keadaan malam ini sangat gelap dan mendung. Ini aman baginya untuk pergi ke kota. Tidak mungkin ada orang yang mau berjalan-jalan pada malam selarut dan segelap ini. Sambil menutupi kepalanya dengan jubah, pria itu mengendap-endap keluar rumah dengan sangat hati-hati. Kedua bola mata merahnya yang menyala berkali-kali bergulir ke arah kiri dan kanan.

Ia berhasil menuju kota. Seperti yang ia perkirakan, tidak ada orang yang mau keluar di malam yang mengerikan ini. Apalagi kota mereka diterror oleh keberadaan seekor “monster” yang menyeramkan. Pria itu bernafas lega, segera ia mencari sebuah toko untuk mendapatkan makanan sambil bersembunyi di balik gang-gang kecil. Berjaga-jaga siapa tahu ada orang yang memergokinya dan mencurigainya. Setelah berjalan-jalan di kota selama 5 menit, akhirnya ia menemukan sebuah toko daging yang masih memasang papan “BUKA” di pintu masuknya, lalu ia masuk ke dalamnya. Saat ia masuk kedalam, didapatkannya seorang pria tua bercelemek dan bertubuh sedikit tambun hendak mengalungkan sebuah tali tambang yang kuat ke lehernya. Pria tua itu menengok ke arahnya dengan lesu.

“Jangan, nak. Biarkan aku mati! Ini lebih baik. Jangan kau halang-halangi aku!” cegah pria tua itu sambil menjulurkan lengannya.

Sementara itu, pria aneh itu hanya mengangkat sebelah alisnya dan mengedikkan bahunya.

“Ya, terserah. Aku tidak peduli dengan apa yang akan Anda lakukan. Lagian kematian adalah pilihan Anda, bukan aku yang berhak menentukannya.” Ucapnya cuek sambil mengambil beberapa daging mentah segar di etalase toko.

Pria tua itu tertegun. Matanya terbelalak. Ia terkejut sekali ada orang yang begitu… Sangat tidak ber-simpati terhadap apa yang ia lihat. Sungguh orang yang aneh. Sudah beberapa kali pria tua ini hendak bunuh diri dan aksinya pasti selalu digagalkan oleh orang-orang yang melihatnya. Dan baru kali ini saja ada orang yang membiarkannya dan malah cuek begitu saja sambil mengambil dagangannya tanpa menengok sedikit pun ke arahnya. Niat bunuh diri itu pun diurungkan. Pria tua ini sangat penasaran dengan pemuda aneh di tokonya itu. Baru sekali dalam usianya yang sudah mencapai 68 tahun ia melihat seseorang yang teramat apatis. Pria tua itu pun melepas tali yang menggantung di lehernya dan turun dari atas kursi menghampiri si pemuda.

“Kenapa Anda turun? Lakukanlah apa yang Anda mau. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun kok. Sungguh.” Tanya pemuda itu sambil terus memilih banyak daging di tangannya.

“Katakanlah, nak. Apa yang membuatmu begitu… Apatis ketika melihat sesuatu seperti itu? Semudah itu kah kau melihat kematian seseorang di hadapanmu?” tanya orang tua itu sambil terus mengintip wajah pemuda yang tersembunyi di balik jubahnya.

Mendengar pertanyaan si pria tua, pemuda itu nampak kesal.

“Cih!” ucapnya.

Pria tua itu masih kebingungan. Ia terus bertanya-tanya. Apa yang salah dengan manusia yang satu ini. Namun akhirnya rasa penasaran pria tua ini terus tumbuh menjadi tanda tanya yang sangat besar di benaknya.

“Baiklah, bagaimana kalau kuberikan daging-daging itu secara gratis. Dan mungkin, jika kau suka minum. Aku akan membayarkanmu minum. Sekarang juga, di pub terbaik di kota ini. Bagaimana?” tawar pria tua itu.

Pemuda itu sedikit terdiam, kemudian menengok kepada si pria tua itu dengan mata berbinar.

“Baiklah, jika itu yang Anda tawarkan. Aku tidak keberatan menolaknya.” Jawab pemuda itu dengan semangat.

Begitu juga dengan si Pak Tua. Ia menjadi sangat bersemangat. Kemudian dengan cepat ia membungkus daging-daging itu, mengambil mantel berbulunya dan mengajak serta pemuda aneh yang membuatnya penasaran setengah mati keluar toko. Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah pub tua yang luas dan cukup nyaman dijadikan tempat untuk berbincang-bincang. Pria tua itu memesan dua anggur merah untuknya dan untuk pemuda itu.

“Jadi, apakah kau tinggal disini? Dan.. Siapa namamu kalau aku boleh tahu?” tanya pria tua itu.

“Tidak. Aku tidak tinggal disini… Aku hanya, kebetulan lewat sini. Apakah aku perlu memberitahukan namaku kepada Anda?”

“Bukan begitu, ya aku hanya bertanya. Kau boleh memanggilku Alberto, nak, jika kau berkenan untuk memanggilku seperti itu.”

Pemuda itu menengok ke arah Alberto dengan tatapan tajam.

“Baiklah, Anda menang. Namaku, Zhalamen.” Jawabnya.

“Zhalamen? Hm… Ternyata kau memang bukan berasal disini. Dari mana asalmu, nak? Tetapi dilihat dari caramu berbicara kau seperti orang Italia asli.”

“Ya, seperti yang sudah kukatakan, aku tidak berasal dari sini. Aku… Aku dulu tinggal di Norwegia. Ya, ini mungkin karena aku baru saja memakai lidah orang Italia asli.”

“Hah?! Apa?! Memakai lidah orang Italia? Maksudnya?”

“Uhm.. Ukh… Ah.. Ya, maksudku karena aku baru beberapa hari lewat sini, ya aku seperti memiliki lidah orang Italia. Aku.. Sangat… Mudah beradaptasi. Ya, seperti itu, maksudku.”

Alberto memandang Zhalamen sedikit aneh dan ngeri. Karena mata Zhalamen yang tajam terus menerus melotot ke arahnya. Alberto coba menahan rasa takutnya dan terus mengajaknya berbicara.

“Jadi, apa yang membawamu ke Italia?” tanya Alberto.

“Takdir. Takdir yang tidak kuinginkan, dan tidak kuharapkan sama sekali. Sementara itu Anda sendiri apa yang membawa Anda mengalungkan tali tambang itu ke leher Anda?”

“Itu.. Ya, bagaimana ya? Susah sekali menjelaskannya. Aku takut aku akan teringat lagi dengan masa lalu. Tapi, tak apa-apa. Akan kuceritakan, sebenarnya… Aku mulai sering berniat dan melakukan tindakan bunuh diri setelah istri dan anak-anakku meninggal dunia akibat kecelakaan. Mereka tertabrak kendaraan saat hendak menyeberang jalanan. Anak-anakku yang masih kecil tidak mematuhi Ibu mereka. Mereka berlarian dan dengan seenaknya menyeberang jalanan, yah namanya juga anak kecil. Sementara itu Ibu mereka, Istriku terus mengejar mereka dari belakang sampai akhirnya di tengah jalan besar yang ramai seorang pengemudi yang mabuk.. Melenyapkan nyawa mereka begitu saja. Dan aku tidak ada disana untuk mereka, aku sedang menjalankan bisnis kami, yaitu yah berjualan daging di toko milikku tadi. Kupikir kehilangan mereka adalah hal yang sangat memukulku… Lagipula sudah tidak ada gunanya hidup hingga sekarang. Toh, sebentar lagi juga aku akan menyusul mereka.”

“Hmm, mengapa Anda begitu percaya diri Anda akan segera mati? Kulihat Anda sehat-sehat saja.”

“Tidakkah kau mendengar berita terbaru disini?! Katanya… Seorang psikopat gila yang sadis dan kejam telah bangkit dari kuburnya. Dan siapa yang tahu orang yang akan dibunuh olehnya selanjutnya? Meskipun kabar lain mengatakan itu mungkin hanya pencurian makam oleh seseorang, yah aku masih percaya dengan kabar pertama. Belum lagi adanya pria yang waktu itu diterkam oleh sesuatu dan tubuhnya habis dimakan oleh sesuatu itu. Ya aku yakin, siapapun pelakunya. Baik Giovanni De Luca, si psikopat gila itu ataupun monster itu pasti akan membunuhku suatu hari nanti. Lebih baik aku mati sekarang saja, begitu pikirku.”

Zhalamen menahan tawa kecilnya. Ia merasa geli dengan ucapan Alberto. Tak sadarkah ia bahwa disampingnya duduklah si psikopat gila sekaligus monster yang memakan habis seorang manusia beberapa hari yang lalu? Saking gelinya Zhalamen, sedikit tawa terkekehnya yang aneh memecah keheningan di sekitarnya. Alberto menatapnya bingung. Namun ia sedikit kesal.

“Kau pikir ceritaku ini seperti cerita komedi, Zhalamen?”

“Bukan, haha. Bukan begitu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maksudku, ya, aku turut berduka cita atas meninggalnya istri dan anak-anakmu. Namun kabar tentang psikopat dan monster itu, tidakkah itu benar-benar gila? Tidak ada cerita konyol seperti itu. Lagipula, monster. Monster apa yang mau memakan manusia hingga tulang belulangnya saja yang tersisa? Memangnya monster itu tahu nikmat atau tidaknya daging manusia? Hahahahaha!” tawa Zhalamen dengan keras dan sangat lepas.

Mendengar cara bicaranya yang sangat meremehkan dan gelak tawanya yang keras semua pengunjung dan bahkan pelayan pub menatapnya dengan tajam. Alberto pun mengguncangkan tubuh Zhalamen sedikit keras.

“Sssshh, orang-orang tidak akan suka kau mengucapkan hal seperti itu! Terutama karena hal ini memang benar apa adanya!” bisik Alberto pada Zhalamen.
Zhalamen menutup mulutnya dan mencoba untuk menghilangkan gelak tawanya yang meledak. Perlahan-lahan tawanya menghilang dan berubah menjadi tawa kecil yang wajar.
“Baiklah, kuakui cukup aneh bertemu dengan orang sepertimu, nak. Mungkinkah tingkah laku orang Norwegia seperti ini? Padahal kupikir orang Norwegia lah yang lebih banyak mengkhayal mengenai sesuatu. Seperti ya naga dan lochness seperti itu.” Ucap Alberto dengan sarkasme.

“Ah, Tuan Alberto sebenarnya aku tidak tahu aku ini berasal dari mana. Hanya saja aku dibesarkan di Norwegia. Jadi ya, maaf saja kalau aku tidak akan tersinggung dengan sarkasme itu. Lagipula, aku seorang realis. Aku sendiri tidak percaya dengan adanya makhluk-makhluk fiktif seperti itu. Tapi sepertinya untuk kabar yang baru saja aku tertawakan tadi, itu memang benar apa adanya. Karena sudah mencapai tahap berita nasional, ya sepertinya memang benar keberadaan kedua tersangka mengerikan tadi.”

“Ya, seperti itu lah. Sementara itu, apa yang membawamu jauh-jauh dari Norwegia kemari, Zhalamen? Kita sudah berbicara tentang diriku, kali ini mungkin kau berkenan untuk membagi sedikit tentang dirimu.”

“Baiklah, mungkin tidak akan adil jika aku tidak menceritakannya pada Anda. Aku kemari, entahlah, aku tidak ingat sama sekali. Hal terakhir yang aku ingat. Aku benar-benar mati rasa. Aku serasa mati. Sangat mati. Benar-benar mati. Rasa sedih, marah, kehilangan, putus asa, tidak rela, bercampur semuanya menjadi satu.”

“Tapi.. Tunggu, apa yang menyebabkanmu begitu mati rasa? Bisakah kau memberitahuku? Yah mungkin aku dapat memberikan solusi untuk perasaan mu yang kacau itu. Ketahuilah aku lebih banyak merasakannya daripada dirimu.”

“Haha… Tuan Alberto. Anda terlalu baik. Tetapi Anda tidak mungkin dapat memberikanku sebuah solusi mujarab seperti itu. Begini, akan kuceritakan bagaimana aku mati rasa. Hal terakhir yang ku ingat. Aku dan saudaraku, kami dibesarkan di panti asuhan dan diadopsi dengan orang tua yang berbeda. Kami terpisah. Setelah banyak cerita, akhirnya aku dan saudaraku masih menemukan sisa keluarga kami yang terpisah dari semenjak kami lahir. Mau bagaimana lagi, orang tua kami meninggal dunia saat kami dilahirkan. Keduanya. Baru saja kami bertemu dengan keluarga kami dan menjadi keluarga besar lagi, seseorang.. Ya sekelompok orang-orang yang tidak menyukai kami menyerang kami. Hanya karena kami sedikit “berbeda” dari keluarga yang lain. Akhirnya, semua… SEMUA keluargaku dibantai dan mati dengan mengenaskan. Semuanya mati, tak tersisa. Saudara-saudara laki-lakiku… Paman dan Bibiku… Adik perempuanku…” Zhalamen terhenti.

Alberto bingung. Zhalamen benar-benar berhenti. Ia tidak berbicara sepatah kata apapun lagi. Tangannya yang menggenggam botol anggur semakin erat menggenggam hingga akhirnya. PRAAANG!!! Botol itu pecah. Semua orang kembali memperhatikannya, namun Zhalamen terus diam tak berkutik. Alberto menunduk, mencoba untuk melihat wajahnya. Alberto melihat sebuah tetesan kecil bening menetes mengalir melalui kelopak matanya. Alberto mengangkat kedua alisnya. Ia menyentuh dan menepuk pundak Zhalamen dengan pelan-pelan dan sangat hati-hati. Kemudian Zhalamen kembali menegakkan kepalanya. Ia menghirup nafas panjang.

“Yah begitulah, Tuan Alberto. Bagaimana, kau bisa memberikanku saran?” tanya Zhalamen kini dengan suara yang normal seakan tidak ada sesuatu yang terjadi.

Alberto hanya terdiam. Ia menunduk. Memang benar apa yang dikatakan Zhalamen. Setua apapun Alberto, tidak ada satu pun solusi yang dapat memberikan jalan keluar untuk Zhalamen. Ini sudah merupakan jalan buntu baginya. Ia memang sudah sangat “mati”.

“Hmm.. Kalau begitu, ada apa kau kemari? Dan bolehkah aku bertanya apa yang kau tutupi di balik maskermu?” tanya Alberto mengalihkan pembicaraan.

“Entahlah. Takdir menuntunku kemari. Ini? Masker ini hanya menutupi mulutku… Aku memiliki penyakit Tuberculosis. Aku tentu tidak mau menularkannya kepada siapapun.” Jawab Zhalamen dengan alasan yang sangat tepat.

“Lalu kenapa kau tidak membeli obat atau mungkin pergi ke dokter?”

“Dokter? Obat? Ya ampun, anak remaja lelaki sebatang kara sepertiku tidak akan mempunyai banyak uang untuk pergi kesana, Tuan Alberto. Untuk makan pun tidak ada.”

“Jika kau tidak memiliki uang, lalu… Apapbila aku tidak memberikan daging itu secara gratis, bagaimana kau membayarnya?” tanya Alberto dengan penuh perasaan.

“Jujur saja, tadinya aku akan mengancammu untuk memberikannya secara gratis. Tetapi ya beruntung, rupanya jalan ceritanya menjadi lebih damai. Aku mendapatkannya tanpa harus bersusah payah.”

Alberto tertawa. Ia sangat menyukai kejujuran yang Zhalamen tuturkan. Meskipun terkadang sedikit menjengkelkan mendengar logat bicaranya yang penuh sarkasme dan menyebalkan. Alberto terus menerus memperhatikan Zhalamen. Dari ujung kaki, sampai ujung kepala. Ia sangat tertarik pada Zhalamen.

“Zhalamen… Uhm, bagaimana menurutmu kalau kau… Aku menawarkanmu tempat untuk tidur, sementara kau berada disini?” tanya Alberto.

“Tidak, tidak apa-apa Tuan Alberto. Mungkin aku lebih baik sendiri saja. Anda tidak perlu bersusah payah untuk orang asing yang mencurigakan seperti aku. Lagipula kita baru kenal 15 menit saja. Anda belum dapat percaya padaku begitu saja, Tuan Alberto. Kepercayaan, rasa penasaran, dan ketertarikan buta yang Anda miliki bisa saja membahayakan keselamatan Anda.” Jelas Zhalamen, menolaknya dengan lembut.

“Tapi… Kalau kau tidak memilki uang sepeserpun, bagaimana kau akan bertahan hidup, nak? Bukannya aku terlalu percaya pada orang lain, hanya saja. Ya penawaran ini begitu berbeda untukmu. Belum pernah kutemukan satu pun remaja lelaki yang dewasa sepertimu.”

Remaja lelaki yang dewasa. Zhalamen menahan tawa gelinya. Selama hidupnya, justru dirinya lah yang paling kekanak-kanakan dibandingkan yang lainnya. Ia ingat sekali ia bukanlah remaja lelaki yang dewasa. Hanya remaja lelaki yang selalu memiliki pikiran kotor dan abstrak. Zhalamen bangkit dari duduknya. Ia menengok ke arah Alberto.

“Kukira sudah cukup berbincangnya, Tuan Alberto. Terima kasih untuk semuanya. Malam ini memang sangat cocok untuk minum dan berbincang seperti ini. Terima kasih banyak atas semuanya.” Ucap Zhalamen sambil membawa bungkusan dagingnya.

“Tapi… Zhalamen, tunggu! Aku… Apakah…”

“Mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi, Tuan Alberto. Dan kupastikan satu sesuatu. Kau akan berumur panjang, Tuan Alberto. Jangan sia-siakan hidupmu. Masih banyak orang yang membutuhkan orang bijak sepertimu. Tenang saja, kuyakin si psikopat gila dan monster mengerikan itu tidak akan mampu melawan orang tua yang bijak seperti Anda, Tuan Alberto.”

Zhalamen pergi ke luar pub dan langsung menyesuaikan diri di gang-gang gelap. Langkahnya yang lebar menghantarkannya lebih cepat ke daerah perladangan yang sepi, ke tempat kediaman keluarga De Luca. Sampai di tempat tinggal sementaranya, Zhalamen membuka jubah dan maskernya sambil menarik nafas panjang dan langsung menumpahkan isi plastik hitam bawaannya. Ia duduk, dan membuka bungkusan daging mentah itu satu-satu dan memakannya mentah-mentah. Tetapi kali ini, ia nampak tidak bernafsu makan sama sekali, meskipun pada kenyataannya ia masih sangat lapar. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit yang usang dan penuh sarang laba-laba. Mulutnya mengembangkan sebuah senyuman kecil.

“Remaja yang dewasa… Seingatku, aku hanyalah si brengsek Zhalamen yang bejat, mesum, tukang mabuk, dan emosian.. Ah, ya aku ingat sekali… Zhalamen tidaklah dewasa sama sekali… Pikirannya tidak pernah jernih… Aku hidup dan berpikir persis hewan buas…” gumamnya sambil memakan daging-daging mentah itu.

Masih terpikir di benaknya ekspresi wajah Alberto tua saat berbincang dengannya. Sosok orang tua polos yang putus asa. Zhalamen tahu benar apa alasan Alberto menawarkannya tempat menginap di kediamannya. Ia melihat Zhalamen seperti melihat seorang anak. Mungkin sekarang anaknya akan berumur sama dengan Zhalamen. Namun Zhalamen tidak ingin membesarkan harapan seseorang dari dirinya. Kini tarikan nafasnya menjadi lebih berat dan dalam. Zhalamen menggeleng-gelengkan kepalanya, sadar dari lamunannya. Dan mulutnya terus menerus mengunyah tanpa henti. Hingga akhirnya lima bungkusan daging habis dilahapnya ia mulai berhenti. Sendawa keluar dari mulutnya. Kini ia mulai merasa haus. Zhalamen pergi ke lantai atas. Dilihatnya bangkai anjing yang digerogoti oleh tikus-tikus besar. Dengan cepat dan sigap Zhalamen menangkap satu. Mulutnya yang besar dengan gigi taringnya yang panjang dan tajam menusuk tubuh tikus kotor itu dengan dalam. Darahnya mulai mengalir, dan Zhalamen meminumnya, menjilatinya hingga tetesan-tetesan yang berceceran di lantai.

Namun tepat saat ia meminum darah tikus itu, sebuah kilasan memori kembali muncul di benaknya. Ia melihat sebuah makam, makam yang bergetar. Kemudian menghilang. Zhalamen, kembali meminum darah tikus itu lebih banyak, dan kini ia memejamkan matanya. Sebuah lengan pucat menjulur dari dalam tanah… Sebuah sosok yang sama-sama memakan tikus di pinggir jalan… Dan kini, seseorang membawanya pergi… Sosok itu, bentuk tubuh dan kulit pucatnya itu… Darah yang ia minum dari tikus jalanan… Zhalamen terhenyak. Ia terkejut sekali. Tikus yang dipegangnya pun dijatuhkan olehnya. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Matanya terbelalak. Mulutnya menganga.

“N… Na… Nail..?!”

*

Chapter III: Rising Up The… Who?

Chapter III

*

Sudah tiga hari semenjak penghuni makam ini dikuburkan, tetapi makam ini seperti baru saja dibuat beberapa menit yang lalu. Kondisinya selalu rapi, bersih, dan berwarna. Sebuah batu nisan besar yang menggunakan pahatan seorang malaikat cantik nan jelita pun tidak luput dari sebutir debu sama sekali. Nama “Clara Bennington” yang terukir disana bak kristal yang selalu dijaga agar tidak ada sesuatu yang mengotorinya. Setiap hari orang tuanya selalu mengunjungi makamnya. Namun tidak hari ini, ada berita bahwa Nyonya dan Tuan Bennington mulai memiliki sedikit keganjalan dalam hal berperilaku, mereka mulai berperilaku aneh dan tidak wajar. Mereka tetap menganggap Clara masih ada bersama mereka di rumah. Mereka tertawa-tertawa sendiri, dan terus meneriakkan nama putri kesayangan mereka. Menjadi gila karena kehilangan seorang anak, apalagi anak satu-satunya, memang hal yang sangat wajar untuk terjadi. Kasihan mereka. Mereka selalu berada di samping makam Clara untuk waktu yang cukup lama, namun saat matahari mulai terbenam, mereka pulang ke rumah dan mulai menunjukkan perilaku aneh mereka. Sementara mereka pergi, makam Clara yang semula terlihat cantik dan nyaman dipandang berubah. Berubah menjadi satu titik di pemakaman itu yang memiliki aura paling menyeramkan dan mencekam. Dan malam ini, malam yang cukup hangat tanpa ada hembusan angin yang membuat bulu kuduk merinding tetapi aura makam Clara masih terasa sama. Bahkan sebuah angin dingin sedingin es bertiup di sekitar makamnya. Angin itu membawa sesuatu yang sangat halus seperti glitter, namun berwarna hitam. Angin itu mengitari makam Clara berkali-kali. Sampai akhirnya, SYUUUUUUTT!!! Angin itu masuk ke dalam tanah, ke dalam makam dimana jasad Clara berada.

Didalamnya terdapat sebuah jasad pucat yang cantik jelita, bagaikan Juliet saat terjatuh dalam tidurnya. Sebuah gaun putih yang bersih, ditimpah oleh helaian rambut pirang keemasan Clara. Bibir pucatnya tetap menggoda seperti sekeranjang buah cherry yang baru saja dipetik dengan kualitas terbaik. Tangannya yang terkulai lemah diatas diafragmanya, sangatlah mencerminkan keanggunan yang agung yang selalu Clara miliki. Namun ditengah hening dan damainya makam Clara, angin tersebut menembus peti mati Clara dan menjatuhkan serbuk halus hitam diatas tubuh Clara. Dan perlahan-lahan, serbuk itu bagai tertiup angin kembali, masuk ke dalam hidung dan mulut Clara yang sedikit terbuka. Semuanya. Tidak ada satu butir serbuk hitam yang tidak masuk ke dalam tubuh Clara.

Seorang lelaki tua penjaga pemakaman tengah membersihkan dedaunan di samping makam Clara. Ia melihat ke arah makamnya, betapa cantik nya makam ini, mulai dari bunga-bunga yang disandarkan hingga batu nisannya pun benar-benar membuat lelaki tua itu terpana. Selama beberapa menit ia melihat, namun tiba-tiba suara yang keras mengagetkan dirinya.

BRAAAAK!!! BRAAAAK!!! BRAAAAAK!!! Lelaki tua itu sangat terkejut. Ia mencari-cari asal suara itu, tetapi sumbernya tidak jauh dari tempatnya berpijak, ia melihat ke arah makam Clara, dimana gundukan makam itu mulai bergetar-getar. Seperti gempa bumi layaknya. Dan sebuah suara pintu yang dipaksa terbuka terdengar dari dalam makam Clara. Keringat dingin mulai mengucur di tengkuk leher pria tua itu. Ia berlari, dan bersembunyi di balik sebuah pohon beringin didekat sana sambil terus memperhatikan apa yang terjadi di dalam makam Clara. Permukaan tanah makam Clara terus bergetar. Sesuatu hendak keluar dari dalam sana. Suara pintu didobrak itu masih belum berhenti, namun setelah berkali-kali didobrak, terdengarlah suara terbukanya pintu itu, dan merembesnya tanah kedalam makam Clara.

“Ya Tuhan… Seseorang membuka peti mati dari dalam makam itu.” Bisik pria tua itu sambil menutup mulutnya dibalik pohon beringin.

Beberapa menit, ia termangu disana, terus memperhatikan makam Clara. Kemudian, muncullah sebuah lengan pucat panjang dan jari-jari lentik yang jenjang keluar dari dalam tanah makam. Sontak pria itu langsung berteriak dan berlari.

“Zombie!!!” teriaknya.

Sementara itu… Kita lihat kembali, makhluk apakah yang keluar dari dalam makam Clara. Mungkin pria itu memang benar, Zombie. Tapi jika itu adalah zombie, aku bertanya-tanya, karena jasad Clara belum membusuk sepenuhnya, bahkan beberapa bagian yang membusuk itu bagai terbentuk kembali. Semula lengan Clara yang mulai membiru dan sedikit berkoreng kini berubah menjadi jaringan kulit yang baru namun pucat sepucat mayat. Tangan kedua pun keluar. Terus menarik tubuhnya keluar dari dalam tanah. Sampai akhirnya… PUFF!!! Kepala nya pun keluar. Itu, Clara! Tapi, tunggu dulu, sepertinya itu bukan Clara, apa yang terjadi pada rambut keemasannya, kini yang ada hanya helaian rambut berantakan hitam kelam yang tak terurus. Wajahnya pun bukanlah wajah seorang ratu Homecoming lagi. Tatapan matanya tidak lembut, tetapi justru malah menjadi tajam dan mengerikan dengan bola mata biru keputih-putihan, bukan hijau seperti yang Clara miliki. Rekahan bibir menggodanya pun berubah menjadi bibir kering pucat seperti penderita AIDS. Jangankan tubuhnya, gaun putihnya pun berubah menjadi gaun hitam yang sudah robek seperti mayat yang sudah dikubur selama 13 minggu. Sudah jelas, ini bukanlah Clara.

Gadis zombie itu melihat ke tangannya. Kemudian ia menengadah melihat ke arah sekitarnya. Mulutnya menganga dan matanya berputar kebingungan.

“Aaaaaahhh… Mmmmmaaaahhh… Hmmmmaaah…” gumamnya sambil memutar kepalanya ke segala arah.

Mungkin ia kebingungan. Apa yang ia inginkan? Mencari seorang manusia untuk dimangsanya kah?

*

Aku melihat ke arah sekitarku. Semuanya nampak normal. Namun, ini bukan pemakaman dibelakang rumahku. Tempat ini sangat berbeda. Aku melihat ke arah batu nisan dibelakangku. Tertulis nama “Clara Bennington” disana. Hmm… Sebuah nama yang cantik. Aku memutar kembali kepalaku ke arah kiri, dan bingo! Itu dia pintu keluar dari pemakaman. Disana pasti banyak orang untuk ditanya. Aku menopang tubuhku dengan kedua tanganku, dan hendak berdiri. Tetapi, rasanya sakit dan keram sekali untuk berdiri. Oh ya ampun, sudah berapa lama aku tertidur? Eh, tunggu dulu… Bukan tertidur. Aku ‘kan sudah.. Mati? Urat nadi di leherku kan robek besar akibat pertarungan hidup dan mati bersama… Ya, keluargaku!!! Dimana keluargaku!!!??? Aku mulai merangkak sebisa mungkin menuju makam-makam lainnya. Melihat batu nisan satu persatu untuk mencari apakah ada salah satu dari Rafeld, Zhalamen, Vrezian, Ed, atau Mama dan Papa disini. Namun baru saja tiga batu nisan kulihat, perutku terasa sangat sakit. Aku terkapar di tengah pemakaman, sementara itu aku sendiri lupa caranya untuk berbicara. Kata demi kata, kalimat demi kalimat tertulis jelas di benakku. Namun bibirku sangat kaku untuk mengatakannya. Aku pun tidak dapat berdiri. Apa ini?!

“Nail…” panggil seseorang.

Aku memutar kepalaku, mencari sumber suara itu. Namun tidak ada satu pun orang disini yang dapat kuajak berbicara. Tetapi aku melihat ke arah batang pohon beringin, disana menggantung seekor kelelawar. Aku sepertinya mengenalnya.

“Nail, ini aku, si kelelawar tanpa nama yang pernah berbincang denganmu dulu sekali. Kau ingat aku? Aku menceritakan banyak hal kepadamu, di… Balkon rumahmu kalau tidak salah. Pokoknya, apakah kau mengingatku?” tanyanya.

Aku melihatnya baik-baik. Ya, aku ingat dia. Dia yang pernah bercerita tentang leluhurnya yang menceritakan bahwa keluargaku memang bisa berbicara dengan hewan. Aku menganggukkan kepalaku dengan kaku. Ia tersenyum.

“Nail, aku turut berduka cita atas hilangnya dirimu dan keluargamu. Dan aku disini membawa pesan. Pesan yang harus aku katakan untuk menjelaskan keadaan dan situasi mu dan keluargamu sekarang ini.”

‘Kenapa? Kenapa harus kau yang menyampaikan pesannya? Mengapa bukan Leviatanh atau Groevanth, atau ya Pria Berjubah dan Bertudung Hitam? Mengapa mereka tidak menyampaikan itu langsung kepadaku?’ tanyaku melalui pikiranku.

Kelelawar itu memasang wajah sedih yang sangat aku tidak sukai. Ini pasti pertanda buruk.

“Nail, mereka kini sudah tidak ada. Tuan Ercasanth. Segenap ketika kalian semua sudah mati, Tuan Ercasanth berkata akan memberi kalian hak hidup kalian sekali lagi. Ia lah yang membuat semua ketidakseimbangan ini. Memang ia lah yang membuat diri kalian, para Tsamaelth yang seharusnya tidak memiliki eksistensi di dunia ini, malah memiliki eksistensi. Maka dari itu, inilah pemberiannya yang terakhir, memberikan kalian hak hidup kembali. Dengan sebuah persepsinya ‘ketika ada kematian baru maka muncullah sebuah kelahiran baru’ ujarnya dahulu kala pada leluhurku.” Jelas kelelawar itu panjang lebar.

Dengan kata lain… Reinkarnasi? Ia bertanggung jawab atas semua ini dengan mengorbankan eksistensinya untuk kami, keturunannya yang tersisa. Sulit mengakuinya. Meskipun kepala keluargaku adalah Iblis yang memang berniat mengacau keseimbangan dunia ini, aku tetap sedih dengan kepergiannya. Bagaimanapun juga aku adalah keturunannya.

“Jangan sedih, Nail. Ini memang kehendaknya. Lagipula kali ini kalian dapat terus hidup bahagia dan melanjutkan eksistensi kalian seperti para manusia biasa tanpa gangguan dari para Matheus. Mereka sudah hilang. Tak berbekas. Berbahagialah. Inilah yang diinginkan Tuan Ercasanth kepada kalian.”

Aku termenung sejenak. Aku tidak bisa mencerna ini semua sekaligus. ‘Kalau begitu, dimana keluargaku? Dan sudah berapa lama aku ‘mati’?’

“Untuk keluargamu. Tuan Ercasanth bilang bahwa kalian akan bereinkarnasi ditempat yang berbeda-beda. Kemungkinan mereka ada di tempat yang lain, yang tidak jauh darimu, Nail. Dan setelah kuamati tiap siang dan malam yang telah terlewat, kau sudah ‘mati’ sekitar selama 13 bulan. Genap 13 bulan, Nail.”

‘Uhm, baiklah. Terima kasih. Dan kau, tetaplah hubungi dan temui aku. Kau bisa? Aku… Aku ingin kau menjadi pengganti Leviatanh setelah ia tidak ada.’ Ucap pikiranku lirih.

Kelelawar itu mengangguk. Ia tersenyum pahit dan terbang entah kemana. Sementara aku terus merangkak kebawah pohon beringin di pojok pemakaman. Menutup mata dan mulai menangis. Rasanya dingin sekali air mata yang mengalir ini. Sudah lama aku tidak menangis. Aku tidak meratapi nasibku. Aku hanya bersedih atas kepergian orang-orang yang membuat hidupku berwarna. Mereka semua jauh dari jangkauanku. Apalagi Tuan Ercasanth. Ialah yang membuat semua kekacauan dan warna-warna kelabu yang sangat berarti bagiku. Leviatanh dan Groevanth, mereka juga. Sementara itu, aku harus mencari semua keluargaku yang entah ada dimana. Dengan apa? Selembar daun? Aku tidak memiliki apa-apa. Tapi… Tidak ada gunanya berdiam diri dan menangis disini. Lagipula aku sangat haus. Haus sekali.

Aku mencoba berdiri kembali sambil memegang batang pohon dan berjalan sedikit demi sedikit. Semuanya terlihat lebih lumayan dibanding aku tidak bisa berdiri sama sekali. Ternyata berdiam diri selama 13 bulan dapat membuatmu benar-benar seperti zombie. Lupa cara berbicara, lupa cara berdiri bahkan berjalan. Apa yang aku pikirkan memang hanya makan. Lapar dan haus. Seliter darah segar akan membuatku kenyang semalaman. Mungkin jika aku diberi bangkai segar pun aku akan memakannya. Perutku sakit sekali menahan rasa lapar. Aku terus berjalan keluar pemakaman. Dan betapa terkejutnya aku, sebuah komplek yang megah dan elegan berdiri disini. Aku ada di tengah-tengah sebuah komplek megah. Pantas saja, batu nisan di pemakaman itu nampak indah-indah dan bersih. Sambil berjalan bertumpu pada pegangan pada tembok, aku kini sadar. Aku merupakan reinkarnasi dari Clara Bennington tadi. Siapa dia? Yang jelas, nampaknya dia adalah anak orang kaya, cantik, sempurna, dan mungkin mati karena banyaknya pujian yang menimpa tubuhnya.

Setelah beberapa puluh langkah dari arah pemakaman. Aku menemukan sebuah minimarket 24 jam disana. Namun, apa yang aku pikirkan? Minimarket? Dan aku pun tidak punya uang. Aku hanya menatap seorang kasir didalam sana, meski ia hanya lelaki kurus, ia nampak menjanjikan untuk menyangga tenggorokan ini. Tapi bagaimana aku menyerangnya? Pada zaman sekarang, tidak ada lagi zombie yang berjalan pincang seperti ini, mereka bahkan bisa berlari. Baiklah jika ini adalah era zombie pertama, maka aku lah zombie pertama yang begitu tolol dan idiot. Baru saja lima menit aku mendekati minimarket itu, perutku sudah sangat melilit kesakitan. Aku butuh makan. Saat aku mengerang, tanpa kusadari seseorang di pojok minimarket ia terus memperhatikan tingkah lakuku. Aku melihat ke arahnya. Ia melempar sebuah senyuman yang cukup menggoda tapi tidak sekarang, aku sedang lapar berat. Kemudian ia datang mendekatiku, membantuku berdiri.

“Apa yang terjadi padamu? Kau baru saja ditabrak oleh truk kontainer? Lihatlah dirimu, betapa berantakannya.” Ujarnya sambil memegang tangan dan gaun hitam compang camping yang kupakai.

“Aaaaaahhhhmmm… Mmmmmmmaaaaaahhh… Nnnnnngggggmmm.” Jawabku dengan konyol.

“Uhm.. Maaf, aku tidak tahu apa maksudmu? Bisakah kau memperjelasnya?”

Baiklah, aku akan berbicara dengan bahasa tubuhku. Aku menganga, menunjuk ke dalam mulutku sambil mengusap-usap perutku yang sudah melebihi skala perut rata para model Miss Universe. Kemudian lelaki itu tersenyum lebar.

“Baiklah, kau lapar ya? Bisakah aku menyarankan agar kita makan disini, dan kau boleh memesan apapun yang kau mau? Aku mengerti, dengan penampilan seperti ini kau tidak mungkin memiliki sepeser uang sama sekali kan, baiklah, tunggu dulu.”

Lelaki itu menopang tubuhku sambil terus memperhatikan seluruh tubuhku dengan heran namun takjub. Apa? Ya, memang wajar ia memandangku seperti itu, apa yang ia lihat adalah zombie pertama di dunia. Ia meletakkanku di kursi stainless depan minimarket dengan lembut. Sementara itu ia masuk untuk membeli beberapa kudapan kecil yang kurasa tidak akan cukup untuk menangani diet 13 bulan ini. Saat dia masuk, perutku benar-benar keroncongan. Mungkin perutku sudah scream-ing keras seperti Matt Tuck ketika semangatnya memuncak menyanyikan lagu Suffocating Under Words Of Sorrow. Rasanya tidak tahan lagi. Aku menekan perutku dengan kuat, sementara itu sesuatu berbunyi di kakiku, bunyi cicitan seekor tikus. Oh ya ampun, apa ini? Sebuah makan malam? Naluri laparku tidak bisa kutahan lagi. Aku mengambil tikus itu dan tanpa jijik langsung menggigitnya dan menggerogoti dagingnya dalam-dalam. Darah tikus yang mengalir di lidahku sangat.. Oh ya ampun, andai tikus ini pun memakan tinja 5 menit yang lalu aku merasakan sebuah kemewahan kalkun panggang rasanya. Rasanya nikmat sekali. Dan dagingnya pun meski mentah-mentah kumakan, rasanya begitu nikmat.

“Baiklah, Nona, kupikir ini… Apa?!” teriak lelaki itu sambil membawa dua kantong plastik besar.

Ia terbelalak melihatku memakan tikus ini dengan ya cukup lahap. Ia menjatuhkan kantong plastiknya. Kukira ia akan berlari ketakutan dan berteriak zombie. Tapi nyatanya ia malah memandangku semakin takjub. Kemudian ia langsung mengeluarkan kunci mobilnya, membuka pintu mobilnya, memasukkan semua belanjaannya kedalam sana, dan langsung menarik lenganku.

“Kau harus ikut denganku! Ayo!!! Oya, kau tidak perlu membuang makan malammu itu, kau lapar, aku tidak keberatan.” Katanya sambil terus menopang tubuhku untuk memasuki mobilnya.

Aku tidak memiliki tenaga untuk melawannya, alhasil aku berada didalam mobilnya. Dan masih sibuk memakan tikus jalanan ini. Kemudian lelaki itu mengemudikan mobilnya dengan kencang sambil terus memperhatikanku dengan senyuman aneh yang sangat aku tidak suka. Setelah makan malam habis, ia menoleh kepadaku.

“Kau ingin membuang sampahnya? Baiklah, buang saja keluar lewat jendela.” Katanya.

Kemudian aku membuang tulang belulang tikus itu keluar lewat jendela. Dan sekali lagi lelaki itu memandangku dengan pandangan penuh ketidak percayaan. Ia menambah kecepatan mobilnya sampai akhirnya sampai ke sebuah rumah bernuansa gothic dengan model hook pada bagian balkonnya. Mengingatkanku pada suatu tempat yang pernah aku kunjungi tapi aku tidak tahu itu apa. Lelaki itu kemudian keluar dan mengambil belanjaannya di lengan yang satu, sementara lengan yang lainnya kembali menopang tubuhku yang masih tidak bisa berdiri dengan benar. Kami masuk ke dalam, rumahnya. Ya aku yakin ini rumahnya. Didalam sangatlah gelap. Mungkin dia hanya tinggal sendiri. Didalam rumah itu, ia dapat berjalan dengan lancar meski kegelapan yang gelap gulita ini benar-benar membutakan mata. Ia terus menuntunku berjalan, menaiki tangga, dan akhirnya sampai di bagian balkonnya yang diterangi dengan spotlight kecil berwarna merah. Disana terdapat dua tempat duduk. Ia duduk di sebelah kanan, sementara aku di sebelah kirinya. Ia memandangku dalam-dalam.

“Kau haus?” katanya.

Aku mengangguk. Kemudian ia menyayat sedikit lengannya dengan ujung pagar balkon yang lancip dan tajam.

“Coba, minumlah ini, tanpa gelas.” Katanya.

Tanpa basa-basi lagi aku langsung mengigit lengannya. Menyedot luka itu dalam-dalam. Ia berteriak kesakitan dan langsung melepas kepalaku dari lengannya.

“Baiklah, baiklah!!! Cukup, cukup, cukup, Nona!!! Ampun, sakit!! Ini, ini, minumlah ini!” katanya sambil memberikanku sebotol jus jeruk. Aku mengambil dan membukanya dengan normal lalu meminumnya.

“Ya ampun, luar biasa!!! Ini luar biasa!!! Ini, makanlah ini kalau kau masih lapar.” Katanya menyodorkan banyak makanan kepadaku.

Rezeki tidak boleh ditolak. Itulah mottoku. Kusikat habis makanan itu namun aku melewati semua makanan lezat ini dengan tatapan aneh dari lelaki itu yang terus berdecak kagum ketika melihatku. Setelah aku cukup kenyang dan menutup mulut selagi bersendawa, ia mulai berbicara lagi.

“Ini luar biasa!!! Katakan, apa sebenarnya kau ini?! Zombie kah?! Bisakah kau berbicara?!” tanyanya girang.

Aku menggelengkan kepalaku.

“Oooooh ya ampun, ini sangat luar biasa! Sebuah Zombie yang dapat mengerti perkataan manusia! Ini seperti Warm Bodies saja, hanya saja situasinya terbalik, ya ‘kan? Ya ‘kan?!” tanyanya sambil terus mendekatiku.

Euh, ya aku tahu Warm Bodies. Aku menontonnya saat aku masih hidup. Tapi dengan cara pendekatannya yang aneh dan mengerikan ini, aku berfikiran negatif bahwa lelaki ini nampaknya seorang necrophillia. Aku menjauhkan tubuhku dari jangkauannya. Lelaki itu menyadari gerakanku, mimiknya berubah menjadi memelas.

“Oh ya ampun, maafku aku. Aku tidak bermaksud melakukan hal buruk padamu. Aku hanya terkesan. Kukira awalnya kau hanya seorang gadis goth yang habis menghisap ganja. Aku sangat menyukai kulit pucatmu. Rambut hitammu yang mempesona, dan juga gaun compang camping yang keren itu. Aku hendak bertanya kau mendapatkan semua itu darimana. Namun saat aku melihatmu dengan ‘luar biasa’ memakan makan malammu tadi, rasa kagumku menjadi semakin meluap-luap. Itu saja. Maaf kalau aku menakutimu.” Jelasnya sambil mengusap-usap rambutnya yang gondrong dan berantakan juga hitam kelam. Sama sepertiku.
Aku hanya terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa berbicara. Dan tidak bisa berkespresi lebih dari ekspresi datar konyol ini. Namun lelaki itu masih tersenyum lebar.

“Oya, tapi sebelumnya aku ingin bertanya apakah kau menyukai musik semasa waktu hidupmu? Kalau begitu apakah aku keberatan untuk mendengarkanmu sebuah musik?” tanyanya.

Aku sedikit mengurai senyum dengan kaku dan menggelengkan kepala. Ya, aku tidak keberatan untuk mendengarkan beberapa lagu. Siapa tahu dengan mendengarkan musik dapat membuat kemampuan berbicaraku pulih kembali. Kemudian lelaki itu tertawa, ia menopang tubuhku lagi dan mengajaknya kedalam. Ke sebuah ruangan dimana terdapat sebuah amplifier besar dan speaker yang tidak terkirakan berapa harganya. Aku yakin, segila-gilanya Papa dan Rafeld terhadap musik mereka tidak akan sanggup membeli barang-barang ini. Kemudian lelaki itu mengambil banyak CD dari raknya. Dan menyetel salah satu darinya.

“Karena ini malam, mungkin aku hanya akan menyetel beberapa yang cukup slow saja ya?” katanya.

Setelah ia memasukkan CD ke dalam player. Terdengarlah akustik dari musik kesukaanku dulu.

“Love of mine. Someday you will die…” mulai terdengar suara.

Aku tersenyum lebar. Lelaki itu menoleh padaku. Ia tersenyum.

“Kau tahu lagu ini?” tanyanya.

Aku mengangguk dengan semangat. Aku sangat tahu ini. Ini I Will Follow You Into The Dark yang dinyanyikan oleh Death Cab For Cutie. Mengingat betapa gothnya aku saat aku tergila-gila pada lagu ini. Berkali-kali lelaki itu mengganti lagu dengan semua band yang juga kusukai. Mendengar banyak lagu, mulutku sangat gatal untuk berbicara. Tiap lirik kalimat tersirat jelas di pikiranku. Aku hanya tinggal membacanya dan mengucapkannya dengan normal seperti dulu. Aku melihat ke arah jam dinding yang dipajang, jam menunjukkan angka 2 pagi. Dan kami menikmati musik dari pukul 12. Sudah 2 jam kami mencocokkan telinga kami dengan musik-musik kami, mulai dari Gothic, Glam Metal, Metalcore, Hardcore, Post-Hardcore, Black Metal, Power Metal, sampai band-band Heavy Metal favorite Papa. Berkali-kali aku mencoba menggerakkan bibirku untuk bernyanyi. Akhirnya suaraku mulai keluar. Gaya bicaraku mulai terdengar kembali. Aku melafalkannya dengan pelan, sementara lelaki itu juga bernyanyi sambil memejamkan matanya dan berbaring di lantai. Menggodaku untuk ikut bernyanyi dengannya. Kubuktikan bahwa aku juga tidak kalah hebatnya dalam musik-musik hitam kelam seperti ini.

“Baiklah, untuk penutupnya lebih baik kumainkan yang cukup lama durasinya dan cukup mengayun untuk membuat tidur, okay?” katanya.

Kemudian ia mengganti lagunya dengan sebuah lagu yang berdurasi sangat panjang. Sebuah lagu yang sangat kuhafal liriknya dan bahkan kunci gitarnya selama kurang lebih 13 menit durasinya. Saat ditengah-tengah menit ke-4 tepat saat dia menyanyikan liriknya, aku mulai mencoba untuk bernyanyi juga.. Tepat saat ia bilang,

“The albatross begins with it’s vengeance
A terrible curse a thirst has begun
His shipmates blame bad luck on the mariner
About his neck, the dead bird is hung…..”

“And the curse goes on and on at sea
And the curse goes on and on for them and me….” jawabku.

Kemudian lelaki itu terbelalak, menggeratak terkejut. Ia melihat ke arahku dan tersenyum lebar.

“Kau bernyanyi! Kau berbicara! Dan… Juga kau tahu lagu ini!!!” sahutnya.

Aku hanya tertawa kecil. Ia memegang pergelangan tanganku, ia merasakan denyut nadi di nadiku. Namun tetap ia masih mengernyitkan dahinya. Ia tidak merasakan denyut apapun.

“Hm… Ternyata kau memang seorang Zombie permanen ya?” tanyanya sedikit murung ia masih berharap hal ini persis seperti Warm Bodies.

“Tidak. Aku memang hidup. Hanya saja, kau tidak akan dapat merasakan nadiku di pergelangan tangan. Nadiku akan terasa di leher.” Jawabku sedikit kaku.

Lalu ia tersenyum. Ia tersenyum dengan sangat lebar. Dan menoleh ke arah jam, jam menunjukkan angka 3. Ia menarik lenganku dan mengajakku ke sebuah kamar. Ia menyuruhku masuk ke dalamnya. Aku memandangya tajam.

“Tidak apa-apa. Kau tidur disana saja, aku akan tidur di sofa ruang keluarga. Tidur saja yang nyenyak Nona.” Katanya.

Aku berpegangan pada tembok mendekati ranjang yang nampak empuk. Dan saat mendekati ranjang, aku duduk disana. Lelaki itu tersenyum, kemudian ia mematikan lampu.

“Baiklah, istirahat yang nyenyak. Uhm.. Berhubung kau sudah bisa bicara, siapa namamu?” tanyanya.

“Nail… Dan kau?”

“Namaku, Carter Wakeman. Senang mengenal mu, Nail si Zombie.”

*

AKU. TIDAK. BISA. TIDUR. SIAL!!! Baru saja aku hidup dan kini aku sudah mendapatkan gangguan Insomnia lagi. Atau mungkin ini efek tidur yang terlalu lama selama 13 bulan ya? Sementara itu jam menujukkan pukul 9 pagi sementara mataku masih terbelalak seperti seekor burung hantu. Aku beranjak berdiri dari ranjang dan berpegangan lagi pada tembok. Keluar dari kamar. Semua lampu dimatikan. Rupanya Carter itu memang sangat menyukai kegelapan. Aku mengikuti sebuah cahaya dan suara televisi yang terdengar di arah utara. Sepertinya itu ruang keluarga. Aku berjalan ke arah sana, dan mendapati Carter sedang tertidur tengkurap, membenamkan wajahnya ke dalam bantal besar. Aku bertanya-tanya, apakah ia tidak pengap tidur seperti itu? Sementara itu aku terus berjalan berpegangan pada tembok, melihat ke sekeliling rumah Carter yang besar, mewah, dan megah. Interiornya benar-benar membuatku deja vu terhadap suatu tempat. Sambil berkeliling, aku bernyanyi kecil menyanyikan Deceiver Of Fools dengan suara terbaik yang aku miliki. Dan tak sadar aku membangunkan Carter.

“Nail…. Kau kah itu?” panggilnya samar-samar.

Aku kurang mendengarnya. Jadi aku terus menyanyi sambil melihat semua foto dan lukisan yang terpampang di bagian ruang tamu.

“Please awake and see the truth… He can only be if you believe what he tells you… Remember who you are… What you stand for? There’ll always be a way…” gumamku dengan nyaring.

“Naiil….?!” Carter berteriak dengan sedikit kencang.

Aku terus bernyanyi dengan suara nyaring, sementara itu terdengar suara gedebuk jatuh dari arah Carter. Aku berjalan mendekati ruang keluarga, sementara ia terus berteriak. Dan saat aku tengah sampai ke ruang keluarga, kami berpapasan dan terlihat wajah Carter pucat setengah mati saat menemukanku.

“Mengapa kau tidak menjawabku?!” teriak Carter dengan nafas tersengal-sengal.

“Uhmm… Aku tidak mendengarmu.”

“Kau… Membuatku jantungan, Nail. Katakan, apakah kau yang menyanyi tadi?”

“Ya, ada apa?”

“Sumpah… Hhh… Kukira itu bukanlah kau. Aku takut itu adalah…”

“Hantu?”

“Ssssshhhtt!!!! Ya. Sudah berkali-kali Hantu itu terus hadir dalam mimpiku dengan suara nyaring seperti itu. Dan apa maksudmu menyanyi dengan lirik yang sangat menyeramkan itu sedangkan aku sedang tertidur? Itu kuanggap sebuah terror kau tahu!”

“Oh, baiklah, maafkan aku.”

“Sudahlah… Ayo, kau mau sarapan apa?”

Aku hanya terdiam. Tidak terpikir di benakku ia akan mengajakku makan lagi, terlebih sarapan. Kukira ia akan bilang aku sudah sedikit baikan atau apa? Lalu mempersilakanku untuk pergi berhubung aku sudah mulai sehat. Lagipula rasanya canggung sekali tinggal dengan seorang lelaki yang entah siapa, memiliki ketertarikan aneh denganku, dan mungkin sedikit paranoid. Tetapi mungkin tidak jauh berbeda rasanya jika aku tinggal berdua dengan kakak-kakakku. Lalu Carter mempersilakanku duduk di sofa tempatnya tertidur tadi. Kemudian ia menyelimutiku dengan selimut tebalnya, sementara ia mengambil sesuatu untuk dimakan pagi ini.

Lima menit kemudian Carter kembali dengan dua mangkuk sereal dengan susu. Ia memberikan salah satunya kepadaku, kemudian ia membuka tirai pintu kaca dengan lebar. Membiarkan sebuah sinar matahari terik yang sangat cerah masuk ke dalam ruangan. Dibalik pintu kaca itu terlihat sebuah kebun dengan tatanan yang sangat rapi. Begitu warna-warni dipenuhi oleh berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan pepohonan. Juga terdapat sebuah pancuran dimana burung-burung sedang mandi disana. Ini sungguh sebuah pemandangan yang sudah lama tidak aku saksikan semenjak 11 tahun yang lalu. Aku seringkali melihat pemandangan seperti ini hanya sampai pada saat aku berumur 7 tahun. Pemandangan yang benar-benar menyita pandanganku dan mengingatkanku kembali pada sebuah memori indah dan hangat bersama Rafeld, Mama, dan Papa.

“Umh, Nail? Kau baik-baik saja?” tanya Carter sambil melambai-lambaikan telapak tangannya ke depan wajahku.

“Ya.. eh.. Aku baik-baik saja kok.”

“Syukurlah. Tapi ngomong-ngomong apa yang sedang kau perhatikan sih? Ada apa di luar sana?”

“Tidak. Tidak. Aku hanya melihat kebunmu. Mereka begitu rapi, aku benar-benar tidak kuasa untuk memalingkan pandanganku dari pemandangan indah itu.”

“Oh hahahahaha, tak kusangka ternyata Zombie pun tertarik dengan sebuah tatanan kebun. Ya, haha ini tidak seberapa. Aku memang sangat senang berkebun, terkadang hal yang hijau dan warna-warni pun dapat membuatku hilang dari rasa stress, frustasi, atau depresi.”

“Ya, kau benar. Dan betapa indahnya tatanan itu ditambah oleh sinar matahari yang sangat cerah seperti ini. Gradasi warnanya benar-benar sempurna. Dan betapa cerahnya langit biru diatas sana, awan-awan pun menghiasinya menjadi semakin lebih indah. Aku tidak pernah melihat pagi seindah ini sewaktu aku masih hidup dulu. Mungkin aku pernah melihatnya sekali ketika musim semi sekitar pukul 7 pagi saja. Selebihnya ya hanya gersang.”

“Ya begitulah. Kini kau tinggal di tempat yang lain, Nail. Harusnya aku mengatakan ini lebih awal ketika bertemu denganmu. Baiklah Nail, selamat datang di Glasgow! Sebuah kota yang cukup… Nyaman untuk ditinggali!”

“Apa? Glasgow? Berarti…. Aku….”

“Ya, selamat datang di Scotlandia, Nail. Ada yang salah?”

“Tidak… Hanya saja aku berfikir aku bangkit begitu jauh dari rumah. Dulu aku tinggal di Norwegia. Dan yah rasanya aneh saja.”

“Apanya yang aneh?”

“Tidak. Pantas saja pemandangannya terlihat lebih indah. Aku tidak tahu bahwa di Scotlandia ternyata cuaca sangat cerah hingga pukul 9 pagi, padahal ini sudah cukup siang.”

“Ya, aku tahu. Aku… APA?! PUKUL 9?! KAU BERCANDA?!”

Carter langsung menengok ke arah jam dinding di samping televisi, tetapi kini jarum panjang jam sudah menunjukkan angka 6, ini artinya, waktu sudah berlalu setengah jam saat kami berbincang. Carter langsung melesat berlari menyimpan mangkuk serealnya dan berlari ke kamar mandi. Suara gaduh terdengar ke seluruh penjara rumah. Sepuluh menit kemudian Carter kembali masuk kemari, ke ruang keluarga. Ia sudah berpakaian rapi, meskipun sedikit berantakan. Ia sudah menyandang tas ranselnya. Kemudian ia menepuk pundakku sambil mengigit selembar roti tawar saja.

“Aku pergi dulu ke sekolah, Nail. Sampai jumpa! Jaga rumah baik-baik, ya?!” teriak Carter sambil berlari menuju pintu depan.

Oh, rupanya ia masih bersekolah. Kukira ia sudah kuliah. Tubuhnya lebih tinggi dibanding anak-anak yang bersekolah atau bahkan sebaya denganku. Aku hanya mengedikkan bahuku. Aku bangun, meletakkan sereal sarapan yang Carter berikan diatas meja, dan aku kembali berjalan perlahan menuju lantai atas. Aku ingin sekali melihat-lihat bagaimana keadaan diluar sana. Aku membuka pintu balkon. Sinar matahari langsung menyembur wajah dan badanku. Menghangatkan suhu tubuhku yang dingin. Sinarnya begitu cerah dan menyilaukan sehingga aku sedikit memejamkan mataku, namun saat kubuka perlahan-lahan mataku, disana terdapat lebih banyak pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Semua rumah memiliki taman yang indah, anak-anak kecil bermain dan berlarian dengan riangnya di jalanan. Para orang dewasa pun memasang wajah bersemangat dan sebuah senyuman lebar saat mereka memasuki mobil-mobilnya untuk berangkat kerja. Inilah sebuah tempat tinggal yang kuinginkan dari saat aku masih kecil. Andai yang lainnya bisa melihat hal ini…

*

Aku sedang sibuk menarik kulit-kulit yang terkelupas di bagian lenganku. Sepertinya kulit ini beregenerasi. Meskipun ketika kulitnya terkelupas terdapat sedikit dagingku yang terlihat karenanya. Aku tahu ini menjijikkan tapi mungkin ini lah fase awal untuk kembali hidup. Sementara itu suara pintu terbuka. Suara derap langkah sepatu masuk kedalam.

“Hai Nail, aku pulang. Bagaimana? Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi saat aku tidak ada dirumah?” tanya Carter sambil melempar ranselnya ke arah sofa.

“Tidak. Tidak ada, Carter. Terima kasih telah menanyakan keadaanku.”

“Tidak masalah. Tidak perlu berterima kasih segala, Nail.”

Kemudian Carter menyalakan kembali televisinya. Terdapat sebuah acara berita disana. Dan tulisannya benar-benar menyita perhatianku dan Carter.

“SEBUAH MAKAM DITEMUKAN TERBONGKAR. ISSUE MENGATAKAN INI ULAH SEBUAH MAYAT HIDUP YANG BANGKIT DARI KUBUR.”

“Bagaimana runtutan kronologis dari hal ini, Pak? Dapatkah Anda menjelaskannya pada kami?” tanya seorang wartawan yang mewawancarai seorang lelaki tua.

“Y… Ya… Ya t-t-t… Tentu sa-saja… Jadi kejadiannya, semalam. Saat aku sedang melakukan tugasku, yaitu membersihkan komplek pemakaman ini, seperti biasa. Aku mendengar suara gemuruh keras. Entah darimana. Namun saat.. Aku mengikuti arah suara itu, suara itu datang dari bawah tanah sebuah makam. Suara gemuruh itu tercampur dengan suara peti mati yang didobrak terbuka oleh seseorang dari dalam. Saya… Ber-ber… Bersembunyi dibalik pohon untuk terus mengamati dan mencari keadaan paling aman. Sampai akhirnya suara gemuruh itu berakhir, sa… Sa… Saya melihat tangan seseorang keluar dari makam itu! Sebuah lengan yang pucat dan kurus! Sontak saya langsung lari menyalamatkan diri, itu ZOMBIE!!! ZOMBIEEEE!!!” cerita pria tua itu dengan hebohnya.

Kemudian kamera diarahkan kepada makam yang rusak dan beberapa helai kain baju yang robek. Dilihatkannya juga jasad yang menghilang dari dalam peti mati itu. Kamera berpindah lagi menuju ke arah pasangan suami istri yang menangis tersedu-sedu. Lalu Carter mengambil remote tvnya dan mematikannya. Ia menatapku dengan tajam. Kini tatapannya berbeda.

“Apakah itu ulahmu? Kau bangkit dari sana, Nail?” tanyanya.

Aku mengangguk. Kemudian Carter mengambil nafas berat.

“Baiklah, kebenaran sudah terungkap. Kini kau tidak harus berbohong lagi, Clara. Aku tahu ini kau, cepatlah mengaku.” Sahut Carter dengan nada yang tidak menyenangkan.

“Apa maksudmu, Carter? Siapa Clara?”

“Sudahlah! Jangan berbohong lagi! Kau pikir aku tidak tahu?! Tidakkah kau lihat sendiri, kau lah yang membongkar makammu sendiri! Kau bangkit di makammu sendiri, Clara Bennington! Aku tahu ini adalah kau, Clara. Kau tidak perlu merubah namamu menjadi nama orang lain, Clara. Jujur saja aku sangat senang ketika mengetahui bahwa kau sudah mati! Tetapi kenapa kau harus hidup kembali?! Kenapa?! Dan kenapa pula aku menjadi tertarik pada dirimu yang sudah mejadi makhluk lain seperti ini?!” bentak Carter.

“CARTER! Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti sama sekali! Bualan apa yang kau tuturkan itu, hah?! Ada beberapa hal yang harus kau ketahui, Carter! Pertama, aku Nail Zjork Tsamaelth, bukan Clara Benning-entahlah-apa-yang-kau-katakan-tadi! Kedua, aku bangkit bukan di makamku sendiri, asal kau tahu saja, aku tidak dimakamkan, aku terbunuh dan tergeletak tepat dimana aku mati! Ketiga, aku tidak mengharapkan sebuah perhatian darimu saat aku bangkit, aku hanya ingin memakan kasir minimarket 24 jam saat kau menemukan aku! KAU HARUS TAHU ITU, CARTER!!! AKU TIDAK MENGERTI MENGAPA KAU TIBA-TIBA MEMBENTAKKU SEPERTI ITU!!!”

Aku membentaknya lebih keras dari bentakannya. Oh ayolah, siapa yang tidak marah ketika dimarahi tanpa mengetahui alasan gila macam apa yang membuatmu harus dimarahi oleh orang asing yang tidak kau kenali selama 1 hari saja?! Tentu saja semua orang pasti kesal. Begitu juga dengan aku. Aku membentak dan meneriakinya dengan kencang. Carter sedikit tertegun. Matanya terbelalak. Aku tahu ia sedikit takut denganku. Begini, siapa yang tidak tegang saat mendapati sebuah Zombie marah dan kau berada di depannya? Mungkin hanya Superman yang tidak akan takut terhadap hal itu. Carter mengatur nafasnya dengan terburu-buru. Akhirnya ia membuang sebuah nafas panjang sambil menunduk.

“Duduklah, sini.” Ucapnya sambil menarik lenganku untuk duduk di sampingnya.

Aku duduk di sampingnya, menatapnya dengan galak.

“Baiklah, Nail. Maafkan aku. Aku hanya… Ugh ini begitu rumit. Baiklah akan kuceritakan. Kau tahu kan bahwa kau bangkit di makam seseorang bernama Clara Bennington? Nah, perempuan itu, Clara… Ia adalah seorang siswi di sekolahku, teman sekelasku. Ia adalah perempuan idaman semua lelaki. Hanya 2% lelaki yang tidak menyukainya di sekolahku termasuk aku. Sementara Clara ini, kabarnya ia menyukaiku. Tapi tidak, aku membencinya. Alasannya, ia hanyalah seorang putri raja yang egois, manja, dan menyebalkan. Dan dia pula lah alasannya yang membuat hubungan keluargaku menjadi rusak berantakan. Clara, adalah anak orang kaya. Sementara sebelumnya, aku adalah orang yang biasa-biasa saja. Dulu rumahku tidak sebesar ini. Tapi karena Clara menyukaiku, akhirnya ia menawarkan suatu pekerjaan pada orang tuaku. Orang tuaku tidak mungkin meragukan orang tua Clara yang memang sudah kelewat kaya raya dan tersohor itu. Akhirnya mereka bekerja, dengan begitu tentu saja keluargaku berhutang budi kepadanya atas apa yang kami miliki sekarang ini. Lalu karena hutang budi inilah, hubungan keluargaku hancur lebur. Ayah Clara memaksakan Ayahku agar menikah lagi dengan wanita lain dari perusahaan lain untuk menjalin hubungan kerja sama yang lebih meyakinkan dan menguntungkan. Begitu juga kepada Ibuku. Dan bodohnya, kedua orang tuaku menerimanya. Namun satu sama lain tidak mengetahui hal itu. Sampai akhirnya mereka saling menyalahkan. Mereka bertengkar, berkelahi, mulai saling meneriaki satu sama lain, Ayah memukul Ibu, dan…. Bercerai. Lalu saat persidangan hak asuhku, keduanya, tidak ada yang mau mengambilku untuk tinggal. Alasannya ketika melihatku, hati mereka malah bertambah hancur karena menjadi mengingat akan masa lalu kelam itu. Akhirnya, ya, aku tinggal sendiri disini, dan hidup dari uang yang mereka kirimkan setiap minggunya. Mereka sepakat untuk mengurusku hanya melalui transfer uang untuk kebutuhan hidup namun mereka sama sekali tidak ingin bertemu denganku. Lalu saat aku terpuruk seperti itu Clara datang kepadaku dan mengatakan bahwa tanpa orang tua maka hubunganku dengannya dapat tercapai lebih mudah dan kami dapat melakukan “hubungan” dengan lebih bebas…” jelas Carter panjang lebar. Salah satu pipinya mulai basah ditetesi oleh air mata.

Aku melemahkan pandanganku kepadanya. Mataku pun menjadi sedikit menggenang. Aku menghapus air mata di pipi Carter dengan baju lusuhku dengan lembut.

“Maafkan aku telah berteriak kepadamu, Carter. Maafkan aku.” Aku memeluk Carter dengan erat.

“Tidak apa-apa, Nail. Maafkan aku yang telah berprasangka buruk kepadamu. Maafkan aku juga aku tidak dapat menahan air mata ini. Sebagai lelaki.. Haha, aku merasa gagal untuk tidak dapat menahan tangisanku.” Jawab Carter sambil memelukku balik.

Aku… Tidak tahu harus bilang apa. Baiklah sejauh ini mungkin cerita-cerita roman picisan yang sering kubaca, dimana orang tua menghancurkan hubungan anaknya sudah sangatlah basi. Tapi kali ini, semua menjadi terbalik. Hanya karena uang, balas budi tak masuk akal, dan cinta buta. Aku memeluk Carter lebih erat. Ia pun melakukan hal yang sama. Kemudian aku melepas pelukannya, menghapus lagi air matanya.

“Maaf Nail, sudah memasukkanmu kedalam kondisi paling canggung. Aku tahu kau tidak dapat berbicara apa-apa. Maafkan aku, ya Nail.” Sahut Carter.

“Ya Carter, tak apa-apa. Maafkan aku juga ya.”

Carter mengangguk. Kemudian ia bangun dari duduknya. “Baiklah, Nail. Kini kau harus mandi, dan aku juga akan mandi. Kau mandi di kamar mandi diatas, sementara aku dibawah sini. Jika kau sudah mandi, teriaki aku, okay?” lanjutnya sambil tersenyum.

“Uhm, baiklah, tapi ada apa?”

“Lakukanlah saja dulu.”

Aku bangun dan berjalan perlahan menaiki tangga. Kemudian memasuki kamar mandi. Aku mulai menyalakan air dan mengisi bathtub dengan air. Sementara itu aku menggosok gigi dan membuka baju. Saat aku hendak masuk, kakiku terpeleset dan aku melesat masuk kedalam bathtub. Dan…

“AAAAAAAAAHHHHH CARTEEEEEEEEEEEEEER!!!!!” teriakku.

Kemudian terdengar suara gaduh menaiki tangga.

“YA NAIL ADA APA?!” teriaknya dari luar kamar mandi.

“A… Airnya dingin sekali. Ba… Bagaimana menggantinya menjadi a… air hangat?”

“Uuuuuugh, kukira ada apa. Kau lihat keran berwarna merah disamping keran biru yang kau nyalakan, nah itu dia. Kukira Zombie tidak buta warna. Haaah, kau membuatku kaget saja, Nail. Baiklah, kalau begitu katakan saja jika ada sesuatu yang harus kulakukan lagi.”

“Umh, baiklah. Maaf merepotkanmu, Carter. Terima kasih.”

Kemudian aku menyalakan keran merah. Sebenarnya keran ini bukan warna merah melainkan hanya ada lingkaran kecil berwarna merah di tengah-tengah kerannya. Carter kurang ajar mengataiku buta warna. Wajar saja aku tidak melihatnya.

Dua puluh menit kemudian aku mandi dengan susah payah karena banyak sekali kulit dan kotoran yang harus dibersihkan dan dikelupasi. Namun setelah semuanya kurasa sudah cukup. Aku memakai handuk.

“Carter, aku sudah selesai!” teriakku.

Kemudian terdengar lagi suara gaduh menaiki tangga.

“Ya, Nail. Umh, ini, ambil baju-baju ini. Pakailah didalam!” seru Carter sambil menyodorkan pakaiannya kedalam pintu kamar mandi. Aku mengambilnya dari tangannya. Dan memakainya. Kemudian aku keluar setelah memakai semuanya. Disana Carter sudah menungguku dengan setelan yang cukup… Bagus. Sebuah kaos hitam polos, dan celana panjang yang sengaja ia distressed dan sebuah rantai dompet ia pasangkan di celananya. Sementara aku… Carter melihatku dari atas ke bawah. Kemudian matanya menyipit dan mulutnya mengkerut.

“Pfffftttt… Umh ha… Nail, ayo kita dandani kau… Haha.. Lebih baik lagi.” Ucapnya sambil menahan tawa.

Aku tahu ini adalah setelan terburuk yang pernah kudapatkan. Kemudian Carter menyuruhku bercermin didalam kamarnya. Bayangkan, aku yang baru saja hidup (otomatis kurus) memakai kaos berukuran XL dan celana panjang denim yang sungguh sangat logor dan kepanjangan.

“Aku nampak seperti orang-orangan sawah, Carter.” Ucapku lesu.

Carter tidak dapat menahan tawanya lagi. Ia tertawa dengan keras. Terbahak-bahak. Sampai air matanya keluar lagi. Aku hanya merengut dan cemberut kepadanya. Kemudian Carter menatap padaku.

“Baiklah, baiklah, baiklah… Tunggu Nail, aku akan ambilkan yang lain.”

Kemudian Carter membuka lemarinya dan membongkar beberapa pakaiannya lagi. Sementara itu aku melihat ke sekeliling kamarnya. Kamar Carter sangat besar dan semuanya… Berwarna gelap, bahkan tirai jendela pun tidak ia bukakan sama sekali. Satu-satunya penerangan hanyalah lampu neon panjang yang berwarna biru muda didalam kamar Carter itu. Lima menit kemudian Carter menarik sebuah baju dan celana panjang yang nampak kecil.

“Ini, Nail. Baju dan celana ku sewaktu aku kelas 9. Semoga saja cukup. Aku tidak punya yang lain yang lebih kecil dari ini.”

“Baiklah.”

Aku mulai melebarkan lipatan kaos dan celana itu, sementara itu Carter masih terus saja berdiri disana.

“Ehm apakah kau keberatan?” tanyaku.

“Oh… Oh ya! Maafkan aku, Nail! Silahkan!” ucap Carter sambil keluar dari kamar.

Aku mengganti bajuku. Kemudian aku bercermin. Dan ya, kupikir ini sudah pas. Baju dan celananya sudah sangat pas di tubuhku. Mungkin hanya butuh satu ikat pinggang saja. Kemudian Carter mengintip kedalam.

“Baiklah sepertinya kau sudah siap. Ayo, Nail. Ayo kita pergi!” ajak Carter.

Carter mengajakku masuk kedalam mobilnya, aku duduk di sampingnya. Kemudian kami pergi.

“Hey, Carter. Kemana kau akan membawaku?” tanyaku.

“Hmm? Kau lihat saja nanti, dan kau pun akan tahu. Ngomong-ngomong apakah kau tidak ingin melakukan sesuatu pada rambutmu itu?”

“Memangnya kenapa. Apa yang salah? Oh… Kau ingin aku menyisirnya?”

“Sejujurnya sih tidak. Aku lebih senang dengan gaya berantakanmu itu. Seperti ya, lebih natural saja. Itu saja.”

“Oh baiklah.”

Kami berkendara ke pusat kota. Lalu kami berhenti di sebuah mall. Carter mengajakku untuk keluar. Sepertinya ia mengajakku untuk menemaninya berbelanja bulanan. Tetapi, ia masuk ke toko pakaian wanita.

“Uhhh… Kau ingin membelikan baju untuk siapa, Carter? Saudara perempuan?”

“Pfft, jangan bercanda. Aku membelikannya untukmu, Nail. Silahkan ambil yang mana saja yang kau inginkan. Kau tidak mungkin memakai gaun robek yang kau bawa dari kubur itu setiap hari kan?”

Aku mengangguk, Carter tersenyum lebar. Ia mengayunkan telapak tangannya ke dalam toko, mempersilakan aku masuk. Aku masuk ke dalam dan memulai kembali kegiatan yang tidak pernah aku lakukan 13 bulan yang lalu. Mungkin setelah dipikir-pikir tidak hanya 13 bulan yang lalu tapi lebih dari itu, karena ya kau tahu kan apa saja yang aku lalui sebelum aku mati? Yah, begitulah…

Satu jam berlalu, sudah nampak wajah Carter yang kehilangan gairahnya. Aku segera menyelesaikan tugasku dan akhirnya mengajaknya keluar untuk mencari udara segar. Carter sangat bersyukur aku selesai menunaikan tugasku, akhirnya ia mengajakku untuk masuk ke supermarket dulu untuk membeli beberapa kaleng minuman untuk menyegarkan tubuh. Setelah membelinya Carter mengajakku kembali masuk ke dalam mobil.

“Apakah kita akan pulang sekarang? Matahari sudah mulai tenggelam, Carter.” Tanyaku.

“Lalu? Jika matahari sudah tenggelam?”

“Ya… Rumah… Rumahmu dalam kondisi gelap gulita seperti itu kan? Tidakkah kita harus pulang dan menyalakan semua lampu di sekitar rumah?”

“Ah, tidak perlu. Aku lebih ingin melakukan hal lain. Nail, mungkin ini sudah hampir sehari kita saling mengenal satu sama lain. Dan aku merasa, ya cocok. Aku merasa pas berteman denganmu, Nail. Dengan begitu, aku ingin… Mengenalkanmu kepada teman-temanku. Kau.. Mau?”

“Tapi… Uhm tidakkah ini terlalu cepat untuk mengenal yang lain. Bahkan denganmu saja, ya baru sehari kurang kita saling mengetahui satu sama lain.”

“Tidak. Karena aku tidak tahan untuk membicarakan mu pada teman-temanku di sekolah tadi. Dan mereka juga tidak sabar untuk dapat bertemu denganmu.”

“Lalu, mengapa tidak kau suruh mereka untuk datang kerumahmu saja? Itu lebih mudah kan?”

“Oh jadi itu yang dilakukan para anak perempuan ya? Sungguh tidak seru sama sekali. Kalau kau tanya aku, itu benar-benar bukan caraku. Kalau aku lebih suka melakukannya dengan caraku.”

Carter menancap gas dengan penuh. Mobil melesat dengan kencang. Dan… Kami melaju tanpa sabuk pengaman. Aku berpegangan kepada dashboard mobil sementara itu Carter tertawa terkekeh-kekeh dengan riangnya. Hanya dalam waktu tiga menit. Kami sampai di tempat tujuan akibat menabrak sebuah tong sampah. Akibat keributan itu, beberapa orang keluar dari sebuah garasi dan mulai berteriak-teriak.

“Hei! Apakah kau tidak punya mata untuk melihat jalanan, bung?!” teriak salah satunya.

“Ya! Mataku baru saja kudonorkan kepada seorang gadis!” jawab Carter.

Kemudian sekumpulan orang-orang itu menghampiri mobil dan membuka pintu mobil Carter.

“Kau… Ukh, ternyata hanya Carter. Kukira kau siapa.” Sahutya setelah menarik Carter keluar dan hendak menonjoknya.

Sementara yang salah satu yang lainnya tertawa aku masih menatap mereka dengan tatapan horror. Siapa mereka. Aku dimana. Apa yang terjadi. Carter, jelaskan semuanyaaaa!!!

“Baiklah, Nail. Waktunya keluar! Ayo!” teriak Carter sambil menarik lenganku keluar.

Aku keluar dengan paksa ditarik oleh Carter. Sementara itu Carter nampak sedikit tidak sadarkan diri, mungkin minuman kaleng yang ia minum tadi adalah minuman keras? Oh jangan, aku mohon. Jika Carter dalam keadaan mabuk sementara aku disini dengannya dikelilingi beberapa orang asing. Maka…

“Hey, Carter! Dan… Oh… Hey Gadis Manis! Fuuuh, Carter dimana kau mendapatkan dia? Dia… Manis sekali…” kata salah satu lelaki dengan mata yang memakai eyeliner hitam.

“Ya, aku kan sudah menceritakannya tadi di sekolah kawan-kawan. Baiklah, kawan-kawan. Perkenalkanlah gadis yang luar biasa ini. Satu-satunya didunia ini. Nail si Zombie. Dan Nail, ini teman-temanku. Kuharap kau dapat menyukai mereka dengan cepat. Mereka adalah tipe orang yang ingin sekali berteman untuk melakukan suatu perekrutan yang bermanfaat. Mungkin kau dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kami.” Jelas Carter sambil menatap tajam kepadaku.

Hah? Aku tidak mengerti apa yang baru saja Carter katakan kepadaku. Apa maksudnya perekrutan yang bermanfaat? Lalu apa maksudnya pula menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi mereka? Kulihat disana ada 2 orang lainnya yang berpenampilan super extreme dan sangat mencurigakan. Mereka menatapku dengan tatapan yang tidak biasa seakan mereka akan menerkamku dan menelanku bulat-bulat. Jari jemari mereka pun bergerak-gerak ketika melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kemudian salah satu dari mereka menerkamku dan menutup mata dan mulutku dengan sebuah kain panjang berwarna hitam, dan yang lainnya sibuk menyimpulkan tali di tangan dan kakiku. Ya ampun, apa ini….?! Seseorang, TOLONGLAH AKU!!!

*

Aku dibawa ke suatu tempat. Mereka membopongku bersamaan. Mereka mengangkut ku tidak seperti mengangkut seorang manusia. Mereka melakukannya dengan kasar seolah aku adalah tumbal yang hendak dilemparkan kedalam jurang untuk persembahan dewa mereka. Kemudian aku didudukkan di sebuah kursi yang cukup keras. Lalu seseorang membuka tutup mataku. Aku melihat ke sekelilingku. Anak-anak lelaki itu sedang mengitari ku dengan tatapan aneh. Dan kini, kami semua berada di suatu tempat yang sangat gelap, hanya ada satu lilin saja yang menerangi ruangan ini ditengah-tengah kami. Setelah aku mulai memperhatikan semuanya baik-baik, salah satu anak lelaki itu mulai menyalakan lilin di tempat lainnya satu persatu. Sedikit demi sedikit cahaya remang-remang tersebut mulai menyinari ruangan ini sepenuhnya. Dan… Kalian tidak akan percaya, apa yang aku lihat sekarang. Aku dan anak-anak aneh ini berada di sebuah ruangan.. Entahlah nampaknya seperti ruang perdukunan atau persembahan seperti itu. Di dinding-dinding terdapat beberapa tengkorak manusia. Lalu terdapat beberapa toples yang berisi hal-hal tak lazim seperti bola mata, jari jemari manusia, isi perut, dan bahkan beberapa potongan tubuh hewan juga. Kulihat juga ada sebuah rak yang ditata rapi, dan diletakkan sebuah tanaman rambat yang memiliki daun aneh berwarna mencolok. Entahlah itu apa, tapi tempat ini memiliki aura tersendiri. Diujung ruangan pun aku dapat melihat berbagai macam peralatan pemanggilan roh halus tersimpan lengkap disana. Aku hanya diam menganga melihat semua ini dan pandanganku berakhir kepada Carter.

“Ya, Nail, baiklah. Akan kuperkenalkan teman-temanku satu persatu. Ini, Justin. Justin adalah orang yang sedikit ya cukup menyebalkan dan jahil. Justin hobi sekali bermain drum dan basket adalah olahraga favoritenya.”

Carter menunjukkan seorang anak lelaki dengan tubuh tinggi dan berisi dengan rambut merah pendek yang disisir kearah atas menggunakan wax rambut. Matanya berwarna abu-abu. Kulitnya sedikit tan. Justin melempar senyum kepadaku dan melambaikan tangannya.

“Dan yang terakhir, ini Victor. Victor merupakan teman kami yang paling “spesial”, Nail. Victor sangat menyukai hal-hal gaib, dan sesuatu yang berbau ilmu hitam. Dan asal kau tahu saja, markas ini, tempat ini memang milik Victor. Dan Victor… Ya harus kukatakan agar kau berhati-hati dengannya, Nail. Victor seorang pengidap necrophillia.”

Victor adalah anak yang tadi memakai eyeliner hitam di matanya. Kulitnya putih pucat dan nampak sangat tidak sehat. Matanya berwarna hijau, rambutnya memiliki panjang sebahunya, ada beberapa rambutnya yang sengaja digimbalkan, gaya potongannya sangatlah berantakan, layaknya seperti orang yang baru bangun tidur. Bibirnya pucat kehitam-hitaman, menandakan ia pasti seorang perokok. Kemudian Victor mendekatiku, dan berbisik di telingaku.

“Selamat datang, Nail.” Bisiknya sambil sedikit mendesah.

Meski kini aku adalah mayat hidup, namun rasa merinding tetap tidak dapat menghilang apabila seseorang yang begitu aneh seperti Victor mendekatiku dan melakukan hal yang tak wajar. Melihatku yang memang ketakutan, Carter tertawa kecil. Ia menarik Victor menjauh dariku. Kemudian melepas ikatan yang ada di tangan dan kakiku.

“Dan baiklah, Nail. Kini Carter sudah mengenalkan semuanya, namun kau pasti tidak tahu bagaimana karakteristik Carter ini kan? Biar kujelaskan. Carter Wakeman. Ia adalah pemberontak paling besar di sekolah. Keras kepala. Sering sekali menderita stress berat, depresi, dan frustasi.” Ucap Victor.

“Ia juga lelaki paling aneh. Belum pernah kami, sahabat dekatnya, mendengar sebuah kalimat bahwa Carter menyukai anak perempuan. Jadi kami mengkhawatirkan kemungkinan Carter memiliki ketertarikan seksual pada kami.” Lanjut Justin.

“Carter juga seseorang yang tidak bisa menahan lama emosinya. Tingkat kesabarannya sangat rendah. Radikal. Lebih condong kepada kekerasan dibandingkan berdamai. Dan Carter, ya… Ia merupakan sebuah batu granit keras yang sulit sekali dihancurkan. Oleh karena itu, ialah yang kami jadikan sebagai ketua geng ini.” Jelas Victor dan Justin bersamaan.

Carter mengerutkan dahinya. Alisnya menyatu dan mulutnya mengurai sebuah senyum kecil dengan penuh kejengkelan.

“Ya, ya, ya. Kalian memang hebat sekali dalam melebih-lebihkan sesuatu. Aku. Tidak. Seperti. Itu. Asal kalian tahu saja, aku merupakan sebuah pribadi yang normal, damai, dan ya… Singkat kata aku sempurna!” ucap Carter sambil tertawa mengejek.

Aku mengerutkan dahiku. Perkataan dan percakapan mereka cukup lucu dan dapat menggelitikku. Aku tersenyum kecil, dan menahan tawa. Mengapa? Tentu saja, malu. Aku baru beberapa menit berada diantara manusia-manusia aneh ini. Aku harus menjaga tata krama ku kan? Saat mereka sudah cukup lama berdebat dan saling mengejek satu sama lain, akhirnya seseorang sadar.

“Hey, hentikan, kita hampir saja lupa bahwa kita memiliki tamu kan? Baiklah, kurasa tempat ini sangat tidak cocok untuk menjamu tamu. Victor, bagaimana kalau kita melajutkan obrolan ini dan biarkan Nail bersantai di tempat yang lebih baik?” tanya Justin sambil menghampiriku.

“Hmm… entahlah, makanya aku membawanya kemari karena ya… Bibiku sedang ada di ruang utama. Ia pasti akan sangat ribut apabila ada seorang gadis diantara kita kan. Terlebih, seorang gadis yang sudah ‘mati’. Tapi, ya, mungkin kita bisa bersantai di garasi. Apakah itu dapat diterima?” Jawab Victor.

Carter dan Justin mengangguk mantap. Mereka setuju untuk pindah dari ruangan pengap dan beraura gelap ini. Akhirnya Carter membantuku bangun dan kami semua berjalan menuju garasi dari sebuah gudang kecil belakang rumah atau “markas mereka” ke arah garasi di samping rumah Victor. Victor dan Justin membuka pintunya bersamaan. Kukira garasi itu memanglah hanya sebuah garasi biasa dimana isinya hanya berisi kendaraan beserta suku cadang dan alat-alat untuk memperbaikinya. Tetapi, rupanya gudang Victor tertata rapi seperti sebuah ruangan bermain sekaligus sebuah studio musik. Karena di garasi yang cukup besar itu terdapat beberapa alat musik band seperti ya drum, bass, gitar, dan microphone, juga ada amplifier dan speakernya pula. Kami masuk ke dalam dan duduk di sana dengan cukup nyaman. Siapapun yang menata tempat ini sangatlah kreatif. Semua lantai dilapisi dengan karpet biru tebal. Tempat-tempat sisa alat musik pun dimanfaatkan dengan baik untuk menempatkan sebuah televisi, bantal, dan meja kecil untuk bersantai dan mengobrol.

“Baiklah, tunggu disini. Aku akan mengambil beberapa camilan untuk kita semua. Tunggu saja.” Sahut Victor yang langsung masuk ke dalam rumahnya.

Aku melihat garasi ini tanpa henti. Karena, bagiku 3 orang lelaki aneh ini nampaknya tidak memungkinkan menjadi orang dibalik kerapihan tempat ini.

“Hmm, bagaimana ia menata tempat ini ya? Tidakkah ada kendaraan yang harus dimasukkan?” tanyaku kepada salah satu dari mereka yang tersisa.

“Begini, Victor dan bibinya tidak memiliki kendaraan. Meski sebenarnya Victor meminta sebuah sepeda motor untuk bepergian, tetapi bibi Victor adalah seorang pecinta lingkungan yang fanatik. Jadi ya, mereka tidak memiliki kendaraan. Dan akhirnya kami semua berinisiatif untuk menjadikan tempat ini untuk studio latihan band kami, meskipun apa adanya saja. Sekaligus kami juga menjadikannya tempat menongkrong dan berbincang-bincang. Tentu saja dengan persetujuan bibi Victor.” Jawab Justin sambil tersenyum lebar.

“Tetapi kenapa kalian harus menongkrong disini, tidakkah kalian lebih senang mungkin jika bermain di kamarnya Victor, atau kamar kalian sendiri?” tanyaku.

“Kamarnya Victor?! Oh tidak, Nail. Itu bukanlah ide yang bagus. Mungkin itu adalah sebuah mimpi buruk yang terburuk dalam hidup kami ketika harus memasuki kamar Victor. Kamar Victor sangat menyeramkan. Kamarnya gelap, semua interiornya berwarna hitam. Satu-satunya penerangan di kamarnya hanyalah satu batang lilin merah besar yang biasa digunakan untuk pemujaan. Tidak hanya itu, kamarnya pun dipenuhi binatang berbahaya. Atau ya, peliharaannya. Ia banyak memelihara bintang tak lazim, seperti tarantula, ular, kalajengking, dan centipede.” Jelas Justin lagi sambil mengusap-usap bulu kuduknya yang berdiri.

“Dan seperti yang kubilang, Nail. Kami laki-laki tidak hobi untuk menongkrong di kamar, seperti kalian para anak perempuan. Kenapa? Karena kami memiliki rahasia masing-masing di tiap kamar kami sendiri.” Tambah Carter.

Tepat disaat cerita itu berakhir, Victor masuk ke dalam garasi sambil membawa satu botol penuh soda dan empat gelas di tangan yang lainnya. Ia bergabung dengan kami dan meletakkan minumannya diantara kami. Sementara itu diatas meja kecil disamping tempat kami semua berkumpul terdapat banyak kudapan kecil. Carter menyalakan remote televisi dan seperti biasa, ia memindahkannya ke channel berita.

“Aku tidak pernah mengerti, baru sekali ini aku melihat seorang anak lelaki sangat hobi sekali untuk menonton channel berita.” Sahutku sambil memandang Carter.

“Kau tidak akan tahu ada banyak hal aneh macam apa diluar sana, Nail.” Jawab Carter.

Kami semua menghela nafas panjang. Bagaimana tidak? Kami semua remaja dengan umur yang masih diawali dengan angka 1. Kami masih sangat muda. Apa yang kami harapkan dari tv hanyalah kartun, musik, dan acara komedi. Sementara remaja macam apa yang mengharapkan channel berita dari sebuah televisi? Sementara Carter menonton berita, Justin dan Victor mulai menanyaiku banyak hal. Mulai dari bagaimana rasanya terbaring selama 13 bulan. Bagaimana cara naik ke atas permukaan tanah dari kedalaman enam kaki yang pengap dan gelap. Apa rasanya saat kulit mengelupas dan beregenerasi dengan cepat. Apa rasanya ketika lidah sangat kelu untuk berbicara dan kaki sangat lumpuh ketika berjalan. Dan yang terpenting, bagaimana ceritanya aku dapat bertemu dengan Carter. Ditengah pembicaraan seru kami, Carter yang sedang serius menonton tv tiba-tiba menjulurkan tangannya dan mulai memonyongkan mulutnya.

“SSSSSTTTTT!!!” desis Carter.

Sontak kami semua langsung terdiam. Kami memperhatikan channel berita di tv dan membaca deskripsi dibawahnya.

“PIHAK RUMAH SAKIT TIDAK MENGETAHUI SATU HAL PUN. JASAD SALAH SEORANG PASIEN MENGHILANG SECARA TIBA-TIBA, HANYA MENINGGALKAN JEJAK DARAH.”

Semua orang terbelalak, termasuk aku. Kami semua langsung menutup mulut kami dan memfokuskan mata kepada televisi. Berita itu sangat menarik untuk didengarkan. Kamera memperlihatkan kepada kami sebuah lubang makam bekas pasien rumah sakit yang hancur lebur. Lubang makam itu kosong, jasad pasien itu menghilang tanpa jejak. Hanya ada berkas darah yang sedikit menggenang didalam lubang itu. Pihak rumah sakit mengaku, pasiennya meninggal akibat penembakan yang dilakukan oleh security rumah sakit itu sendiri karena pasien terlalu berbahaya. Dan tim forensik kepolisian pun menetapkan bahwa jasad pasien hilang dimungkinkan akibat ulah seorang kanibal yang mengambil jasad itu secara paksa. Namun hanya dalam durasi 3 menit, berita itu sekian sudah ditayangkan. Setelah semuanya selesai ditayangkan semua orang menatap kepadaku dengan tatapan penuh kekaguman seperti apa yang pernah Carter lakukan saat awal bertemu denganku.

“Apa?” tanyaku.

“Nail, apakah kau berfikir seperti apa yang kupikirkan?” tanya Carter sambil tersenyum lebar.

“Tapi, Carter. Tidakkah kau dengar, tim forensik mengatakan bahwa itu hanya ulah seorang kanibal saja. Ini tidak mungkin berhubungan dengan Zombie lagi. Lagipula jika Nail berhasil menjadi Zombie, belum tentu anggota keluarganya yang lain dapat bangkit kembali. Apabila Nail bangkit oleh karena suatu virus atau mungkin kelainan alamiah seperti mati suri. Ini tidak mungkin.” Bantah Justin kepada Carter.

“TAPI!!! Mungkinkah ini suatu kutukan atau seseorang telah memantrai dirimu dan keluargamu yang lain, Nail! Kuyakin aku benar! Katakan lah jawabanku benar atau tidak?!” terka Victor dengan penuh semangat.

“Aku tidak tahu, kawan-kawan. Aku tidak yakin jasad yang hilang itu adalah reinkarnasi salah satu keluargaku atau bukan. Sebab, ya, Victor memang benar. Aku bangkit akibat ulah seseorang yang begitu baik. Tetapi seseorang pun mengatakan bahwa apabila aku dan keluargaku bangkit dari kubur, maka tempat kami bangkit pun tidak akan saling berjauhan. Kau lihat, aku bangkit disini, Scotlandia. Sementara, berita itu, dimana berita itu diambil?”

“Italia. Berita itu terjadi di Italia.” Jawab Justin sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Ah, lihat? Sepertinya kemungkinan besar jasad itu memang hanya dicuri saja. Bukan sebuah… Kebangkitan.” Jawabku menyelesaikan topik pembicaraan.
Victor dan Carter nampak sangat lesu mendengar jawabanku. Sementara Justin masih mengerutkan dahinya dengan banyak pertanyaan di benaknya. Aku? Ya, aku memang memikirkan dengan sungguh-sungguh berita itu. Aku memang tidak sepenuhnya yakin bahwa itu adalah reinkarnasi anggota keluargaku yang lain, tetapi… Ah entahlah. Tetapi, apa yang kau harapkan dari gadis pesimis sepertiku? Aku yakin, itu hanya pencurian jasad oleh kanibal gila saja. Aku sangat yakin hal itu.

*

Chapter II: The Psychopath

Chapter II

*

Suara detik jarum jam dinding sangat terdengar. Keadaan rumah begitu sepi mencekam. Bau amis tercium di seluruh penjuru ruangan. Lantai kotor, dan sangat basah. Cairan lengket diatas lantai itu benar-benar menempel ke lantai. Suasana didalam rumah sangat sepi. Dan juga gelap. Namun lama kelamaan terdengar sebuah suara.
Suara langkah kaki serampangan dari arah bagian belakang rumah. Tidak hanya suara langkah kaki, kemudian terdengar suara rintihan, erangan, dan geraman seseorang darisana. Sepertinya seseorang baru saja marah disana. Kemudian langkah kaki itu melangkah keatas, menuju kamar mandi. Bunyi lempengan besi yang digesekkan pada tembok terdengar sangat jelas. Kemudian terdengar pintu kamar mandi dibanting sekuat tenaga.

“Aaaaaah… Uuuuhhmm… Ooooohhhnn… Ahahahahaha… Aaaah… Aaaaanghhh.. Mmmmhhhnnnn…. Oooooohh… Haha… Ahahahahaha… Hahahahaha!!!”

Terdengar suara desahan menghebohkan seperti itu dibalik pintu kamar mandi itu. Didalam sana terdapat seorang remaja laki-laki bertubuh tegap dan gagah. Bahunya lebar dan nampak kuat. Rambutnya hitam lebat, berantakan, dan gondrong. Pakaiannya kotor dan banyak sekali bercak noda. Tangan dan lengannya bergetar hebat. Kepalanya menunduk dalam. Ia mengambil nafas panjang, dan mendesah tersengal-sengal. Lalu setelah itu tiba-tiba ia tertawa seperti seorang maniak, dan kemudian kembali meringis sakit dan bernafas tersengal-sengal. Sesekali tangannya yang memiliki luka memar keunguan memegangi mulutnya, berkali-kali. Sampai akhirnya, ia menengadahkan kepalanya, bercermin didepan kaca kamar mandinya.

“Haha… Hahahahaha… Ya!!! Ya!!! Ahahahahahahaha!!! Ya!!!” ia tertawa dengan sangat keras sambil mengelus-elus wajahnya.

Lelaki itu tertawa keras. Ia tersenyum lebar. Apa yang kumaksud disini adalah SANGAT LEBAR. Mulutnya menyeringai lebar. Ia tersenyum dari ujung telinga sampai ujung telinga. Oh ya, aku tahu. Ia baru saja merobek mulutnya sendiri hingga seperti itu. Lelaki itu masih memegang pisau yang berlumuran darah di tangannya. Mulutnya pun masih mengeluarkan darah segar. Robekan itu terukir sangat sempurna melewati seluruh wajahnya, tepat dari telinga kanannya ke telinga kirinya. Bola matanya yang hitam berputar-putar dengan arah yang tak menentu.

“Ya, inilah aku!!! Inilah aku!!! Kini, tidak ada lagi yang bisa menahanku untuk mengekspresikan diriku sendiri!!! Aku bebas!!! Aku bebas!!!” teriak lelaki itu.

Ia kemudian berlari menuruni tangga dengan senyumnya yang lebar itu sambil terus menggenggam pisau di tangannya. Setelah sampai di lantai bawah, ia bergegas mencari-cari sesuatu. Ia mencari di belakang pintu, di tiap ruangan, kolong tempat tidur, dimanapun.

“Mario!!! Mario!!! Kemari, nak!!! Dimana kau?!” panggil lelaki itu.

Ia terus memanggil Mario. Sampai akhirnya ia pergi ke halaman belakang rumahnya. Ia mendapati sebuah rumah anjing kecil disana. Senyumnya mengembang semakin lebar. Ia datang menghampiri rumah anjing itu. Ia melongok ke dalam. Dan terdapat seekor anjing dobberman hitam yang terus mundur saat melihat kedatangan lelaki itu.

“Hey, Mario. Disini kau rupanya!!! Ayo kita bermain, Mario!!! Ayo cepat!!!” ajak lelaki itu dengan semangat membara.

Namun Mario, anjing itu terus mundur hingga akhirnya terpojok didalam rumah anjingnya.

“Oh, tidak mau keluar ya?! Baiklah, akan kupaksa kau!”

Lelaki itu dengan tanpa perasaan menarik telinga Mario dengan kasar.

“Kaing… Kaing.. Kaing….” suara Mario yang parau keluar dari mulutnya yang sedikit robek.

“Jangan melawan, Mario! Kita hanya akan bermain-main sedikit, tenang saja.”

Lelaki itu kemudian duduk bersimpuh. Menarik Mario dengan paksa keatas pangkuannya. Mario melihat wajah majikannya dengan tatapan penuh rasa takut, dan bahkan bulu-bulunya pun berdiri tegak, tubuhnya bergetar hebat, Mario ketakutan teramat sangat. Lalu, lelaki itu memeluk Mario dengan erat. Mengelus-elus bulunya dengan lembut. Menciumi kepala Mario dengan perlahan. Namun Mario, selaku seekor anjing, ia tahu akan ada hal buruk dibalik semua ini. Maka Mario menggigit tangan majikannya itu dan langsung kabur masuk ke dalam rumah dan mencari tempat bersembunyi yang terbaik. Lelaki itu menatap Mario dengan tatapan kesal, ia melihat ke arah tangan kirinya yang berdarah akibat luka gigtan Mario. Ia bangkit dari duduknya. Dan ia masuk kedalam rumahnya. Kembali mencari anjingnya. Namun kali ini, ia tidak memanggil Mario, ia hanya diam dan berjalan terus menerus tanpa henti mencari Mario. Tiba-tiba ia terdiam saat ia memasuki kamar orang tuanya, ia berlutut dan menengok ke kolong ranjang orang tuanya. Tepat disaat itu lah, ia menemukan Mario disana. Ia hanya tersenyum, kemudian menarik leher Mario dengan genggaman erat. Ia mengeluarkan Mario dari bawah ranjang dan langsung mencekiknya dengan kuat-kuat.

“Menggigit majikan? Kesalahan besar, Mario! Kau menggigit orang yang salah!” ujarnya.

Kemudian ia membantingkan tubuh Mario ke atas lantai dengan tangannya yang masih menekan leher Mario. Lalu, lelaki itu mulai mengayunkan tangan kanannya yang menggengam sebuah pisau dapur yang tajam. Ia mengayunkan dan menancapkan pisaunya ke mata anjing malang itu tanpa berkedip. Tidak hanya satu kali tusukan, ia menusuknya berkali-kali. Kemudian, pisau itu menusuk ke arah perut anjing itu, lelaki itu merobek perut Mario tanpa belas kasih sama sekali. Justru bukannya merasa jijik atau apapun, ia malah tersenyum dan tertawa tanpa henti. Ia terus menyiksa, dan membunuh Mario “berkali-kali”. Dia seperti merasakan sebuah kesenangan dalam kesakitan. Ia bahagia bukan kepalang. Namun, tiba-tiba seseorang datang. Terdengar suara teriakan seorang wanita yang sangat terkejut.

“Giovanni De Luca!!! Apa yang kau lakukan?!” bentak seorang pria dengan tubuh besar dan berkumis lebat.

Lelaki itu, yang disebut namanya Giovanni, melirik kearah sepasang suami istri tersebut. Sudah dapat ditebak, itu adalah orang tuanya. Giovanni hanya terbelalak melihat kedatangan orang tuanya, terlebih ia sedang tertangkap basah tengah membanting kepala Mario ke lantai sampai pecah. Ia kaget, ia terkejut setengah mati. Ayahnya, datang mendekati Giovanni. Ayahnya menjambak rambutnya dengan keras, memaksanya berdiri.

“Apa yang kau lakukan, Giovanni!!!???” bentak ayahnya.

Giovanni hanya terdiam, rasa sakit pada jambakan ayahnya tidak ia hiraukan. Ia melirik ke arah Ibunya yang sedang menangis histeris, tersedu-sedu.

“Nak, Giovanni, mengapa kau seperti ini, nak?!” tanya Ibunya sambil menampar wajah Giovanni penuh perasaan kecewa.

Giovanni tetap terdiam. Senyumnya tidak mengembang. Kemudian ia menghadapkan wajahnya kepada kedua orang tuanya.

“Ayah… Ibu… Aku tidak mau dipasung lagi… Aku tidak gila. Aku baik-baik saja… Aku ingin bebas… Aku tidak mau lagi tangan dan kakiku menjadi ungu seperti ini lagi akibat pasung yang Ayah dan Ibu lakukan kepadaku itu… Sudah 5 tahun aku berada disana!!! Lima tahun pula aku tidak diberikan hak apapun!!! Kalian memang memberikanku makan dan minum, tetapi hanya itu saja! Kalian tidak pernah mengurusku! Kalian selalu membuatku menderita, MENDERITA!!! Aku benci kalian!!!” teriak Giovanni sambil hendak menusukkan pisau ke arah leher Ayahnya.

Tetapi Ayahnya terlalu hebat. Ia menahan tangan Giovanni. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. Lalu ia memaksa Giovanni untuk berjalan didepannya dengan tangan dipegang erat olehnya.

“Ayo, kita turun lagi ke ruang bawah tanah!” bentak ayahnya.

Giovanni terbelalak, ia memberontak. “Tidak, Ayah, tidak!!! Tidak!!! Aku tidak mau dipasung lagi!!! LEPASKAN AKU!!!” teriak Giovanni dengan keras.

Ayahnya membalik tubuh Giovanni, memaksanya tidur diatas lantai. Kemudian Ayahnya menahan kedua tangan Giovanni yang terus berteriak.

“Cristina!!! Cepat ambilkan benang dan jarum!!!” teriak Ayahnya kepada Istrinya.
Istrinya langsung berlari melesat mengambilkan suaminya sebuah benang hitam dan jarum. Kemudian, ia menyodorkannya kepada suaminya.

“Cepat, Cristina, jahit mulut Giovanni yang robek ini, segera!” perintah suaminya.
Istrinya terkejut. Matanya terbelalak. Ia memelototi suaminya, dan anaknya.

“Ibu!!! Jangan Ibu, jangan!!! Jangan jahit, bu!!!” teriak Giovanni, memohon, dengan berlinang air mata, dan darah segarnya yang masih mengalir dari mulutnya.

Wanita itu bingung, ia memperhatikan wajah suami dan anaknya satu sama lain. Hingga pada akhirnya, wanita itu mulai memasukkan benang ke dalam jarum dan memegang kulit yang robek pada wajah Giovanni. Wanita itu melakukannya dengan berat hati. Ia menjahit mulut putranya sambil menangis.

“Maafkan Ibu, nak. Ini untuk kebaikanmu, Giovanni. Maafkan Ibu.” Ucap Ibunya lirih.

Giovanni berusaha untuk berteriak, namun hal itu akan sia-sia saja, pikirnya. Jadi ia hanya diam dan terus melawan dengan kekuatan fisiknya. Ia menatap tajam Ibunya, meskipun Ibunya menangis sedih. Setelah glasgow smile milik Giovanni selesai dijahit, Ayahnya mulai memaksanya berdiri lagi dan berjalan menuju ruang bawah tanah. Kini Giovanni tidak melawan. Mungkin ia sudah lelah dan pasrah. Keadaan menjadi lebih tenang. Setelah sampai di ruang bawah tanah, terdapat tempat pasung dengan besi yang sudah berkarat dan kayu tua yang sudah tidak asing lagi bagi Giovanni. Ayahnya menyuruh istrinya untuk membuka pasungnya. Kemudian ia mendekap Giovanni.

“Giovanni De Luca, anakku. Anak kesayanganku. Putraku satu-satunya. Ayah tidak bermaksud melakukan ini padamu. Ini untuk kebaikanmu, nak. Kami sangat menyayangimu. Kami tidak bermaksud melakukan ini padamu. Aku tahu, 5 tahun berlalu, dan tahun ini akan menjadi 6. Ini memang menyedihkan, nak. Kami pun sedih melihatmu seperti ini, Giovanni. Namun kau benar-benar bertambah “mengkhawatirkan”, semenjak awal umur 13 tahun kau mengidap penyakit ini, hingga sekarang saat umurmu hendak menginjak 19 tahun. Aku bangga kau tumbuh menjadi anak yang gagah dan tampan seperti ini. Aku…” sahut Ayahnya yang tiba-tiba terpotong.

Ayah Giovanni melihat ke arah tangannya yang sedang mendekap Giovanni. Ia melihat bahwa telapak tangannya sudah dipatahkan oleh putranya sendiri secara tiba-tiba. Telapak tangannya dipaksa dipatahkan ke arah belakang oleh Giovanni dengan secepat kilat. Kemudian ia berteriak kesakitan, langsung melepas dekapannya dari Giovanni. Namun Giovanni langsung menghampiri Ayahnya. Ia mencekik Ayahnya dan mencengkeram lehernya dengan kuku-kuku tajamnya hingga berdarah. Tenaga dalamnya dikeluarkan sebesar-besarnya.

“Kau bohong, Ayah!!! Kau bohong!!! Bohong, bohong, bohong!!!” teriak Giovanni sambil terus mencekik Ayahnya.

Giovanni sudah tidak memiliki rasa lagi. Ia terus mencengkeram leher Ayahnya hingga bola matanya mulai bergerak ke atas. Suara nafas Ayahnya tersengal-sengal, ia mulai kehabisan oksigen. Sementara itu Giovanni mengambil sebuah kapak yang tergeletak di dekat kakinya. Ia sudah mulai mengayunkannya ke atas, Ayahnya melihat tangannya yang penuh semangat mengangkat kapak itu.

“Ayah, aku benci Ayah.” Ucap Giovanni.

JLEB! KRAAAK! Kapak itu menancap dan langsung menghancurkan tengkorak Ayah Giovanni. Kapak menancap diatas kepalanya. Menancap dengan sangat erat. Darah segar merah menyala menyembur dengan deras dari kepalanya. Giovanni melepas cekikannya, jasad Ayahnya terjatuh keatas tanah. Tergeletak tak berdaya. Giovanni menatapnya dingin, setelah lama dan lama ia mulai tersenyum kembali. Kapak dari kepala Ayahnya ia cabut kembali. Ia menepuk-nepuk kapaknya, sambil memandangi tubuh Ayahnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian Giovanni tertawa, ia mengayunkan kapaknya secara acak ke seluruh tubuh Ayahnya. Ia mencabik-cabik tubuhnya dengan kapak itu penuh dengan semangat dan rasa senang. Lalu, telinga Giovanni yang cukup tajam mendengar sebuah nafas gelisah datang dari ujung ruangan. Ia berbalik, dan melihat Ibunya yang terdiam, terpana, melihat anaknya dengan tega membunuh Ayahnya dengan sadis. Air matanya mengalir deras. Giovanni, menarik kapaknya dari punggung jasad Ayahnya. Ia datang mendekati Ibunya sambil tersenyum lebar.

“Tidak!!! Giovanni, Ibu mohon, jangan lukai Ibu, nak! Ibu mohon, jangan, nak, jangan lukai Ibu!!!” teriak Ibunya dengan histeris sambil terus bergerak mundur.

“Ibu, apakah kau ingat bagaimana ekspresi dan permohonan ku saat meminta Ibu untuk tidak menjahit mulut ini, bu? Lalu bagaimana tindakan Ibu terhadapku? Tetap menjahitnya. Baiklah, begitu juga apa yang akan kulakukan terhadap Ibu. Terima ini, Ibu. Aku membencimu!!!”

Giovanni, menjambak rambut Ibunya. Ibunya berteriak kencang penuh rasa sakit, takut, dan sedih yang bercampur aduk menjadi satu. Giovanni, mengamati seluruh tubuh Ibunya, kemudian ia menemukan titik yang ia inginkan. Sambil menjambak Ibunya, Giovanni mengayunkan kapaknya. Jerit tangis Ibunya bagaikan melodi yang indah di telinganya. Giovanni menjilati mulutnya penuh rasa nafsu, dan… Menebas leher Ibunya dengan mudah. Terlepaslah tubuh dan kepala Ibunya. Giovanni tersenyum lebar.

“Haha… Ahahahahahaha… Hahahahahahahaha… WAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! Oh ya ampun, mengapa ini sangat menyenangkan?! Aku ingin lagi, ingin lagi, LAGI!!!” teriak Giovanni sambil melompat kegirangan.

*

Giovanni De Luca. Seorang remaja lelaki berumur 18 tahun yang sangat tidak beruntung. Selama 18 tahun ia tinggal tanpa perhatian yang cukup dari orang tuanya. Ia dan orang tuanya hidup pas-pasan. Orang tuanya bekerja sebagai pedagang dan penghasilan mereka pun tidak cukup untuk membeli makanan hanya untuk 2 hari saja. Namun, mereka tetap berusaha keras untuk menyekolahkan anak mereka satu-satunya, Giovanni. Giovanni adalah anak yang sehat dan tampan. Ia pun selalu ceria. Ia mencintai kedua orang tuanya dan anjing peliharaannya, Mario. Giovanni kecil memiliki hati bak malaikat. Ia sangat tidak tega melihat seseorang menderita, atau mereka yang tidak memiliki makanan meskipun dirinya sendiri pun sangat sulit untuk mendapatkan makanan. Giovanni rela memberikan segalanya untuk orang yang membutuhkan. Orang tuanya sangat bangga dengan malaikat kecil mereka.

Namun keadaan berubah berangsur-angsur saat Giovanni mulai bersekolah. Orang tua Giovanni tidak bersekolah, maka Giovanni pun tidak cukup pandai dalam mempelajari hal-hal di sekolahnya. Akhirnya ia di cap sebagai anak yang bodoh dan idiot. Teman-temannya seringkali mengolok-oloknya, guru-guru pun kerap memarahi dan menghukumnya. Mungkin sekali sampai lima kali, Giovanni dapat menerimanya. Tetapi, manusia super macam apa yang dapat menahan tekanan batin seperti ini, terlebih ia masih seorang anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar. Perubahan mulai terjadi pada Giovanni. Ucapan-ucapan yang menyakitkan hatinya mulai membuatnya menjadi rendah diri. Tubuhnya yang bersih mulai terluka dan memar akibat hukuman yang sering ia dapati dari guru-gurunya. Giovanni, anak yang jarang menangis. Semakin bertambah umurnya, ia semakin jarang menangis. Dan juga, tidak hanya menangis, ia pun jadi jarang berbicara. Senyumnya memudar dan berkarat. Hatinya yang cerah kini hanya ia timbun dengan semua tekanan batin yang ia miliki. Tidak ada orang yang dapat diajak berbagi cerita dengannya. Bercerita pada orang tuanya pun ia tidak mau. Maka, Giovanni memendam semuanya kedalam hati kecilnya.

Awal umur 13 tahun. Giovanni memasuki kelas 1 Sekolah Menengah. Keadaan semakin sulit. Bukannya menghilang, cemoohan dan tekanan itu semakin bertambah. Saat 13 minggu Giovanni bersekolah, ini adalah kali terakhir ia tidak dapat menampung hal buruk itu lagi. Satu cemoohan dan bentakan guru terburuk yang ia dapat telah memenuhi kapasitas hatinya. Lalu, saat Giovanni sampai ke rumahnya, hancur pula hati nuraninya. Tangisannya yang pilu pecah. Ia menangis meraung-raung, berharap seseorang dapat menenangkannya namun tidak ada siapapun disana, seperti biasa. Disaat itulah semuanya berawal, Giovanni mengurung diri di kamarnya, berdiam selama 1 jam penuh di pojok kamarnya sambil terus menangis dan mencakar wajahnya sendiri.

“Tuhan! Mengapa aku berbeda?! Mengapa aku tidak bisa seperti teman-teman?! Mengapa aku seperti ini?! Mengapa?! Mengapa?! Aku memang manusia yang tidak berguna! Mengapa Kau harus menciptakan aku?!” teriak Giovanni dengan tangisan histeris.

Giovanni benar-benar depresi pada saat itu. Dan, Mario, anjingnya terus menggonggong di luar halaman rumahnya. Gonggongan itu semakin lama semakin keras dan menjengkelkan, mengundang para tetangga untuk datang dan protes. Disaat itu pula, memang benar orang-orang sekitar mulai berdatangan. Mereka mengetuk pintu dengan perasaan marah. Giovanni menghentikan tangisnya sebentar, dan pergi membukakan pintu. Para tetangga protes berat atas gonggongan Mario pada Giovanni.

“Giovanni, tidak bisakah kau membungkam anjing kudisanmu itu?! Suaranya sangat memekakkan telinga! Anak-anak kami, harus tidur siang, dan kini anjing mu mengganggu mereka!” bentak salah satu lelaki yang menunjuk kepada salah satu bayi yang menangis di buaian ibunya.

“Tapi, Pak. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Mario-ku. Dan Mario hanyalah seekor anjing mungkin ia sedang…..”

PLAAAAAK!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Giovanni hingga tubuhnya pun tersungkur. Pipinya yang putih menjadi biru lebam.

“BUNGKAM ANJING TERKUTUKMU ITU, ANAK TIDAK BERGUNA!!!” teriak lelaki itu sambil pergi berlalu dengan orang-orang yang lainnya.

Giovanni hanya menundukkan kepalanya, ia mulai menangis lagi. Ia menahan semua suara tangisnya dengan menggigit bibirnya hingga berdarah sambil mengelus pipinya yang perih kesakitan. Kemudian, Giovanni berdiri, dan berjalan menuju halaman belakangnya, dimana terdapat Mario yang terus menggonggong ke seekor kucing di atap rumah. Saat melihat majikannya tercinta, Mario kini balik menggonggong senang ke arah Giovanni. Namun, Giovanni hanya memandang Mario dengan tatapan kesal. Lalu ia berlutut, memegangi mulut Mario dengan lembut.

“Mario, jangan pernah menggonggong keras-keras lagi.” Ucapnya pelan.

Tetapi Mario hanyalah seekor anjing, ia terus menggonggong senang ke arah Giovanni tanpa berhenti. Disini, Giovanni kehilangan kesabarannya, semula mulut Mario yang ia pegang dengan lembut, kini ia cengkeram dengan keras. Lalu memaksa membuka lebar mulut Mario dengan kasar hingga tepi mulut Mario sedikit robek. Mario yang malang berhenti menggonggong, ia terdiam dan hanya bisa mengeluarkan suara lirihnya meminta belas kasih pada Giovanni.

“TIDAK!!! Ini semua gara-gara kau, Mario!! Lihat apa yang kau lakukan terhadap majikanmu?! Lihat!!! Lihat!!! LIHAT MARIO!!!” teriak Giovanni sambil memalingkan pipinya kepada Mario.

Tidak hanya merobek mulut Mario, Giovanni mencengkeram kulit Mario dan mencabut paksa bulu Mario dengan kasar. Mario berusaha kabur, namun amarah Giovanni tidak terbendung lagi dan semua tenaganya telah keluar. Sampai akhirnya orang tua Giovanni pulang, dan melihat perilaku anaknya yang tidak wajar. Mereka kemudian melepas Mario dengan segera, dan tanpa basa basi lagi mereka menampar Giovanni kecil yang depresi.
Melihat anaknya yang mulai memiliki sebuah gangguan mental, mereka tidak akan pernah lagi membebaskannya, dan semenjak itulah Giovanni dipasung di ruang bawah tanah rumahnya. Sebuah tempat yang amat sangat ia takuti selama ini.Orang tuanya mengurung dirinya disana, satu-satunya saat orang tuanya ada disana adalah ketika mereka menyuapi Giovanni. Selebihnya, orang tua Giovanni hanya bisa berkeluh kesah, menangis, dan berharap tidak memiliki anak seperti Giovanni.

Hari demi hari. Minggu demi minggu. Waktu demi waktu. Giovanni merasa mulai lebih aneh lagi saat umurnya beranjak 16 tahun. Dalam ruang bawah tanahnya yang sepi ini, ia merasakan keberadaan seseorang. Seseorang yang selalu membisikinya sesuatu. Menemani dinginnya gelap malam, dan mencekamnya rasa sepi. Namun ia tidak pernah melihat sosok yang berbisik itu. Suara itu terus membisiki Giovanni dengan hal-hal yang tidak baik.
“Giovanni. Kau anak yang kuat. Apa kau akan pasrah saja menerima nasibmu di ruangan menyedihkan ini? Ayolah Giovanni. Tidak ada gunanya kau berdiam diri dan membusuk di tempat seperti ini. Kau harus lepas! Ayo bebaslah, Giovanni! Aku yakin kau bisa!!!” ucap suara itu.

Mulanya Giovanni hanya menganggap itu hanyalah suara pikirannya belaka. Namun suara itu benar-benar memiliki sifat yang berbeda 180 derajat dengannya. Dan ia selalu menemani Giovanni kapanpun. Ia lah yang selalu memotivasi Giovanni untuk balas dendam. Untuk bebas. Untuk membunuh orang-orang yang menurutnya salah. Ia lah, sisi lain dari jiwa Giovanni. Sisi gelapnya yang kelam. Tetapi, ketahuilah, berkat sisi gelap itulah Giovanni dapat seringkali lepas dari cengkeraman pasungnya. Giovanni kini mengakui keberadaan suara itu sebagai teman imajinasi. Tidak sekadar teman, sahabat sejati.
Tetapi tepat pada hari itu, ketika kedua orang tua Giovanni pergi berdagang, Giovanni dapat membebaskan dirinya lagi sekali lagi.

“Giovanni, sudah cukup kau hanya berkeliling rumah disini. Bayarkan dendammu! Ayo, buatlah sebuah wajah baru, Giovanni!!!” teriak suara itu.

Giovanni tersenyum kecil. “Ayo! Aku tahu semua yang sering kau katakan adalah sebuah kesenangan yang tak terhingga. Kau dan aku sama, teman. Kalau begitu, bagaimana kalau kita selalu bersama hingga akhir hayat!?” jawab Giovanni.

Pada saat itu, Giovanni merasakan sedikit rasa sakit di kepalanya. Ia berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi kepalanya. Ia menabrak seluruh benda yang ada di hadapannya. Sisi gelapnya menyeruak ke permukaan sepenuhnya. Tidak ada lagi, tidak ada satu pun sebuah sisi baik yang tertinggal dalam diri Giovanni. Kini, hanya ada Giovanni yang baru. Ia yang siap bebas, mengaum, dan membalaskan dendam dan pelampiasan penderitaannya. Nah, disanalah ia mulai kehilangan pikiran, akal sehat, dan bersatu dengan sisi gelapnya yang sangat jahat. Saat itulah ia menorehkan senyuman lebar khas Iblis di wajahnya, disaat itu lah ia membalaskan seluruh rasa jengkelnya kepada Mario dengan memecahkan kepalanya, dan disaat itu pula ia membayarkan rasa penderitaannya kepada orang tuanya dengan cara yang sadis dan “menyenangkan” baginya.

“Tidak ada lagi Giovanni De Luca… Kini hanya ada Giovanni Sang “Orfeo”…” ucap lelaki itu sambil tertawa terbahak-bahak.

*

“Jika kalian ingin membebaskanku… Mengapa kalian tidak bilang itu daridulu.. Sekarang lihatlah, aku sudah lebih dari 17 tahun… Semoga saja racun ini membebaskanku… Oh tolong jangan mengutukku… Ibu, Ayah, aku sangat mencintaimu… Tetapi hal ini sangat membelengguku… Jangan terkejut, bahwa aku lah yang membunuhmu.. Haha… Hahahahahahahaha!!!” suara nyanyian dan tawa gila Giovanni terdengar dari ruang bawah tanah.

Disana ia sedang sibuk mencabik-cabik jasad orang tuanya. Sambil tersenyum lebar. Suasana begitu tenang, hanya terdengar suara gumaman nyanyian merdu Giovanni yang sangat menikmati tiap sayatan kulit orang tuanya. Sampai akhirnya terdengar sebuah pintu depan rumah diketuk seseorang. Giovanni tertegun, selama 2 hari ini tidak ada yang mengetuk pintu rumahnya, apalagi ia tinggal di suatu tempat yang terpencil dengan tetangga yang sangat tidak dikenalinya. Giovanni bangkit dan menghampiri pintu depan sambil menggenggam pisau dengan tangan di balik tubuhnya. Ia membuka pintu, terdapat dua orang berpakaian seragam rapi dengan wajah yang galak dan ganas. Giovanni terbelalak. Ia membaca sebuah lencana yang dicanangkan di saku seragam mereka.

“Polisi.” Ucap Giovanni pelan setelah membaca tulisan di lencana itu.

“Ya nak, kami dari departemen kepolisian setempat. Dan…”

“Ada apa kalian kemari?” sela Giovanni dengan nada gugup.

“Ya, kami kemari untuk melakukan sebuah pemeriksaan tentang kabar Tuan dan Nyonya De Luca. Banyak orang menanyakan keberadaan mereka yang kini sudah 2 hari mereka tidak berdagang seperti biasanya. Itu saja, dan umh… Apakah Anda sanak saudara dari mereka?” tanya salah satu polisi.

“Aku…. Tidak pernahkah mereka bercerita tentang aku?”

Polisi itu saling memandang satu sama lain dengan bingung, dan mereka kembali menatap Giovanni dengan tatapan ngeri atas jahitan yang menghiasi ‘senyum lebar’ di wajahnya.

“Uhm tidak. Kami tidak tahu siapa kau. Mereka tidak pernah bercerita. Lalu, kau ini siapa?”

Giovanni terbelalak. Mulutnya menganga lebar. Kemudian tangannya semakin menggenggam erat pisau yang ia pegang di balik punggungnya. Kemudian senyumnya terurai lebar, sementara itu kedua mata Giovanni meneteskan air mata. Kedua polisi itu mulai melangkah menjauh dari Giovanni.

“Ternyata benar… Mereka tidak pernah menyayangiku… Aku tidak akan pernah mereka anggap ada… Aku memang seharusnya tidak dilahirkan… Tidak, tidak, tidak!!!” teriak Giovanni sambil menancapkan pisaunya ke lengannya.

Kedua polisi itu tertegun. Salah satunya menahan tubuh Giovanni dan satunya lagi mengambil pisau dari genggaman Giovanni.

“Tenangkan dirimu nak, sudahlah, apa masalahnya? Kami hanya ingin tahu dimana Tuan dan Nyonya De Luca? Kami tidak ingin terlibat dalam hubungan mu dengan mereka. Dimana mereka?!” tanya salah satu polisi yang bersusah payah menahan Giovanni.

Giovanni tiba-tiba tenang dan terdiam. Ia menurunkan uraian senyumnya menjadi senyum kecil yang mencurigakan. Ia melepaskan pegangan polisi itu dengan halus.

“Ayo, ikut aku, tuan-tuan. Ayo kita temui Tuan dan Nyonya De Luca.” Ucap Giovanni dengan nada ramah.

Para polisi itu mulai merasakan sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Mereka langsung memegang sabuk pistol mereka perlahan-lahan dan berjalan didepan Giovanni dengan penuh kewaspadaan. Sementara itu Giovanni terus menunjukkan arah dibelakang mereka. Mereka sedikit demi sedikit hampir sampai ke ruang bawah tanah dimana semakin mereka mendekati ruangan itu, sebuah bau busuk semakin menyengat.

“Bau apa ini? Ini seperti bau mayat! Apa ini?!” keluh salah satunya.

“Ini hanya bau bangkai tikus yang banyak mati dibawah sana, pak.” Jawab Giovanni sambil tersenyum.

Setelah sampai di ruangan bawah tanah, para polisi itu tersentak melihat mayat pasangan De Luca itu tergeletak dengan jasad yang hancur dicabik-cabik bagai mangsa seekor serigala. Dan mereka langsung menyadari bahwa si pembunuh ada di belakang mereka, tepat di belakang mereka. Tetapi..

“Terlambat.” Ucap Giovanni sambil mengayunkan kapak yang ia ambil dari tembok sampingnya.

Ia menebas salah satu kepala polisi yang langsung memancarkan air mancur merah menyala dengan deras. Sementara polisi yang satunya lagi dengan cepat menghindar dan mengambil pistol di sabuknya. Dengan cepat polisi itu langsung menembak kaki Giovanni dengan tepat. Giovanni berhasil dilumpuhkan, tetapi kaki yang tertembak tidaklah seberapa bagi pikirannya yang sudah rusak. Dengan penuh semangat Giovanni tetap mengejar polisi itu. Tetapi polisi itu sangatlah terlatih, ia menembak kembali kaki lumpuh Giovanni agar Giovanni benar-benar berhasil dilumpuhkan. Dan… DOR!!! Tepat di pahanya. Kini Giovanni terjatuh, dirinya sudah sulit untuk terus berjalan menghampiri polisi itu. Sudah terlalu sulit untuk tetap menyeret tubuhnya menghampiri mangsanya. Sementara itu, polisi itu bertindak cepat langsung memborgol tangan Giovanni ke sebuah batangan besi berkarat didekatnya. Ia mengambil sebuah handphone dari sakunya dan menelepon seseorang.

“Lepaskan!!! Lepaskan aku!!! Apa ini?! Buka!!! Bukaaa!!!” teriak Giovanni mengamuk menggerakkan dan menarik-menarik tangannya sampai kulitnya terkelupas karena tertahan besi borgol yang ditarik oleh tenaga kudanya.

Setengah jam kemudian, sebuah mobil bersirine datang dan 5 orang berpakaian putih-putih masuk ke dalam kediaman De Luca. Ada yang membawa sebuah pakaian aneh. Mereka semua berbondong-bondong masuk ke ruang bawah tanah. Dan ekspresi mereka sangatlah terkejut melihat mayat yang dibunuh dengan tidak wajar itu. Tetapi pandangan mereka langsung beralih ke arah seseorang yang terus mengamuk di sudut ruangan. Mereka menghampiri Giovanni dan meminta kunci pada polisi itu untuk membuka borgolnya.
Namun setelah dilepas, Giovanni langsung merasakan cengkeraman terkuat yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Sebuah cengkeraman yang kuat dari tiga orang sekaligus yang mengitarinya. Sementara 2 yang lainnya berusaha memakaikannya baju aneh itu. Setelah dipakaikan baju itu, mereka menarik lengan baju yang sangat amat kepanjangan mengitari tubuh Giovanni. Lalu dengan paksa mereka membawa Giovanni kedalam mobil ambulance. Disana Giovanni dibekam dan SREEET!!! Sebuah jarum suntik yang panjang ditusuk tanpa basa-basi ke dalam lehernya. Teriakan Giovanni mulai hilang dan matanya pun mulai terpejam.

*

Saat membuka mata, semua ruangan nampak sangatlah putih di luar pintu kaca disana. Tetapi didalam sini hanya terdapat sebuah ranjang keras yang seluruh ruangannya tertutupi oleh noda kotor merah kehitaman. Giovanni mendapati dirinya diikat erat diatas ranjang dengan sebuah sabuk kulit dengan kualitas terbaik. Giovanni kembali mengumpulkan tenaganya untuk melepaskan dirinya dari sabuk yang mengikatnya itu. Tetapi percuma saja, itu sebuah usaha yang sia-sia. Sabuk itu tidak bergerak sedikit pun atau bahkan longgar satu centimeter pun. Sabuk ini begitu kuat dan mencengkeram. Tak lama kemudian, datanglah seseorang dengan jas berwarna putih bersih dengan memakai masker yang menutupi setengah wajahnya. Matanya memandang dingin ke arah Giovanni. Giovanni mulai mengamuk kembali.

“Lepaskan aku!!!” teriaknya.

“Sssshhhh…” kata orang berjas putih itu. “Disini dilarang ada keributan. Kau tahu? Sangat bising. Mengganggu pendengaran orang lain.” Lanjutnya.

Giovanni tidak mengindahkan kata-kata serius orang berjas putih itu. Ia terus berteriak dan memberontak. Lalu semakin Giovanni memberontak, orang itu semakin mendekatinya. Sampai akhirnya, mungkin orang dalam balutan jas putih itu sudah mencapai batas kesabarannya yang paling tinggi. Akhirnya ia membekap mulut Giovanni dengan cengkeraman yang kuat.

“Kau cukup berisik dibanding pasien-pasien yang lainnya. Kukira kau lah yang paling berani dan paling ‘sakit’ diantara yang lain. Sepertinya butuh penanganan yang lebih.” Ucapnya.

Kemudian orang itu mengambil sebuah gunting operasi di meja kecil samping ranjang keras itu.

“Sebagai yang paling berisik dan paling memberontak kau tidak layak mendapat jahitan ini.” Sahut orang itu sambil memotong tiap benang jahitan di mulut Giovanni. Giovanni sedikit terdiam oleh sedikit rasa sakit yang ia rasakan di sekitar pipinya. Setelah jahitan itu putus, Giovanni merasakan rasa perih yang menggelitiknya untuk tertawa.

“Haha…. Hahahahaahahahaha!!!” tawa gilanya mulai terdengar lagi.

Orang berjas putih itu heran. Ia mengharapkan sebuah rasa sakit yang membuat Giovanni jera dan terdiam. Tapi nyatanya rasa sakit membuat suara menjadi lebih keras dan girang lagi. Tentu saja, ia sedang berhadapan dengan seekor monster ganas yang terbangun dari tidur panjangnya. Dokter itu kemudian beralih mengambil sebuah pisau bedah, kemudian menarik tangan Giovanni dan menyayatnya dengan tanpa perasaan hingga kulit nya robek dengan luka yang sangat lebar. Tetapi sekali lagi Giovanni tidak mempan terhadap tindakan itu. Ia tetap tertawa dengan keras. Orang berjas putih itu mulai geram. Kini ia mengubah arah sayatannya ke leher Giovanni. Dan kini senyuman Giovanni memudar, rasanya begitu perih, perih, dan perih. Sangat sakit.

“BERHENTI!!! BERHENTI!!! HENTIKAN INI!!! SAKIT!!!” teriak Giovanni sambil membanting-bantingkan tubuhnya keatas kasur.

Kini orang itu mulai mengembangkan senyum lebarnya dibalik masker medis hijau tuanya. Dan ia semakin memasukkan bilahan pisau itu semakin dalam kedalam leher pucat Giovanni. Darah menyembur dengan deras ke permukaan kasur dan lantai. Membuat lantai kotor itu semakin kotor.

“Ini lah akibatnya jika kau terus membuat kebisingan ditempat ini, uhm siapa namamu?” tanya orang itu sambil memiringkan wajahnya melihat sebuah name tag yang disematkan di bajunya. “Oh, Giovanni. Giovanni De Luca. Nah, inilah akibatnya jika kau selalu membuat kegaduhan dengan suaramu yang lantang dan gagah itu. Kalau begitu, boleh aku bertanya Gio? Mengapa kau membunuh orang tuamu?”

Giovanni menengadahkan kepalanya melihat ke arah orang itu. Tatapan matanya galak, dan giginya bergemeretak, telinganya merah mendengar hal itu.

“Itu bukan urusanmu!!!” teriak Giovanni sambil meronta liar.

“Ssst, jawaban yang salah.” Jawab orang itu sambil menyayat lebih lebar leher Giovanni.

“Aaaaaagh!!! Uuuuuukkkhhh!!! Aaaaaaaaahhh!!! Baiklah, baiklah, tapi hentikan ini!!!!”
Orang itu menarik pisaunya keluar dan mulai menyangga kepalanya dengan tangannya, siap mendengarkan cerita menarik dari mulut Giovanni.

“Baiklah, mulanya, aku hanyalah jengkel terhadap mereka. Mereka tidak pernah menganggapku ada. Mereka tidak pernah menyayangiku, atau bahkan mencintaiku. Maka dari itu rasa jengkelku semakin lama semakin bertambah menjadi rasa benci dan dendam untuk membalaskan rasa sakit hatiku kepada mereka dengan cara yang cukup radikal. Itu saja.” Singkat Giovanni sambil terbatuk-batuk mengeluarkan darah.

Orang itu cukup tertegun. Ia tidak menyangka ceritanya akan sesingkat ini.

“Kau yakin, hanya karena itu kau membunuh orang tuamu? Hanya itu?” tanyanya.

“Sebenarnya, tidak. Ada yang lebih pribadi dan lebih rahasia daripada itu. Kalau kau tidak keberatan, aku memintamu untuk mendekat, karena aku hanya ingin mengatakan hal ini kepadamu.”

Ditelan rasa penasaran yang dahsyat. Orang itu langsung mendekatkan kepalanya ke arah mulut Giovanni. Tetapi tepat disaat rasa penasarannya meluap, begitu juga dengan memancarnya darah di bagian perutnya yang tertusuk gunting bedah yang dipegang tangan Giovanni. Ia terkejut, ia melihat ke arah Giovanni yang tersenyum lebar.

“Penasaran dapat membunuh seekor kucing. Kau pasti tahu peribahasa itu? Dan maaf, tidak ada pengakuan yang sesungguhnya. Aku melakukannya hanya untuk kesenangan saja, kau tahu. Itu saja.” Ucap Giovanni lembut.

Giovanni menarik gunting itu dengan cepat dan langsung menusukkannya ke jantung orang berjas putih itu. Kini jas putih itu merah berlumuran darah bagai kebun mawar yang sedang dalam masa mekarnya. Kemudian orang itu langsung ambruk jatuh ke atas lantai, dan Giovanni terkekeh-kekeh kegirangan sambil memotong sabuk yang membelenggunya. Dan dengan sigap meskipun dengan leher yang sedikit terpotong, ia berlari sekuat tenaga mendobrak pintu dan berusaha mencari jalan keluar. Sementara itu, para petugas rumah sakit jiwa mulai mengejar Giovanni dengan cepat. Giovanni berlari melirik kesana kemari, namun yang dilihatnya hanyalah kumpulan orang-orang yang tidak lagi memiliki akal sehat dan lorong-lorong putih yang nampak sama setiap kali ia melihatnya. Sementara itu, para security mulai ikut menggeledah isi rumah sakit untuk menghentikan Giovanni yang melarikan diri. Setelah sekita 1 jam, Giovanni berlarian, ia sudah mulaia kehilangan staminanya dan berhenti di sebuah lorong gelap dan masuk kedalam sebuah ruangan usang yang nampak tidak pernah terurus lagi. Ia masuk kedalamnya dan menyandarkan diri di tembok sudut ruangan itu.

Nafas Giovanni tersengal-sengal. Keringatnya mengucur deras dipelipisnya. Kehilangan banyak darah membuatnya semakin lelah. Kemudian bola mata abu-abunya yang besar mulai mecari sesuatu di sekitar ruangan itu. Dan ia mengambil sebuah pecahan kaca yang cukup tajam.

“Jika ini adalah hal terakhir yang aku lakukan. Aku… Aku akan merasa sangat puas. Dan aku tidak lagi menaruh dendam pada siapapun.” Ucapnya.

Giovanni mulai menekan urat nadinya dengan pecahan kaca itu. Namun belum juga pecahan kaca itu menyayat urat nadinya, seseorang di belakangnya membuka pintu dan DOR!!! Menembak kepala Giovanni dengan cepat dan tepat.

Bola mata Giovanni bergerak ke atas dan mulutnya menganga lebar. Kepala bagian kirinya tembus oleh peluru dan mengucurkan darah yang menyembur begitu banyak. Dalam sepersekian detik tubuhnya langsung terjatuh keatas lantai. Tak bernyawa.
Pihak rumah sakit sangat bersyukur atas selesai nya misi mereka untuk membinasakan orang gila yang paling berbahaya dan paling mengancam bagi mereka dan masyarakat sekitarnya. Sekarang tidak ada lagi pembunuh gila berdarah dingin di kawasan yang terpencil ini. Hilang sudah ancaman mereka. Namun, untuk menghormati rasa sakit hati Giovanni yang tidak terbendung, pihak Rumah Sakit Jiwa menguburkan jasadnya di belakang halaman rumah sakit tempat dimana orang-orang gila lainnya yang ‘tidak dapat terobati’ berada.

*

Chapter I: The Homecoming Queen

Chapter I
*
Langitnya biru cerah. Tiada sesuatu menghalangi kecerahannya. Bahkan awan putih pun enggan untuk mengganggu. Setiap pohon dipinggir jalanan nampak begitu hijau dan segar. Burung-burung berkicau dengan riang. Suasana sangat tenang hingga sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi melewati jalanan itu.
Didalamnya, terdengar sebuah suara gumaman lagu yang cukup merdu dan lembut. Di kursi depan, terdapat seorang pria paruh baya berumur 30-an mengendarai mobil sambil tersenyum simpul. Ia memegang kaca spionnya dan tersenyum lebar kepada seseorang di kursi bagian belakang. Di kursi itu terdapat seorang gadis remaja dengan kulit putih cerah merona, tubuh semampai, dan rambut pirang emasnya yang panjang dan bergelombang bagai ombak di alam kahyangan. Pria itu tersenyum,
“Baiklah, kini lagu apa yang kau nyanyikan, Sayang? Yang ini nampak lebih merdu dari sebelumnya.” Ujar Pria itu.
“Ini masih lagu Taylor Swift, Ayah. Judulnya You Belong With Me.” Jawab gadis itu sambil melirik Ayahnya dengan mata hijaunya yang terang.
Baru saja gadis itu mendengar 1 menit lagu favoritenya, mobil sudah berhenti di depan pintu gerbang sekolahnya. Ia menghela nafas panjang sambil menyandang tas selempang ungunya yang elegan. Ia menjulurkan kepalanya ke bagian jok depan kursi tempat Ayahnya mengemudi. Kemudian mencium pipi Ayahnya dengan lembut.
“Aku pergi sekolah, Ayah. Sampai jumpa!” pamit gadis itu sambil berlari keluar. Ayahnya hanya mengangguk sambil tersenyum lebar dan kemudian pergi melesat dengan mobilnya.
Gadis remaja itu melangkah masuk ke dalam gerbang sekolahnya yang mewah dan megah. Ketika kaki kanannya menginjak tanah sekolah, semua mata anak-anak tertuju padanya. Jutaan senyuman ramah mereka lemparkan pada gadis itu.
“Selamat pagi, Clara!” sapa semua murid yang ada disana.
“Selamat pagi juga semuanya!” jawab Clara.
Clara Bennington, namanya. Gadis paling populer dan multi talenta di sekolah ini. Ia seorang gadis yang sangatlah sempurna. Ia pintar, cantik, sexy, baik hati, kaya raya, atletis, sportif, tahu cara mengadakan pesta-pesta terbaik, dan seorang seniman dengan daya artistik sangat tinggi. Ia lah gadis idaman para lelaki. Bak seorang Ratu.
“Hey, Ratu Homecoming! Kukira kau akan datang lebih pagi, hari ini!” sapa teman dekatnya, seorang gadis dengan rambut coklat panjang.
Sudah kuduga ia seorang Ratu di sekolah ini…
“Hai juga, Daisy! Haha maafkan aku, aku tadi sibuk mempersiapkan barang-barang untuk hari ini.”
“Oh, barang-barang rupanya. Memangnya apa yang kau persiapkan?”
“Kamera, sketchbook, spidol, crayon, pensil warna, cat air…”
“Ya, ya, ya, cukup Clara. Aku tahu ini pasti adalah proyek senimu itu kan?”
Clara tersenyum manis menganggukkan kepala. “Baiklah, kalau begitu aku harus masuk ke dalam kelas untuk menyimpannya terlebih dahulu, okay? Temui aku di lorong, Daisy!” ucapnya.
Daisy mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya. Clara bergegas masuk ke dalam kelasnya. Hingga akhirnya seorang anak laki-laki menabrak tubuhnya dengan kasar hingga ia terjatuh.
“Aw!” seru Clara tepat saat bokongnya mencium lantai dengan cukup keras. Clara menatap wajah lelaki yang menubrukknya. Namun si lelaki sudah menatap dirinya dengan tajam.
“Apa?! Kau berharap aku akan berlutut dan membantumu membereskan barang-barangmu?! Tidak, Clara. Aku bukan lelaki yang menginginkan gadis manja sepertimu.”
Kemudian anak lelaki itu berlalu sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Clara hanya menghela nafas panjang sambil memunguti barang-barangnya yang berjatuhan.
“Aku tidak mengerti, apa masalah yang dihadapi laki-laki itu.” Gumam Clara sendirian.
Clara masuk kedalam kelas dan merapikan barang-barangnya. Kemudian ia keluar kembali, berjalan menuju lorong untuk menemui Daisy. Daisy cukup tertegun melihat tatanan rambut Clara yang pirang sedikit kacau.
“Wow, apakah kau baru saja menghadapi sebuah tornado kecil?” tanya Daisy.
“Tidak, ini… Aku tadi bertabrakkan dengan Carter. Itu saja.”
“Oh tidak, jangan lelaki abnormal itu. Mengapa ia selalu bertindak sinis terhadapmu?” tanya Daisy dengan tatapan sebalnya sambil merapihkan kembali rambut sahabat baiknya itu.
“Entahlah. Dari awal kami sekelas saat kelas sepuluh, ia memang sudah tidak menyukaiku. Aku mungkin memang bukan tipenya. Tetapi, ah entahlah.”
“Clara, kau harus melawannya. Kau tahu, kau adalah perempuan. Kau tidak berhak diperlakukan kasar seperti itu. Terlebih oleh seorang lelaki.”
Clara hanya menghela nafas. Pandangannya melemah dan ia menunduk dalam-dalam. Melihat Clara bergelagat seperti ini, Daisy kelihatan geram.
“Oooooh ya ampuun, jangan bilang kalau kau masih menyukainya, Clara! Sekolah ini memiliki 18 kelas, dengan 65% lelaki didalamnya. Ayolah, Carter bukanlah satu-satunya yang dapat kau sukai. Masih banyak lelaki yang lain yang jauh lebih baik dan pengertian terhadap kau. Lagipula apa hebatnya laki-laki itu. Setiap hari ia selalu berpakaian ala berandal dengan warna hitam kelam yang dominan. Beberapa tindik di tubuhnya. Dan… Memiliki emosionalitas yang sangat tidak stabil juga temperamen tinggi. Ukh, aku benci lelaki itu!” omel Daisy sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Sudahlah, Daisy. Kau tidak perlu memakinya terus-terusan. Lagipula, memang benar apa yang baru saja kau katakan. Lelaki tidak hanya dia.” Sela Clara sambil tersenyum lebar.
Daisy tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang besar dan rapi. “Itu dia, Clara-ku! Lagipula beberapa waktu kemudian kau akan ulang tahun, aku tidak sabar menunggu saat itu datang! Aku yakin ulang tahun mu yang ke-17 ini akan menjadi hari terbaik dalam hidupmu, Clara!”
Clara dan Daisy terus terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan hingga menarik semua anak untuk ikut berdiskusi bersama mereka.
Oh ya ampun, menyenangkan sekali kehidupan Clara Bennington ini. Ia memiliki segalanya. Semua orang mengidolakannya. Sahabatnya pun sangat berlimpah ruah. Si Yang Mulia Ratu Homecoming. Gelar yang dilebih-lebihkan. Tetapi tidak dapat dipungkiri, ia memang pantas mendapatkan gelar itu.
*
Saatnya pelajaran Seni Rupa. Ms. Emilie, guru seni rupa memerintahkan semua muridnya untuk pergi ke daerah halaman sekolah yang begitu hijau untuk mencari sebuah objek pemandangan untuk kegiatan menggambar mereka.
Ketika samapai di halaman sekolah, Ms. Emilie menepuk kedua telapak tangannya, meminta perhatian.
“Baiklah, anak-anak. Kalian dapat menggambar apapun yang dapat kalian lihat didaerah sini. Tetapi aku akan lebih menghargai bagi kalian yang tidak terpatok pada apa yang sudah alam ‘berikan’ pada kalian. Aku sangat mengharapkan sesuatu yang unik. Berkreasilah, dan berfikirlah di luar kotak, anak-anak!” ujar Ms. Emilie.
Anak-anak mulai mengambil tempat yang paling nyaman untuk mereka mendapatkan perspektif mereka. Mata mereka hanya tertuju kepada sketchbook mereka dan pemandangan yang ada di hadapan mereka. Mereka menggambar dengan hening dan tertib, beberapa ada yang mencocokkan handsfree ke dalam telinga mereka.
Tiga puluh menit berlalu. Ms. Emilie kembali ke tengah halaman sekolah, sekali lagi ia menepuk kedua telapak tangannya. Dan disaat itu pula lah anak-anak bangkit dari tempat mereka dan mengumpulkan sketchbook mereka kepada Ms. Emilie. Ms. Emilie menyimpan semua sketchbook itu diatas rerumputan hijau dan duduk melingkar bersama murid-muridnya.
“Ms. Emilie. Apa yang menarik dari tugas kali ini? Dan apa hadiah utama bagi juara utama?” tanya salah satu murid.
“Baiklah, kalian mengharapkan sebuah hal yang menarik lagi ya? Umh, mungkin, untuk gambar terbaik, akan aku rekomendasikan hasilnya kepada Kepala Sekolah dan dimasukkan dalam majalah dinding serta bagian kolom ARTIST di koran sekolah.” Jawab Ms. Emilie.
Anak-anak tersenyum, mereka saling berbisik satu sama lain, saling berkompetensi untuk memenangkan sebuah penghargaan itu. Ms. Emilie, tersenyum kecil, ia mulai membuka sketchbook itu satu persatu dan menatanya rapi diatas rerumputan. Anak-anak bisa melihat karyanya dan karya orang lain yang saling bersandingan. Mungkin bagi orang-orang yang tidak berbakat dalam bidang ini, akan memberi nilai 100 kepada semuanya. Tetapi Ms. Emilie mencari sesuatu yang berada di luar kotak, seperti yang ia katakan. Dengan cekatan ia menggoreskan spidol merahnya dan menorehkan angka-angka kepada beberapa sketchbook.
“Silahkan bagi yang gambarnya sudah diberi nilai, kalian bisa mengambilnya.” Kata Ms. Emilie. “Tetapi, aku akan membawa kedua gambar ini ke ruang kepala sekolah sekarang juga. Inilah juara utama kita dalam tugas kali ini.”
Anak-anak sedikit tercengang, melihat Ms. Emilie memegang kedua gambar di kedua tangannya. Di tangan kanannya terdapat sebuah gambar daun semanggi, rumput alang-alang, bebatuan, serta air embun yang diperbesar hingga mirip sekali dengan zooming dalam kamera dan komposisi warna cerah yang menakjubkan dan menyegarkan. Sementara di tangan kirinya terdapat sebuah gambar halaman sekolah dengan pemandangan yang tidak menyenangkan, semua yang hijau justru menjadi kebalikannya. Pepohonan kering kerontang, rumput-rumput layu, bunga-bunga mengering, dan langit sangatlah gelap. Namun gambar itu sangat menakjubkan seakan hidup, dan digambar dengan menggunakan arang. Meski warnanya hanya meliputi hitam, abu, putih, tetapi gradasinya sangatlah hebat.
“Umh, Ms. Emilie? Apakah kau bilang akan terdapat dua pemenang dalam tugas kali ini?” tanya salah satu murid.
“Tidak, tetapi kedua gambar ini tidak dapat dihilangkan salah satunya. Maka dari itu kita memiliki dua pemenang. Mereka lah dua seniman yang berfikir sangat amat berada di luar kotak. Pikiran mereka, inspirasi mereka tak berbatas. Mereka memikirkan hal kecil, dan mereka memikirkan apa yang kalian tidak pernah pikirkan. Baiklah, kalau begitu, pemenangnya adalah….” Ms. Emilie, membalik masing-masing sketchbook itu untuk melihat nama pemiliknya. “Clara Bennington dan Carter Wakeman.”
Clara sedikit terbelalak, sedikit senyuman tersirat dalam hati dan pikirannya, namun ia tidak dapat mengungkapkannya lewat ekspresi di wajahnya, karena matanya melihat ekspresi Carter yang sangat tidak menyenangkan. Setelah beberapa menit Ms. Emilie berbicara, akhirnya ia pergi sambil membawa sketchbook milik Clara dan Carter. Sebelum Clara berbicara pada Carter, lelaki itu sudah beranjak pergi dan meninggalkannya. Clara menarik nafas panjang sambil mengusap dadanya.
“Baiklah, tidak apa. Tidak hanya dia. Aku tahu laki-laki bukan hanya dia. Aku tidak boleh terpuruk hanya karena lelaki yang belum tentu akan mencintaiku sebaliknya. Oh Ya Tuhan…. Tolonglah hamba…” ucap Clara perlahan.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Sekolah sudah usai. Clara keluar dari kelasnya dengan wajah yang sedikit kusam, mungkin karena lelah. Sementara itu Daisy yang tengah sedang membagi-bagikan kertas pink kepada semua orang langsung salah tingkah ketika melihat Clara dari jarak jauh.
“Hai Daisy. Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Clara.
“Uh… Ah… Oh… Aku hanya… Ya.. Haha, Baiklah, aku hanya memberikan kertas-kertas tugas yang pernah aku pinjamkan kepada teman-teman yang lain.” Elak Daisy memberitahukan yang sebenarnya.
“Begitukah? Kalau begitu banyak sekali orang yang kau pinjami tugasnya, Daisy?”
“Ya, haha begitulah… Uhm Clara apakah kau ingin pergi saat ini?”
“Tidak. Aku hanya ingin langsung pulang. Rasanya aku jadi tidak bersemangat dan sangat lemas.”
“Uhm.. Baiklah, kalau begitu cepatlah pulang. Aku yakin kau sangatlah lelah. Jangan sampai kau kehabisan tenaga, Clara. Tidurlah yang nyenyak. Istirahat yang banyak ya. Sampai jumpa.”
Daisy terlihat sangat buru-buru. Ia langsung pergi meninggalkan Clara tanpa melambaikan tangannya ataupun menolehkan kembali wajahnya ke belakang. Baiklah, kini kutarik kembali kata-kataku tentang betapa menyenangkannya hidup Clara. Mungkin kali ini memang bukan Hari Miliknya. Clara berjalan ke luar sekolah. Menunggu bis di depan halte. Dan menaikinya.
“Mmmmhhhhhh.” Desah Clara gundah. “Baiklah. Tidak apa. Ini hanya satu hari saja. Dua hari kemudian, adalah hari yang istimewa. Aku tidak mungkin gundah seperti ini lagi.” Ucapnya menyemangati diri.
Clara menghabiskan waktunya diam di bis sambil memperhatikan pemandangan hijau di luar kaca bis. Hal ini membuatnya sedikit tenang. Sampai akhirnya ia tidak menyadari bahwa ia sudah sampai didepan rumahnya. Clara turun dari bis, dan langsung memasuki rumahnya.
“Selamat datang ke rumah, putriku tersayang!’ sambut Ibu Clara sambil mencium pipinya.
“Hai Bunda. Ya, terima kasih.” Jawab Clara lemas sambil memeluk Ibunya.
“Oh ya ampun, ada apa ini, sayangku? Kau sakit?”
“Tidak, hanya sedikit lelah saja.”
Clara pergi menuju kamarnya sambil tersenyum manis seperti biasa, sehingga Ibunya tidak perlu khawatir akan keadaanya. Setelah memasuki kamarnya yang dipenuhi warna hijau muda dan biru langit, Clara langsung merebahkan diri diatas ranjangnya. Belum pernah ia merasa sepenat ini. Hanya dalam hitungan detik Clara sudah dapat memejamkan matanya dan pergi kedalam bunga tidurnya.
*
Clara membuka matanya. Ia berada di dalam sebuah rumah tua kotor yang tak terurus dan sangatlah bau. Isinya sangat berantakan. Semua perabot rumah tidak pada posisi dan tempat yang sebenarnya. Dan ada bau amis yang sangat menyengat hidungnya. Keadaan sangatlah gelap dan mencekam. Clara bingung akan hal ini. Apa yang ia lakukan di tempat ini? Ia tidak tahu. Clara hanya berjalan sedikit sambil meraba-raba benda yang ada di sekitarnya. Kini pikirannya mulai kacau dan perasaannya mulai panik. Clara merasa bahwa semua gerak-geriknya ini yang memperhatikan. Meskipun tempat ini gelap gulita. Tetapi sepertinya ada yang memperhatikan. Sampai akhirnya tiba-tiba ada sesuatu yang menyala dan berbunyi. Cahayanya putih keabu-abuan dan suaranya seperti sebuah rekaman yang rusak. Datangnya dari lantai kedua dari tempat Clara berdiri. Karena cahaya putih keabuan itu, ia dapat melihat sedikit jalan yang dapat menuntunnya pergi ke cahaya itu. Semula Clara sangat senang menemui cahaya itu, ia mengira itu adalah pintu keluar dari tempat yang menyeramkan ini. Namun ketika Clara berlari menuju cahaya yang terdapat dalam ruangan di ujung lorong lantai dua itu, yang ia lihat hanya sebuah televisi kecil kuno yang sudah rusak. Menayangkan sebuah siaran rusak. Hal ini sangat mengecewakan. Namun tiba-tiba siaran itu berubah menjadi potongan gambar-gambar. Mulanya sebuah gambar yang tidak jelas, namun semakin lama gambar itu semakin jelas. Terlihat seseorang, kepalanya menunduk. Beberapa detik awal tidak ada suara apapun dari rekaman itu. Namun setelah 10 detik kemudian, terdengar suara isak tangis keluar dari rekaman itu. Suara orang itu nampaknya. Lalu juga terdengar suara parau seperti orang memohon. Tetapi secara tiba-tiba rekaman itu hilang. Dan televisi itu pun mati, keadaan menjadi gelap gulita. Clara kembali merasa ketakutan, saat ia mulai melihat sekeliling, ia melihat sesosok bayangan datang mendekatinya. Clara berusaha lari menjauh tetapi seseorang memegangi kakinya.
“Tidak. Tidak ada yang bisa lari dari kematian. Termasuk kau juga. Ingatlah, kematian tidak bisa diperkirakan. Persiapkanlah dirimu secepatnya untuk menghadapi hal itu.” Ucap sebuah suara yang datangnya dari bawah kaki Clara yang tertahan.
“Aaaaaaaaah tidaaaaaaaaaak!!!!” teriak Clara.
Ia terbangun. Matanya kini benar-benar membuka sungguhan. Ia berada di kamarnya yang cerah dan rapi. Keringat dingin mengucur melewati pelipisnya yang mulus. Air mata menggenang di kelopak matanya. Nafasnya terengah-engah seakan ia baru saja dikejar oleh sepasukan mayat hidup brutal.
“Clara?! Apa yang terjadi, nak?” tanya Ibunya dari lantai bawah.
Clara masih menarik dan membuang nafas perlahan-lahan. “Tidak apa-apa Bunda. Hanya mimpi buruk saja.” Jawab Clara. Ia masih sedikit shock. “Umh, itu hanya mimpi buruk. Ya hanya mimpi buruk.”
Clara bangkit dari ranjangnya dan pergi keluar kamarnya. Ia membuka kulkas dan mengambil beberapa kue cokelat dan jus buah, lalu pergi ke halaman depan rumahnya. Clara menarik nafas panjang-panjang, menormalkan kembali detak jantungnya yang semula berdegup kencang. Kemudian, ia meneguk sedikit jus buahnya dan bernafas lega.
“Aaah, syukurlah itu hanya mimpi, Ya Tuhan. Oh ya ampun.” Clara masih merenungi mimpi itu. Meskipun ia tahu itu hanya mimpi buruk. Namun hatinya tidak dapat berbohong bahwa mimpi itu seakan memberitahukannya sesuatu. Sesuatu yang asli, konkret, nyata, dan tak dapat dipungkiri. Mimpi itu seperti pesan malaikat maut akan kedatangan ajal Clara yang tak lama lagi.
Matanya terbelalak, ya, bisa jadi itu adalah pesan kematiannya. Tetapi pikiran dan logika Clara menyangkalnya dengan keras. Clara menggelengkan kepalanya dengan keras, seperti hendak mengeluarkan air yang masuk kedalam telinganya. Namun semakin ia menyangkal, hatinya menjadi semakin gelisah dan terus berteriak bahwa itu memang benar sebuah pesan ajal kematian! Clara terhenyak dan langsung bangkit dari duduknya.
“Haha… Hahaha…” tawa seseorang yang berdiri di depan pagar rumah Clara.
Clara menengadah dan melirik orang tersebut. Seorang gadis, mungkin sebaya dengannya. Penampilannya sangat aneh. Rambutnya hitam sedikit panjang dengan gaya yang berantakan. Bajunya robek-robek dan nampak sudah sangat tua untuk dipakai. Kulitnya pun seperti sebuah keju yang sudah membusuk selama 5 tahun. Clara terus memperhatikan gadis itu dengan aneh. Tiba-tiba gadis itu melirik ke arahnya dengan sedikit wajah yang terlihat dan matanya yang tajam.
“Kenapa begitu serius?” tanya gadis itu sambil tertawa kecil. Kemudian ia langsung pergi begitu saja dari hadapan Clara.
Kini jantung Clara berdegup kencang kembali. Dan rasa penasarannya kini meluap dan bergejolak. Hatinya menggerakkan dirinya untuk harus mengetahui gadis aneh tadi. Maka Clara langsung berlari menuju pintu depan rumahnya sambil melihat gadis itu dari kejauhan. Gadis itu masih ada. Clara mengejarnya. Namun gadis itu seperti berjalan dengan sangat cepat. Clara harus dapat memanggilnya, kebetulan gadis itu sedang berjalan di samping tetangganya.
“Ah, Mr. Brown, tolong hentikan gadis disamping Anda!” seru Clara kepada Mr. Brown.
Mr. Brown menoleh ke arah sampingnya, namun ia seperti malah kebingungan. Ia menoleh kiri dan kanan. Padahal sudah jelas gadis itu berjalan tepat di samping sebelah kanannya. Tepat di sampingnya! Mr. Brown terus celingukan memutar tubuh dan kepalanya untuk mencari gadis yang Clara maksud. Karena Mr. Brown celingukan terlalu lama, gadis itu kini sudah menghilang dari pandangannya. Clara berhenti melangkah dan memandang kecewa ke arah gadis itu menghilang. Ia menghampiri Mr. Brown.
“Menagapa Anda tidak memanggilnya Mr. Brown?” tanya Clara dengan nada kecewa.
“Hah? Memanggil siapa yang kau maksud, Clara? Tidak ada siapa-siapa di sekitar sini tadi selain kau dan aku saja.” tanya Mr. Brown balik.
“Apa? Tapi, tadi jelas-jelas seorang gadis berjalan tepat disamping Anda! Dia… Dia berpakaian seperti seorang tuna wisma dan warna kulitnya sangat aneh! Kau pasti melihatnya, Mr. Brown! Jangan bercanda, kumohon.”
Mr. Brown menghela nafas panjang. Ia memegangi dahi Clara.
“Clara, apakah kau sakit? Mungkin kau sedikit berkhayal, nampaknya kamu sangat lelah bagaimana kalau kau pulang dan beristirahat?”
Clara terbelalak. Ia langsung berlari ke arah rumahnya tanpa berkata apapun lagi. Meninggalkan Mr. Brown yang melihatnya dengan aneh. Clara sampai di rumahnya, ia ingin langsung masuk dan pergi ke kamarnya. Namun pintu utama dikunci dan tertinggal catatan bahwa Ibunya pergi untuk membeli bahan makanan. Maka Clara langsung lari melewati pintu garasinya yang gelap. Sebelum ia masuk ke dalam rumah, Clara merasa lemas. Matanya merasa panas sampai akhirnya air mata membasahi pipinya. Terdengar isakan halus keluar dari mulutnya.
Baiklah, ini tekanan yang sangat berat bagi Clara. Sekali dalam seumur hidupnya ia merasakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Sesuatu yang tidak mungkin dialami oleh para Putri di dunia ini. Apa yang terjadi padanya hari ini? Tadi pagi tidak ada satupun kejadian abnormal seperti ini yang ia alami. Hubungannya dengan Carter? Itu sudah berjalan selama 1 tahun lebih hingga sekarang, dan lagipula itu bukan lah kejadian yang terlalu buruk bagi Clara. Tidak ada kejadian yang lebih aneh lagi. Belum pernah seumur hidupnya Clara sangat ketakutan seperti ini. Clara menyeka air matanya dan melihat lurus dengan tatapan kosong. Otaknya mulai berfikir kembali. Logikanya mulai berjalan kembali. Dan akhirnya hatinya menjadi tenang kembali. Clara menarik dan membuang nafas perlahan untuk menormalkan keadaan emosinya.
Clara masuk ke dalam kamarnya, membuka jendela kamarnya dan menghirup udara segar. Kini air matanya berhenti mengalir. Senyumnya mulai mengembang kembali. Clara tersenyum dan melihat langit cerah diatasnya yang menyinari sinar matahari hangat ke seluruh alam. Pemandangan favoritenya sepanjang masa, terlebih sekarang, pada saat musim semi yang indah. Saat angin sepoi-sepoi menerpa rambut pirang Clara yang indah, tiba-tiba saja sebuah botol tinta terjatuh dari meja belajarnya. Clara membalik tubuhnya, dan membereskan botol tintanya yang tumpah dan membasahi lantai kamarnya. Awalnya Clara jengkel harus membereskannya, tetapi kini otak dan hatinya kembali menjadi aneh. Otak nya berfikir, apakah botol tinta seberat 500 gram ini dapat terjatuh hanya karena angin sepoi-sepoi yang hanya dapat meniupkan tirai berbahan tipis? Apakah ada yang salah dengan tata letaknya atau anginnya menjadi kuat setelah memasuki kamar ini? Ini rasanya sangatlah tidak mungkin. Sementara itu hatinya berkata, bagaimana mungkin botol tinta ini terjatuh? Mungkinkah memang terjatuh secara tidak sengaja atau mungkin disengaja? Tetapi siapa yang menjatuhkannya? Bunda tidak ada dirumah, Ayah, apalagi? Tidak ada siapa-siapa selain Clara sendiri di rumah ini. Dan rasanya botol itu disimpan di tengah meja belajar, bagaimana mungkin ia dapat tergeser dengan jauh menuju tepi meja? Ini pasti ulah seseorang tapi siapa?
Senyum Clara kembali menghilang. Keringat dingin mengalir meluncur kembali dengan deras. Clara mengalihkan pandangannya sesaat ke arah pintu kamarnya yang sedikit melongok. Dan saat ia kembali menatap tumpahan tinta itu, tinta yang semula hitam kelam kini menjadi merah pekat. Clara terperanjat, ia berteriak, ia naik keatas ranjangnya sambil menutup wajahnya. Tetapi saat ia pindah keatas ranjang, sesuatu menetes dari atas langit-langitnya. Clara menatap langit-langitnya, dan seketika ia berteriak histeris lalu lari meninggalkan kamarnya. Memangnya apa yang tertulis diatas sana? Oh lihat, disana tertulis sebuah tulisan dengan cairan merah pekat.
“Ini serius. Kematian tidak bisa kau hindari, Clara…”
Ini memang bukan hal yang wajar. Sebenarnya apa ini? Pesan kematian sungguhan kah?
*
“Clara! Hei Clara ada apa denganmu?! Claraa?! Halooo?!?!” seru Daisy dengan khawatir sambil melambai-lambaikan tangannya didepan mata Clara.
“Ah, yah um Daisy… Tidak apa-apa aku hanya merasa tidak baik saja. Ngomong-ngomong Daisy, bolehkah aku bertanya, apakah kau menyuruh anak-anak untuk mengerjaiku menjelang ulang tahun ini?” tanya Clara yang terlihat begitu lesu.
“Apa? Mengerjaimu? Tidak mungkin, Clara! Kami tahu benar kau tidak suka diperlakukan demikian.”
“Lalu, apa yang kau bagikan kemarin pada anak-anak. Aku yakin itu bukanlah kertas tugas.”
“Baiklah, Clara. Ini demi membuatmu terlihat cerah dan bahagia lagi ya. Kemarin aku membagikan surat undangan kepada anak-anak untuk ulang tahunmu, itu saja. Terpaksa aku memberitahumu ini, tadinya aku ingin ini menjadi sebuah kejutan. Tapi aku tidak tahan melihat wajahmu yang seperti itu, ada apa Clara?”
Clara hanya menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya. Mencoba tersenyum. Sudah dari kemarin siang hingga pagi ini ia tidak tersenyum. Otot wajahnya serasa lemas. Ternyata memang benar fakta bahwa cemberut lebih banyak menggunakan banyak otot ketimbang tertawa atau tersenyum.
Bel masuk berbunyi. Clara berpamitan dengan Daisy dan mereka memasuki kelasnya masing-masing. Pada jam pertama ini, seharusnya guru sudah masuk, namun sepertinya guru tidak ada, sebab tugas diumumkan melalui ketua kelas dari awal bel berbunyi. Anak-anak lainnya sibuk berbincang, bergosip, bermain, mendengarkan musik, atau apa saja. Namun Clara hanya menatap sedih, merenung melihat langit biru yang begitu indah. Masih terngiang kata-kata mengerikan di mimpi dan langit-langit kamarnya kemarin siang. Kemudian Clara merobek sehelai kertas dari buku catatannya dan mulai menuliskan sesuatu. Ia menulisnya dengan sangat serius. Terlihat sedikit genangan air mata tertampung di kelopak matanya. Lima belas menit berlalu, ia masih menulis. Ternyata itu bukanlah sebuah coretan iseng belaka mengenai puisi atau prosa yang dibuat Clara. Itu… Entahlah itu apa, yang jelas Clara langsung melipat kertas itu dan memasukkannya ke sebuah amplop yang selalu ia bawa untuk keperluan mendadak. Keadaan kelas sangat ribut hingga jam istirahat berbunyi. Daisy sudah menunggu di ambang pintu kelas Clara, Clara datang menghampirinya. Mereka berdua pergi bersama menuju kafeteria.
Setelah mendapatkan tempat duduk favorite mereka, Clara dan Daisy mulai makan sambil berbincang-bincang dengan banyak orang di samping mereka yang ikut bergabung. Oh ya ampun, siapa sih yang tidak mau menjadi orang pertama yang dekat kepada sang Ratu sekolah yang tiada cacat. Clara mulai bisa tersenyum lebar tanpa paksaan saat ini. Sampai akhirnya pandangan matanya tertuju pada pojok ruangan kafeteria yang gelap. Mata Clara terbelalak. Susu yang ia pegang ia jatuhkan dengan spontan dan tangannya masih membeku.
“Itu… Itu dia… Gadis itu… Mengapa ia ada disini?!” bisik Clara pada dirinya sendiri.
Seorang gadis yang berpakaian seperti gelandangan yang kemarin ia lihat berdiri di pojok sana sambil tersenyum lebar lalu ia melambaikan tangannya penuh keramahan. Clara terperanjat. Ia langsung terbangun dari tempat duduknya. Daisy dan yang lainnya terheran-heran melihat gelagat Clara yang tidak biasa ini. Namun saat Clara berdiri, gadis itu langsung membalikkan badannya dan berjalan pelan, sedikit pincang kali ini.
“Tidak!!! Tidak, jangan pergi!!! Seseorang panggilkan gadis gelandangan itu!!!” teriak Clara sambil menunjuk tepat ke pojok kafeteria.
“Clara!!! Clara tenanglah!!! Duduklah, tenang dulu!!! Apa yang kau bicarakan?!” tarik Daisy sambil sedikit berbicara dengan tensi tinggi untuk membuat Clara mendengarnya.
“Daisy, tidakkah kau lihat, disana, di pojok kafeteria ada gadis berpakaian seperti gelandangan, kulitnya aneh!!! Ia mengikutiku, ia mengamatiku dari kemarin siang!!! Panggil dia!!! Panggil dia!”
Daisy bangun dari tempat duduknya, melihat ke pojokan kafeteria yang Clara tunjuk beberapa detik yang lalu. Namun, ia tidak melihat apapun. Daisy bingung.
“Umh, semuanya, terutama kalian yang duduk di daerah pojok sana, apakah kalian melihat gadis dengan pakaian gelandangan disana sedari tadi, khususnya tepat saat Clara menunjuk.” Tanya Daisy.
Semua anak menggelengkan kepalanya dengan bingung sambil bertanya satu sama lain, dan mereka menatap bingung pada Clara. Clara terbelalak semakin lebar. Ia berlari pergi dari kantin. Meninggalkan semua anak dengan rasa bingung luar biasa. Clara berlari masuk ke kelasnya. Menutup wajahnya rapat-rapat. Kemudian menangis tanpa rasa tertahan.
“Aku melakukannya lagi!!! Lagi!!! Tidak, ini hanya khayalan!!! Ini semua bohong!” jerit Clara.
Suasana kelas yang hening semakin menambah kesan mengerikan. Hanya Clara yang berada didalam kelas ini. Menangis seperti sedang meratapi hidupnya yang buruk.
“Oh ayolah, ini mungkin hanya sesuatu kecil yang kau ributkan sendiri, Clara.” Oceh seseorang.
Clara membuka wajahnya, dan melihat Carter berdiri di depan pintu kelas. “Apa maksudmu?” tanya Clara.
“Aku tahu kau sedang mengalami gangguan semacam… Gangguan supranatural seperti itu. Aku sering melihatnya, namun kau tidak perlu sesedih itu, itu terlalu berlebihan.”
“Tapi, Carter, darimana kau tahu itu?”
“Aku memiliki teman, sesama laki-laki. Ia memiliki kemampuan yang luar biasa. Sebuah indra keenam. Aku ingin sekali tertawa saat pertama kali mendengarnya, itu terdengar konyol. Namun nyatanya hal itu luar biasa. Hal itu menakjubkan sekaligus menyeramkan. Kau belum apa-apa. Temanku yang satu ini sudah hampir dipenjara karena ia terduga sebagai salah seorang dukun jahat.”
“Bagaimana bisa?”
“Ia dapat melihat sesuatu melewati mimpi yang akan terjadi di masa depan, namun mimpi itu muncul dalam teka-teki yang sangat butuh kombinasi logika dan imajinasi yang akurat. Kini ia terduga sebagai dukun jahat, karena ia mengatakan bahwa jika sekarang-sekarang apabila seseorang mendapat sebuah gangguan aneh berupa hal-hal yang gaib dan mustahil, sepertinya orang tersebut akan mengalami kematian yang ironis dan sangat… Ya mengerikan. Berhubung memang banyak orang yang mendapat gangguan seperti itu, mereka memprotes perkataannya dan melaporkannya pada polisi. Hal konyol.”
Clara sedikit kaget. Kematian? Yang ironis dan mengerikan? Padanya? Haruskah ia percaya pada perkataan Carter. Sejauh ini Carter tidak pernah berbicara lebih dari satu kalimat kepadanya. Namun kini ia benar-benar menceritakan sesuatu sepanjang cerita penghantar tidur. Ini aneh. Clara merasa takut, namun juga bingung. Apakah ia harus mempercayai perkataan Carter? Nampaknya ia hanya ingin menakut-nakuti saja. Tetapi mengapa ia tahu mengenai hal ini? Apakah ia memang ingin memberi tahu Clara hal yang sesungguhnya.
“Itu terserah padamu. Kau mau percaya atau tidak itu adalah keputusanmu.” Kata Carter sambil meninggalkan Clara, entah kemana.
Clara berhenti menitikkan air matanya. Kini ia memutar otaknya dengan keras. Kemudian, setelah semenit, ia memantapkan keputusannya. Ia mengeluarkan buku catatannya, merobek lagi sehelai kertas darinya, kemudian kembali menulis sesuatu dengan serius. Gerakan tangannya yang lentik dalam menulis huruf sambung sangat cepat. Tepat disaat ia melipat kertasnya, Daisy dan teman-temannya menyusul.
“Clara, kau baik-baik saja?!” sahut Daisy dan yang lainnya.
“Tidak. Aku tidak baik.” Jawab Clara lesu. Kemudian ia berdiri diantara teman-temannya, “Semuanya, aku ingin meminta maaf atas banyak kesalahan yang aku lakukan kepada kalian. Baik itu sengaja ataupun tidak disengaja. Aku menyayangi kalian, seperti menyayangi keluargaku sendiri. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas semuanya. Aku harap kalian memaafkan aku.” Ucap Clara lirih sambil berlinang air mata.
Anak-anak lainnya menatap Clara aneh. Namun, mereka tersenyum kecil. “Tenang saja Clara, kau akan selalu kami maafkan. Lagipula, kami yang harusnya minta maaf, siapa tahu kami yang memiliki salah kepadamu.” Jawab anak-anak.
Clara tersenyum lebar dengan pahit. Ia merangkul semua temannya dan menggenggam erat bahu Daisy, sahabatnya sambil menangis. Ditengah keadaan yang canggung dan menyedihkan ini, Carter masuk menerobos kerumunan. Ia mengambil tas Clara.
“Ayo pulang, Clara. Aku tahu keadaan tidak akan menjadi baik apabila kau bertahan di sekolah sampai jam pulang. Akan ku antar kau.” Ujar Carter tanpa melihat sama sekali wajah Clara dan yang lainnya.
Clara hanya mengangguk. “Carter, maaf merepotkanmu.” Ucap Clara.
Carter meliriknya sedikit, “Ya tidak apa-apa. Dengan membuat keputusanmu sendiri tanpa menyusahkan orang lain saja, aku sudah memaafkanmu.” Jawab Carter tajam.
Daisy menggeram dengan keras. Namun Clara menahannya, ia menyuruh Daisy untuk menahan amarahnya. Clara tersenyum manis, Daisy tidak dapat menolak permintaan sahabatnya yang baik hati itu. Kemudian Clara meninggalkan kelas, anak-anak, dan sekolah sambil melambaikan tangannya dengan lemas.
Clara dan Carter berjalan menuju keluar sekolah, dan Carter memimpin jalan. Ia belok ke arah kiri sambil membawa tas selendang Clara yang berwarna pink tanpa menghiraukan gelak tawa geli dari orang-orang yang melihatnya. Clara hanya terdiam sebentar, alisnya mengkerut.
“Carter! Apa yang kau lakukan?!” teriak Clara sedikit marah.
“Apa? Kau mau membawa tas-mu sendiri. Baiklah, ini, ambillah!” jawab Carter dingin.
“Bukan!!! Apa maksudmu?! Sudah seharusnya kau membawakan tas itu! Dan apa maksudmu, bukankah kita akan pulang dengan naik bis?!” jerit Clara sambil menghentakkan kakinya.
Carter tertegun, namun dengan cepat ia dapat langsung menghilangkan rasa kagetnya itu. Ia datang mendekati Clara yang sedang bertolak pinggang menatapnya kesal.
“Tas? Maaf, ini tas milik siapa? Nenekku saja tidak pernah meminta Kakekku membawakan tas belanjanya meskipun tas itu sangat berat. Dan Bis? Rumahmu hanya berjarak tiga blok dari sekolah ini, dan kau ingin menaiki bis, Clara? Baiklah, kalau itu maumu. Kau, naik bis. Aku akan berjalan kaki. Dan tas mu, akan kucarikan seorang penjilat yang mau membawakannya untukmu.” Ujar Carter sambil melepaskan tas Clara dan menjatuhkannya di tanah.
“Carter!!! Masa bodoh dengan Nenek dan Kakekmu itu! Aku bukanlah nenekmu! Dan apa maksudmu dengan berjalan kaki?! Aku bukan rakyat jelata! Aku memang seharusnya tidak mempercayaimu!” ucap Clara dengan nada keras.
“CUKUP!!! KAU MAU KUANTAR ATAU TIDAK?!?!” teriak Carter sambil hendak melambungkan tangannya untuk diayunkan menuju pipi mulus Clara.
Ayunan itu untung saja tertahan dan tepat disaat itu anak-anak dari dalam sekolah berhamburan keluar, mendengar suara gaduh itu. Dan Daisy keluar menerobos kerumunan itu.
“Baiklah, apa ini?! Apa yang kau lakukan, Carter?!” bentak Daisy kepada Carter.
Daisy dan anak-anak lainnya melihat posisi tangan Carter yang hendak menampar wajah Clara.
“O… Oh, menampar Clara rupanya? Enyah kau, Carter! Aku tahu kau memang tidak menyukai Clara, karena kau memang tidak pantas untuk dapat disandingkan dengannya! Aku tahu kau hendak mengambil hatinya dengan mengantarnya kan?! Iya kan, Carter?! Dasar laki-laki murahan!!!” teriak Daisy sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya tepat didepan wajah Carter.
“Baiklah, terserah kau mau bicara apa. Aku mengantarnya karena aku ingin memberikan kesan baik saja. Aku memang membencimu, Clara, dan semua kru penjilatmu yang menjijikan ini, namun aku tahu apa yang akan terjadi, aku tahu, dan aku tidak mau membiarkan rasa benciku ini hingga akhir hayat kepadamu. Namun, sayang sekali. Kau hebat sekali, kini hingga akhir hayatmu pun, aku akan tetap membencimu, Clara Bennington!!! Sudah kuduga, seorang Ratu memang selayaknya memiliki sifat buruk seperti itu! Aku tahu itu, sedari dulu…” jawab Carter.
Kemudian Carter pergi masuk ke dalam sekolah, tanpa menghiraukan ocehan anak-anak lainnya. Sementara itu Clara mulai membuat beberapa genangan air mata di kelopak matanya. Clara mulai menangis, Daisy dan anak-anak lainnya mulai mengerumuninya dan membuatnya tenang. Sementara itu didepan pintu masuk sekolah, Carter menatapnya penuh dengan rasa benci, sambil dipeluk oleh banyak temannya, Clara menyeringai kepada Carter, menunjukkan kemenangan. Carter hanya mengerutkan alis dan dahinya dan kemudian masuk menuju lorong sekolah.
“Baiklah, Ratu, kemenangan ini tidak abadi… Namun Kematian adalah penderitaan yang akan lebih lama tenggang waktunya dibanding kemenangan dan popularitas kecilmu ini…” ujar Carter dengan suara seraknya yang menyeramkan.
*
Clara pulang diantar dengan mobil mewah juga dengan beberapa temannya. Kini tidak ada lagi rasa khawatir dalam hatinya. Ia tidak memepercayai lagi perkataan Carter, dan sejauh perjalanan tadi ia tidak melihat adanya sesuatu yang aneh kembali. Mungkin saja ini memang akal-akalan Carter yang menyukainya, dan teman-teman laki-lakinya mengatakan bahwa Carter seringkali dituduh menggunakan beberapa ilmu perdukunan dan sihir hitam dengan organisasi rahasia. Bagiku ini konyol, maksudku, ini adalah abad-21 dan Carter hanyalah seorang anak remaja yang tidak banyak bicara. Tetapi Clara dan anak-anak gadis yang lainnya mempercayai hal sebodoh itu. Lagipula kini Clara sudah mendapatkan pacar selama dalam perjalanan. Seorang anak lelaki kaya dengan rambut pirang yang lurus dan sangatlah macho. Dialah yan memberikan tumpangan mahal dengan mobil mewahnya dan mampu merebut hati Clara dengan mudahnya.
“Baiklah, Jason, terima kasih atas tumpangannya, Daisy, dan yang lainnya juga!!! Aku cinta kalian semua!!!” pamit Clara dengan langkah yang melenggak-lenggok menuju pintu rumahnya.
“Ya, dan jangan lupa untuk hari spesialmu besok, Clara!!!” jawab Daisy.
Mobil pun melesat. Clara melambaikan tangannya penuh rasa senang. Kemudian ia masuk kedalam rumahnya. Tidak ada siapapun didalam rumahnya. Mungkin orang tuanya sedang membeli benda-benda untuk ulang tahunnya esok hari. Besok adalah hari terbaik yang akan pernah Clara rayakan. Clara merebahkan dirinya diatas ranjangnya. Tersenyum lebar. Namun ketika melihat langit-langit kamarnya ia merasa gelisah kembali. Ia menutup pintunya untuk memastikan tidak akan lagi terjadi sesuatu yang aneh. Tetapi saat Clara menutup pintunya, seseorang berdiri di balik pintu kamarnya menyeringai lebar. Clara terperanjat, ia kaget hingga terjatuh.
“Tidak, jangan kau lagi!!! Pergi kau! Pergi, kau menghancurkan reputasiku!!! Kau menghancurkan reputasiku, dan menjatuhkan harga diriku!!! Pergi!” jerit Clara sambil menutup matanya.
“Oh ini dia, gadis manisnya. Kau ingin memanggilku kan? Aku sudah ada disini, siapa namamu? Clara ya? Oh ya ampun, nama yang indah.” Jawab gadis gelandangan itu. Wajahnya tertutupi poninya yang panjang dan berantakan. Hanya hidung dan mulutnya yang nampak.
“Siapa kau?! Siapa kau, mau apa kau?!” tanya Clara sambil memperhatikan gadis itu dengan ngeri sekaligus aneh.
“Aku, hanya ingin melihat dirimu saja. Kurasa kau sangatlah cantik, aku malu sekali. Aku merasa tidak pantas sekali untuk disandingkan dengan perempuan sepertimu ini. Oh ya ampun, lihat, mungkin matamu saja dapat terjual seharga jutaan dollar ya?”
“Apa?! Tentu saja!!! Lihatlah kau, tidakkah kau mempunyai uang atau mungkin bahkan rumah untuk ditinggali?! Jangan harap kau akan dapat menyandingiku!”
Gadis gelandangan itu menutup mulutnya, mungkin kalian akan mengira ia tertegun dengan perkataan Clara yang kejam. Tetapi…
“Puh… Puhaha… Buahahahahaha… Ahahahahahaha!! Oooh… Hahahahahahahahaha… Oh ya ampun, Clara, Clara kau sangat lucu.”
“Apanya yang lucu?!”
“Mungkin penampilanku memang tidak akan pernah sebanding denganmu. Tetapi setidaknya aku masih bisa menyaring perkataan dan sikap burukku terhadap orang lain. Beruntung kau bertemu makhluk yang tidak mudah sakit hati ini.”
Clara kaget dengan perkataan tajam gadis rendahan ini. Ia menjadi teringat apa perkataan Carter kepadanya. Clara menjadi geram. Ia bangkit, dan mulai mengayunkan tangannya kearah pipi gadis gelandangan yang sedang menyeringai lebar. Tetapi tepat saat Clara hendak menampar pipinya dengan keras, seketika itu pula sosok gadis itu hilang. Alhasil Clara memukul tembok yang keras. Telapak tangannya menjadi merah akibat tekanan yang keras dari tembok. Clara menjerit kesakitan. Gadis itu menghilang. Clara menjadi gundah kembali. Tiap sudut kamar di amatinya dengan tatapan mata penuh terror. Namun tawa gadis gelandangan itu malah datang dari luar kamarnya. Sementara itu hari sudah mulai memasuki gelap. Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Langit yang tadinya biru cerah berubah menjadi oranye dan berangsur-angsur menjadi merah. Clara menjadi semakin uring-uringan.
“Apa?! Sudah mulai senja?! Tapi, aku baru saja pulang dari sekolah!” ucap Clara pada dirinya sendiri.
“Clara… Oh Clara… Waktu memang berlalu sangat cepat… Dan tidak kah kau ingat darimana saja kau sebelum sampai ke rumah?” ucap suara gadis itu entah darimana.
Clara sadar, ya dia memang tidak langsung pulang. Dia pergi bersama teman-temannya, menggunakan izin pulangnya untuk membolos ke tempat hiburan. Tadi, ia pergi ke mall, bioskop, dan tempat karaoke. Dan karena hal itulah ia dapat berpacaran dengan Jason. Pantaslah hari terasa begitu cepat. Seiring langit yang menjadi merah, awan pun menjadi menghitam, seakan hujan akan mengguyur dengan deras. Angin pun bertiup kencang, meniupkan dedaunan yang rapuh masuk ke dalam kamar Clara. Rumah pun sangatlah gelap, listrik tiba-tiba mati. Clara menutup wajahnya, menutup telinganya secara bergiliran. Di pintu balkon rumahnya pun, berdiri gadis gelandangan itu sambil terus membisikkan kata-kata tidak jelas. Angin bertiup kencang meniupkan pakaiannya yang lusuh dan rambutnya yang hitam berantakan. Memperlihatkan sebuah luka robek lebar di leher gadis itu yang sedari tadi tertutup oleh uraian rambutnya. Clara melihatnya penuh dengan rasa ngeri, melihat luka itu seakan leher gadis itu nyaris putus.
“Ini tidak mungkin… Ini tidak mungkin… Tidak mungkin…” teriak Clara sambil menutup matanya rapat-rapat.
“Ya, Clara ini mungkin…” ucap seseorang dari arah belakangnya.
Clara menengok ke belakangnya. Terlihat kepala gadis itu ada di sandaran bahunya, darah busuk dari luka lehernya menetes mengalir di bahunya yang putih mulus. Clara berteriak, dan langsung berlari menjauh ke arah balkon. Ia terus berteriak meminta tolong, tubuhnya tinggal disangga oleh pagar balkon yang hanya memiliki tinggi sepinggangnya.
“Menjauhlah! Menjauhlah!!! Tolong!!! Seseorang… Tolong!!!” jerit Clara.
“Clara… Clara Bennington… Clara, tidak akan ada yang dapat mendengar atau bahkan melihatmu. Mereka lebih memilih untuk tinggal di dalam rumahnya. Cuaca hari ini begitu dingin. Sangat tidak nyaman.” Ucap gadis itu.
“Cukup! Apa maumu, baiklah, apa maumu?! Akan kuberikan!!!”
“Entahlah. Aku tidak memiliki keinginan. Aku hanya ditakdirkan untuk menemuimu dan mengawasimu. Entahlah. Aku tidak tahu persisnya.”
“Baiklah, kalau begini aku mengerti! Aku tahu kau ingin mendapatkan sesuatu dariku, mungkin itu sebuah saran, atau mungkin pakaian dariku. Aku mengerti, aku mengerti. Aku mohon, maafkan aku, maaf aku sudah berkata kasar kepadamu. Maafkan aku.”
“Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku. Aku juga tidak datang untuk meminta hal itu darimu. Sudah. Lagipula, orang yang seharusnya kau mintai maaf adalah orang lain yang baik yang memiliki maksud baik pula kepadamu. Kau tahu, tidak boleh menilai buku hanya dari sampulnya. Begitu juga dengamu, ternyata kau hanya memiliki sampul yang indah, Clara. Sayang sekali…”
Clara terdiam, air matanya sudah membasahi pipinya dengan deras. Mengapa penyesalan selalu datang di akhir? Kini Clara sadar. Mungkin gadis ini adalah sebuah pesan entah darimana, yang bertujuan untuk mengingatkannya kepada sifat-sifat buruknya yang pernah ia lakukan kepada banyak orang tanpa terasa.
“Tidak, tidak. Aku tidak seperti itu. Aku adalah perempuan yang baik. Aku tidak pernah berlaku buruk pada orang lain!!! Tidak!!! Aku tidak jahat, aku baik!!!” sangkal Clara sambil menangis. “Kau, kau hanya membuatku menjadi sosok yang buruk. Kau hanya mengada-ada. Aku tahu kau mungkin hanyalah sesosok hantu atau apapun itu namanya. Aku yakin kau menghantuiku disebabkan oleh panggilan orang yang memang iri padaku. Iya kan?! Aku memang tidak cacat, kau tahu. Aku memang sempurna!!!” teriak Clara sambil meludah ke arah gadis itu.
Kini senyum gadis itu menghilang, ia menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, itu semua terserah padamu. Satu hal lagi, Clara. Perbaikilah cara berfikirmu, hati nuranimu, dan… Coba lainkali kau berfikir dua kali untuk mengambil keputusan yang tepat.” Ujar gadis itu.
Kemudian, hujan turun dengan sangat lebat secara tiba-tiba, langit berubah menjadi gelap akibat awan mendung yang menutupinya. Kemudian sosok gadis gelandangan itu menghilang secara tiba-tiba. Clara bernafas lega, ia tertawa kecil.
“Baiklah, kuakui, aku memang hebat dalam berargumen. Aku memang sempurna.” Bisik Clara kepada dirinya sendiri sambil cekikikan.
Namun tepat pada saat itu, angin bertiup kencang, sebuah dahan pohon yang keras dan tajam tertiup mengenai kepala Clara dengan cukup keras hingga berdarah. Clara berteriak kesakitan. Namun suara angin yang begitu kecang, menyamarkan suaranya sehingga tidak dapat satu orang pun dapat mendengarnya. Clara memegangi kepalanya dengan erat. Kemudian angin bertiup lebih kencang lagi, menghembuskan sebuah terpaan kencang ke arah badan Clara. Spontan Clara tertiup sedikit menuju ujung pagar balkonnya. Lalu… Sayang sekali, Clara kehilangan keseimbangan dan kini badannya, khususnya bagian perutnya, tertusuk oleh besi pagar balkonnya yang tajam. Begitu juga dengan tangannya yang tertusuk hingga tembus oleh besi tajam itu. Clara berteriak semakin kuat, meringis kesakitan, namun nampaknya Alam seperti mengamuk padanya. Angin murka, ia meniupkan tubuh Clara hingga tubuhnya terjungkir keluar dari balkon. Perutnya terbebas dari besi tajam pagarnya, namun tidak dengan tangan Clara yang masih menancap pada pagar itu. Semakin lama, tusukan di tangannya semakin melebar karena menanggung beban tubuh Clara yang menggantung di pagar balkonnya sambil berteriak dan menangis. Dahan pohon pun seakan ingin turut menyiksanya, dahannya terus menerus menghantam tubuh dan kepala gadis cantik itu hingga darah mengalir dari sekujur tubuhnya. Clara menangis, ia memohon, wajahnya dibasahi oleh air hujan dan darah yang mengalir dari kepalanya. Ia memohon, bahkan mungkin jika ia bisa, ia sangat ingin bersujud untuk meminta ampun. Tepat disaat ia terus memohon seperti itu, daging dan kulit tangannya sudah tidak dapat menahan lagi berat badannya, tangannya robek lebar dan Clara terjatuh dari atas balkonnya. Terjun bebas dari ketinggian 3 meter dari permukaan tanah.
BRUUUUUKKKKK!!! Suara gedebuk tubuhnya, tulang tubuhnya yang remuk terdengar sangat jelas. Mata Clara terbelalak, kini tangan kanannya yang mulus dan indah robek menjadi dua daging terbelah yang menjijikan. Kepalanya dan rambutnya yang berwarna emas kini seperti ditumpahi oleh cat merah. Tubuhnya yang memiliki lekuk indah, kini hanya sebuah daging yang tidak berbentuk dengan tulang-tulang patah dan remuk didalamnya. Bibir merah mudanya yang sexy dan merekah kini tidak dapat lagi mengucapkan kata-kata manis ataupun cemoohan lagi, kini bibir itu hanya merekah terbuka, mencoba untuk mengambil beberapa nafas terakhirnya. Matanya yang hijau terang mulai kehilangan cahayanya, meskipun bola matanya itu masih bergerak ke kiri dan ke kanan. Namun telinganya masih dapat berfungsi dengan baik. Clara mendengar sesuatu seperti sebuah suara. Suara itu mulanya sangat jauh, tetapi tidak ada sesuatu apapun disekitarnya. Semakin lama, suara itu semakin dekat dan terdengar jelas.
“Ingatlah Clara. Kau harus berfikir dengan kepalamu, dan mengambil keputusan yang tepat dengan tanganmu. Sayang keduanya sepertinya sudah rusak… Kini tinggal satu lagi. Ingat kah tentang perbaiki hati nuranimu? Nah. Mungkin kau tidak akan mendapat kesempatan untuk memperbaikinya lagi. Semua sudah terlambat. Kini sesuai dengan perkataanmu, kau adalah manusia yang sempurna. Kini, sambutlah juga kepergianmu yang sempurna ini.” Sahut suara itu.
Clara melihat lurus ke arah langit yang tertutupi oleh dahan pohon yang tadi berkali-kali menghantam tubuhnya. Lalu seketika petir menyambar dahan tajam itu, membuatnya retak, dan patah. Kemudian, jatuh tepat di jantung Clara. Menancap dengan erat. Mata Clara kini berhenti berkedip, bola matanya berhenti bergerak. Mulutnya berhenti mengambil nafas. Hidungnya berhenti kembang kempis. Tubuhnya berhenti bergerak. Tidak ada lagi denyutan didalam dadanya ataupun di nadinya. Berhenti. Berhenti. Berhenti. Apa yang kukatakan tidak hanya Clara yang “berhenti”, bahkan hujan badai ini pun berhenti. Tidak ada lagi angin kencang. Tidak ada lagi hujan lebat. Tidak ada lagi kilatan mengerikan yang muncul. Tidak ada sama sekali. Awan-awan mulai menghilang, memperlihatkan sebuah langit biru tua yang cerah dengan bulan sebagian yang indah dan bersih. Namun keadaan tidak seindah dengan pemandangan di bawah balkon rumah sang Ratu Homecoming. Dimana dirinya kini hanya seonggok daging tak bernyawa dan tak berbentuk yang mengenaskan dan menjijikan.
Clara Bennington. Meninggal dengan cara yang tragis, mengenaskan, dan mungkin… Misterius. Kematiannya yang mengenaskan ini kupikir memang sangat-sangat menyedihkan mengingat besok adalah hari membahagiakan baginya. Gadis yang sempurna. Gadis yang mungkin disayangi oleh banyak orang, disukai, dan mungkin dicintai oleh banyak orang. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam masuk meuju garasi rumah Clara. Keluar lah sepasang suami istri yang membawa banyak sekali barang bawaan dengan wajah bahagia terukir jelas di wajah mereka. Mereka masuk ke dalam rumah, dan mulai memanggil-manggil nama putri kesayangan mereka. Setelah 5 kali panggilan, tidak ada jawaban, panggilan bahagia mereka berubah menjadi nada cemas. Terdengar hentakan kaki mereka yang mulai mencari-cari ke setiap ruangan. Hingga akhirnya sebuah teriakan seorang wanita terdengar sangat keras. Mrs. Bennington, telah sampai ke tempat yang benar untuk melihat keadaan Clara. Ia menutup wajah, dan mulai menangis histeris. Mr. Bennington menyusul dengan cepat ke tempat istrinya berada. Ia bertanya pada istrinya, namun hanya dalam sepersekian detik, ia membelalakkan mata,membuang wajahnya dengan tatapan tidak percaya yang teramat sangat. Air mata mengaliri pipinya. Mr. Bennington dan istrinya berlari langsung ke bawah, keluar dari rumahnya, menghampiri kebun bagian samping rumahnya, mengangkat dan memeluk tubuh Putrinya dengan erat disertai tangisan histeris penuh rasa tidak rela.
*

Prologue: The Dead Things

“Ya, kalian benar anak-anak…. Kita… Akan …. Menjadi…. Keluarga Yang… Ba… Baha… Ba… Gi…… ZZZZZTTTTTTTTSSSS….”
“Pa, senang sekali rasanya….. Memiliki keluarga…. Yang seperti….. Ini….. A… Aku… Ak…. ZZZZZTTTTTSSSS…….”
“Mama…. Apakah surga akan….. Indah… Seperti saat.. Ki… Kita…. Berkumpul Kel….. Uar….. Kelu… Ga…… ZZZZTTTTTTSSSSS…..”
Televisi tua itu terus memainkan rekaman-rekaman CCTV terdahulu secara acak dengan rekaman yang sudah rusak pula. Gambarnya yang sedikit pudar dengan layar monokrom dan suara rekaman yang bergemerisik itu dapat membuat bulu kuduk berdiri tegak saat kalian mendengar dan melihatnya. Persis seperti sebuah adegan dalam film horror. Hanya saja… Film Horror tidak pernah memuat rekaman indah dan membahagiakan seperti ini. Mungkin memang menyeramkan, tetapi hal ini dapat juga menitikkan beberapa tetes air mata dari kelopak mata kita. Sebuah kebahagiaan terbesar yang sangat dekat dengan kita, namun jarang sekali orang mendapatkan hal seperti itu di zaman sekarang. Sebuah keeratan keluarga. Kebersamaan. Kunci kebahagiaan hidup seorang manusia adalah ini, sebuah kunci utama menuju sebuah hidup yang Indah. Keluarga.
Rasanya menyenangkan sekali melihat rekaman itu bersama keluarga disaat malam dingin seperti ini sambil menikmati secangkir susu atau cokelat panas bersama-sama. Namun, sayang sekali, tidak ada satu pun orang yang menonton rekaman itu. Bukannya terdapat suasana ruangan yang hangat dan ramai, tetapi suasana ruangan tersebut hanyalah sepi mencekam, penuh debu, dan gelap gulita. Hanya beberapa tikus, kelelawar, dan laba-laba yang menghuni tempat mengerikan itu. Debu menumpuk setebal beberapa inchi. Cat dinding yang berwarna putih, mulai pudar dan ditumbuhi oleh beberapa tanaman rambat liar dan lumut. Tidak nampak sedikitpun tanda-tanda kehidupan seseorang disini. Tidak ada. Kemana semua orang? Apakah hanya televisi tua itu yang merindukan saat-saat kehangatan bersama itu sendirian?
Para laba-laba menghiasi rumah tua itu dengan jaring-jaringnya yang kotor dan menjijikan ke seluruh penjuru rumah. Menciptakan suasana mencekam. Bahkan seorang gelandangan pun enggan untuk melirik rumah itu, apalagi membuatnya sebagai tempat tinggal. Rumah tua besar bergaya gothic itu masih kokoh berdiri menjulang, hanya saja kini ia mulai tampak rapuh. Pilar-pilar di bagian pintu depan utamanya mulai retak. Beberapa lampunya mulai berkedip-kedip kehabisan tenaga. Salah satu kaca jendelanya pun hancur dipecahkan oleh seseorang. Pintunya terdapat banyak goresan dan bahkan bekas tembakan peluru. Gangster macam apa yang merusak rumah untuk kesenangan mereka? Sungguh, perbuatan yang tidak baik. Rumah mungkin memang hanya setumpuk semen, batu bata, dan besi beton yang tertata rapi dan terawat. Rumah memang benda mati. Namun, apakah ia sepenuhnya MATI? Tidak, rumah dapat juga begitu HIDUP. Ialah yang menjadi saksi betapa sayangnya orang yang memilikinya, ialah yang menjadi pelindung bagi pemiliknya, dan ialah saksi untuk apapun yang terjadi terhadap pemiliknya dan kejadian di sekitarnya. Setiap keramik yang dipasang didalamnya mungkin dapat melihat saat pemiliknya berlarian bermain-main didalamnya. Tetapi melihat kondisi rumah itu yang begitu berantakan, sepertinya ia memang sudah mati. Seperti manusia yang sudah kehilangan nyawanya. Ekspresinya, cahaya wajahnya pun menghilang. Dan itulah apa yang dirasakan rumah itu saat ini. Membusuk dan mati.
Baik pada pagi hari, siang hari, apalagi malam hari, rumah itu tampak sangat menyeramkan. Tidak ada seorang pun yang ingin meliriknya atau memasukinya. Kabarnya, sepanjang pagi dan siang rumah itu tidak ada reaksi apapun, namun saat malam mulai datang, suara-suara keritan pintu dan rekaman CCTV yang diputar di televisi mulai menyala sendiri. Orang-orang bilang mungkin ada Iblis yang tinggal didalam sana, menakut-nakuti orang-orang. Iblis… Mengapa Iblis? Oh ya benar, rumah itu tidak dihuni oleh siapapun. Sementara itu, suara-suara itu muncul dengan sendirinya.
“Saat aku memasukinya, rumah itu sangatlah luas dan mewah. Hanya saja berantakan dan bau. Semua perabotan didalamnya rusak, terjungkir, terbalik, dan sebagainya. Baunya pun sangat menyengat. Seperti bau amis yang tidak ada habis-habisnya. Seakan-akan seperti ada banyak bangkai yang ditimbun didalamnya. Tetapi tidak kutemui satu pun penghuninya. Tetapi saat malam tiba, terdengar suara televisi yang sudah rusak menyala. Padahal aku yakin sekali sepanjang pagi dan siang aku mencoba mencari Tuan Rumahnya. ” begitulah cerita salah seorang gelandang yang pernah berniat untuk tinggal disana.
Sebagai manusia yang penuh rasa penasaran, aku memang ingin tahu, apa sih yang membuat televisi itu menyala sendiri? Karena aku yakin Iblis tidak akan seusil itu untuk hanya menakuti orang-orang. Dan lagipula, Iblis… Sepertinya kata itu terlalu berlebihan untuk Hantu yang hanya menakuti saja, lain halnya dengan gelar Iblis yang terkesan jahat, bengis, kejam. Jika benar yang ada didalam sana adalah Iblis, mungkin gelandangan yang bercerita itu sudah mati dibunuh secara gaib. Tetapi hingga kini gelandangan itu baik-baik saja di Gereja blok sebelah setelah bertemu dengan Pastor yang bersedia menerima kehadirannya. Dan gelandangan itu tidak mengidap suatu gangguan indra keenam atau hal-hal supranatural tidak jelas lainnya.
Namun satu hal yang kukira sangat pasti. Aku yakin rumah itulah yang berbicara melalui televisi tua itu. Semua hal dapat berbicara apabila Tuhan menghendakinya. Hanya saja mungkin dengan cara yang berbeda. Dan… Lewat sebuah perantara yang ‘berbeda’. Hanya saja satu pertanyaan kemana kah pemilik rumah ini sementara rumahnya merindukannya dengan teramat sangat? Bahkan malaikat pun sudah rela turun untuk menyampaikan rasa rindu Rumah ini. Tidakkah Sang Pemilik rindu akan tempat tinggalnya yang indah ini? Apakah ia bosan? Apakah ia sudah memiliki rumah baru lainnya? Atau… Mungkin Pemilik itu memang tidak kembali-kembali menuju rumahnya ini? Mungkin sesuatu terjadi padanya, namun apa yang menyebabkan hal itu menghalangi Sang Pemilik pulang kembali ke rumahnya?

Chapter XVII: The Six Feet Under

Once you will know, My Dear. You don’t have to fear…

A new beginning always start at the end…

Once you will know, My Dear. You don’t have to fear…

Until the end of time, she goes her way…

*

“Nail, turunlah kemari, nak. Kami perlu berkumpul bersama kembali.” Teriak Papa dari lantai bawah memanggilku kembali.

Aku menghela nafas panjang, seakan ada sesuatu yang mengganjal di cabang paru-paruku. Sakit sekali rasanya untuk bernafas. Aku menuruni tangga, dan melihat semua orang sepertinya tidak terlalu sakit sepertiku. Jadi aku duduk diantara Mama dan Vrezian, melingkar seperti hendak mengadakan ritual untuk melakukan sesuatu. Kemudian Papa menyuruh kami untuk saling menggenggam tangan satu sama lain. Kami melakukannya, dan mulai terasa lagi suatu kekuatan supranatural itu dari tangan-tangan kami.

“……. Kami akan melawan dengan segenap jiwa dan raga kami….. Semuanya kami serahkan pada-Mu…. Dan kami mohon atas kuasa-Mu…. Berikanlah kami sebuah ke….”

PRAAAANG!!! Suara dan ucapan permohonan Papa terpotong oleh sebuah bunyi kaca pecah di belakangnya, dan disana terdapat sebuah tangan tengah mencekik erat leher Papa. Kami semua spontan berdiri, Zhalamen yang berada paling dekat dengan Papa langsung melepaskan tangan itu dari leher Papa dan menarik masuk tangan jahanam itu ke dalam. Terlihatlah seorang Pria dengan tubuh sedikit besar namun tinggi menggunakan jubah merah marun sambil menatap garang kepada kami semua.

“Kalian Iblis, kalian tidak akan bisa melakukan ritual kotor ini!!!”

Pria itu berteriak sambil menyayat tangan Zhalamen dengan sebuah pisau kecil dibalik jubahnya. Otomatis Zhalamen melepaskan genggaman eratnya dari orang itu. Dan tiba-tiba saja seorang wanita tengah mencekik Mama dan menyentuhkan bilahan pisau tajam ke urat leher Mama dengan gaya mengancam. Sementara itu sosok lainnya tengah berdiri di tepi pintu depan sambil membawa sebuah botol besar berisi air yang nampaknya dapat membuat kami terbakar hidup-hidup.

Ini serangan Matheus….

Mama meronta dan dengan lincah ia dapat melepaskan diri dari perempuan itu. Meskipun lehernya sedikit tergores oleh pisau itu. Sementara kami belum memikirkan ancang-ancang sama sekali. Para Matheus sudah mulai menyerang habis-habisan, Pria yang tadi mencekik Papa langsung melemparkan sebuah pisau ke arah yang cukup akurat terhadap kami semua. Sepertinya ia mantan dagger dari sirkus ternama. Seperti diperintah oleh seseorang, kami semua mampu mengelak dari tikaman pisau yang mengarah tepat ke kepala kami. Kemudian Papa bangkit, dan mulai menyerang Pria itu dengan menggunakan sebuah pisau yang biasa kami gunakan untuk memotong daging kepada Pria itu, namun sepertinya Pria itu sangatlah lihai dan memiliki mata disekitar kepalanya. Ia mampu menangkis serangan Papa dengan mudah. Ia merobek sedikit nadi di tangan kiri Papa.

“Irresvanth, aku memiliki Tuhan yang selalu memberitahuku dimana Iblis menyerangku, kapan saja, dimana saja!!!” teriaknya.

Dan dengan cepatnya Pria itu langsung merobek nadi Papa lebih dalam dan lebih panjang dengan satu sayatan penuh kebengisan. Kemudian didorongnya Papa ke atas lantai hingga tersungkur. Beruntung Zhalamen, Vrezian, Ed, dan Rafeld langsung mengambil tindakan (tentu saja, oh yang benar saja, jika mereka hanya diam seperti orang tolol disana, untuk apa mereka ada disini). Sementara itu kulihat Mama sama kuatnya dengan Istri dari Pria itu. Berkali-kali Wanita Matheus itu mengayunkan pisau kecil kembali ke arah leher Mama. Tetapi Mama rupanya cukup hebat dalam masalah pengelakan dan bela diri. Beberapa kali juga mama sempat mengiris tangan Wanita itu. Sementara pandanganku beralih ke tepi pintu depan, aku sudah memegang sebuah pisau dapur tajam di tangan kiriku. Tetapi, saat aku berbalik untuk melihat keberadaan satu Matheus lagi, ia sudah menghilang.

DOR!!! Sebuah tembakan menembus bahu sebelah kananku dari belakang. Aku cepat-cepat menoleh ke belakang, disana sosok pengecut itu tertawa kecil, ia membuka tudungnya, terlihatlah wajah yang paling memuakkan yang pernah kulihat, Dahlia.

“Oh Ya Tuhan, Nail, sakitkah itu? Atau aku harus merendamnya dengan air suci lagi? Sama seperti yang kulakukan padamu di hari terakhir sekolah mu?” cemoohnya.

Aku tidak ingin menggunakan mulut sebagai senjataku. Jadi aku berlari dengan cepat menghampiri perempuan ini. Aku mengayunkan pisau ku dan memindahkannya sedikit ke tangan kananku hingga Dahlia tidak melihatnya. Dahlia langsung memasang tatapan waspada saat aku berlari menghampirinya. Ia langsung mengisi kembali pistolnya dengan peluru. Namun tepat saat ia menekan pelatuknya saat yang tepat pula ketika aku menikam bahu sebelah kirinya dengan cukup dalam. Tetapi bukan aku saja yang beruntung, Dahlia juga berhasil menembak kepala sebelah kiriku, pelurunya masuk menembus pelipis kiriku. Darah segar mengalir deras dari pelipisku menuju pipi. Begitu juga dengan darah di bagian bahu Dahlia. Ia meringis kesakitan.

“Kau masih perlu latihan menembak.” Sahutku sedikit tersenyum dan puas.

Sementara itu, para laki-laki sedang kewalahan menghadapi Pria Matheus ini. Rupanya ia benar-benar tangguh. Dikeroyok ber-4, mungkin ini memang tindakan pengecut tetapi apa jadinya jika kau menaklukan naga seorang diri? Tidak akan berhasil. Dan bukannya mengenai sedikit pun si Pria itu, Zhalamen, Ed, Vrezian, dan Rafeld malah terkena serangan terus. Namun yang seringkali terkena serangan adalah Rafeld dan Papa. Mereka mendapat luka serius di dada. Nadi di tangan mereka sudah tersayat. Tetapi mereka semua berkali-kali bangkit dan kembali melawan. Papa dan Rafeld saling mengedipkan mata dengan cepat, memepersiapkan rencana untuk menyerang Pria ini. Disaat Zhalamen, Vrezian, dan Ed kembali dijatuhkan, Papa dan Rafeld berdiri bersamaan dan dengan cepat mereka menghunuskan pisau yang tertancap di tubuh mereka. Namun sepertinya apa yang dikatakan Pria tadi benar, seakan Tuhan selalu memberinya petunjuk. Pria itu mengeluarkan dua pedang dari sabuknya yang tertutupi jubah. Dan… Pedang itu menusuk menembus leher Papa dan Rafeld. Papa dan Rafeld diam termenung, merasakan rasa sakit yang amat sangat, sebuah bilah baja dingin tajam menyangkut di tenggorokan mereka. Dan sepertinya pedang ini telah dilumuri oleh air suci sehingga rasanya sungguh membakar permukaan kulit mereka. Pria itu dengan bengis langsung menggerakkan pedang kearah samping leher Papa dan Rafeld. Kemudian Papa dan Rafeld terjatuh, nadi di leher mereka terpotong lebar, darah menyembur keluar dari leher mereka. Papa dan Rafeld jatuh tersungkur di lantai. Tak bergerak. Tatapan mereka kosong. Mereka terdiam. Vrezian dan Ed masih tidak sadarkan diri karena mereka banyak kekurangan darah namun Zhalamen sudah terbangun dari pingsannya, ia melihat pemandangan tidak menyenangkan itu di hadapannya. Tergeletak Paman dan Sahabat baiknya. Terdiam, membeku, tak bernyawa….

*

“Tercekiklah kau, wanita jalang!!! Tercekik, matilah kau, mati!!!” teriak Wanita Matheus sambil menjerat leher mama menggunakan tali tambang.

“Kau lah yang Mati!!!” jawab Mama sambil melepaskan diri dan menikamkan pisau di bagian perut Wanita itu.

Wanita itu meringis kesakitan. Namun ia menatap Mama dengan tajam, penuh ambisi, dan menyerang membabi buta sambil mengayunkan pisaunya di sekitar Mama. Mama menajamkan pandangannya untuk menghindari sayatan tajam menyakitkan itu. Namun sayang, lengan Mama tersayat cukup lebar. Mama sedikit meringis, dan ia memutar otak dengan cepat bagaimana ia membalas serangan Wanita ini kembali, karena lengan kanan Mama terasa sangat lumpuh. Wanita itu menyeringai, ia mulai menikamkan kembali pisaunya ke arah Mama. Mama berlari menghindari serangannya, kemudian ia mengambil pisau lain yang lebih besar menggunakan tangan kirinya. Mama memang bukanlah seorang Tsamaelth asli, namun manusia biasa tetaplah akan merasa lemas apabila kekurangan darah akibat sayatan-sayatan yang ia terima. Serangan Wanita itu cukup cepat, namun Mama mampu menangkisnya dengan cukup baik meskipun dengan tangan kirinya. Tangkisan yang cukup kuat. Wanita Matheus ini nampaknya terlalu ambisius, apa yang ada di pikirannya hanya HABISI, HABISI, dan HABISI!!! Berbeda dengan Mama yang sangat oportunis, sambil menangkis, Mama melihat sebuah kesempatan besar terbuka di bagian bawah lengan Wanita itu, dengan sigap Mama mengayunkan pedangnya, dan membuat sebuah lubang besar di dada bagian kiri Wanita itu. Si Wanita terbelalak, mulutnya yang menganga mengeluarkan darah, dan ambruk seketika saat jantungnya telah robek. Mama menarik nafas tersengal-sengal, ia sedikit meringis melihat tubuh berdarah-darah itu dihadapannya. Mama memang bukan penggemar kekerasan, tetapi hal ini harus dilakukan olehnya. Mama bangkit berdiri, dan kemudian ia melihat sesuatu tergeletak begitu saja di seberang ruangan. Sebuah benda yang ia kenali persis tergeletak disana. Namun tatapan mata Mama sangat nanar, air mata membasahi pipinya dengan deras. Mama tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya, ia berjalan merangkak. Tangannya dijulurkan. Kemudian Mama memeluk kepala Papa yang nyaris putus, menangis tersedu-sedu, ditariknya juga tubuh Rafeld. Mama memeluk erat-erat kedua jasad itu. Tangisannya yang semula hanya isakan kecil, kini berubah menjadi teriakan ketidak relaan penuh rasa sedih. Seakan buta, Mama melihat kearah yang tidak tentu, bola matanya berkeliling entah mencari apa, hanya kosong dan merah penuh dengan air mata. Tetapi… Tatapan kosong bergerak itu kini tidak bergerak lagi, Mama memiliki tatapan kosong yang sama dengan Papa dan Rafeld. Semula Mama tidak tahu apa yang terjadi, namun ketika ia menunduk, bilahan pedang panjang Pria Matheus menembus dari punggung ke dadanya. Hanya hitungan detik, Mama sudah tiada…

*

Dahlia benar-benar melancarkan sebuah serangan penuh, mungkin ia berkali-kali gagal menembak kearahku, tetapi caranya membanjurkan air suci sangat hampir akurat. Lenganku, kakiku, dan badanku sudah mulai melepuh sedikit demi sedikit. Karena hal ini pula aku tidak bisa mendekatinya. Sementara pisau ada didekatnya. Sambil menghindar aku memutar otak, namun aku terlalu serius berfikir hingga akhirnya sebotol penuh air suci, membasahi bagian leherku. Rasanya sangat panas, sangat membakar, sangat menyakitkan. Aku jatuh tersungkur memegangi leher, yang semakin lama dagingnya semakin terlihat. Dahlia tertawa kecil, ia melangkah dekat kepadaku. Mengambil sebuah pisau panjang didekat kakinya.

“Nail, apa rasanya? Katakan padaku! Rupanya penilaianku saat pertama kali melihatmu memang tidak pernah salah. Tidak pernah salah!!!” teriak Dahlia.

Beruntung seseorang menahan tangannya yang siap memotong leherku. Dahlia berpaling ke orang yang ada di belakangnya.

“Ed?! Dasar pengkhianat, lepaskan!!!”

“Apanya yang pengkhianat, aku memang tidak pernah mau bergaul denganmu daridulu! Lagipula apa gunanya untuk bergaul dengan makhluk sok suci namun berjiwa kotor sepertimu?!”

Dahlia merupakan pribadi yang mudah terbakar hanya dengan sebuah kalimat. Mendengar kalimat yang lumayan tajam dari Ed, ia berbalik dan merobek dada Ed dengan sayatan yang cukup lebar dan panjang. Ed melepaskannya dan berjalan sedikit menjauh. Darah melumuri seluruh tubuhnya. Ed bernafas tersengal-sengal. Kemudian Dahlia kembali berbalik melihatku, ia belum menuntaskan pekerjaan terakhirnya. Tanpa basa basi lagi ia mengayunkan pisau tajam itu tepat di leherku. Namun aku dapat menahannya meskipun pisau itu berhasil menggores sedikit kulit leherku. Dahlia dan aku saling memperkuat tenaga untuk mengalahkan satu sama lain. Namun peruntungan berpihak kepadaku, aku dapat membalikkan serangannya tepat ke matanya. Gagang pisau yang terbuat dari besi tajam itu mencolok mata Dahlia. Dahlia melepaskan pisaunya, ia memegangi mata kirinya dengan teriakan penuh rasa sakit. Teriakannya bercampur dengan suara tangis memilukan. Kemudian ia membuka satu matanya dan menatap tajam kepadaku.

“Ayah, pinjami aku pedang suci itu!” teriaknya kepada Ayahnya sambil menjulurkan lengannya.

Kulihat Ayahnya yang sedang memasang kuda-kuda untuk berhadapan dengan Zhalamen, melemparkan salah satu senjatanya ke Dahlia. Dahlia menyeringai lebar, ia berjalan lagi kearahku. Sebisa mungkin aku berdiri untuk menghindarinya. Namun ia cukup cepat untuk menghunuskan pedangnya dan menusuk jantungku dengan dalam. Aku cukup membeku, rasanya sangat tertahan aku tidak bisa bergerak lagi. Dahlia tertawa kuat-kuat. Sementara itu, ia melepas tangannya dari mata kirinya dan megambil sebuah belati kecil di sabuknya. Ia membidik dengan penuh kemenangan kepada leherku. Setelah bidikannya tepat, ia tersenyum kecil.

“Baiklah, Nail. disini sudah, selamat tinggal, Iblis!!!”

Aku pasrah. Aku memejamkan mataku, namun saat Dahlia menghunuskan belati itu, seseorang menghalanginya, dan mengorbankan lehernya untukku. Seketika ia ambruk. Sekuat mungkin aku menarik pedang Dahlia untuk bisa keluar darinya, sementara Dahlia masih sedikit kaget karena usahanya menusuk leherku gagal. Aku berhasil keluar dari pedang itu, sementara itu Ed sudah mulai menyerang Dahlia kembali dengan sebuah kapak yang dia ambil dari balik pintu dapur. Kulihat jasad ambruk itu adalah Vrezian. Aku membalikkan tubuhnya. Vrezian meringis sambil memegangi lehernya yang bolong. Setelah melihatku ia tersenyum.

“Nail, sudah kukatakan, kau tidak perlu bersusah payah untuk menjadi cantik, atau bahkan untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Kau tidak perlu. Sebab aku akan melindungimu, sama seperti yang lainnya yang saling melindungi antara yang satu dengan yang lain.” Ucap Vrezian sambil menggenggam tanganku.

“Tidak, Vrezian. Tidak. Kumohon, jangan. Justru akulah yang tidak bisa melindungi kalian semua. Aku yang gagal! Vrezian kumohon jangan berkata seperti itu!”

“Nail, kau pasti bisa, dan aku yakin pada akhirnya pasti kaulah yang akan membinasakan Matheus itu. Nail…. Aku… Ummmhh, aku… Akan menyampaikan salammu, kepada Papa, Rafeld, dan Mama.. Okay?”

“Vrezian, berhenti!!!”

Namun, memang benar, Vrezian langsung berhenti menggerakkan bibirnya yang sudah mulai kelu. Genggaman tangannya pun lepas dari tanganku begitu saja. Baiklah… empat orang sudah. Empat orang sudah… Tidak ada waktu untuk menangis sekarang, sekarang waktunya untuk menghabisi hama penyakit ini. Aku bangkit sambil melepas Vrezian dan membaringkannya dengan lembut. Aku mengambil sebuah belati panjang dan berlari tanpa suara ke arah Dahlia, bajingan itu. Aku berlari dengan cepat selagi ia membelakangiku, sedang sibuk hendak menyayat leher Ed. Tinggal 3 langkah lagi, aku dapat menancapkan pisau di kepalanya. Sial, ia melihat dan mengayunkan pisaunya tepat kearah wajahku. Ia berhasil menyayat secara diagonal dari pelipis kananku ke dahi di bagian tengah, namun rasa itu tidak terasa menyakitkan bagiku. Hatiku lebih sakit daripada luka ini. Tanpa basa-basi lagi aku menancapkan pisau di dahi Dahlia, memutar-mutarnya dan mencabik-cabiknya hingga membentuk sebuah lubang besar di tengah dahinya. Tatapan mata Dahlia yang kosong dan terbelalak tidak mendatangkan sama sekali setitik rasa simpati dariku. Tentu saja, ia tidak akan pernah. Setelah kuyakin, Dahlia sudah SANGAT MATI, aku meninggalkannya dan berpaling menuju Ed. Tetapi, Ed sudah menghilang. Entah kemana…

*

“DASAR PENGECUT!!! JANGAN KAU GUNAKAN ORANG LAIN SEBAGAI TAMENGMU, DASAR ANJING KUDISAN!!!”  teriak Zhalamen tepat di belakangku.

“Aku? Pengecut? Justru kaulah yang pengecut, anak buangan! Jika kau berani, cepat, lawan aku sekarang, dan jika kau memang berani, serang juga adikmu ini sekaligus!!!” jawab si Pria sambil mencekik Ed dan mengiris sedikit demi sedikit lehernya.

Zhalamen hanya mendengus penuh rasa amarah. Tangannya dikepal kuat-kuat, saking kuatnya kuku jari tangannya menusuk menembus kulitnya hingga berdarah. Giginya bergemeletukkan menahan pikiran bimbangnya. Zhalamen masih berdiri tegak, diam, dan bingung. Apa yang harus ia lakukan? Sementara itu, baru saja aku hendak menghampirinya, Pria itu sudah melancarkan satu tembakan jitu tepat ke dadaku, membuatku sedikit terpental hingga terjatuh. Zhalamen melihatnya, dan tanpa pikir panjang lagi ia langsung melesat lari menyerang si Pria.

“Kurang ajar!!! Cukup sudah kau menghabisi keluargaku!!!” seru Zhalamen sambil berlari.

Pria itu menyeringai lebar, terlihat sebuah senyuman licik, jahat, dan penuh tipu muslihat.

“Ya, datanglah, seperti itu!!!” sambut Pria itu.

Dengan cekatan Pria itu tidak banyak bicara lagi, menggorok leher Ed hingga terputus sudah nadi leher Ed. Melihat hal ini, Zhalamen semakin menjadi. Ia semakin beringas, sama seperti saat sisi gelapnya keluar. Ia langsung menerkam Pria itu dengan satu serangan yang (syukurnya) langsung diterima oleh Pria itu. Zhalamen mendorong dan membuat Pria itu tersungkur. Menahan kedua lengannya dengan tenaga penuh hingga Pria itu tidak dapat berkutik lagi, sesaat Pria itu nampak panik, terlihat jelas dari tatapan matanya yang terbelalak seakan tidak percaya bahwa ada yang dapat melumpuhkannya.

“Lepaskan aku, makhluk kotor dan keji! Lepaskan!!!” teriak Pria itu, dengan nada sedikit resah.

Zhalamen hanya menyeringai lebar selebar-lebarnya yang ia bisa, inilah saatnya  balas dendam atas semua keluarganya. Semua kematian keluarganya. Zhalamen menekan masuk kuku jari tangannya yang panjang kedalam nadi kedua tangan si Pria hingga berdarah. Pria itu berteriak kesakitan. Tidak puas dengan itu Zhalamen mendekatkan sedikit wajahnya ke wajah Pria itu. Menjulurkan lidahnya yang panjang, dan menjilati lehernya. Menjilatinya dengan penuh gairah, seakan ia sedang bercinta dengan kekasihnya (jujur, ini menjijikan). Kemudian menatap mata Pria itu dengan tatapan yang tidak senonoh.

“Apa maksudmu?! Cepat bunuh aku, jangan kau memperpanjang masalah ini, dan jangan perlakukan aku dengan hina!” teriak Pria itu.

“Membunuh? Tenang saja, aku sedang membunuhmu.” Jawab Zhalamen sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Rupanya memang benar saja, Zhalamen sedang membunuhnya secara perlahan-lahan. Leher Pria yang baru saja ia jilati dengan penuh air liur, sedikit demi sedikit terkelupas kulitnya persis seperti dicelupkan kedalam larutan cairan asam. Daging Pria tersebut yang berwarna merah muda segar terlihat jelas terpampang disana. Si Pria mengerang, ia meronta, dan berhasil lepas dari terkaman Zhalamen. Ia menjadi memberingas pula. Dengan cepat ia menarik kembali salah satu pedang panjangnya yang tergeletak tepat didekatnya. Penuh keganasan ia langsung menancapkan pedang itu dan menariknya kembali, menusuk tubuh Zhalamen berkali-kali, namun selalu meleset ketika ia membidik leher Zhalamen yang sudah cukup melepuh. Kali ini Zhalamen yang kembali kesulitan menghadapi Pria ini. Tatapan matanya melemah dan menyipit untuk menghindari beberapa tebasan mengerikan yang diberikan Pria itu.

Semakin lama, Zhalamen semakin lelah untuk terus menghindar dari serangan itu. Zhalmen juga (setengah) manusia. Namun hanya dalam beberapa detik ia lengah terhadap satu serangan, Pria itu menancapkan pedangnya tepat di jantungnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Zhalamen terbelalak. Seketika ia langsung ternganga dan termangu, bibirnya yang kelu dan pucat menyemburkan banyak darah hitam yang luar biasa banyaknya. Zhalamen hanya bisa terdiam, memegangi pedang panjang dingin membakar itu. Kini si Pria hanya tersenyum kecil melihat mimik wajah Zhalamen yang begitu kesakitan. Kemudian dengan tangan yang satunya lagi, Pria itu mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna perak mengkilat. Membuka tutupnya dan membacakan seperti sebuah do’a kedalamnya. Mendengar bisikan-bisikan dari mulut Pria itu saja, sudah membuat Zhalamen sakit, telinganya mulai berdarah. Setelah selesai membacakan do’a itu, Pria itu langsung membanjurkan isi botol itu tepat ke arah leher dan dada Zhalamen.

“PERGILAH KAU KE NERAKA, MAKHLUK KOTOR!!!” teriaknya.

Saat air tersebut menyentuh permukaan kulit Zhalamen, bukan hanya melepuh, kulit Zhalamen langsung berubah menghitam dengan kilatan-kilatan merah seperti lembaran kertas yang baru saja terbakar. Teriakan Zhalamen penuh pilu. Rasa sakitnya tidak tertahankan, sebagian kulit leher dan dadanya berubah hangus. Semakin lama dan semakin lama, teriakan Zhalamen menghilang berangsur-angsur, menjadi sebuah batuk yang disertai dengan darah, dan akhirnya menghilang, seiring dengan hilangnya jiwa dalam raganya itu.

Melihat Zhalamen tidak bernyawa lagi, Pria itu puas. Ia menurunkan pedangnya. Ia tersenyum kecil. Misinya ia…… KIRA sudah berhasil. Namun tidak, aku masih disini. Aku masih bangkit, aku masih bisa melawan, aku berdiri tegak di belakang tubuhnya.

“Aku mengambil sebuah pisau kembali dari lantai, dan berjalan perlahan-lahan menuju arahnya. Pria itu menoleh ke belakang, semula senyumnya yang penuh kedamaian kini berubah mengkerut kembali.

“Kau masih memiliki satu bajingan lagi untuk dihabisi.” Ucapku sambil mengayunkan pisauku kepadanya.

“Baiklah, dan akan kuhabisi kau sekarang juga, Gadis Keji!!!”

Aku dan Pria itu berlari saling berhadapan sambil mengacungkan senjata masing-masing. Untuk satu kali serangan, ia berhasil mengenai bagian bawah lenganku. Dan di serangan lain, aku berhasil melumpuhkannya dengan menusuk pangkal pahanya. Berkali-kali serangan kami dapatkan, menyakiti satu sama lain. Namun pada akhirnya. Tetaplah aku berakhir pada serangannya. Aku terpojok di dinding dengan pedangnya yang telah menikam seluruh keluargaku. Pria itu tersenyum.

“Kau tidak usah membalaskan dendam keluargamu dengan susah payah, cukup kau menyusul mereka ke neraka, mungkin itu sudah cukup bagi mereka. Kau tidak berhak ada disini, hama pengganggu seperti kalian hanya akan merusak permukaan Bumi ini. Mungkin kau memang dendam, namun aku juga kehilangan istri dan anak perempuanku karena ulah kalian, bukan?” sahutnya panjang lebar.

“Tapi itu semua juga karena ulah kalian yang memulai pertengkaran dengan kami. Kalian yang mencari gara-gara.”

“Mungkin kau tidak paham kisah di masa lalu itu, nak. Dasar otak udang!”

Pria itu memasukkan tangan yang lain ke saku jubahnya, oh nampaknya ia kehabisan persediaan air suci, ia menjadi sedikit tergesa-gesa. Tetapi ia melihatku kembali. Ia meremehkanku, kemudian ia menarik belati kecilnya, dan menyayat leherku perlahan-lahan. Aku meringis kesakitan.

“Kau pasrah begitu saja?” tanyanya padaku sambil terus menancapkan belati itu ke leherku, bilahan baja dingin itu sudah merobek setengah dari urat nadi leherku. Bola mataku mulai naik keatas, aku mulai susuah bernafas, dadaku terasa sangat sesak. Pria itu tertawa melihat pemandangan ini, namun aku melihatnya balik dan menjawab pertanyaannya.

“Tentu saja tidak!” jawabku, sambil menancapkan belati yang sama yang kuambil dari sabuknya perlahan-lahan. Aku tusukkan belati itu ke lehernya, dan kemudian memotong lehernya hingga kepalanya terpisah dengan tubuhnya.

Akhirnya, tubuh Pria itu terjatuh, darah memancar dari leher tubuhnya dengan begitu banyak, darah segar. Menggodaku untuk meminumnya sedikit saja. Namun tidak ada waktu untuk itu. Aku melihat ke sekelilingku. Hanya ada bau busuk jasad yang sudah mati beberapa menit yang lalu. Mataku mulai panas kembali, hatiku sudah sangat sesak, leherku sudah memancarkan darah lebih banyak lagi. Aku tersungkur, merangkak ditengah-tengah tubuh-tubuh itu. Aku memegangi semuanya, Mama, Papa, Rafeld, Vrezian, Ed, dan Zhalamen. Mereka meninggalkanku terlebih dahulu. Aku menangis, namun aku tidak bisa berteriak atau mengumpat-umpat atas kematian mereka, mereka memang sudah pergi. Apalagi yang bisa kulakukan? Air mataku menetes membasahi lantai yang sudah kotor oleh darah. Bagai permadani merah yang terbuat dari beludru, lantai rumah ini dilumuri darah-darah itu. Darah yang seharusnya tidak ada dilantai seperti ini, darah dari orang-orang yang kukasihi, kusayangi, kucintai. Aku kembali melihat tatapan kosong mereka yang menyeramkan, tangisku menjadi semakin kencang, namun semakin kencang tangisanku, urat nadiku semakin tertarik dan robek perlahan-lahan. Aku mengerang kesakitan dengan amat sangat, nampaknya mungkin hanya setipis selembar kertas lagi urat nadiku akan putus. Disaat itu pula, muncul Levaiatanh, Groevanth, dan Pria Berjubah dan Bertudung Hitam. Ia tersenyum pahit kepadaku, kemudian duduk di hadapanku sambil mengelus kepalaku lembut, sementara Leviatanh dan Groevanth mengelus-eluskan kepala mereka ke tanganku.

“Nail, kerja bagus. Kau berhasil, kau berhasil mempertahankan nama Tsamaelth hingga titik darah terakhirmu, Nak. Aku sangat bangga kepadamu. Kau mampu mengalahkan Kepala Keluarga Matheus ini, karena kekuatan yang paling besar dalam Matheus dipegang oleh Kepala Keluarganya. Dan kini, habis sudah Matheus. Tidak akan ada lagi yang akan mengganggu kalian, Nail. Tidak akan pernah ada lagi.” Ucap si Pria.

“Tetapi… Untuk apa… Semuanya sudah meninggal, dan… Aku pun akan menyusul….” Jawabku terbata-bata, merasakan betapa tipisnya lagi waktu akan merenggut nyawaku.

“Nail, dengarkan aku. Kau, aku, Leviatanh, Groevanth, Irresvanth, Vrazteavihn, Rafeld, Zhalamen, Vrezian, Edhravunov. Kita semua adalah satu keluarga. Kita saling menyayangi satu sama lain. Tidak ada yang mau saling kehilangan satu sama lain. Sekesal apapun kau terhadap Rafeld, kau pasti tidak ingin melihat ia tergeletak seperti sekarang ini, bukan? Itulah keluarga. Dan aku, aku juga tidak mau kehilangan kalian semua. Kalian adalah keturunanku yang paling kucintai. Semua keturunanku hingga kalian, adalah orang-orang yang paling kucintai, dan aku tidak akan membiarkan kalian mati begitu saja. Aku tidak akan membiarkannya. Dan aku memiliki janji kepada diriku sendiri untuk memberikan sesuatu yang terbaik yang bisa kulakukan untuk mereka yang dapat mempertahankan Tsamaelth hingga titik darah penghabisan dan menghabisi semua halangan yang ada untuk hidup. Aku tahu kakek buyutmu, kakekmu, pamanmu, mereka semua membiarkan jiwa dan raganya telah tiada untuk melindungi nama Tsamaelth, namun untunglah mereka masih memiliki keturunan. Mereka masih memeiliki penerus, dan aku tahu ketika para orang dewasa terakhir masih dapat memiliki keturunan, sudah barang pasti Matheus masih ada. Dan kalianlah, generasi mu lah, yang terakhir Nail. Matheus sudah diluluh lantahkan, sudah menghilang, aku yakin semuanya, aku, kau, dan semua yang “hadir” disini, dapat merasakan kedamaian yang sangat besar. Aku yakin. 100%, Nail. dan oleh karena itu aku ingin membuka semuanya, memberikannya kepadamu sebagai penghargaan terbesarku.”

Pria itu menunduk, membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajah aslinya kepadaku, benar saja. Orang itu adalah kepala keluarga Tsamaelth. Pria paruh baya berambut hitam kelam, bermata biru terang, yang kehilangan anak dan istrinya oleh akibat Matheus, dia yang hampir gila, dia yang dirasuki, dia yang diurus oleh.. “Iblis”. Ercasanth, Ercasanth Yresim Tsamaelth.

“Aku tahu kau mengenalku, Nail. Kau mendapati mimpi itu, kisah itu, anugerah itu. Kini semuanya akan jelas untukmu, tidak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan di benakmu yang hampir membuatmu meledak itu. Memang benar, disinilah aku, hidup di dunia yang tidak jelas, hanya dapat memberi kalian sebuah nasihat , dan tidak dapat hidup nyata seperti kalian. Kutukan inilah, aku lah yang menurunkan hal ini kepada kalian. Maafkan aku, Nail. Maafkan aku.Tujuanku adalah hanya menghidupkan seseorang yang seharusnya mustahil untuk ada, dan merusak takdir yang terjadi di Dunia ini, tetapi tujuanku setidaknya sudah berhasil. Aku melakukan ini, karena aku hanya ingin memiliki keluargaku sendiri. Aku memaksakan diri untuk ingin hadir di Dunia ini. Aku tahu sulit untuk memaafkan Iblis sepertiku ini, tetapi aku akan menggantikannya dengan hal yang sepadan. Nail, terima kasih banyak. Terima kasih banyak untuk semuanya. Nail. jaga dirimu baik-baik. Hidup damailah dengan keluargamu, kalian tidak akan diganggu lagi. Kalian akan tentram hingga Kematian yang sebenarnya akan datang menjemput. Baik-baiklah kau di Dunia ini, Nail. Nikmatilah Hidupmu.”

Pria itu berdiri, merentangkan tangannya. Leviatanh dan Groevanth meneteskan air mata, dan menangis sedih. Mereka kembali mengelus-ngeluskan kepalanya ke tanganku.

“Selamat tinggal, Nail. Berbahagialah dengan yang lain, kami akan selalu merindukanmu.” Ucap Leviatanh dan Groevanth.

Baru saja aku hendak berbicara….. TES!!! Urat nadi leherku putus, aku langsung terjatuh. Dengan mata terbuka, dan mulut ternganga. Entahlah seperti apa jasadku, mungkin dengan luka dan darah dimana-mana seperti seorang Zombie, akan sangat menyeramkan untuk dilihat. Aku mati. Dan pada akhirnya, aku mati…

*

Suasana sangat hening, tidak ada lagi Makhluk hidup di ruangan ini, di tempat ini. Hanya jasad-jasad yang mati mengenaskan tergeletak. Ercasanth menutup kembali tudungnya, namun dengan wajah yang terbuka, tersenyum senang, Setetes air mata menetes dari kelopak matanya. Ia mulai membaca sebuah mantra, entah mantra apa itu. Leviatanh mendesis sambil tersenyum, begitu juga dengan Groevanth yang melihat kearahnya. Namun seiring mulut Ercasanth yang terus berkomat-kamit, tubuh Leviatanh dan Groevanth terbakar seperti lembaran kertas. Mereka menghilang menjadi abu kertas yang berwarna hitam. Namun abu kertas kemerahan itu berkumpul di telapak tangan Ercasanth, Ercasanth menggenggamnya erat-erat. Ia meniupkan sebuah mantra kedalam abu itu. Dan kemudian, menyayat jantungnya dan meneteskan darah kedalam kepalan tangannya yang memegang abu kertas dari tubuh Groevanth dan Leviatanh. Kemudian ia membuka kepalan tangannya, abu kertas itu berubah menjadi sebuah cairan kental berwarna biru terang, sama persis seperti cahaya matanya. Ia tersenyum. Kemudian cairan biru itu, ia oleskan kepada jasad para Tsamaelth satu-persatu sambil menutup kelopak mata mereka. Ia oleskan tepat di tanda pentagram yang ia torehkan kepada setiap orang. Namun pada Vrazteavihn (Mama), Ercasanth meminumkannya sedikit kedalam mulutnya. Setelah semuanya selesai diberi cairan biru terang itu, Ercasanth kembali berdiri ditengah-tengah mereka. Ia menggenggam erat kedua telapak tangannya. Sekuat tenaga. Kemudian ia merobek dadanya. Membiarkan darah hitamnya mengalir deras keluar. Ia tersenyum lebar, tetesan air matanya semakin banyak yang menetes. Kemudian ia menunduk.

“Keturunanku yang sangat kucintai. Maafkanlah Iblis tua ini. Iblis yang sudah membuat kalian kesusahan sepanjang hidup kalian. Namun, ketahuilah, aku lakukan ini karena kepedulianku terhadap kalian. Kalian yang seharusnya tidak tercipta, tidak hadir di dunia ini, harus dapat merasakan sebuah kenikmatan Hidup yang sesungguhnya. Kalian berhak mendapati hak-hak kalian. Hak untuk hidup terutama. Ketahuilah, aku sangat menyayangi kalian, mencintai kalian, lebih dari apapun. Keluargaku. Dan terimalah pemberian terakhirku yang semoga berarti untuk kalian semua. Selamat menjalani Hidup, anak-anakku. Hiduplah tenang, janganlah takut terhadap sesuatu lagi. Kalian aman sekarang. Terima kasih untuk membalaskan dendamku, terima kasih untuk semuanya, anak-anak.” Ucap Ercasanth sambil menangis tersedu-sedu.

Ercasanth kemudian menengadah, melihat wajah jasad para Tsamaelth yang mengenaskan. Kemudian, ia mulai membaca sebuah mantra kembali, kali ini ia melakukannya sambil menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah. Kepalan tangannya yang erat, membuat kukunya tembus kedalam dagingnya. Mantranya semakin lama semakin kuat, hingga membuat tubuhnya bergetar. Dan akhirnya saat ia hampir menyelesaikan mantranya, Ercasanth menutup wajahnya. Mendekam wajahnya lama. Seakan-akan ia malu mengahadapkan wajahnya kepada Dunia, seperti seorang Socio Path yang dipaksa menghadapi keramaian kehidupan sosialita. Lalu, perlahan Ercasanth menarik telapak tangannya dari wajahnya, perlahan, namun, ia pun melakukannya sambil mencakar kulit wajahnya hingga berdarah. Ia menyeringai lebar. Kemudian merentangkan lengannya dengan lebar. Ia terus berkomat-kamit hingga akhirnya angin bertiup ke arah tubuhnya, dan ia berubah menjadi sebuah kabut hitam dengan perlahan. Mulai dari kakinya, hingga sampai kepalanya. Saat tubuh Ercasanth berubah menjadi gumpalan kabut hitam, gumpalan kabut hitam itu, masuk merasuki tubuh jasad para Tsamaelth. Namun untuk sementara tidak ada sesuatu terjadi dengan jasad-jasad itu, sampai akhirnya 13 detik kemudian, tubuh mereka sedikit demi sedikit mulai hancur. Seperti sebuah abu. Abu jasad yang baru saja dikremasi, namun lebih tepat seperti abu arang yang berwarna kelabu. Tubuh para Tsamaelth kini telah beterbangan sebagai abu entah kemana saja angin itu membawanya. Kini jasad mereka telah hilang ditiup angin.

Keluarga Tsamaelth hilang, kepala keluarga mereka menghilang, bahkan hewan peliharaan mereka pun hilang. Semuanya berubah, semuanya menjadi tidak berwujud. Semuanya raib. Semuanya hilang tanpa jejak. Tepat disaat abu keluarga Tsamaelth melintas keluar melalui celah-celah jendela atau pintu, cuaca pada saat itu langsung mendung. Namun tidak ada air hujan yang turun. Hanya langit yang berubah menjadi kelabu. Semua orang bingung akan keanehan ini. Tentu saja, karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangankan mengetahui, mereka bahkan tidak mendengarkan kegaduhan yang terjadi saat para Matheus datang. Hal itu tidak perlu diketahui mereka, terlalu berbahaya. Ercasanth berkata, “Selamat menjalani Hidup.”. Namun Hidup apa yang ia maksud? Mungkinkah sebuah “Tidur” yang dialami Rellik kembali, atau Hidup di “Alam” sana? Entahlah… Yang jelas, semoga para Tsamaelth mendapatkan apa yang telah Ercasanth janjikan kepada mereka. Hidup yang Ercasanth janjikan….

*

Chapter XVI: Everything almost Dying

No lights in the darkness

It’s too small to see

There’s always a sparkle of hope

If you just believe…

*

Aku memejamkan mataku selama 15 menit, mendengarkan ocehan galak dari Leviatanh di sebuah taman. Namun ketika aku membuka mataku, keadaan taman menjadi gelap gulita, padahal ini aalah waktu di tengah hari. Aku melihat ke arah jam tanganku, jam memiliki 13 angka. Sudah pasti, aku pasti ada di tempat Pria Berjubah dan Bertudung Hitam berada. Tetapi auranya yang dingin kini sangatlah tidak bersahabat, asanya mencekam dan penuh rasa amarah. Leviatanh berhenti mendesis. Tiba-tiba tubuhnya menjadi lunglai dan lemas. Pandangannya menunduk.

“Leviatanh, ada apa? Apakah kau sakit?” tanyaku sambil menengadahkan wajah Leviatanh perlahan-lahan.

Namun Leviatanh diam membisu, tak berkutik sama sekali. Ia mmalah enggan untuk memperlihatkan wajahnya ke arahku. Mungkin ada sesuatu yang ia takut untuk ia lihat. Aku kemudian menengok ke belakang, dan benar saja, disana berdiri Pria Berjubah dan Bertudung Hitam dengan tatapan yang penuh rasa kesal. Ia berjalan mendekatiku, terus mengamati Leviatanh tanpa berkedip sedikitpun. Kemudian ia mengangkat tubuh Leviatanh, dan memaksa Leviatanh untuk menatap wajahnya.

“Leviatanh, tangan kananku, asisten kepercayaanku. Rupanya, kau sudah sangat tua kali ini untuk terus bekerja menjadi penasihat keluarga. Aku bangga padamu, Nak. Sangat bangga. Namun aku sedikit kecewa karena kemampuan dan kepekaanmu sudah mulai berkurang sebelum waktunya tiba.” Ucap si Pria.

“Tuan… Ampuni aku….  Aku, aku… Hanya ingin melindungi Nail. Maafkan aku, Tuan… Ampuni aku….” Leviatanh menjawab dengan terbata-bata dengan isakan.

“Tuan, biarkan Leviatanh lepas. Mungkin Leviatanh memeang benar, dan ia memang hanya ingin melindungiku dari segala sesuatu yang sangatlah jahat, Tuan. Kumohon, lepaskanlah Leviatanh, kasihanilah dia.” Selaku memotong pembicaraan.

Pria Berjubah dan Bertudung Hitam tersenyum kecil, ia melepaskan tubuh Leviatanh dengan lembut. Leviatanh hanya diam membeku masih tidak dapat berkutik apapun. Kemudian Pria Berjubah dan Bertudung Hitam, berdiri di hadapanku, ia berlutut.

“Nail, apa yang kau lihat memang tidak salah. Sangat tidak salah, dan itu adalah kenyataan.” Kata Pria Berjubah dan Bertudung Hitam.

“Maksudmu… Mengenai Ed?”

“Ya, dia memanglah seorang Tsamaelth. Inilah sebabnya aku “menegur” Leviatanh karena kemampuan dan kepekaannya terhadap aura keluarga kita sudah mulai berkurang. Leviatanh sudah mulai tua. Sementara itu, mengenai Edzhravunov, lebih baik kau membawanya ke rumah, dan biarkan ia menceritakan semuanya kepada keluargamu, mungkin Ayah dan Ibumu sudah mengetahui hal ini, Nail. Namun mereka pun belum yakin sepenuhnya. Biarlah aku yang mengurus Leviatanh, kini kau lakukanlah apa yang harus kau lakukan.”

Mendadak setelah aku berkedip, seluruh suasana gelap itu menghilang. Aku kembali berada di taman pada siang bolong yang begitu cerah. Aku kembali menuju rumah Ed sambil berlari dan kebetulan Ed sedang hendak keluar. Aku menarik tangannya dan langsung menariknya sambil berlari pulang ke rumah.

“Nail, kita hendak pergi kemana? Mengapa terburu-buru seperti ini?” teriak Ed.

“Kau sendiri pasti sudah mengetahuinya dari Pria Berjubah dan Bertudung Hitam itu. Cepat!”

Ed hanya terdiam dan ikut mempercepat langkahnya sampai akhirnya tidak lebih dari 5 menit, kami sampai di rumahku. Saat memasuki rumah, rupanya semua keluarga sudah berkumpul di ruang tamu, nampaknya si Pria sudah memberitahukan ini kepada semua orang. Bahkan dirinya pun ada disana, berdiri di pojok ruangan sambil mengelusi tubuh Leviatanh yang lesu. Ed sedikit terkejut, ia berkeringat dingin. Kami semua pun terdiam, entah harus memulai dari mana.

“Jadi, kau, bukankah kau anak yang waktu itu mengajak Nail berkencan di Pesta Musim Gugur?” tanya Rafeld kepada Ed.

“Ya. Itu aku.” Jawab Ed.

“Ya… Umh, Mama, Papa, semuanya. Perkenalkanlah ini temanku, Edzhravunov Ilevaicham T… Dan dia adalah….”Sahutku terbata-bata.

“Dan dia adalah salah satu dari seorang Tsamaelth.” Lanjut Pria Berjubah dan Bertudung Hitam.

Semua anggota keluarga terbelallak dan terperanjat mendengarnya. Mereka nampak tidak percaya, sangat tidak percaya. Terutama Papa yang terus membelalakan matanya kepada Pria Berjubah dan Bertudung Hitam.

“Ya, Irresvanth. Aku tahu sebuah keraguan terbesar di benakmu sedang muncul. Tetapi, ini sungguhan.” Kata Pria Berjubah dan Bertudung Hitam kpada Papa.

“Tapi… Tuan, siapa… Mengapa anak ini tiba-tiba menjadi seorang Tsamaleth?!” tanya Papa.

“Baiklah, mungkin aku akan menceritakan sedikit tentang sejarah kembali. Irresvanth. Mungkin selama ini kau hanya berfikir bahwa kau adalah anak sulung dalam tali persaudaraanmu. Kau berfikir bahwa kau adalah anak pertama dari dua bersaudara, bukan? Dan nyatanya itu salah. Kau anak kedua, dari 3 bersaudara. Kau memiliki satu kakak laki-laki. Ia adalah Errudum Ochsalt Tsamaelth. Errudum memang anak pertama, yang umurnya mungkin sedikit jauh denganmu dan juga Seatranth. Errudum disaat umur masih kecil telah bertekad untuk pergi merantau demi membantu keluarga. Tetapi sayang sekali, saat Errudum kembali, kejadian ketika seluruh keluarga hancur berantakan telah terjadi. Errudum mendapati orang tuanya mati, dan ia kehilangan kedua adik kandungnya. Kau, Irresvanth, dan Seatranth. Errudum tahu benar akan kehadiran kalian, sekalipun ia belum pernah melihat kelahiran kalian. Aku lah yang selalu mendampinginya saat ia mencari-cari keberadaan kalian, hingga akhirnya bertahun-tahun kemudian ia bertemu dengan Enchavinth. Cinta pertamanya, dan istrinya untuk selamanya. Bersama dengan Enchavinth mereka mencari tempat tinggal teraman dari ancaman Matheus. Yakni tempat dimana kini anaknya tinggal. Tepat ditahun yang sama saat Nail lahir, mereka pun melahirkan anak mereka satu-satunya, seorang laki-laki. Dan inilah, Edzhravunov Ilevaicham Tsamaelth.” Jelas Pria Berjubah dan Bertudung Hitam.

Semua keluarga terdiam. Mata mereka berkaca-kaca kembali. Termasuk mataku. Sekali lagi, kami berbahagaia kembali mengenai bertambahnya sisa keluarga kami. Papa berdiri, menghampiri Ed, membuka tangannya lebar, dan memeluknya.

“Selamat datang kembali di Tsamaelth, Edzhravunov.” Sambut Papa.

“Terima kasih banyak, Pak. Aku sangat tersanjung.” Jawab Ed sambil menahan isakannya.

Semua orang tersenyum. Bahkan Rafeld, Zhalamen, dan Vrezian yang sangat tidak menyukai seorang saingan sekalipun. Mereka memberikan sambutan hangat pada Ed. Ed menghapus beberapa air mata yang meggenang di kelopak matanya.

“Terima kasih, semuanya. Kalian dengan sangat tulus dapat menerimaku kedalam keluarga ini.” Ucap Ed.

“Oh ayolah, Dik. Kita ini keluarga, tidak ada satupun yang dapat ditinggalkan dalam Tsamaelth. Semuanya arus bersatu padu.” Ucap Vrezian dengan senyum terbaiknya.

Aku cukup merasa lega, dan akhirnya aku dan Ed dapat duduk dengan tenang di kursi. Seluruh anggota keluarga sudah mulai berbincang satu sama lain, suasana menjadi hangat, tidak setegang dan sehening tadi. Sementara Pria Berjubah dan Bertudung Hitam hanya tersenyum dan berlalu ke ruang keluarga berdua dengan Leviatanh.

“Baiklah, Ed. Mungkin kau akan memiliki banyak waktu sekarang untuk menjelaskan semuanya kepadaku. Cukup kepadaku saja, bisa? Aku takut yang lain akan menjadi ribut setelah mendengar cerita-ceritamu.” Bujukku kepada Ed sambil menunjukkan balkon rumah di lantai atas.

“Baiklah, Nail. Ayo.” Jawab Ed.

Aku dan Ed engan diam-diam pergi meninggalkan ruang tamu dan menaiki tangga menuju lantai atas, ke arah balkon. Balkon adalah tempat favoriteku untuk diam dan menenangkan diri. Disini banyak sekali ketenangan yang dapat membuatku sangat damai. Terdapat sebuah kursi panjang dan dua kursi berlengan untuk tempat duduk. Aku dan Ed duduk bersebelahan diatas kursi panjang. Aku menatap ke wajah Ed dengan tatapan penuh rasa penasaran. Ed hanya tersenyum kecil dan mulai menghembuskan nafas panjang.

“Baiklah, Nail. kuakui, dan sebenarnya tidak perlu kukatakan lagi. Aku adalah seorang Tsamaelth. Sedari dulu. Dan… Jika kau sadari juga aku memang seorang Tsamaleth, ketika kita pertama kali bertemu.” Ucap Ed membuka ceritanya.

Aku mengerutkan keningku. Pertama kali bertemu? Dengan Ed? Jika aku sadari? Yang kusadari adalah, pertemuan pertama kami adalah ketika Gin dan si Coklat Panas Steve berkelahi, kemudian Ed menatap Gin dengan tatapan rendah dan sok keren. Apanya yang harus aku sadari dari hal itu? Itu tidak sama sekali menandakan bahwa dirinya seorang Tsamaelth. Ed memperhatikan mimik wajahku, ia tertawa kecil.

“Kau mungkin lupa dengan pertemuan kita yang pertama kali. Baiklah, akan kuingatkan kembali, kita bertemu pertama kali saat kau pulang membawa sebuah kantung plastik belanjaan dari minimarket 24 jam dengan mata berderai air mata entah mengapa. Pada saat itu, tampangmu sangat menyedihkan sekali, Nail!” kata Ed sambil tertawa lepas.

“Hmmm…. Minimarket? Aku menangis?…. Oh ya ampun!!! Jadi.. Kau adalah orang yang, menabrakku, dan memberiku minuman kaleng berisi darah itu?!”

“Tentu saja. Siapa lagi? Tidakkah kau menyadari hal itu?!”

“Tidak!!! Tentu saja tidak!!! Lagipula aku belum mengenalmu sama sekali, dan kau tiba-tiba muncul secara aneh dan dengan sok keren memberikan minuman kepadaku lalu menghilang begitu saja! Tetapi… Kalau begitu… Berarti kau juga…. Orang yang bermain mata denganku saat aku membuat sebuah karangan bunga di kepalaku? Itu kau juga, Ed?!”

Ed hanya tertawa kecil. Wajahku tiba-tiba bersemu merah muda. Oh ya ampun… Jadi memang benar, selama ini, lelaki yang kusukai dari awal itu memang Ed. Melihat wajahku semakin memerah, Ed semakin terbahak-bahak. Aku berusaha merengut dan menghilangkan rona di pipiku ini. Aku memukul tubuh Ed dengan sedikit jengkel.

“Mengapa kau tidak memperkenalkan namamu?! Dan mengapa saat di sekolah, kau seakan tidak mengenalku sama sekali? Dan terlebih, Ed…. Mengapa kau memberiku minuman darah itu? Itu artinya kau sudah mengetahui bahwa aku adalah seorang Tsamaelth kan? Jelaskan!”

“Okay… Mudah saja. Aku sudah tinggal disini sejak aku lahir. Ayah dan Ibu merawatku dengan baik, hingga meninggalkanku di umurku yang ke-13 tahun. Sejak saat itu, aku berusaha dengan keras untuk merelakan kepergian mereka satu-satunya. Dan juga bersikeras untuk menghidupi biaya hidupku sendiri dengan bekerja di beberapa toko. Untung aku memenangkan sebuah beasiswa ketika Sekolah Mennegah Pertama makanya aku bisa bersekolah hingga sekarang (meskipun kelakuan nakalku tidak bisa ditolerir, maklum saja ini masa pubertas). Semenjak sepeninggalnya orang tuaku, aku selalu teringat akan pesan terakhir mereka yang tertulis di surat wasiat yang mereka tinggalkan, “Jangan pernah beritahu siapapun tentang nama keluarga kita, Tsamaelth.”. Maka dari itu aku selalu menyingkat nama keluarga hanya dengan huruf T. Setelah orang tuaku meninggal, tentu saja aku merasa kesepian setengah mati. Hingga akhirnya aku menemukan sesuatu yang meanrik. Waktu itu adalah hari sekolah seperti biasa, aku berniat untuk membolos pada hari itu dan kulihat jam pun sudah menunjukkan waktu pukul 8.30 pagi, sudah sangat terlambat. Jadi, aku turun dari bis dan mengenakan hoodieku agara tidak ada yang melihatku sama sekali. Namun ketika aku turun dan berjalan sedikit ke arah Utara, banyak sekali orang berkerumun akan sesuatu. Aku penasaran, dan aku masuk menyelip diantara orang-orang untuk melihat apa yang sedang terjadi. Saat itu juga aku cukup shock melihat pemandangan seorang gadis cantik bersimbah darah hitam di perut dan mulutnya tengah terkulai lemas diatas trotoar. Kulihat beberapa buku dari tasnya yang terjatuh tertulis nama sekolahnya, sekolah yang sama denganku…. Kau tahu siapa gadis itu, Nail?”

Aku terperanjat kembali, namun tidak dengan rona merah muda menyebalkan itu lagi. Ed menyeringai lebar sambil menggelemetukkan giginya yang putih, sementara aku terdiam dan menatap kosong kedalam wajahnya. Otakku secara otomatis seakan kembali membawaku kembali ke insiden penusukan itu. Kalau begitu, berarti seseorang yang memberitahukan tentang kecelakaan itu kepada Bu Schwitzell adalah Ed?! Jadi…. Aku hanya terdiam dan kembali menatap Ed penuh dengan rasa heran. Ed kemudian kembali melanjutkan ceritanya.

“Dan disaat kau masuk kembali ke sekolah, aku menemukanmu tengah tertidur di bangku luar depan kelasmu. Saat itu sudah lewat dari jam pulang, jadi aku hendak membangunkanmu. Namun, aku begitu gugup, jadi aku menyuruh Steve untuk membangunkanmu. Kau pasti ingat hal ini, bahkan ketika Steve merayumu dengan gombalan kupu-kupunya itu.”

Aku mengangguk-angguk. “Lalu? Apalagi, ayo!?”sahutku.

“Ya, disaat aku melihat kau kecelakaan seperti itu. Disitulah aku langsung menyukaimu. Parasmu, auramu begitu berbeda dengan perempuan lain. Aku merasa kita sangatlah cocok. Banyak sekali kesamaan yang kita miliki. Dan hal yang membuatku cukup yakin bahwa kita adalah sama, yaitu darah hitammu saat kecelakaan. Tentu saja aku kaget, bahwa ternyata ADA seseorang yang memiliki darah hitam pula, sama sepertiku. Disitulah aku mulai menguntitmu tanpa kau sadari. Kemudian, aku selalu memperhatikan setiap anggota tubuhmu, kau memiliki simbol pentagram keluarga kita di nadi sebelah kirimu itu, saat aku melihatnya, aku yakin 100% bahwa kau adalah seorang Tsamaelth pula. Orang tuaku telah memberitahukan banyak hal kepadaku saat mereka masih hidup, dan mereka menulis semuanya di surat wasiat, mungkin untuk berjaga-jaga jika aku lupa beberapa hal. Aku juga memperhatikan kulitmu yang semakin pucat tiap harinya, kau yang selalu berjalan menghindari sinar matahari, membawa Leviatanh, juga ketika bola matamu berubah menjadi turquoise. Nah barulah aku sedikit demi sedikit selalu memata-mataimu dan mengangumi secara diam-diam hingga saat ini.” Jelas Ed sambil menarik nafas panjang.

“Astaga, Ed… Mengapa kau tidak bilang hal itu daridulu, mungkin jika kau sudah bilang hal ini sebelumnya, aku tidak akan terlalu sakit hati!!!” seruku sambil mengelus dadaku.

“Hah? Sakit hati seperti apa maksudmu?”

“Kau tahu, mulanya aku sangat yakin 100% bahwa kau adalah seorang Matheus. Kau adalah calon pembunuh, pembunuh Tsamaelth. Karena, kau adalah anak tunggal dan Leviatanh sangat yakin dengan hal itu, dan kau memiliki suara yang sangat merdu untuk menyanyikan lagu-lagu pujian dan lantunan do’a. tambahan pula, ketika aku menanyakan keluarga Matheus kepada Gin, Gin bilang mungkin anak tunggal Matheus tersebut adalah lelaki! Dan Leviatanh langsung berprasangka buruk, bahkan ketika kau menemukannya didepan lokerku? Apakah kau… Melakukan sesuatu yang buruk kepadanya?”

“Hmh… Leviatanh, mungkin kalian semua sudah pernah dibimbing dan dinasihati oleh Leviatanh, tapi karena keberadaanku yang tidak diketahui, sepertinya Leviatanh tidak membimbingku sehingga wajar saja aku tidak terlalu mengenalnya, dan sebab saat itulah aku kaget saat kau dapat berbicara dengannya dan aku pun dapat mendengar apa yang ia katakan. Tetapi, jujur saja, aku tidak melakukan hal buruk sama sekali kepada Leviatanh, aku memang benar-benar menemukannya ‘membeku’ didepan lokermu. Sungguh!”

“Baiklah, Anak-anak, mungkin kalian akan butuh penjelasan mengenai kesalahan tuduhan ini. Ya kan Leviatanh?” sapa Pria Berjubah dan Bertudung Hitam menghampiri kami bersama Leviatanh dari pintu belakang. “Ya, ini semua akibat ulah keluarga Matheus, Leviatanh sebenarnya sudah memata-matai keluarga Matheus yang asli. Namun kepala keluarga Matheus melihatnya dan menikamnya dengan pisau yang sudah dicelupkan kedalam air suci. Kemudian, karena pandangan Leviatanh yang kabur, ia melihat sosok lelaki itu sama seperti dengan sosokmu, Edzhravunov. Lagipula, berhubung kau yang menemukannya sudah jelas ia akan berburuk sangaka padamu. Tetapi, ayolah, maklumi saja ular tua ini, kadangkala semuanya dapat tidak terlalu sempurna. Benar?”

Aku dan Ed tersenyum lebar dan mengangguk, sementara Leviatanh hanya menunduk malu melilit leher si Pria. Sementara itu, Pria Berjubah dan Bertudung Hitam mengambil tempat duduk di hadapan kami, ia memanjangkan lengannya, dan tiba-tiba Burung Hantu putihnya terbang entah dari mana bertengger di lengannya itu. Baru saja beberapa detik burung itu bertengger di lengan si Pria tiba-tiba ia pindah ke atas kepala Ed.

“Halo Groevanth, lama tak berjumpa!” sapa Ed kepada burung itu.

Burung itu mengeluarkan suara kuk-kuk khasnya, mungkin membalas sapaan Ed. Mereka berkomunikasi dan bercengkerama dengan baik. Aku hanya memandang aneh mereka berdua, sementara itu Pria Berjubah dan Bertudung Hitam tertawa melihat ekspresiku.

“Nail, mungkin Edzhravunov tidak dapat berdampingan bersama Leviatanh, tetapi ia pun ditemani oleh burung hantu putih ini. Burung Hantu Putih yang pernah kau temui beberapa kali sebagai peliharaan dan pengirim surat dariku kan? Namanya, Groevanth. Mungkin kau tidak pernah bertemu dengannya, karena ia selalu ada bersama Edzhravunov secara diam-diam. Kau juga bisa berbicara dengannya, Nail. Groevanth, ayo, sapalah Nail, tidakkah kau rindu padanya? Dan berhentilah memakai bahasa rahasiamu bersama Edzhravunov.” Jelas Pria Berjubah dan Bertudung Hitam.

Groevanth terbang ke arahku, paruhnya mengembang, mungkin tersenyum manis. Kemudian ia menguku, yang semakin lama terdengar menjadi untain sebuah kata-kata di telingaku.

“Halo, Nail. lama kita tak jumpa!” sapa Groevanth.

“Oh ya ampu, ya ampu, ya ampun!!! Aku… Kau, bisa bicara?!” teriakku panik penuh dengan rasa senang, sekarang aku bisa berbicara dengan Burung!

“Hahaha, sebenarnya aku bisa berbicara daridulu, sayang sekali, dulu kau belum cukup ‘dewasa’ untuk berbicara denganku, Nail.”

Aku berbincang sedikit dengan Groevanth. Rupanya ia adalah seekor burung yang ramah, berbeda dengan tatapannya yang kejam. Tak lama kemudian Rafeld, Zhalamen, dan Vrezian menyusul ke atas balkon sambil membawa beberapa alat tulis warna-warni, entah untuk melakukan apa. Mereka duduk diatas lantai membentuk sebuah lingkaran, dannampaknya membentuk ebberapa kertas berwarna menjadi sebuah lipatan origami yang mungil. Ed, si Pria dan aku memperhatikan mereka bertiga, kemudian Ed tiba-tiba merasa terhenyak saat melihat luka melepuh di dada Zhalamen. Spontan ia menutup mulutnya terkejut.

“Ada apa?” tanyaku.

“Umh, Nail…. Kau lihat luka di dada lelaki yang itu?” bisik Ed sambil menunjuk ke arah Zhalamen. “Kau tahu apa yang terjadi dengan luka itu?”

“Ya aku tahu, ada seseorang yang membanjur air suci kearahnya secara terang-terangan lalu orang itu kabur begitu saja. Kurang ajar, bukan?”

“Tapi… Sebenarnya itu adalah aku. Aku yang membanjurkannya secara sengaja. Karena ya jujur saja, aku merasa curiga dengannya, kurasa dia adalah salah satu penyamaran seorang Matheus. Jadi, aku selalu menyediakan beberapa botol air suci hasil dari malam amal di gereja terdekat menggunakan sarung tangan, namun ternyata setelah kubanjurkan padanya, rupanya ia seorang Tsamaelth, jadi aku kabur terbirit-birit mengetahui bahwa aku salah orang. Dan hingga saat ini aku selalu berhati-hati.”

Aku tertawa kecil mengetahui kenyataan bahwa anak laki-laki beramut gondrong dan bergaya aneh yang diceritakan Zhalamen adalah Ed. Lalu kalau begitu berarti….

“Kau lah yang pada saat itu juga mengunjungi makam orang tuamu di pemakaman belakang sini, bukan? Yang langsung kabur ketika aku datang menghampiri.”

Ed mengangguk. Oh ternyata, sekarang semuanya menjadi jelas, sangat jelas, terlalu jelas!!! Dan syukurlah kini semuanya memiliki alasan yang logis. Tak lama kemudian, handphoneku berdering. Sebuah pesan singkat.

“Bisakah kita bertemu saat ini?aku ada didepan rumah.  Ini penting. –Gin.”

Nada pesan ini sangat tegang, jadi tanpa pamit aku langsung turun ke tangga bawah dan membuka pintu depan. Disana Gin sudah berdiri dengan tampang yang amat sangat tidak nyaman untuk dilihat. Aku menutup pintu, dan mengajaknya pergi dari rumah, karena rumah saat ini bukanlah tempat yang aman lagi untuk manusia biasa. Semuanya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Kemudian aku dan Gin berhenti ditaman komplek. Kami mencari sebuah bangku panjang agar bisa berbincang-bincang. Saat duduk Gin emnghela nafas panjang, sekaan nafasnya itu adalah nafas yang paling berat yang pernah ia hembuskan.

“Nail… Aku juga paham. Kini semuanya, aku pahami dengan baik. Kau memang benar-benar seorang Tsamaelth. Dan aku baru teringat dengan nama itu.” Ucap Gin pelan.

Aku hanya menekuk sebelah alisku kebawah, tidak tahu apa yang Gin katakan. Gin melihat raut wajahku yang cukup bingung. Kemudian ia membuka lagi mulutnya.

“Ya, seperti yang kau tahu rupanya leluhurku, pendiri keluargaku, keluarga Cortez memiliki kekerabatan yang amat sangat dengan denga keluargamu. Nyaris saja menjadi sebuah keluarga, tetapi kita dipisahkan oleh sesuatu yang astral, yang gaib, yang tidak dapat dipisahkan oleh manusia biasa. Dan disebabkan oleh hal itu juga, kau dan aku memiliki ikatan transparan yang akan sulit diputuskan apapun, selain kematian. Dan terciptalah rasa tarik menarik anatara keluargamu dan keluargaku meskipun kita tidak mengenal satu sama lain. Oleh karena itulah aku tertarik untuk berbicara denganmu. Dan memiliki insting untuk tetap selalu melindungimu. Dan itulah apa yang dilakukan leluhurku terdahulu kepada keluargamu. Kita adalah dua insan yang harusnya selalu bersatu.”

Aku hanya teridam membisu. Kemudian sekelebat ingatan-ingatan kecil muncul di kepalaku. Tentang sebuah keluarga kecil, seorang pria paruh baya pucat, seorang lelaki besar dengan kumis menyeramkan namun ramah, sebuah nama Cortez dan Tsamaelth. Semunaya muncul dan aku terperanjat. Kini semuanya jelas, ternyata mimpi itu, orang itu, semua tokoh itu, rupanya memang benar apa adanya. Aku tersentak, memeluk Gin secara tiba-tiba. Gin pun terkejut, ia memelukku balik dengan perasaan ragu-ragu.

“Ya, Gin! Sekarang aku ingat, aku pernah melihatnya, janji itu, hal astral yang memisahkan kita itu, aku tahu, aku ingat, aku ingat!!!” seruku.

Gin hanya terdiam dan tersenyum pahit sambil memelukku erat sekali. Perlahan air matanya mengalir, membasahi pipinya dan tengkuk leherku. Kemudian ia melepas pelukannya dan tersenyum kepadaku.

“Nail… Aku senang sekali bertemu denganmu, untunglah kita dapat bertemu, kau memang teman, sahabat, yang sangat baik. Melebihi siapapun, Nail. terima kasih telah bertemu denganku. Aku tidak mau kehilangan dirimu, sebenarnya, sangat tidak mau. Dan aku tidak akan rela untuk melihatmu pergi meninggalkanku.” Kata Gin sambil menangis.

Aku hanya meneteskan air mata sedikit, dan tersenyum dengan terpaksa sambil menghapus air mata Gin. Aku tahu mengapa Gin menangis, karena seperti yang sudah terjadi. Identitasku sudah terbongkar, identitas sebenarnya. Terlebih itu semua terbongkar oleh Dahlia, seorang Matheus secara langsung. Dan dengan ini sudah pasti akan terjadi sebuah perkelahian yang sangat besar. Dan kemungkinan besar akan mengorbankan jiwa dan raga hingga tetes darah penghabisan. Aku yakin Gin khawatir sesuatu akan terjadi kepadaku dan keluargaku. Dalam lubuk hatiku yang terdalam pula, tentu saja aku tidak siap untuk mati, tetapi tidak bisa dipungkiri lagi, Matheus adalah keluarga yang sangat kuat dan mereka memiliki rencana yang sangat matang untuk membinasakan kami dari keluarga ini. Memusnahkan Tsamaleth, keluarga Iblis ini.

Kemudian Gin menggenggam erat tanganku, menyadarkanku dari lamunanku. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bunga anggrek yang sedang mekar.

“Dan, Nail, terimalah ini. Aku menemukannya dikotak yang dikubur dibelakang rumahku, dengan sepucuk surat tak jelas. Nampaknya benda itu sudah lama sekali. Disana ia bilang, berikanlah kepada seseorang yang memiliki ikatan terbaik denganmu, maka aku berikan kepadamu, sebagai tanda persahabatan kita yang abadi dan tak akan lekang oleh waktu, pakailah Nail.”

Gin memakaikan kalung itu dengan lembut kedalam leherku. Aku menggenggam tangannya erat. Kemudian aku juga membuka sebuah gelang emas putih yang selalu kupakai, gelang kesayanganku. Aku melepasnya dan memakaikannya kepada lengan Gin.

“Jangan hilangkan ini pula, Gin. Karena aku juga ingin selalu berada bersamamu.”

Gin dan aku saling tersenyum pahit, kemudian kami berpelukan. Mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku memiliki firasat tidak akan bertemu lagi dengannya. Aku memiliki perasaan bahwa ini adalah kali terakhir aku bertemu dengan Gin, bahkan mungkin kali terakhir aku akan hidup di dunia ini. Setelah berpelukan dengan erat dan lama, aku dan Gin mengucapkan perpisahan terakhir kami. Siapa tahu mungkin esok-esok hari, aku tidak akan bertemu lagi dengannya.

Aku melangkah berbalik membelakangi Gin, dan terkadang kembali memutar kepala untuk melihat Gin untuk yang terakhir kalinya. Dan aku melanjutkan langkah hampa ini terus lurus menuju rumah. Beberapa tetes air mata tidak berhenti mengalir dari mataku. Mataku terasa sangat perih, hatiku terasa tercabik-cabik, dan pikiranku hancur berkeping-keping. Mungkin inilah hal yang seharusnya aku rayakan, karena MATI adalah hal yang sangat kuharapkan daridulu. Tetapi kini aku sudah mulai merasakan hangatnya kehidupan. Nikmatnya benih-benih kehidupan yang mulai muncul. Andai waktu bisa diputar kembali…

*

Aku pulang kerumah. Suasana dirumah benar-benar suram. Ed ada didepan televisi bersama Vrezian sambil berbincang-bincang tidak jelas dengan wajah bersedih. Zhalamen ada di meja makan sendirian, menjilati sendok berlumuran darah dari ‘buruannya’ (sepertinya). Sementara itu, Mama dan Papa saling bergenggaman tangan, tatapan mereka penuh rasa hampa. Aku menedekati Mama dan Papa. Duduk diantara mereka berdua. Melihat suasana seperti ini pun aku menjadi semakin sedih. Entah engapa, perkelahian itu belum dimulai, namun kami rasa-rasanya sudah merasakan suatu ending buruk kepada kami. Papa melihat bekas air mata di pipiku, ia mengelapnya dengan tissue basah di meja kecil disampingnya.

“Ada apa, Nail? Apa yang membuatmu bersedih seperti ini?” tanya Papa.

“Aku tidak tahu, Pa. mungkin sesuatu yang membuatmu Papa dan Mama bersedih juga. Pa, Ma, mengapa kita merasakan firasat menyedihkan ini?” tanyaku.

“Entahlah, hal itu tiba-tiba menyeruak di hati kita, anakku. Entah mengapa.” Jawab Papa.

Kurasakan kembali aura menyedihkan disekita Mama dan Papa. Bahkan Mama nampaknya enggan untuk berbicara mungkin saking terpuruk sekali keadaan didalam hatinya. Maka aku pun beranjak bangun dan meninggalkan Mama dan Papa. Kemudian aku hendak masuk kedalam kamarku sendiri, tetapi saat melewati kamar Rafeld aku mendapati sesuatu yang menarik untuk dilihat. Kulihat Rafeld menuliskan sebuah surat diatas kertas merah muda yang sangat harum, bahkan harumnya pun dapat tercium sampai ditempat aku berdiri, disini, didepan kamarnya. Ia menulis dengan serius. Matanya meneteskan air mata yang sungguh-sungguh. Aku hanya mengedikkan bahu, dan berlalu ke kamarku sendiri. Karena bagaimanapun juga aku memiliki kesedihan yang mendalam pula. Sampai dikamar, aku bercermin. Aku seakan tidak melihat bayanganku sendiri. Di hadapanku berdiri sebuah bayangan dengan rambut hitam lurus yang kini sudah sedikit panjang, kulit yang semakin pucat, dan bola mata yang emnjadi berwarna putih. Rekahan bibirnya pun sangat pucat bagai kering oleh debu-debu. Raut wajahnya sangat sedih, tidak ada sama sekali suatu kebahagiaan mengisi bibir kecilnya. Inilah aku. Aku terduduk didepan meja rias, sambil terus bercermin. Secepat inikah aku harus pergi? Terlebih, mengapa harus aku dan keluargaku? Saat aku melamun, Leviatanh melata naik keatas meja, dan melilit tanganku lembut.

“Nail, jangan bersedih seperti itu. Aku tahu meskipun kesedihan ini jelas tidak akan surut, tetapi aku tidak bisa melihatmu sesedih ini.” Desis Leviatanh setengah terisak.

“Ya Leviatanh, namun ya tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Hmh, Leviatanh bagaimana jadinya perkelahian kita terhadap Matheus? Bagaimana cara mereka melukai kita, kau tahu kita akan tetap hidup meskipun peluru menembus jantung kita kan?”

“Ya, Nail. memang benar, tetapi, mereka sudah pasti akan mengincar titik kelemahan nomor satu dari kita, mereka pasti akan mengincar urat nadi di leher dan kepala. Karena apabila urat nadi di leher, dan juga kepala kita dilukai dengan cara apapun, disaat itulah kita habis. Dan pastilah jika kau menemui leluhurmu, Nail, kau past akan melihat sebuah luka baik di leher ataupun kepala mereka.”

“Oh begitu…. Leviatanh, apakah kau pikir kita akan memenangkan sebuah pertarungan ini?”

Leviatanh hanya terdiam, ia mendesis ragu. Ya, tidak perlu menjadi down, aku sudah tahu jawabannya. Tetapi Leviatanh kembali berbicara, mengalihkan kepada topik yang baru.

“Umh, Nail… Apakah sempat belakangan ini kau melihat sebuah tubuh transparan, dengan kata lain.. Seperti roh?” tanya Leviatanh.

“Ya, aku sempat melihatnya saat aku terakhir pulang dari sekolah. Disaat telinga dan mataku mengalirkan darah. Sepertinya roh-roh itu ingin aku mendengarkan perkataan mereka dan melihat mereka secara lebih jelas. Kau tahu, Leviatanh, mereka terus berkata, waktumu tak akan lama lagi, bergabung dengan kami, seperti itu. Bahkan aku melihat orang tua Ed dirumahnya.” Jawabku.

“Umh ya Nail. terima kasih telah menjawab hal itu.”

Aku tahu apa maksud Leviatanh bertanya seperti itu.sudah barangkali untuk memeriksa apakah kami memang akan mati atau tidak nantinya. Dan sudah pasti, jawabannya adalah mati. Tetapi aku bertanya-tanya dimana Pria Berjubah dan Bertudung Hitam ini? Seharusnya ialah yang paling heboh apalagi ketika menjelang akhir dari keluarganya ini. Tiba-tiba saja dia menghilang begitu saja, tanpa memberi kami sebuah solusi, pemecahan, atau rencana untuk melawan Matheus. Mungkinkah ia juga sudah menyerah? Tetapi seperti bukan dirinya saja.

Tak lama kemudian, suara Papa berteriak memanggilku terdengar dari lantai bawah. Ia menyuruhku untuk turun ke bawah dan berkumpul bersama yang lain. Aku turun dan melihat semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga.

“Baiklah, istriku, anak-anakku. Aku merasakan, dan kalian juga pasti merasakannya. Sepertinya ajal kita sudah didepan mata. Dan aku tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Aku hanya akan berkata, jika waktunya telah tiba malam ini, ayo kita melwan sebisa mungkin, dan sekuat mungkin kita pertahankan nama Tsamaelth. Aku sayang sekali dengan kalian. Sangat menyanyangi, dan mencintai kalian. Selaku yang memimpin didalam keluarga kecil ini, aku… Sangat senang dan sangat bahagia bisa bersama kalian semua, termasuk dirimu Ed, meskipun mungkin hanya satu hari kita bertemu, namun tali keluarga Tsamaelth tidak akan pernah membedakan yang satu dengan yang lainnya.” Ucap Papa panjang lebar.

Tangis Mama mulai pecah mengisi keheningan didalam rumah ini. Dan semuanya pun mulai menitikkan air mata penuh rasa sedih. Kami berpegangan tangan satu persatu, setelah kami mulai membentuk satu lingkara, Papa mulai membuka mulutnya kembali dan membaca sebuah mantra kuno yang entah menggunakan bahasa apa. Semua orang memejamkan mata, tiap kalimat yang Papa ucapkan seakan meresap masuk kedalam hati kami dan menjadi sedikit kekuatan bagi kami. Setelah itu pula, kami melepas tangan kami. Bernafas berat, sekana ada sesuatu yang mengganjal di cabang paru-paru kami. Seketika kemudian ada sedikit keberanian merasuk kedalam sanubari kami. Kami dapat sedikit tersenyum.

“Jadi, kini sekarang apa?” tanya Vrezian menggaruk-garuk kepalanya.

“Oya, aku harus mengirim sebuah kartu untuk sementara dulu.” Sela Rafeld.

“Tidak Rafeld, sayang! Tidak, jangan keluar, untuk sementara ini jangan dulu keluar, Mama memiliki firasat yang buruk apabila ada salah satu dari kita keluar sendirian.” Jawab Mama.

“Tapi, Ma, apa yang harus kulakukan untuk mengirim surat ini? Ini sangatlah penting, kumohon.”

“Baiklah Rafeld, biar aku yang mengantarkannya. Dimana suratnya?” tawar Groevanth yang sedari tadi hanya berbincang dengan Leviatanh di sisi sebelah kanan Papa.

“Suratnya ada di dalam laci, Nail tolong ambilkan!” perintah Rafeld.

Aku hanya mengangguk dan naik keatas bersama Groevanth lalu masuk kedalam kamar Rafeld. Aku membuka laci di meja belajar Rafeld. Kulihat sebuah amplop putih yang rapi berisi surat merah muda yang tadi Rafeld tulis. Sebelum memberikannya kepada Groevanth, aku sedikit membaca surat dari Rafeld, namun baru saja 10 detik aku membaca surat itu sekilas aku langsung buru-buru memasukkan surat itu kembali ke amplop, merekatkannya, memberikannya kepada Groevanth.

“Kau tahu kemana harus mengirim surat ini kan, Groevanth?” tanyaku kepada Groevanth.

“Itu masalah kecil, Nail. kau dapat memperhitungkanku.” Jawab Groevanth.

Lalu Groevanth terbang begitu saja, mungkin ia memiliki indra hewannya yang luar biasa. Ya baiklah, hati-hati dijalan Groevanth…… Apa? Kalian bertanya-tanya tentang surat macam apa yang ditulis Rafeld? Tidak, tidak. Itu sebuah rahasia…. Hah? Aku? Aku tidak adil katamu? Bukannya tidak adil, aku hanya penasaran saja… Okay, baiklah, baiklah, akan kukatakan surat macam apa itu. Itu adalah sebuah surat cinta. Kuulangi, SURAT CINTA. Untuk siapa? Itu untuk… Phoebe. Rupanya memang, tingkah mereka yang seperti merpati putih bersahabat itu bukanlah perlakuan kepada sahabat semata. Sudah kuduga…. Isinya? Tidak, tidak, aku tidak akan memberitahumu, sebab aku juga hanya membacanya sedikit. Intinya adalah Rafeld, mengungkapkan perasaan sayang dan cintanya pada Phoebe, dan ia ingin Phoebe agar tidak mengkhawatirkannya dan terus menjaga diri. Romantis bukan? Ya kurasa begitu juga. Ya untuk sementara ini, bukanlah waktu yang salah untuk mulai menyatakan segala kebenaran terhadap orang-orang yang kau sayang. Karena ini adalah waktu yang tepat, waktu yang paling terakhir dan inilah kesematan satu-satunya untuk mengatakan segala sesuatu dan melepas segalanya. Lalu, Dunia, kuakui, memang kau kadang begitu bersahabat sehingga aku menjadi sangat betah untuk tinggal didalam sini, di kehidupan ini, dan mungkin aku menyesali atas segala umpatanku terhadap kehidupan di waktu-waktu yang terdahulu. Aku menyesalinya, sangat menyesalinya. Semoga saja penyesalan ini akan berakhir, semoga saja perasaan ini hanyalah firasat dan dusta belaka. Semoga saja….

*

Chapter XV: The “Reality” Shows

I push my finger into my eyes

Is the only thing that slowly stop the ache

But it’s made of all the things I have to take

Jesus, it never ends, it works inside

If the pain goes on, I’m not gonna make it

*

Baiklah, sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kakiku di penjara ini. Sekolah. Musim dingin telah berakhir. Kini bunga-bunga bermekaran dengan warna warni mereka yang begitu cantik, membuatku diriku semakin memalukan dan buruk rupa dibanding mereka. Kupu-kupu mulai beterbangan melewati setiap taman untuk memakan nectar. Anak-anak pun bersuka ria, terlihat sungging senyum mereka yang mengembang sangat lebar bahkan mungkin nyaris merobek wajah mereka. Ini saatnya mereka saling bercengkerama kembali, dan saatnya aku kembali harus menahan amarahku. Tapi, kali ini mungkin akan berbeda karena baru saja pada semalam yang lalu aku melihat motivasi yang begitu cocok untuk dipraktekan di sekolah. Disana ada tweet yang dikatakan melalui PicTweet, hanya dengan description, “This is how I will act in school tomorrow.” Dan gambarnya cukup simple namun begitu mengena. Gambarnya hanyalah seorang gadis yang terus mengacungkan jari tengahnya kepada semua orang dimana saja, baik di lorong sekolah, aula, bahkan cafeteria. Ini hebat. Dan mungkin hari ini aku akan memulainya seperti itu.

Aku termangu sejenak saat sampai di depan gerbang sekolah, menarik nafas panjang, dan menaikkan volume pada iPod ku. Aku melangkah masuk ke dalam. Dan disana sudah dapat ditebak pandangan anak-anak berubah. Namun banyak sekali ekspresi konyol mereka. Tapi bukan itu masalahnya, yang membuatku terganggu adalah tatapan Dahlia yang kini berubah 180 derajat! Oh ya ampun, kini tubuhnya menjadi langsing, rambutnya menjadi pirang, dan kulit tan nya menjadi putih. Ini sudah pasti. OPERASI DAN SUNTIK KECANTIKAN. Aku yakin ia melakukan sedot lemak, pengecatan rambut, dan suntik kulit, mungkin bahkan suntik silicon untuk bagian dadanya yang Nampak tidak alami itu. Ia menatapku sinis seperti biasa. Namun aku menatap balik dengan pandangan mengerikan dan penuh rasa jijik. Dia menyeringai dan mulai angkat bicara saat kondisi sepi.

“Ada apa, Nail? Ada yang salah? Tentu saja, karena pada kali ini kau akan terkalahkan, sapalah diriku yang baru bagai Ratu ini!!!” sahutnya dengan suaranya yang melengking.

Aku menaikkan sebelah alisku, dan jujur saja cukup tersulut emosi.

“Oh ya? Oh begitu. Baiklah, sampai jumpa. Kau tahu, penampilanmu itu cukup menarik. Seperti waria yang terkena AIDS.” Jawabku tenang.

Dahlia memelotokan matanya yang menggunakan contact lense biru terang. Anak-anak tertawa keras dan terbahak-bahak. Aku cukup puas. Kemudian saat aku mulai menaiki tangga memasuki koridor, tangannya memegang erat lenganku dan menarikku kembali ke luar.

“Kau, mau mencari masalah setelah baru saja beberapa detik kakimu melangkah masuk ke sekolah, Nail?”

“Mungkin. Tapi apa salahnya berkata jujur. Lebih baik jujur daripada aku mengatakannya dengan kebohongan. Maaf saja, Dahlia, jujur itu memang menyakitkan.”

“Baik, ini artinya kau memang mengajakku untuk berkelahi denganmu. Kau menginginkannya kan?”

“Tidak juga, semuanya terserah padamu. Jika kau mau, kau ingin melakukannya dengan tangan kosong atau senjata?”

Anak laki-laki bersiul riuh rendah mendengar ucapanku dan beberapa dari mereka bahkan menyuluti kami untuk memulai perkelahian. Dahlia terdiam, ia hanya membanting lenganku yang sedang dipegangnya.

“Kau akan merasakan balasannya, Suram! Kau akan lihat nanti!!!” bisiknya penuh rasa jengkel.

Aku menaiki tangga sambil menaikkan volume penuh sehingga All That Remains-Six dapat meredam seluruh suara di luar sana. Kemudian aku berbalik sejenak dan menatap Dahlia yang masih memelototiku, mengacungkan jari tengahku tinggi-tinggi sambil menggeleng-gelengkan kepalaku mengikuti irama lagu. Anak-anak lainnya merasa hal itu sangat keren dan mulai berteriak memanasi Dahlia. Aku hanya memeasuki koridor sambil terus menikmati musik dan mencari lokerku. Rupanya lokerku yang biasa kini sudah dipindahkan. Belum ada satu murid pun didalam sini, jadi aku pergi menuju ruangan yang berisi seorang guru, dan kebetulan aku bertemu Mr. Romius di salah satu kelas.

“Permisi, selamat pagi dan selamat musim semi Mr. Romius.” Sapaku saat berdiri di belakangnya.

“Ah, Nail. Selamat pagi dan selamat musim semi juga! Bagaimana dengan liburan Natal dan Tahun Baru mu?” jawabnya sambil membenahi posisi kacamatanya yang miring.

“Hmmm. Baik pak.” Jawabku, sambil tersenyum manis. “Pak, ada pertanyaan yang ingin kusampaikan, ada dengan loker milikku, mengapa loker itu tidak dapat kubuka?”

“Oh ya, aku baru saja akan mengumumkannya di homeroom ketika anak-anak sudah masuk nanti. Mungkin kau bias menunggu sebentar saja, Nail?”

“Oh okay, baiklah. Terima kasih pak.”

Mr. Romius tersenyum dan mengangguk aku pergi ke luar kelas dan kembali menuju halaman, meskipun itu artinya aku harus bertemu Dahlia kembali. Namun tepat pada saat yang dibutuhkan Gin datang menghampiriku.

“Hai, kawan! Mengapa kau tidak berangkat bersamaku?” sapanya sambil menepuk bahuku dengan keras.

“Oh ya aku lupa memberitahumu, tadi aku diantar oleh Rafeld. Ia memaksaku untuk pergi bersamanya.” Jawabku sambil memberikan Hi-5 kami seperti biasa.

“Tidak apa, itu keren, sepertinya kau dan dia mungkin akan lebih akur. Siapa tahu saja.”

Kami tertawa kecil. Namun disaat itu juga Dahlia datang menghampiri dan merusak suasana ku lagi.

“Oh, kau masih berteman dengan si gimbal menjijikan ini, Nail? Rupanya kau benar-benar tidak memiliki teman satupun ya? Bahkan jika kau memiliki pun, kau memiliki satu yang buruk rupa seperti ini. Kasihan. K-A-S-I-H-A-N!!!” ucap Dahlia.

Gin menundukkan kepalanya, memejamkan matanya, dan menahan kepalan tangannya. Aku tahu ini berat bagi Gin, karena mulut perempuan (Dahlia) lebih tajam dibanding mulut laki-laki yang sering ia dengar. Aku menahan kepalan tangannya.

“Tidak lelahkah dirimu untuk tidak membuat hari ini menjadi mendung, Dahlia? Jujur saja, aku sangat muak denganmu! Dan jangan pernah bawa-bawa Gin, kalau kau mau teruslah hina aku, jangan pernah melemparkan ucapan kotormu itu pada Gin!” aku mulai berteriak.

“Oh, ow…. Temannya marah! Kurasa Gin sepertinya kau harus memakaikan tali kepada Nail sekarang juga ke lehernya, atau mungkin aku salah bicara lagi, mungkin kau yang Anjingnya atau apa?” cemooh Dahlia.

Aku tidak sadar, bahwa kepalan tangan Gin lepas dari peganganku dengan mudah. Dengan cepat, tangan Gin mendarat tepat di pipi Dahlia. Jika kau menantang perang tinju dengan Gin, itu adalah kesalahan terbesarmu (termasuk pada laki-laki). Otomatis Dahlia tersungkur jatuh ketanah. Anak-anak mulai melingkar membentuk sebuah lingkaran ring untuk bertarung. Dahlia memegangi mulutnya yang mengeluarkan darah segar yang mengalir dari rahangnya. Namun belum sempat ia berdiri atau bahkan menatap Gin, rambut pirangnya yang panjang dan keriting itu sudah Gin tarik sekuat tenaga. Dahlia meringis kesakitan dan berteriak, aku sendiri pun meringis sendiri sama seperti anak-anak lain yang melihat kejadian ini. Gin menarik rambutnya dan berbicara di depan wajahnya.

“Turunkan aku, dasar gimbal tak berguna! Turunkan! Turunkan!!!” jerit Dahlia sambil meronta-ronta kesakitan.

“Siapapun namamu, siapapun kau, meskipun aku tidak mengenalmu, namun aku tidak akan memaafkanmu jika kau terus mengganggu Nail! Dan aku juga cukup sensitive apabila seseorang yang sudah menyakiti sahabatku bahkan ia menyakitiku pula. Dan ketahuilah rasa sakit yang paling menyakitkan adalah, arasa sakit yang kau torehkan ke dalam hati dan sanubari seseorang.” Kata Gin dengan pelan.

Kemudian ia melepas tangannya dari rambut Dahlia. Anak-anak lain langsung pergi masuk ke dalam homeroom dengan penuh rasa takut. Sementara itu Dahlia masih meringis kesakitan dibantu berdiri oleh teman-teman gengnya. Aku dan Gin menyusul anak-anak lainnya dengan langkah santai tanpa rasa bersalah apapun (secara teknis kami memang tidak bersalah, coba pikir baik-baik).

Setelah semua anak sudah berkumpul, tak lama kemudian, bunyi speaker mulai berdenging. Anak-anak menjadi sunyi dan siap-siap untuk mendengarkan pengumuman.

“Perhatian, selamat pagi Anak-anak!” terdengar Mr. Romius berbicara lewat speaker. “Ada beberapa pengumuman yang harus disampaikan kepada kalian. Pada tahun ini, sekolah telah mengadakan sebuah program mengajar baru. Dikarenakan kurikulum yang baru pula kami memberlakukan peraturan baru kami. Dan kini sekarang, akan kuumumkan hal itu. Pertama, kurikulum baru kita membuat kita akan me-rollingkelas. Kini sebagian anak dari kelas kalian akan dipindahkan kelas lain demi tercapainya keseimbangan pelajaran yang akan kalian dapatkan. Jadi tidak ada lagi diskriminasi terhadap anak-anak “berkembang” dengan anak-anak yang sudah cukup dari harapan kami. Seperti contoh, kelas 11-1 kini akan dirolling dengan anak-anak dari kelas 11-13. Kaian dapat menemuka kelas kalian dengan membaca nama kalian yang terpampang di mading. Silahkan cari nama kalian, dan loker. Loker kalian akan dipindahkan sesuai absen kelas kalian. Sekian dari saya, selamat pagi Anak-anak!”

Aku dan Gin saling memandang. Kami saling menatap dan buru-buru pergi ke hadapan mading, aku langsung mencari namaku pada lembar pertama, yakni lembar kelas 11-1. Dan yap, aku cukup senang sekali dengan hasil itu meskipun tidak cukup senang sebenarnya.

Dahlia Jessica .M

Edward Jackson .p

Edzhravunov ilevaicham .t

Ginger garnetta .c

Jimmy Ronald .m

Nail  zjork  .T

*P.S Tulisan yang sengaja kutandai berwarna merah adalah hal yang paling membahagiakan yang aku baca, untu tulisan berwarna biru aku tidak tahu harus berperasaan bagaiaman, dan nama yang kucoret, aku harap memang nama itu benar-benar dicoret.

Aku dan Gin saling menatap dan memberikan senyuman paling lebar yang kami miliki. Aku tidak menyangka akan sekelas bersama dengan Gin. Baiklah, kelas 2 SMA ini tidak akan begitu buruk setidaknya. Aku berpelukan dengan sambil melompat kegirangan. Kemudian aku dan Gin langsung memasuki kelas dan mulai mengambil bangku yang kami sukai, namun kami tetap harus berdekatan. Tetapi betapa mengejutkannya, beberapa anak sudah mengetahui hal ini terlebih dahulu, dan menandai teritori mereka dengan ransel yang mereka simpan disitu, dan bahkan, Ed pun sudah ada disana. Satu-satunya dua kursi yang masih berdekatan adalah kursi di depan Ed. Ed duduk di kursi paling belakang, mustahil untuk duduk jauh darinya, tidak ada tempat lagi. Aku memandang Gin dengan maksud meminta pendapatnya.

“Baiklah, ayo, Nail. kau ambil yang didepan, biar aku yang duduk di hadapan Ed.” Kata Gin berbisik di telingaku perlahan-lahan.

Aku mengangguk, Gin hendak menyimpan ranselnya di kursi didepan Ed, namun Ed memanjangkan kakinya, tidak membiarkan Gin duduk disitu.

“Maaf, tempat ini, sudah dipesan, kawan!” katanya sambil mengunyah permen karet dengan nada menyebalkan seperti biasanya.

“Oleh siapa? Jim?” Tanya Gin.

“Tidak, Jim, sudah duduk dibangku di sampingku.”

“Baiklah, kalau begitu menyingkirlah, Ed!” seru Gin sambil menyingkirkan kaki Ed.

Tetapi Ed, malah menginjak tangan Gin dengan keras, dan badannya mulai bangkit.

“Gin, kursi ini bukan untukmu, ini sudah kupesankan untuk seseorang.”

“Baiklah, baiklah, siapa?! Lepaskan dulu tanganku!” teriak Gin.

Ed melepas injakannya pada Gin sambil meletupkan balon permen karetnya, kemudian ia menyuruh Gin untuk menyingkir sedikit, mengeluarkan sebuah sapu tangan hitam bermotif tribal lalu mengelapi kursi itu dari kotoran debu. Lalu ia datang mendekatiku,  dan tangannya menunjuk dengan halus kepada kursi itu.

“Untukmu, nona cantik.” Ujarnya. “AKu tidak akan membiarkan siapapun duduk disini, selain kau, Nail. namun jika kau tidak mau menerimanya, baiklah, mungkin Dahlia akan duduk di depan sana, sementara kau akan duduk di kursi samping meja guru itu. Semua terserah padamu, sayang.”

Aku menelan ludahku. Aku tahu Gin, tidak akan bisa melawan Ed, Ed adalah tingkat lelaki yang sebenarnya (baca: lelaki yang tak bisa Gin kalahkan). Mau bagaimana lagi, aku menaruh tas selempangku diatas meja itu, kulihat Ed sedikit berteriak “YES!” tapi aku tidak menaruh perhatian pada itu. Aku masih berfikir mengani hal yang menyesakkan hati itu. Dan Gin menaruh ranselnya di bangku didepanku. Aku jadi kehilangan kata-kata, semula aku sangat ingin mengungkapkan kebahagiaanku bersama Gin, tapi kini aku malah terdiam kaku. Gin pun menjadi salah tingkah, jadi ia pergi ke luar untuk membeli minuman kaleng dan makanan ringan. Sementara Gin keluar, hanya aku dan Ed yang tersisa didalam kelas. Ia datang menghampiriku.

“Nail, dulu kita hanya sekelas berada di Kelas Bahasa Jerman, dan kini setiap kali kita akan bertemu  terus-terusan. Aku senang dengan hal ini.”

Aku hanya tersenyum pada Ed, entah apa yang harus kukatakan dengannya, saat melihat wajahnya tiba-tiba hatiku, menjadi terasa sakit dan sesak. Kemudian Ed memandangku dalam dan melihat apa yang sedng kusetel pada iPodku.

“Oh, rupanya All That Remains-Hold On. Baiklah, sepertinya aku punya lagu yang cocok yang dapat kau jadikan playlist selanjutnya.”

Ia mengambil iPodku dan melakukan sesuatu kepadanya dengan menggunakan laptopnya, setelah 2 menit, ia mengembalikannya dan pergi ke luar entah untuk apa. Aku penasaran lagu macam apa yang ia masukkan ke dalam iPod ku, rupanya All That Remains pula namun dengan lagu yang berjudul Not Alone. Tiba-tiba aku merasa ngeri, lagu ini, playlist ini seperti sebuah ungkapan. Aku sedang mendengarkan Hold On, bertahanlah, namun ia memberikanku Not Alone, kau tidak sendiri. Seperti sebuah ungkapan aku yang sedang bertahan dan waspada akan sesuatu yang buruk yang akan terjadi, namun tiba-tiba ia muncul dan bilang bahwa aku tidak sendiri dan seperti hendak membunuhku perlahan.

*

TIIN… TIIN… TIIN….

Suara klakson yang terdengar tidak sabaran itu sudah pasti suara klakson mobil Rafeld yang menjemputku dari sekolah. Deru suara mesin mobilnya sangatlah berisik,pertanda bahwa ia sudah tidak dapat menungguku lebih lama lagi. Aku berjalan mendekati mobil, keluar dari gerbang sekolah.

“Ayo, masuk, Nail!” perintah Rafeld sambil melongok kelur untuk melihat wajahku.

Aku masuk ke dalam mobil, ke bagian bangku belakang dan bersandar penuh rasa lelah disana. Rafeld memiringkan spion mobil untuk melihat keadaanku sambil menginjak pedal gas dan mengebut ke tengah jalan untuk pulang.

“Nail, ada apa denganmu? Mengapa kau terlihat sangat tidak bergairah sama sekali. Ini hari pertama sekolah, apakah kau… Sakit?” tanya Rafeld sambil mengernyitkan dahinya.

“Entahlah, mungkin seperti itu. Hari ini, hari yang tidak terlalu baik untukku di sekolah. Aku hanya… Merasa tidak baik. Kau sendiri bagaimana, Kak?” tanyaku sambil menghela nafas panjang.

“Yaaah, aku juga. Hari ini tidak begitu baik. Aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Rasanya, sama sekali tidak menarik.”

“Kalau begitu, apa yang membuat hari pertama sekolahmu menjadi tidak menarik, Rafeld?”

“Aku…. Mendapat bangku yang bersebalahan sangat dekat dengan… Courtney. Dan hal itu tidak membuat hari ini berjalan begitu baik. Apakah, hal yang sama terjadi juga padamu, Nail?”

“Hmm. Ya, pertama-tama semua dimulai dengan perkelahian dengan Dahlia seperti biasa. Lalu duduk di dekat orang yang tidak tepat pula. Meskipun ada Gin di dekatku, tetapi hal itu tidak membuatku menjadi sedikit lebih baik.”

Rafeld hanya kembali menghela nafas penuh rasa jengkel, dan berhenti berbicara. Aku pun haya semakin membenamkan kepala ke dalam bantalan jok kursi yang begitu empuk. Aku tidak mengerti. Seharusnya aku hari ini sangatlah senang, apalagi bisa bertemu Gin, dan Ed. Karena bagaimanapun juga aku masih menyukai Ed. Namun ada sesuatu yang sangat besar yang mengganjal didalam hatiku. Sesuatu yang nampaknya tidak bisa disingkirkan meskipun dengan 13.000 ton TNT sekalipun. Perjalanan pulang tersa lebih lama daripada biasanya, padahal Rafeld mengendarai mobil dengan kecepatan 100km/jam. Aura didalam mobil terasa begitu suram penuh kegelapan, tidak ada sama sekali kecerahan yang muncul baik dari diriku sendiri maupun dari Rafeld. Sampai akhirnya kami tiba di rumah, dan cepat-cepat keluar dari mobil. Mama sudah menyambut kami berdua dengan senyum lebar keibuannya yang sangat anggun dan cantik, membuat hatiku dan Rafeld sedikit lega dan dapat mengguratkan sedikit senyum simpl di wajah kami.

“Kalian terlambat, anak-anak. Zhalamen dan Vrezian mendahului kalian, 15 menit yang lalu. Ayo bergabung dengan kami, untuk makan siang.” Sapa Mama sambil mengelus kepala kami berdua.

Aku dan Rafeld tersenyum kepadanya untuk membuat kesan yang baik, karena ketahuilah, Mama merupakan makhluk yang paling mudah cemas yang pernah ada di muka bumi ini. Jadi, kami tidak mau membuatnya mulai heboh dengan kecemasannya sendiri. Saat memasuki ruang makan, kami mendapati Zhalamen dan Vrezian yang memang sudah mendahului kami sedang terdiam muram di meja makan sambil memain-mainkan pasta yang Mama buat. Di wajah mereka tidak tergurat sedikitpun senyum. Rupanya bukan hanya aku dan Rafeld yang memiliki hari buruk. Melihat pemandangan yang suram seperti ini, membuatku semakin terpuruk juga dalam ketidak senanganku dan aku tidak dapat menahan lagi senyum ini, aku hanya dapat melepas sebuah cemberutan yang nampak sangat jelas terpampang di wajahku. Mama datang menyediakan dua piring past untukku dan Rafeld. Kemudian ia duduk dan memperhatikan wajah kami semua dengan saksama.

“Baiklah, ada apa, Nak-anak? Mungkinkah pastanya kurang memuaskan atau apa?” tanya Mama yang hendak berdiri untuk mengganti makan siang kami.

“Tidak, Bibi. Kami hanya mendapati hari yang buruk sekarang ini.” Jawab Vrezian yang daritadi menundukkan kepala.

“Kalian semua? Mendapati hari buruk? Mengapa bisa, ini adalah hari pertama kalian bersekolah, harusnya kalian bersuka cita bertemu teman-teman diluar sana yang sudah tidak kalian temui selama 3 bulan terakhir ini. Tidakkah kalian merindukan mereka?”

“Ya, kami merindukan mereka, namun ada hal buruk yang terus membuat kami cemberut seperti ini. Dan mungkin ya, masalah pubertas, Ma. Mungkin gangguan metabolisme tubuh kami yang sedang tidak beres.” Jawab Rafeld.

“Dalam maksud… Kalian sakit? Seperti itu?” tanya Mama kurang mengerti.

“Tepat, Bibi. Sangat sakit terutama.” Konfirmasi Zhalamen singkat.

“Oh ya ampun, kalau begitu, ayo, anak-anak habiskan makan siang kalian, setelah itu silahkan kalian baringkan tubuh dan beristirahatlah dengan cukup. Aku akan mengompres kalian satu persatu, dan mengantarkan obatnya ke kamar kalian.” Ucap Mama sambil buru-buru menyiapkan beberapa epithema(obat kompres) dan selimut tebal untuk kami.

Kami semua menghabiskan makan siang kami secukupnya. Dan pergi ke kamar masing-masing tanpa berkata apa-apa. Kami seperti sepasukan mayat hidup yang rindu akan kehidupan sebenarnya, namun hal itu tidak terjadi. Kami berpisah di lantai pertama dan pergi berbaring di kamar masing-masing. Aku mengganti bajuku dengan piyama kesayanganku sambil menutup jendela dan menarik selimut agar aku bisa tertidur sampai akhirnya 5 menit kemudian Mama masuk kedalam kamar. Mama mengukur suhu tubuhku sambil meletakkan kompres di dahiku, kemudian menyuapiku obat dan mempersilakanku untuk tidur dengan kecupan hangatnya di dahiku.

Aku mulai memejamkan mataku dan mencoba menghilangkan seluruh permasalahanku dari kepalaku, hingga akhirnya terlelap.

Aku bangun didalam sebuah tempat yang mungkin sudah sangat lama tidak kukunjungi, sebuah kamar berpenerangan remang-remang dengan banyak buku dan tengkorak kepala manusia di sekelilingnya. Dinding-dindingnya terbuat dari akar pohon. Ini, rumah Pria Berjubah dan Bertudung Hitam saat kali pertama aku mengunjunginya. Jujur saja, aku sedikit senang kembali kemari, ini dapat mengholangkan semua permasalahanku sejenak. Tiba-tiba burung hantu putih milik Pria itu masuk melewati tirai pintu sambil menarik-narik bajuku. Mungkin ia ingin aku pergi mengikutinya, jadi aku bangkit dan berjalan kearah yang ia inginkan sambil terus menarik bajuku dengan cakar kakinya yang tajam. Burung hantu itu menuntunku ke sebuah ruangan tengah dari rumah ini. Disana Pria Berjubah dan Bertudung Hitam sedang duduk di sebuah kursi yang nampak seperti sebuah singgasana megah, dan di hadapan Pria itu, duduk pula Rafeld, Zhalamen, dan Vrezian.

“Selamat datang, Nail. kau belum terlalu terlamabat. Ayo, duduk, bergabunglah dengan yang lain.” Sapa Pria Berjubah dan Bertudung Hitam itu dengan seringainya yang khas.

Zhalamen bergeser, memberikanku sebuah tempat untuk duduk. Aku duduk didekatnya, dan dia merangkul erat tubuhku sambil sedikit tersenyum.

“Katakan padaku, apakah ini sebuah mimpi atau…..” aku mulai bertanya pada Zhalamen.

“Tenang Nail. Ini sungguhan, dan ini benar-benar diriku, dan Rafeld, dan Vrezian, dan Tuan kita, dan yang lainnya semua sungguhan.” Jawab Zhalamen sambil menutup bibirku dengan kasar dengan maksud bercanda (mungkin).

“Ya, Nail, Zhalamen benar. Ini sungguhan, baiklah mungkin aku akan langsung ke dalam topik permasalahan, baiklah anak-anak, sudah lama kita tidak berkumpul bersama seperti ini ya? Mungkin sudah 6 bulan atau lebih saat kita terakhir kumpul bersama. Ada yang tahu kapan kita kumpul bersama seperti ini?”

“Tentu saja, aku ingat, Tuan. Disaat Zhalamen kehilangan kendali saat sisi gelapnya muncul.” Ucap Vrezian.

“Nah, itu dia. Vrezian, ingatanmu sangat bagus. Dan biar aku buka topik kali ini. Bagaimana kabar kalian, anak-anak?”

“Buruk!!!” jawab kami berempat.

“Baik, lalu apa yang membuat kabar kalian seburuk itu?”

Kami semua terdiam. Sebenarnya kami tahu apa yang membuat hari kami begitu buruk, namun entahlah, kami tidak dapat mengungkapkannya secara lisan. Perasaan yang buruk itu hanya terpendam di hati kami, dan mengganjla dengan sangat erat di antara organ-organ dalam kami. Hingga akhirnya Pria Berjubah dan Bertudung Hitam tertawa kecil sehingga mengalihkan perhatian kami pada masalah kami.

“Baiklah, sebenarnya aku tidak perlu bertanya mengenai hal ini, namun aku ingin tahu, apakah kalian dapat mengungkapkan isi hati kalian dengan baik, namun sayang sekali hasilnya kurang memuaskan. Aku yakin, kalian merasakan sesak yang teramat sangat kan?”

“Ya, rasanya seperti ada berton-ton batu bata menimpa dadaku. Dan sulit sekali rasanya untuk bernafas bebas, dan tersenyum. Rasanya sangatlah berat dan tidak enak.” Timpal Zhalamen sambil mengusap-usap dadanya yang nampak sangat kesakitan.

Pria Berjubah dan Bertudung Hitam tersenyum kecil. Ia bergerak sedikit untuk membenahi cara duduknya supaya lebih nyaman. Kemudian berdehem sedikit dan mulai akan membuka mulutnya dengan raut wajah yang serius.

“Ya, persis. Itulah yang seharusnya kalian perhatikan dan takutkan. Hal ini terjadi, karena mungkin tidak lama lagi, akan terjadi lagi sebuah pembantaian, saling bunuh membunuh antara satu keluarga dengan salah satu keluarga yang lainnya.” Ucapnya dengan wajah yang penuh kebencian.

“Keluarga Matheus?” tanya kami berempat serempak.

“Ya, tepat, anak-anak. Aku sudah memberitahukannya dengan jelas. Agar terus berwaspada dan membuka mata kalian terhadap orang-orang yang mungkin tidak kalian sadari selama ini adalah musuh yang nyata untuk kita semua. Dan seiring rasa sakit yang kalian rasakan di dada kalian, semakin sakit dada kalian, maka berarti semakin dekat pula hal buruk akan terjadi.”

‘Memangnya apa yang akan kita lakukan terhadap mereka, Tuan?” tanyaku dengan tampang super bodoh, namun jujur saja aku memang benar-benar tidak mengerti terhadap kasus yang satu ini.

Rafeld, Vrezian, Zhalamen, dan Pria Berjubah dan Bertudung Hitam memperhatikanku dengan tampang yang aneh. Mungkin mereka semua sudah tahu alasannya, dan heran aku tidak mengetahui hal yang utama itu.

“Baiklah, Nail. Kita akan membunuh mereka. Habis-habisan. Mereka adalah musuh kita. Tidakkah kau ingat, masih ada satu keluarga lagi yang memburu dan memusnahkan keluarga Tsamaelth?” kata Vrezian.

Seketika arus listrik pendek di dalam benakku mulai memercik kembali. Ya, aku ingat itu. Aku ingat! Aku tersenyum kepada Vrezian dn mengangguk pelan. Semua orang tertawa kecil, namun kembali ke situasi yang serius lagi.

“Kalau begitu, sampai kapan sakit ini akan terasa, dan bagaimana kami membunuh Matheus itu?” tanya Rafeld.

“Entahlah, aku tidak tahu pasti, Rafeld. Oh ya, untuk melawannya, kalian harus bersusah payah nampaknya. Mungkin Matheus hanya ada 3 orang, dan kalian ada 7 orang. Mungkin kalian berfikir kalian akan menang, tapi tidak semudah itu, anak-anak. Mereka memiliki kemampuan yang cukup sulit untuk kita lawan. Terlebih mereka dapat melantunkan do’a dengan suara yang dapat memecahkan gendang telinga kita, dan mereka selalu siap sedia dengan air suci, dan salib mereka. Kalian mungkin akan kewalahan menghadapi mereka.” Jawab Pria Berjubah dan Bertudung Hitam.

Kami semua diam membisu, entahlah apa yang harus kami lakukan kali ini, sepertinya Mama dan Papa terlihat tenang-tenang saja, tapi aku yakin mereka sudah menyiapkan banyak persiapan untuk hal ini, dan hal itu kujamin sudah dipastikan dan dijamin kebenarannya. Setelah sesi diam membisu ang amat sangat mematikan ini, Pria Berjubah dan Bertudung Hitam bangkit dari duduknya. Ia pergi ke ruangan lain dan kembali dengan 4 gelas perak berisi cairah merah kental.

“Kukira sudah cukup perbincangan kita kali ini. Aku yakin kalian sudah pasti tidak akan kuat lagi menahan beban pikiran dan mental kalian apabila kita teruskan topik yang menakutkan ini. Kalau begitu, minumlah ini, kalian butuh “tidur” yang asli. Dan tenanglah, sebisa mungkin aku akan berusaha mengurangi rasa sakit di dada kalian itu.’

Mungkin apa yang dikatakan Pria itu memang sangatlah benar, semua orang terdiam dan hanya mengangguk lemas. Mereka memang sudah cukup terbebani mental dan pikiran terhadap masalah ini. Ya, termasuk aku saja. Bayangkan, sebuah pertempuran didepan mata, dan hanya tinggal beberapa langkah lagi, mungkin kepalamu sudah tertebas oleh pedang seseorang. Jadi, inilah rasanya menghadapi kematian? Ternyata memang benar. Kematian itu lebih baik disembunyikan baik-baik dari semua makhluk hidup, sebab dengan mengetahuinya, kami akan menjadi seperti ini.

Rafeld, Vrezian, dan Zhalamen sudah menenggak minuman mereka dan mulai hilang satu persatu entah kemana. Hanya aku yang tertinggal disini dengan gelas yang belum kutenggak sedikitpun. Pria Berjubah dan Bertudung Hitam datang menghampiriku.

“Mengapa kau tidak meminumnya Nail? kau masih ingin disini? Tidakkah kau ingin berisitirahat?”

“Entahlah, Tuan. Aku hanya cukup bersedih dan sesak saja mengenai masalah ini. Terlebih… Ya, aku memiliki masalah di sekolah.’

“Baiklah, masalah apa itu?”

“Umh tentang anak laki-laki yang kusukai, dan mungkin aku salah persepsi dengannya. Mulanya kukira dia menyukaiku balik, tapi rupanya kenyataan berbicara lain, Tuan.”

‘Ah sudahlah, kau tidak perlu memikirkan hal sepele seperti itu, Nail. sudah kubilang, siapa tahu orang yang tidak kau duga itu adalah musuhmu yang nyata sebenarnya.”

Aku hana mengangguk lemas, dan mulai menenggak minuman dari gelas. Rasa yang selalu kususkai, darah kental yang manis, dan sedikit gurih. Perlahan-lahan anggota tubuhku mulai menghilang sedikit demi sedikit. Pria Berjubah dan Bertudung Hitam, mengelus kepalaku dan mencium keningku. Ia tersenyum kecil sambil membisikkan sesuatu kepadaku.

‘Tenang saja Nail. jodoh tidak akan kemana. Jodohmu akan tetap seorang Tsamaelth, meskipun itu bukan Rafeld, Zhalamen, ataupun Vrezian. Kuyakin pasti kau menyukai Tsamaelth yang satu ini.” Ucapnya pelan.

Aku tercengang dan langsung berbalik untuk melihat wajah si Pria.tetapi terlambat, leherku sudah mulai menghilang begitu juga dengan wajahku yang kemudian hanya bisa melihat banyangan Pria itu melambaikan tangannya dengan senyum simpul dingin di wajahnya. Tapi… Aku baru saja tercengan, dan rasanya ingin sekali menarik lengannya pergi bersamaku. Setelah dipikir-pikir benar juga, ada sesiatu yang tidak beres, ia bilang “Tsamaelth yang ini…”, mungkinkah akan ada anggota keluarga Tsamaelth yang ain. Lalu… Mengapa ia juga tadi bilang, “Kalian ada 7 orang..” sementara itu dalam keluarga Tsamaelt, hanya ada… Aku, Rafeld, Zhalamen, Vrezian, Mama, Papa. 1,2,3,4,5,6… Lalu siapa orang ke-7? Mungkinkah Pria itu salah bicara, atau mungkin memang kenyataan yang akan datang selanjutnya?

*

 

Sudah 3 hari setelah hari pertama sekolah, kami (para remaja) tidak masuk sekolah disebabkan oleh sakit yang luar biasa di dada kami. Terutama pada simbol pentagram di salah satu bagian tubuh kami. Tapi kini rasa sakit itu sudah mulai mereda akibat ramuan yang Papa buatkan dari bisa Leviatanh sesuai dengan petunjuk Pria Berjubah dan Bertudung Hitam. Maka hari ini, kami akan kembali ke sekolah. Untuk menghindari sebuah hal yang tidak diinginkan, Papa mengantar kami semua ke sekolah. Setelah aku sampai di sekolah, Gin sudah menungguku di gerbang. Senyumnya yang lebar dan manis menghiasi wajahnya yang lebar. Aku tersenyum kecil kepadanya. Kemudian masuk ke dalam kelas bersamanya.

Di dalam kelas, anak-anak sibuk dengan memainkan beberapa alat musik yang mereka bawa sendiri. Aku hanya memperhatikan mereka dengan bingung.

“Oh ya, Nail. Aku lupa memberitahumu bahwa kemarin Mrs. Watson menyuruh kami untuk membawa alat musik kesukaan masing-masing hari ini. Karena ia akan mengadakan praktekmusikal sekarang. Sebenarnya, bukan masalah besar juga kau tidak membawa alat musik, kau memang tidak tahu, dan kau bisa lulus tes ini hanya dengan bernyanyi.” Jelas Gin panjang lebar.

Aku bergumam mmeperhatikan orang-orang. Sebagian besar orang, bahkan ¾ nya membawa sebuah alat musik. Christopher membawa sebuah saxophone. Shanty membawa sebuah rebana. Sasha (untuk sebuah informasi: dia laki-laki) membawa sebuah akordion tua yang sepertinya milik kakeknya. Bahkan Manuel, pun membawa maracas  untuk mengiringi tes musikalnya hari ini. Kemudian aku melirik Gin kembali sambil duduk diatas kursiku.

“Lalu, Gin, kau membawa apa?” tanyaku.

“Aku? Aku membawa sebuah banjo.” Jawab Gin sambil mengeluarkan banjo dari tas ranselnya yang super besar dan serbaguna.

“Banjo? Memangnya apa yang hendak kau mainkan dengan banjo? Bukankah kau menyukai musik reggae? Mungkin seharusnya kau membawa bongo dan bernyanyi bersama Jim sambil menghisap marijuana.” Usulku.

“Tidak, Nail. yang pertama, aku tidak menghisap marijuana, yang kedua, Jim sedang sakit, dan yang terakhir bagaimanapun juga aku adalah orang Spanyol, aku ingin menyanyikan lagu dengan lirik Spanyol menggunakan banjo. Pasti terdengar begitu folk!!!” jelas Gin dengan penuh semangat sambil memetik beberapa senar banjonya.

Aku hanya tertawa melihat tingkah Gin yang benar-benar membuatku gemas. Tetapi melihat kembali alat musik, membuatku kembali berfikir. Apa yang harus kulakukan di tes musikal ini tanpa alat musik? Tak lama kemudian, terdengar suara gaduh sebuah gitar yang terjatuh dari depan kelas. Aku menengok ke belakang, rupanya Ed yang menjatuhkan gitar akustiknya secara tidak sengaja. Ia datang dan duduk di belakangku. Kemudian tanpa sepatah kata pun ia langsung memetik gitarnya, memainkan beberapa kunci dengan sangat baik.

“Rupanya tes musikal ini sangat merubah perilakumu 180 derajat, ya Ed?” tanya Gin.

“Ya, begitulah. Aku cinta musik. Jadi diam, dan biarkan aku sendiri.” Jawab Ed sambil terus memainkan gitarnya.

Kemudian Gin, berpaling kepadaku sambil mengedikkan bahunya, “Dasar sok.” Ucap Gin pelan. Aku tertawa geli mendengar ocehan Gin yang diucapkan dengan nada yang penuh sarkasme dan rasa jengkel. Tetapi kemudian aku tersadarkan kembali.

“Oya, Gin! Bagaimana denganku? Aku tidak membawa apapun hari ini!”

“Oya, hampir lupa! Ya seperti yang kubilang tadi kau dapat lulus juga dalam tes musikal ini tanpa alat musik, Nail.”

“Caranya?”

“Asalakan kau memiliki modal suara untuk menyanyi solo atau acapella saja. Itu sudah cukup kata Mrs. Watson.”

Aku kemudian melihat sekeliling, mengecek apakah ada yang hanya bermodalkan suara saja, ya untuk mencari teman saja. Rupanya hanya ada satu orang yang nekat bermodalkan suaranya, Dahlia.

“Oh tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, Gin! Tidak dan tidak!!! Aku tidak mau bernyanyi tanpa iringan alat musik, terlebih hanya Dahlia yang mengambil jalan acapella seperti itu, aku tidak mau disamakan dengannya!”

“Tapi, Nail, mau bagaimana lagi? Tidak…..”

KRIIIIIING!!!! Bel masuk berbunyi. Anak-anak langsung duduk di kursi mereka masing-masing sementara aku memutar mata, entah apa yang harus kulakukan dengan tes musik sialan ini. Lima detik kemudian Mrs. Watson memasuki kelas dengan daftar buku nilai hariannya. Ia duduk diatas meja guru didepan kelas.

“Baiklah, akan kumulai sesuai dengan absen saja. Silahkan, Alexander Johanness.”ucap Mrs. Watson tanpa basa basi.

Alex maju ke depan bersama dengan biolanya, ia memang ahli dalam musik klasik dan ia dapat memainkan Canon dengan sangat baik. Kemudian Mrs. Watson memberikan senyuman kecil pada setiap penampilan dan menuliskan nilai dengan guratan yang misterius sehingga tidak dapat kuterka nilai berapakah yang ia beri untuk setiap anak. Hingga akhirnya tiba Dahliayang berdiri di depan kelas penuh dengan rasa percaya diri. Ia menarik nafas panjang. Aku yakin, mungkin ia hanya akan menyanyikan beberapa lagu pop zaman sekarang. Namun ketika ia menyanyikan sebait lirik pertama, aku cukup tertegun. Dahlia, menyanyikan Power Of Love milik Celine Dion, dan percaya atau tidak ia dapat mencapai nada tinggi pada reffnya dengan amat sangat baik (sulit sekali aku mengakui ini, dan dengan berat hati aku mengatakan hal ini). Semua orang yang ada di kelas, termasuk Mrs. Watson melotot melihat suara emas milik Dahlia. Dan sungguh tak kusangka, rupanya makhluk ini memiliki sebuah suara emas yang sangat sulit ditandingi oleh siapapun. Aku menelan sedikit ludahku, hingga Dahlia selesai bernyanyi dan membungkukkan badannya. Semua orang bertepuk tangan (aku tidak), dan Mrs. Watson tersenyum lebar kepadanya.

“Rupanya les vocal yang kuberikan berhasil ya, Dahlia?” tanya Mrs. Watson.

“Ya, Mrs! Sangat berhasil!!!” ujar Dahlia penuh semangat dengan suara menyebalkannya itu.

Setelah kelas kembali sunyi, Mrs. Watson kembali mengabsen. Kini giliran Edward Jackson untuk tampil kedepan, ia membawa sebuah rebana. Pada mulanya ia hanya menjentik-jentikkan jarinya dengan gaya yang begitu jazz, namun setelah beberapa kali ia menjentikkan jarinya, mulutnya mulai membuka dan menyanyikan Under Pressure dengan suara yang nyaris sempurna mirip dengan Freddie Mercury, namun aku tak heran, Edward adalah penggemar fanatik Freddie dan Queen, penampilannya mengesankan. Kemudian Edward duduk kembali.

“Edzhravunov Ilevaicham! Silahkan tampil kedepan anakku.” Absen Mrs. Watson.

Ed, membawa gitar akustiknya, ia menyetel dan memainkan beberapa senar. Hingga akhirnya masuk ke dalam sebuah irama yang slow dan menyedihkan. Anak-anak lain hanya mengerutkan keningnya, dan mengangkat sebelah alisnya, mereka rupanya tidak tahu ini lagu apa (tentu saja 96% anak-anak disini adalah penggemar pop, jazz, dan rock) namun aku dapat mengetahuinya dengan pasti. Suara gitar Ed dan vocalnya benar-benar membuat semua orang terbawa suasana, mereka semua menutup mata mereka dan tersenyum kecil, apalagi dengan lirik yang begitu menyentuh hati bahkan mungkin hingga menitikkan air mata bagi beberapa orang. Setelah lagu itu selesai dimainkan Ed, ia langsung beranjak kembali ke kursinya.

“Umh, Ed, tunggu dulu sayang, lagu apa yang baru saja kau nyanyikan tadi?” tanya Mrs. Watson.

“Oh, itu Snuff, Mrs. Watson, milik Slipknot.” Jawab Ed sambil tersenyum kecil.

“Baiklah rupanya ED cukup pintar dalam memilih lagu meskipun dengan band yang bergenre jauh berbeda dengan lagunya barusan. Bagus, bagus. Baiklah, Ginger Garnetta!!!”

Gin pergi ke depan sambil membawa banjonya. Semua orang tersenyum dan tertawa geli melihat Gin yang nampak sangat kurang enak dilihat didepan sana. Tentu saja, bagaimana tidak, seorang gadis dengan rambut gimbal, berpakaian merah kuning hijau, lalu ia membawa banjo? Sudah kubilang seharusnya ia membawa sebuah bongo! Gin hanya tersenyum dan mendehem, tandanya meminta perhatian kemudian ia mulai memainkan beberapa senar banjonya dan menggumam. Namun anak-anak memandangnya dengan tatapan rendah yang mengandung arti, “Oh ayolah, kau tidak akan bertahan disana dengan ¼ lagu pun!”. Kemudian Gin mulai bernyanyi dengan lirik berbahasa Spanyol yang diucapkan dengan cepat, namun nadanya mengalun dengan lembut. Bahkan pada Reff pun terdapat nada Gin yang begitu tinggi dan enak sekali didengar, kini tatapan anak-anak berbeda, mereka memandangi Gin dengan terkesima. Setelah Gin selesai bernyanyi, ia membungkukkan badannya, dan seisi kelas bertepuk tangan kepadanya, wajahnya memerah dan tersenyum lebar. Syukurlah, kini tidak ada lagi yang bisa mencemoohnya hanya karena penampilannya saja, Gin adalah orang yang berbakat.Ia duduk di depanku sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Keren kawan, apa lagu yang baru saja kau mainkan?” tanyaku penuh dengan senyum besar.

‘Haha, bukan apa-apa, hanya lagu lama. Hijo de La Luna. Aku hanya mengaransemennya sedikit saja supaya bisa kumainkan dengan banjo, namun syukurlah hasilnya tidak terlalu buruk.” Jawab Gin sambil tertawa kecil.

“Ya lagipula suaramu dapat mencapai nada setinggi itu, itu hebat sekali.”

“Nah, itulah akibat kau sering ke gereja, suaramu juga kuyakin akan semakin bagus kalau kau sering pergi ke gereja, Nail.”

“Ya, akan kucoba lainkali, Gin.”- tentu saja tidak, sebenarnya.

Sejauh ini penampilan yang lain tidak ada cacat sedikitpun. Semua orang berpenampilan bagus. Aku tidak ahu harus menyanyi apa, dan memainkan apa. Jadi aku hanya daoat tiduran diatas meja sambil mendengarkan baik-baik tiap anak yang bermain. Aku sengaja meminta Mrs. Watson untuk diabsen menjadi yang terakhir dengan alasan belum siap untuk tampil. Untung ia mengerti. Namun tidak terasa, inilah saatnya pemanggilan absen terakhir itu.

“Nail Zjork Tsamaelth. Ayo nak, kini giliranmu.” Perintah Mrs. Watson sambil membenarkan kacamata plusnya yang berframe tua.

Aku cukup terkejut dan mulai celingukan, apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan, APA YANG HARUS KULAKUKAN?!

“Ini, Nail. kau mencari gitarmu kan?” kata Ed sambil menyodorkan gitarnya.

“Hah? Ap… Apa?”

“Ini, aku kan meminjam gitarmu hari ini, lagipula aku sudah tampil. Kini giliranmu tampil, ini saatnya, pakai gitarmu ini. Kau pelupa sekali sih!”

 Ed memelototiku dengan pandangan yang aneh, ini artinya ia berpura-pura menjadikan gitarnya menjadi gitarku. Seolah-olah ia yang meminjam padaku, baiklah Ed, aku akan berterima kasih nanti. Aku emmegang gitar dan memboyongnya ke depan. Dalam beberapa langkah kedepan kelas, aku masih tidak tahu apa yang harus kunyanyikan. Dan bisikan Dahlia dengan salah satu koleganya yang tertinggal di kelas ini terus mengganggu pikiranku untuk membuka ide di benakku. Kini aku sudah didepan kelas, dan blank.

“Baiklah, aku pasrah.” Bisikku dalam hati.

Aku mulai memetik sebuah kunci dengan nada yang sangat sederhana, tidak luar biasa, dan teramat sangat biasa. Tidak menyenangkan. Tidak hebat. Yang jelas, inilah akibat sistem kebut satu jam. Aku menyanyikan lagu I Will Follow You Into The Dark yang sebenarnya bahkan anak SD pun dapat menyanyikan ini lebih baik dariku. Namun anak-anak (kecuali Dahlai tentunya) memperhatikanku dengan baik, terima kasih, terima kasih banyak semuanya!!! Ku tahu aku begitu payah dalam penampilan kali ini, namun kau akan mendapatkan penampila terbaikku lainkali. Setelah selesai, bel pun berdering dan anak-anak langsung beranjak pergi ke kafeteria. Mrs. Watson pun berdiri merapihkan daftar nilai yang ia tulis daritadi. Aku menghampiri Mrs. Watson dan menunduk menghadap kepadanya. Mrs. Watson melihat ke arahku, ia menundukkan kepalanya dan menengadahkan kepalaku agar dapat ia lihat.

“Ada apa, Nona Tsamaelth? Mengapa kau murung seperti itu?” tanya Mrs. Watson sambil mengelus rambutku.

“Maafkan aku atas penampilanku yang buruk ini, Mrs. Watson. Aku sangat tidak menyiapkan segalanya untuk tes musik ini. Bahkan gitar itu pun bukan milikku sebenarnya, itu milik Ed. Maafkan aku, maafkan aku Mrs. Watson. Maafkan aku.”

“Oh hush hush hush, Nail, tidak apa-apa. Aku mengerti sayangku, mungkin kau memang tidak tahu bahwa hari ini akan ada tes musik ini. Sebab tidak biasanya kau tampil tanpa persiapan seperti barusan. Kalau begitu, ya sudah, kini tersenyumlah kembali, makan sianglah bersama teman-temanmu, dan berikanlah yang terbaik lainkali, okay?”

Aku tersenyum kecil pada Mrs. Watson. Dan mengangguk dengan manis kepadanya. Kemudian aku pergi kafeteria dan mengambil beberapa makan siang diatas nampan, dan seperti biasa, aku mencari sebuah tempat duduk yang kososng. Hasilnya, kososng, nihil, tidak ada. Bahkan aku tidak melihat Gin sama sekali di kafeteria yang begitu sesak ini. Namun aku melihat seseorang melambaikan tangannya kepadaku. Ed. Aku pergi kesana dan menghampirinya, ia duduk sendiri di meja untuk berdua.

“Silahkan duduk. Tak usah malu-malu.” Ucap Ed mempersilakanku duduk.

Aku duduk. Lalu tanpa bicara sepatah kata apapun aku hanya melahap makan siangku. Ed memperhatikanku dari bawah ke atas, dan dari atas ke bawah sambil menyeruput susu kotaknya.

“ Belakangan ini kau sedikit berubah Nail. mungkin tidak sedikit tapi sangat berubah.” Ujar Ed.

Aku sedikit kaget, rupanya Ed menyadari perubahan sikapku kepadanya. Aku sedikit sulit menelan makananku. “Umh, benarkah? Apa yang kau rasa berubah?” tanyaku, pura0pura tidak tahu.

“Banyak, lihat saja rambutmu yang sudah mulai tumbuh panjang, dan matamu yang semakin berwarna muda itu, itu memperlihatkan sisi cantikmu yang begitu cantik untuk diperlihatkan. Kau cantik, Nail.”

“Oh, ya terima kasih.”

Ya, jujur saja, jika kau ingin mengetahui apa yang kurasakan didalam dadaku ini, mungkin, atau sudah pasti adalah rasa senang yang teramat sangat. Hati tak bisa berbohong. Kalau saja aku tidak menahannya wajahku akan bersemu merah saat ia mengatakan kalimat pujian itu. Untung saja aku dapat mengontrolnya. Bagaiamanpun juga seberapa cueknya aku terhadap Ed, aku tetap menyukainya, mmeujanya, menggila-gilainya, apalagi ditambah dengan respond dirinya sendiri yang selalu membuatku seakan terbang tinggi menuju langit ketujuh. Ukh, ini dia repotnya menjadi seorang perempuan. Sesadis, dan sesuram apapun, perempuan pasti tidak bisa tahan terhadap godaan hati teutama pada subjek yang disukainya. Ini kutukan seorang perempuan. Tak lama kemudian di dekat pintu kafeteria, Gin sedang sibuk mencariku. Ed dan aku melihatnya, kemudian ia beranjak bangun.

“Itu dia, Gin. Aku akan memanggilkannya untuk menemanimu. Sampai jumpa, cantik.” Kata Ed.

Kemudian Ed berlalu pergi sambil menyanyikankan pelan lagu yang tadi kunyanyikan di tes musik Mrs. Watson. Entahlah apa yang Ed pikirkan tentang aku, apakah ia memang menanggapi perasaanku karena atas dasar suka pula, atau hanya mempermainkanku, atau hanya… Memancingku dengan umpannya?

*

Baiklah, hari ini sudah cukup aneh. Saat aku terbangun dari tidurku pagi ini dan bercermin, betapa terkejutnya aku melihat bola mataku menjadi warna putih seutuhnya. Puth hanya dengan pupil hitam kecil. Seperti mata Iblis. Dan warnanya tidak berubah sama sekali. Mata yang lainnya juga berubah seperti mata Rafeld, Zhalamen, Vrezian, dan Papa pun berubah warna menjadi semakin terang. Naas sekali aku memiliki warna yang paling terang sehingga menjadi putih seperti ini. Aku memutuskan untuk pergi ke sekolah menggunakan kaca mata hitam seperti orang buta. Mungkin bukan Cuma aku, tetapi semua orang didalam keluargaku. Saat sampai ke sekolah, aku bisa dengar seseorang mengoceh.

“Oh ya ampun, kacamata yang bagus, Nail. kemana kau hendak pergi hari ini? Pantai atau Sekolah Luar Biasa khusus murid Tunanetra?” oceh Dahlia.

Aku hanya memutar mata dan berjalan melewatinya masuk ke koridor, dan menuju kelas. Mungkin hari ini moodku sedang sangatlah buruk. Jadi tidak ada kabel handsfree menggantung di telingaku untuk pagi ini. Dan aku rupanya satu-satunya orang yang terdiam didalam kelas. Aku tahu anak-anak lainnya mungkin masih bersosialisasi diluar sana. Namun ada sesuatu yang ganjal dan kukira amat sangatlah ganjal. Ada bisikan dari banyak orang yang terus membisiki dan membuat telingaku terus berdenging.

“Nail…. Nail…. Sebentar lagi… Waktumu tidak akan lama lagi, Nail….” ucap suara pertama. Kemudian disusul dengan suara kedua dengan suara yang berbeda, “Nail… Ini saatnya kau bergabung dengan kami… Temani kami…. Kami kesepian….”. Dan makin lama makin banyak suara-suara itu. Aku tidak kuat lagi, aku menutup telingaku agar aku tidak dapat mendengar suara-suara aneh itu. Namun kenyataannya suara itu semakin keras dan semakin keras dan bising. Aku memejamkan mataku, dan rasanya sesuatu yang cair keluar dari telingaku. Saat kulihat benda cair itu di tanganku, rupanya darah mengalir keluar dari telingaku. Dan saat aku berbalik melihat penjuru kelas, kuliaht orang-orang yang tidak kukenal berdiri dan duduk disana, mereka memperhatikanku, dan sungguh keadaan mereka sangatlah tidak baik, seperti seorang zombie yang sudah membusuk selama 13 tahun. Mataku tiba-tiba terasa sangat perih aku berteriak, dan meringis kesakitan, lari menuju kamar mandi.

BRUUUUK!!! BRAAAAK!!!

“Nail, ada apa denganmu?! Dasar orang aneh!!!” cemooh Dahlia yang tak sengaja kutabrak.

Aku tidak mengindahkan kata-katanya, telingaku semakin banyak mengalirkan darah hingga berceceran di lantai. Kacamata hitamku juga terlempar entah kemana.Ya ampun, apa yang terjadi? Dan semakin lama mataku juga meneteskan darah merah segar. Rasanya sangatlah perih. Sangat amat perih. Aku beranjak berdiri dan hendak berlari langsung ke toilet, atau mungkin bukan toilet, pulang ke rumahbahkan. Namun saat aku hendak berdiri, tangan Dahlia menarik lenganku dengan keras dan kasar. Menyungkurkanku ke lantai dengan keras.

“Jangan semudah itu pergi, sebelum kau minta maaf Nail!!!” teriaknya kepadaku.

Kini seisi koridor bahkan mungkin seisi sekolah, memperhatikan kami. Semua orang terdiam, hanya ada bisikan anak-anak tentang perkelahian yang akan dimulai ini.

“Aku tidak punya waktu untuk meladenimu, Dahlia. Aku tidak berminat. Aku harus pergi!” bentakku.

“Tidak secepat itu, Nail Zjork Tsamaelth!!!” teriak Dahlia, kemudian ia menjambak rambutku dan membantingkan kepalaku keatas lantai dengan kuat.

Rasanya sangat sangat sangat sakit. Aku hanya bisa meringis kesakitan, sementara darah terus menetes dari telinga dan mataku. Ingin sekali aku bangkit dan menendang wajahnya, dadanya, bahkan alat vitalnya sekaligus! Namun kakiku tidak sanggup berdiri, seakan-akan lumpuh. Aku berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, namun sia-sia.

“Oh ya ampun, Nail. Aku tidak pernah melihat kau selemah ini, ada apa denganmu?! Darah apa itu?! Tunggu dulu, apakah kau menangis penuh rasa sakit hingga air matamu berubah seperti itu? Oh, Nail, kasihan sekali….. Kasihan sekali…” sahut Dahlia dengan nada sok suci.

“Hentikan, Dahlia! Hentikan!!!” teriak Gin datang sambil menarik tubuh Dahlia menjauh dariku.

Namun entah apa yangmerasuki tubuh Dahlia, ia menjadi sangat kuat. Ia dapat mendorong Gin dengan sedikit mudah. Gin pun terjatuh, dan kepalanya terantuk pintu lumayan keras.

“Jangan menghalang-halangi atau ikut campur dalam urusan orang, dasar anak gimbal!!! Seharusnya kau tidak berteman dengan orang yang berbeda 180 derajat denganmu, Gin. Lagipula Nail memang tidak pantas mendapatkan sedikitpun belas kasih dari siapapun. Ia tidak pantas! Apa yang pantas untuknya hanyalah, M-A-T-I!!!” kata Dahlia.

Mungkin disaat menegangkan dan kritis ini tidak baik mengingat sesuatu yang tidak penting. Sangat tidak baik, tapi mendengar ocehan Dahlia dengan kata-katanya yang tajam itu mengingatkanku pada ocehan seseorang yang tidak jauh berbeda juga dari kalimat itu. Ocehan seorang pria gemuk dengan wajah galak kepada pria miskin dengan anak laki-lakinya. Entahlah aku ingat itu dari membaca sebuah buku, atau menonton sebuah film. Itu tidak penting, tapi terasa membekas di ingatanku. Namun hal itu memberikan sebuah kekuatan kedalam hatiku, sebuah ambisi, sebuah dendam besar untuk membalas apa yang Dahlia lakukan barusan kepadaku. Aku mencoba untuk bangkit, dan akhirnya, bisa. Namun seluruh tubuhku masih lemas, sementara telinga dan mataku terus menerus mengeluarkan darah.

“Oh, baiklah, ingin melawanku, Nail?! Ayo!!!” tantang Dahlia.

Belum juga aku meluncurkan satu langkah serangan pun kepadanya, ia sudah mendorongku dengan keras ke arah loker, hingga kepalaku berdarah. Gin bangkit, ia menarik tubuh Dahlia dan hendak menonjok wajahnya kuat-kuat, namun Dahlia dengan sigap menangkap pukulan Gin, dan menahanya dengan tangguh.

“Aku sudah memperingatkanmu, Gin. Kau tidak akan bisa membela Nail terus menerus!!!” Dahlia mendorong Gin kembali.

Aku kembali mencoba untuk bangkit dengan bersusah payah. Kepalaku sangatlah pusing, sakit, dan aku mulai kehilangan keseimbangan karena telingaku semakin sakit mati-matian. Aku berdiri dengan terhuyung-huyung dengan sangat lemas. Aku menatap galak kepada Dahlia.

“Oh, wow! Nail marah! Dia marah padaku, oh Ya Tuhan betapa takutnya aku!” ujar Dahlia dengan mimik yang dibuat-buat sambil merogoh sesuatu didalam tas jinjingnya. Kemudian ia mengeluarkan seperti sebuah sebotol parfum bening, ia membuka tutupnya dan menciuminya. “Tapi, Nail, sayang sekali, aku bohong. Aku tidak takut padamu, karena dahulu… Kakek moyangku selalu menegaskan kepada keluarganya bahwa janganlah pernah takut kepada…. IBLIS!!!”

Dahlia membanjurkan isi botol tersebut. Aku hanya menutup mataku dan tidak sanggup berjalan sama sekali, namun ternyata air parfum itu tidak sama sekali mengenai tubuhku. Aku membuka mataku perlahan-lahan dan terlihat ada seseorang menghalangiku dari air tersebut. Aku berjalan terpincang-pincang, kulihat, rupanya Ed menghalangi badanku dengan badannya. Dan kulihat pula kulit bagian leher dan dada Ed melepuh seperti terbanjur air panas. Semua orang terdiam, menganga, dan membeku, juga Dahlia dan aku. Ed bernafas tersengal-sengal, ia memegang bola matanya dan melepaskan contact lenses cokelat di matanya,  dan terlihatlah sebuah bola mata indah berwarna kelabu terang seperti aluminium. Semua orang terpana melihat pemandangan itu. Kulit leher Ed terus mengelupas seiring mengalirnya air parfum itu.

Oh… Ya Ampun…. Sekarang semuanya jelas….

“Ayo, Nail!! Cepat lari!!!” teriak Ed sambil menggendong tubuhku di punggungnya dengan cekatan dan berlari sekuat tenaga.

“Ed!!! Tunggu Ed, tunggu!!! Kau pengkhianat!!! Kau juga sama saja dengan Iblis itu!!!” teriak Dahlia dari jauh sambil mengamuk.

Sekitar 6 menit, kami sampai dirumah Ed, rumah yang pernah aku mata-matai bersama Leviatanh musim dingin yang lalu. Ed membaringkanku di kasur. Ia pun ambruk dibawah ranjangnya. Aku bangun, dan membantunya berdiri dan duduk diatas ranjangnya. Ed pun berusaha dengan kuat untuk bangkit.

“Sudah, Nail. jangan pikirkan aku, kau, harus berbaring. Cepat, kondisimu sudah sangat buruk! Berbaringlah!” kata Ed sambil memaksaku untuk berbaring.

“Tdak, Ed! Kau juga terluka parah! Kau yang harus berbaring!”

“Baiklah, baiklah. Tenang dulu, kau berbaring dan aku akan membawakan obat untuk kita berdua dengan hati-hati. Jadi kita tidak perlu khawatir secara berlebih satu sama lain. Sepakat?”

Aku mengangguk, Ed menyuruhku untuk berbaring di ranjang dan aku melakukannnya sementara ia pergi ke ruangan lain dan kembali dengan kapan, kompres berisi es batu, obat merah beserta obat-obat lainnya dan lap kering. Ia menarik sebuah kursi belajar dari dekat meja belajarnya ke samping ranjang. Ed mengelap telinga dan mataku dengan tissue perlahan-lahan dengan lembut. Kemudian ia mengmpres bagian yang terluka di leher dan dadanya dengan kompres sementara, ia meringis penuh rasa perih.

“Baiklah, kau terlalu sakit Ed. Giliranmu berbaring, cepat!” kataku sambil bangun dari ranjang dan mengelap terus darah yang menetes.

Ed hanya menghela nafas panjang, ia berbaring. Aku mengambil sebuah baskom kecil berisi air hangat dan kembali ke ranjang Ed, aku meneteskan beberapa tetes obat merah ke dalam baskom tersebut dan mengelapkannya dengan lap ke bagian luka Ed.

“Aw, Nail! sakit! Sakit, sakit, sakit!!!” teriak Ed sambil menarik-narik sprei ranjangnya.

“Ya, Ed. Maaf, sebentar saja, sebentar….”

Aku melembutkan gerakan tanganku, dan erangan Ed mulai berkurang. Aku terus mengobatinya dan mengganti air kompresnya berkali-kali, hingga luka Ed sudah mulai baikan. Namun darah dari telinga dan mataku masih belum berhenti mengalir meskipun sudah tidak sebanyak pada awalnya.  Tetapi hal itu tidak menggangguku, yang mengganggu hanyalah tatapan Ed yang aneh secara terus menerus tanpa henti-hentinya kepadaku. Aku jadi sedikit jengkel.

“Baiklah Ed, ada apa sebenarnya? Mengapa kau memandangku dengan tatapan seperti itu?” tanyaku sambil menyayat sedikit daging di lenganku dan menuangkan darahnya kedalam gelas.

“Hah? Aah tidak ada apa-apa Nail. hanya saja aku tidak menyangka rupanya kau ahli juga merawat seseorang.” Jawab Ed sambil tersenyum kecil.

“Tentu saja, ini karena aku berhutang budi kepadamu. Lalu, mengapa kau tidak bilang dari awal bahwa kau ini seorang Tsamaelth? Mengapa kau baru menunjukkannya sekarang? Kenapa? Kenapa?!”

“Tentu saja karena tingkat kewaspadaan tinggi.” Kemudian ia berhenti sejenak, meminum ‘minuman’ yang sudah kusediakan di gelas tadi. “Dan seperti yang kau tahu, ada seseorang yang mengincar nyawa keluarga kita, Nail.”

“Tapi, kau kan tahu bahwa aku adalah seorang Tsamaelth lalu mengapa kau tidak memberitahukannya kepadaku?”

“Zaman sekarang, siapa yang bisa dipercaya? Sahabat sendiri pun dapat membunuh sobatnya dari belakang dengan keji.”

Aku terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Ed. Siapa yang bisa dipercaya pada waktu seperti sekarang. Sementara Ed mengecap-ngecap rasa darahku, aku melihat ke sekeliling penjuru kamarnya sampai aku hampir mati terkejut melihat dua buah sosok transparan seperti yang aku lihat di kelas tadi berdiri kaku di hadapan pintu kamar Ed. Aku berteriak sebentar dan memejamkan mataku di ketiak Ed.

“Hey, ada apa Nail?! Ada apa?!” tanya Ed penuh waspada.

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Ed. Mulutku seakan terjahit rapih dan aku terlalu takut untuk memaksanya terbuka, jadi aku hanya menunjukkan jariku ke arah pintu kamar Ed. Ed hanya mengernyitkan dahi melihat sosok itu.

“Umh, Nail. kau bercanda? Disana tidak ada apa-apa…” sahut Ed sambil mengangkat tubuhku dari ketiaknya.

Aku kembali melihat tetapi sosok itu tetap ada, dan tetap berdiri disana.

“Tidak, Ed! Disana ada dua orang!!! Seorang pria dan seorang wanita berdiri berdampingan!”

Ed memelototkan matanya, ia memandangku dengan tatapan penuh rasa senang.

“Benarkah begitu, Nail? sebuah pasangan yang berdampingan?”

“Ya!! Ya!!!”

Kemudian Ed, bangkit dari ranjangnya, ia membantuku berdiri. Kemudian ia merangkulku erat, Ed tersenyum kepadaku. “Nail, tidak apa-apa. Perkenalkanlah, Nail. ini ayah dan ibuku. Ayahku, Errudum Ochsalt Tsamaelth dan Ibuku, Enchavinth Fostialth Tsamaelth.”. Lalu dengan lembut, Ed membuka telapak tangan yang kututup di mataku.

Aku… Aku melihat sosok pasangan suami istri itu tersenyum kepadaku dengan senyuman yang begitu lebut. Mereka berjalan mendekatiku. Dan Ibunya Ed, Nyonya Enchavinth membelai rambutku.

“Rupanya kau lah Nail itu. Edzhravunov sering membicarakannya kepada kami.” Sahut Nyonya Enchavinth. “Syukurlah, kau anak yang baik, pintar, penyayang, dan cantik seperti apa yang Edzhravunov ceritakan pada kami, nak.”

“Ya, Nail. Kami sangat bersyukur atas hal itu. Jika sudah ada dirimu disini, untuk Edzhravunov, maka kami tidak akan berat lagi melepas Edzhravunov untuk tetap tinggal di dunia ini. Kami kini menitipkan kepercayaan kami kepadamu. Tetaplah bersama Edzhravunov ya nak, dan sampaikan salamku kepada Irresvanth.” Ucap Tuan Errudum.

Aku belum bisa menjawab satu pertanyaan pun dari mereka. Namun Tuan Errudum dan Nyonya Enchavinth semakin lama semakin hilang tanpa jejak ataupun bekas. Aku hanya termangu memandangi tempat dimana mereka berada tadi, sementara itu Ed menyadarkanku.

“Apa yang mereka katakan, Nail?”

“Tidakkah kau bisa melihat atau mendengar mereka? Kalau begitu bagaimana kau tahu bahwa itu dalah roh dari orang tua-mu?! Dan ngomong-ngomong nama orang tuam, aku pernah melihat nama mereka terukir di…. Lalu kalau begitu, orang di pemakaman pada malam itu…..”

“Ssshtt… Ssshhht… Nail, Nail… Ya, baiklah akan kuceritakan semuanya supaya kau dapat puas mengetahui jawaban yang jelasnya, namun diam lah sejenak. Mengerti?” ujar Ed sambil menutup mulutku dengan telapak tangannya.

Aku mengangguk pelan. Baru saja Ed mau membuka mulutnya, tiba-tiba Leviatanh menyerangku dari arah jendela. Ia menjerat leherku dengan erat sambil mendesis galak kepada Ed.

“Tapi… Leviatanh….” Ucapku dengan suara tersedak-sedak.

Leviatanh semakin mempererat jeratannya di leherku dan ia memaksaku untuk pergi dari rumah Ed dengancara yang entah bagaimana, semacam hipnotis hingga akhirnya aku keluar dari rumah Ed dan pergi menjauh dari tempat itu. Setelah jarak yang cukup jauh, Leviatanh melepaskan jeratannya dan langsung mendesis marah kepadaku. Aku hanya terdiam, ada apa dengan Leviatanh. Mungkinkah ia tak tahu kenyataan bahwa Ed seorang Tsamaelth juga atau…. Mungkin aku masih salah tanggap? Lalu kalau Ed masihlah bukan seorang Tsamaelth, lalu aksi dan tipuan macam apa yang kulihat tadi saat kulit Ed melepuh? Atau mungkin ia bekerja sama bersama Dahlia? Jadi siapa Tsamaelth dan Matheus yang sebenarnya?

*